"Apa kita jalani aja dulu, sampai kita merasa bosan."
"Lah kok, Abang bilang kayak gitu, sama aja itu gak ada hubungan, gak ada ikatan, aku gak mau terjebak dalam satu hubungan yang bernama Friendzone, apa itu? Hubungan yang buat muak aja!!"
Seketika dengan sekali tarikan nafas, Embun mengeluarkan semua isi hatinya mengenai perkataan Gerry tadi, dengan seluruh kata-kata yang ada di fikirananya tanpa berfikir ulang untuk ia ucapkan.
Ikuti dan tunggu cerita selanjutnya. Terima kasih.
❌ DILARANG PLAGIAT KARYA SAYA
Dipublish: 13 September 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si Gadis Imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Embun dan sang Mama pun menuju bagian cemilan dan biskuit-biskuit, tiba-tiba dari kejauhan nampaklah seseorang dari pandangan mata Embun yang sangat enggan ia lihat apalagi harus bertegur sapa.
"Hay Mamih, Hay Embun." sapa seseorang itu.
Seketika wajah Embun berubah masam ketika seseorang yang dihadapannya menyapa ia dan sang Mama.
"Hay Nak Roy, apa kabar ganteng." ucap Mama Embun dengan menyodorkan tangan guna Roy menjabat tangannya.
"Baik Mamih." jawab Roy seraya mencium tangan Mama Embun dan wajahnya masih tidak lepas menatap wajah Embun.
"Kamu kesini sama siapa." tanya Mama Embun pada Roy.
"Sendiri Mamih, ini lagi iseng jadi main-main saja, Mih, Mamih itu anak gadisnya kok cemberut saja dan Roy sapa tidak dijawab." jawab Roy seraya menanyakan sikap Embun saat ini dengan wajah yang dibuat memelas walaupun ia tahu mengapa gadis tersebut bersikap seolah-olah mereka orang yang tidak kenal sama sekali.
"Sayang, Kaka, itu Roy sapa kamu, kamu tidak mau jawab sapaan dia?" tanya sang Mama kepada Embun.
"Males Mah." jawab Embun singkat dengan meletakkan kedua tangannya didepan dadanya dan dengan wajah yang tidak bisa diungkapkan.
"Sayang, jangan macam itu tidak baik loh, Nak Roy sudah baik sapa kamu, masa kamu tidak mau jawab sapaan dia." ucap Mama Embun guna menasihati sang putri tercintanya.
"Emm." jawab Embun dengan deheman saja.
"Eh, ada Nak Roy, apa kabar kamu ganteng." sahut Papa Embun yang tiba-tiba datang menghampiri Embun dan Mama Embun.
"Baik, Pih, Papih apa kabar?".jawab Roy dengan mencium tangan Papa Embun dan menanyakan kabar.
"Baik Roy, kamu apa kabar, lama tidak main ke rumah, kamu sibuk apa sekarang?" jawab Papa Embun dan disertai pertanyaan kembali.
"Roy sibuk urus usaha Papah dan lagi fokus juga, Pih." jawab Roy.
"Sudah-sudah, ini mengapa kita bernostalgia dipertengahan jalan rak-rak cemilan, lebih baik Mama bayar belanjaan dahulu dan kita lanjut ngobrol di restoran yang diluar tadi, Papa dan Roy duluan kesana bagaimana setuju semuanya." ucap Mama Embun untuk menyudahi sesi nostalgia yang tiba-tiba, dikarenakan tidak enak mengganggu jalannya orang yang hendak memilih cemilan yang ada disana.
"setuju." jawab kompak Papa Embun dan Roy dan Embun hanya diam, Embun sudah tak ada selera untuk berlama-lama dengan adanya Roy yang tiba-tiba datang dan menyapa ia dan kedua orang tuanya.
Mama Embun dan Embun pun menuju kasir guna membayar semua belanjaan yang telah mereka beli.
Dan sang Papa juga Roy menunggu di restoran yang telah disepakati Mama Embun.
Disisi lain Embun yang sudah muak dengan semua ini hanya bisa diam dan menahan amarahnya untuk tidak menumpahkan sumpah serapahnya kepada sosok Roy laki-laki tersebut.
"Arrrgh, benci aku, mengapa ia datang lagi, muak, sebel, kesel, ini juga mengapa Papa dan Mama kompak sekali dan terkesan welcome lagi sama si Roy tokyor itu, ih, sebel, kesel, mumet, emosi, mau ku tonjok rasanya dia, arrrrrgh." gerutu Embun dalam hati dengan mengepalkan kedua tangannya yang sudah emosi, entah ada apa dengan ia dan Roy tersebut.
Setelah selesai melakukan pembayaran, Embun yang telah mengambil alih membawa trolli belanja dari tangan sang Mama, mereka pun menuju restoran yang sudah dahulu Papa Embun dan Roy pesan.
Mama Embun dan Embun pun duduk dimana sudah ada Papa Embun dan Roy yang sudah memesan makanan dan minuman dikarenakan waktu sudah menunjukkan pukul 17.55 yang mana bagi Keluarga Embun untuk makan malam.
"Loh, sudah pesan saja ini", Ucap Mama Embun seraya duduk disebelah Papa Embun dan mau tidak mau Embun duduk disebelah Roy.
"Iya Mah, ini juga sudah pukul 17.55 supaya kita tidak kemalaman makannya dan ini semua Roy yang bayar tak lupa dia juga pesan makanan kesukaan Mama dan Embun, Roy benar-benar masih ingat loh, Mah." ucap Papa Embun panjang lebar yang entah terkesan menyanjung Roy.
"Wah, Roy kamu masih ingat ya makanan kesukaan Mama." ucap Mama Embun dengan mata yang berbinar karena melihat makanan kesukaan Mama Embun.
"Iya Mih, Roy tidak akan lupa makanan kesukaan Mamih, Papih dan juga si imut Embun ini." jawab Roy seraya menatap wajah Embun dengan kerlingan genit matanya.
"Sudah-sudah, lebih baik kita makan, nanti setelah makan kita lanjut ngobrolnya, bagaimana semua setuju." sahut Papa Embun untuk menyudahi obrolan yang didepannya sudah tersaji makanan.
"Setuju." jawab Mama Embun dan Roy, sedangkan Embun hanya diam saja dan enggan untuk menanggapi semua celotehan Roy.
"Rasanya aku mau pulang cepat, buat pusing kepala saja, arrrgh." gumam Embun dalam hati.
Mereka pun makan dengan tenang dan hening hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar karena pantulan yang dihasilkan dari piring mereka.
Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai makan, mereka pun asik mengobrol dimana yang mendominasi obrolan ialah Papa dan Mama Embun, sedangkan Embun hanya diam dan memainkan tisu yang ada ditangannya.
"Loh kok, Kaka diam saja, ini ada Nak Roy loh, kan kalian sudah lama tak berjumpa apalagi Nak Roy juga sudah lama tak main ke rumah, apa sudah bosan ya main ke rumah kami yang sederhana dan terkesan biasa saja.", tanya Mama Embun seraya menyodorkan beberapa pertanyaan yang menohok hati Embun dan Roy.
"Emm, Roy sibuk Mih, bener deh, Roy super duper sibuk, bantu usaha Papah dan lagi mau fokus saja, Mih." kawab Roy sedikit gugup dikarenakan ia masih ingat dalam ingatannya bagaimana perlakuan ia terakhir kali kepada Embun yang mana jika kedua orang tua Embun sampai tahu, ia akan habis kena pukulan ataupun bisa diadili.
"Terus sekarang kamu pacarnya siapa?" tanya Mama Embun lagi.
"Saya jomblo, Mih, mana ada yang mau sama saya." jawab Roy dengan mengarahkan pandangannya kepada Embun, tetapi gadis yang ia lirik masih fokus dengan mainan tissunya.
"Masa iya, pria tampan, mapan dan keren macam kamu tidak ada yang mau." goda Mama Embun dengan menaikan alisnya tanda ia kurang percaya akan jawaban Roy tersebut.
"Serius, Mih." jawab Roy lagi dengan sekali lagi matanya tertuju kearah gadis yang ada disampingnya.
"Sudah dong Mah, kasihan itu Nak Roy Mama tanya-tanya macam lagi di interogasi dalam kasus kejahatan saja, lebih baik kita pulang ini sudah malam, lagi pula kasihan itu anak gadis Mama daritadi hanya diam saja, pasti dia sudah mengantuk dan Roy juga pasti besok akan sibuk, kan kasihan Roy tidak bisa istirahat nyenyak, Mah." ucap Papa Embun seraya menyudahi segala macam pertanyaan-pertanyaan dari sang istri kepada Roy.
"Ah iya, maaf ya Nak Roy, Mama itu kadang lupa kalau asik ngobrol jadi lupa waktu." jawab Mama Embun dengan menutup mulutnya sedikit malu.
baca jg bukalah hatimu untukku ya..
Dukunganku mendarat ✨💐
Semangat yaaa 🔥
udah kangen sama si Rudy yang kelewat
gemessinnnn saking gemesnya jadi pengin nampol eekkkhhhh candaaaa jahahahaha😂😂😂🙈🙈🙈
walah walahhhh sabar mama embun😌😌😌 anakmu memang begitu sikapnya, dah lah terimain aja wkwkwkwk itu kan juga hasil goyangan anda dan suami anda eeeehhhh🤣🤣🤣🤣🙈🙈🙈
enak banget ya kerja di rumah embun😌😌😌 dianggap keluarga 😍😍😍 iya sih pasti orangtuanya Rudi merasa gak enak, toh itu majikannya 😳😳😳
mama embun takut calon bayinya bersifat kayak embun astaga ngakak bangettt🤣🤣🤣🤣 semoga sikapnya kagak kayak kakaknya ya bund😂😂😂😂