Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XV - Pilihan di Lorong Rumah Sakit
Tiga hari Radit nyaris tidak pernah meninggalkan rumah sakit.
Ia tidur bergantian di kursi tunggu ICU dan ruang kerja sementara yang disiapkan staf Wibowo Group di lantai yang sama tempat Hartono dirawat. Farrel mengambil alih sebagian besar urusan operasional di kantor, membiarkan Radit fokus pada kesembuhan ayahnya sambil sesekali menandatangani dokumen yang tidak bisa ditunda.
Anggraini, ibu Radit, datang setiap hari membawa makanan yang tidak pernah disentuh Hartono, duduk berjam-jam di samping ranjang suaminya dengan kekhawatiran. Ia tampak kelelahan karena bertahun-tahun hidup di bawah keputusan-keputusan Hartono yang keras kepala.
Kondisi Hartono membaik dengan cepat. Di hari ketiga, ia sudah dipindahkan dari ICU ke kamar perawatan biasa, meski dokter tetap menyarankan Hartono untuk istirahat penuh setidaknya seminggu ke depan.
Anggraini menyusul Radit keluar dari kamar itu suatu sore, ketika Hartono sedang tertidur. Ia menutup pintu pelan-pelan, menatap putranya dengan mata yang tampak lebih tua dari usianya.
"Kamu kelihatan capek, Nak," katanya, menyentuh lengan Radit. "Bukan cuma capek jaga Ayah, kan?"
Radit tidak menjawab langsung. "Ibu tau soal apa yang Ayah lakuin ke keluarga Pradipta?"
Anggraini terdiam cukup lama, matanya menerawang ke ujung koridor. "Ibu curiga ada sesuatu, dulu. Tapi Ayahmu nggak pernah cerita detail urusan bisnisnya sama Ibu." Ia menghela napas. "Kalau kamu tau sesuatu yang berat, Radit, jangan tanggung sendirian kayak Ayahmu. Itu yang bikin dia sakit kayak sekarang."
Radit memeluk ibunya sebentar, tidak sanggup untuk mengeluarkan sepatah kata pun, sebelum akhirnya kembali masuk ke kamar ayahnya.
Radit duduk di kursi samping ranjang ayahnya pagi itu, membawa laporan yang perlu ditandatangani. Hartono, meski masih pucat, sudah cukup kuat untuk duduk bersandar, matanya kembali tajam meski suaranya masih lemah.
"Bagaimana proyek revitalisasi pesisir itu?" Hartono bertanya, sudah kembali ke urusan bisnis meski baru tiga hari yang lalu ia nyaris kehilangan nyawa.
"Berjalan sesuai rencana," Radit menjawab singkat.
Hartono menatapnya lama. Sesuatu berubah di balik tatapan itu, bukan lagi sekadar kepedulian bisnis, tapi sesuatu yang lebih menyelidik.
"Aku dengar Cipta Prada Land yang jadi mitra kolaborasi untuk proyek itu," Hartono berkata pelan. "Perusahaan milik Kirana Ayu Pradipta."
Nama itu, diucapkan dari mulut ayahnya sendiri, membuat dada Radit terasa sesak. "Itu keputusan dewan investor, Ayah. Bukan keputusanku."
"Aku tahu itu. Dan aku juga dengar," Hartono melanjutkan, suaranya makin dingin, "kau sudah beberapa kali menghabiskan waktu dengan perempuan itu di luar konteks bisnis."
Darah Radit membeku. "Siapa yang bilang begitu?"
"Bukan itu yang penting." Hartono menatap putranya tajam, membuat Radit merasa kembali jadi anak dua puluh tiga tahun yang gemetar di hadapan ayahnya tujuh tahun lalu. "Yang penting, kau ingat komitmenmu pada Valerie. Pertunangan kalian bukan sekadar formalitas. Itu pondasi aliansi bisnis yang sudah kususun bertahun-tahun untuk Wibowo Group."
"Aku belum lupa akan komitmen itu," Radit menjawab, kata-katanya terasa hampa di telinganya sendiri.
"Bagus." Hartono menyandarkan kepala ke bantal, menutup mata sejenak. Ketika membuka mata lagi, tatapannya kembali setajam sebelumnya. "Karena aku sudah memutuskan untuk mempercepat rencana lamaran kalian. Minggu depan."
"Minggu depan?" Tanya Radit tidak percaya.
"Ayah baru keluar dari ICU. Kenapa harus buru-buru?"
"Justru karena aku baru hampir menghadapi maut," Hartono menjawab, suaranya kini lebih tegas. "Aku sadar aku tidak punya waktu lebih lama untuk memastikan warisan yang kubangun selama puluhan tahun ini tetap aman. Aliansi dengan keluarga Wijaya, lewat pernikahanmu dengan Valerie, bagian penting dari rencana itu. Aku ingin melihatnya terealisasi selagi aku masih bisa menyaksikan."
Radit mencari celah untuk menolak, untuk menunda, untuk mendapat waktu lebih agar bisa mengungkapkan kebenaran pada Kirana sebelum semuanya terlambat. Tapi sebelum ia bicara, Hartono melanjutkan, nadanya jauh lebih dingin.
"Satu hal lagi, Radit." Hartono menatap putranya. "Kalau kau berpikir untuk membatalkan pertunangan ini demi perempuan Pradipta itu, kau harus tahu konsekuensinya. Aku masih punya pengaruh yang besar untuk memastikan Cipta Prada Land hancur. Perusahaan itu tidak akan pernah dapat proyek besar lagi di Jakarta. Aku bisa menghancurkannya lebih cepat dari yang kulakukan pada bisnis ayahnya dulu."
Kata-kata itu menghantam Radit, mengkonfirmasi sesuatu yang selama ini cuma ia curigai.
Hartono memang bertanggung jawab atas kehancuran bisnis Bambang Pradipta, dan tidak akan ragu melakukannya lagi.
"Ayah," Radit berkata, suaranya bergetar menahan kemarahan yang selama ini ia tekan, "apa yang sebenarnya Ayah lakukan pada bisnis Ayah Kirana tujuh tahun lalu?"
Hartono menatapnya lama. Raut wajahnya berubah, bukan penyesalan, tapi kelelahan seorang pria yang lama membawa beban berat.
"Itu bukan sesuatu yang perlu kau tahu detailnya," Hartono menjawab, suaranya kembali tegas namun lebih pelan. "Yang perlu kau tahu, aku melakukan apa yang perlu dilakukan seorang kepala keluarga untuk melindungi keluarga ini. Sama seperti yang sedang kau lakukan sekarang."
Radit berdiri, tidak sanggup lagi duduk mendengar ayahnya membenarkan tindakan yang telah menghancurkan begitu banyak kehidupan demi ambisi bisnis. Ia berjalan keluar, ia butuh udara, butuh ruang yang jauh dari tatapan menusuk ayahnya.
...****************...
Di lorong rumah sakit yang sibuk, di antara staf medis yang lalu-lalang dan keluarga pasien lain yang sedang menunggu cemas, matanya menangkap sosok familiar di ujung lorong. Kirana, berjalan bersama ibunya, tampaknya mereka sedang menuju ruang dokter untuk kontrol rutin pascaoperasi kateterisasi jantung Sulastri.
Kirana belum melihatnya. Ia sedang berbicara lembut dengan ibunya, sesekali membantu Sulastri menyeimbangkan langkah, senyuman tulus terukir di wajahnya — senyum yang jarang sekali Radit lihat belakangan ini, di tengah semua kerumitan yang mereka lalui. Suara tawa kecil Sulastri terdengar sampai ke tempat Radit berdiri.
Radit berdiri di sana, menatap Kirana dari kejauhan. Kerinduan yang tidak pernah benar-benar hilang. Rasa bersalah yang menumpuk dengan setiap kebohongan yang ia katakan.
Ia bisa saja berjalan menghampiri mereka sekarang. Bisa mengatakan yang sebenarnya, tidak peduli dengan segala konsekuensinya, tidak peduli dengan ancaman ayahnya yang masih terdengar jelas di telinganya.
Radit teringat kata-kata yang terus ia ulang pada dirinya sendiri — ia sudah lelah berpura-pura, Kirana berhak tahu kebenaran, kali ini ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti tujuh tahun lalu.
Tapi, kata-kata itu terasa seperti janji yang tidak bisa ia tepati, berdiri di lorong ini, dengan ancaman ayahnya yang mampu menghancurkan segala yang telah Kirana bangun dengan jerih payahnya.
Bayangan Cipta Prada Land yang hancur, bayangan Kirana yang akan kehilangan segala yang telah ia bangun lima tahun terakhir, membuat kaki Radit terpaku, tidak sanggup untuk bergerak mendekat.
Kirana akhirnya menoleh, matanya menangkap sosoknya di ujung lorong. Untuk sepersekian detik, dunia mereka berdua seolah berhenti berputar, seperti yang selalu terjadi setiap kali pandangan mereka bertemu.
Tapi kali ini, Radit tidak mendekat. Ia cuma mengangguk pelan sebelum berbalik, kembali menuju kamar ayahnya, hatinya semakin berat dengan setiap langkah yang menjauhkannya dari perempuan yang seharusnya sudah lama ia perjuangkan.
Ketika ia kembali masuk, Hartono sudah menunggu dengan tatapan menuntut, seolah tahu apa yang baru saja terjadi di lorong itu.
"Sudah kau putuskan?" Hartono bertanya.
Radit menatap ayahnya lama. Memikirkan Kirana yang baru saja tersenyum pada ibunya.
Memikirkan Cipta Prada Land yang dibangun dari reruntuhan dengan begitu banyak darah dan keringat Kirana. Memikirkan konsekuensi yang akan menghancurkan begitu banyak kehidupan kalau ia memilih melawan ayahnya sekarang.
"Baik, Ayah," Radit akhirnya berkata, suaranya pelan. "Aku akan menikah dengan Valerie secepatnya, seperti yang Ayah mau."
Hartono mengangguk, ekspresinya melunak, hampir menyerupai kepuasan seorang jenderal yang baru saja memenangkan pertempuran. "Kau membuat keputusan yang bijaksana, Radit. Suatu hari nanti, kau akan mengerti, ini yang terbaik. Bukan cuma untuk Wibowo Group, tapi untukmu sendiri."
Radit tidak menjawab. Ia cuma berdiri diam di samping ranjang ayahnya.
Di luar jendela kamar rumah sakit, Jakarta terus bergerak seperti biasa, tidak peduli pada pertempuran batin yang baru saja kalah di ruangan kecil ini.
...****************...
Radit keluar kamar Hartono ketika mendapat pesan dari Farrel.
Farrel sudah menunggunya di luar kamar, bersandar ke dinding koridor dengan tumpukan dokumen di tangan. Ia membaca ekspresi Radit.
"Lu setuju?" Farrel berkata pelan, ia sudah menguping pembicaraan Radit dan Hartono di dalam kamar perawatan itu.
Radit mengangguk sekali, tidak sanggup menjelaskan lebih jauh.
"Terus Kirana gimana?" Farrel bertanya, meski sudah bisa menebak jawabannya dari raut wajah sahabatnya.
"Gua nggak tau, Rel," Radit menjawab, suaranya nyaris hilang di tengah keramaian koridor. "Gua cuma tau gua baru aja jadi pengecut, lagi."
Farrel menepuk bahunya, tidak mencoba menghibur dengan kata-kata. Ia tahu, apapun yang ia katakana tidak akan cukup untuk menenangkan Radit di situasi seperti ini.
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪