NovelToon NovelToon
SISTEM TAJIR

SISTEM TAJIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Berondong
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Setelah Universitas Dakarta kehilangan spiker kedua mereka, seluruh bangku cadangan mendadak hening. Para pemain saling pandang, saling bisik, tapi tak satu pun dari mereka berani maju menggantikan posisi kosong itu.

Dimas menatap rekan-rekan setimnya, lalu melihat ke arah pelatih yang memberi isyarat agar dia tetap tenang dan bertahan di lapangan.

Setelah beberapa menit diskusi tegang, pelatih tim lawan berjalan ke tepi lapangan. Ia seorang pria paruh baya dengan jaket merah bertuliskan “Universitas Dakarta”. Wajahnya tegang saat melangkah ke arah Dimas.

Dimas berdiri tanpa ragu, meski tak tahu apa yang sedang terjadi. Tak lama kemudian, kapten timnya juga ikut maju, berdiri di sampingnya.

“Kamu dari kampus ini, kan?” tanya pelatih lawan langsung.

Dimas hanya mengangguk pelan.

“Pak Malik, Anda nggak bisa memblok pemain kami seperti itu,” ujar kapten tim UI, suaranya tinggi karena emosi.

Pelatih Henry, pelatih Universitas Indonesia, langsung maju juga. Wajahnya memerah menahan marah, dan ia menatap wasit yang hanya mengangkat bahu karena menilai itu masalah antar tim, bukan pelanggaran permainan.

“Kenapa saya harus curang?” bentak Henry, menatap tajam ke arah pelatih lawan.

“Saya nggak tahu, mungkin karena kalian terlalu ingin menang,” balas pelatih Universitas Dakarta, nada suaranya sinis.

Suasana makin panas. Kedua tim saling maju mendekat, nyaris adu fisik, sebelum wasit akhirnya meniup peluit panjang dan menenangkan semuanya. Akhirnya, diputuskan bahwa Dimas hanya boleh bermain di set terakhir, karena dia belum terdaftar secara resmi dalam skuad utama.

Keputusan itu membuat Pelatih Henry marah besar.

Dimas kembali ke area belakang lapangan, bersiap menerima servis. Meski canggung, ia tak bisa menahan rasa senang terlebih ketika beberapa mahasiswi di tribun melambaikan tangan padanya.

Beberapa penonton berteriak mendukung.

Sorak-sorai itu membuatnya tersenyum.

Bola meluncur ke arahnya.

Dimas melompat tinggi, menahan bola dengan sempurna, lalu mengembalikannya dengan refleks cepat. Tepuk tangan dan sorakan langsung menggema.

Kapten tim menepuk bahunya keras.

“Bagus, Mas! Pertahanan kamu keren banget!” katanya bangga.

Dimas hanya tersenyum lebar. Ia menikmati setiap detik di lapangan itu, teriakan penonton, dan cahaya lampu sorot yang menyorot seluruh arena voli kampus.

Pertandingan berlanjut, dan skor masih 24–24 di set penentuan. Ketegangan terasa di setiap bola. Pelatih Henry berdiri di pinggir lapangan, menatap tajam, sementara tim lawan bersiap servis.

“Dimas, kamu siap?” teriak kapten.

“Siap!” jawabnya mantap.

Servis lawan meluncur cepat. Dimas menunduk sedikit, lalu menerima bola itu dengan presisi sempurna. Bola naik tinggi ke udara.

Kapten langsung mengoper balik ke Dimas. Ia melompat tinggi, tubuhnya melayang di udara seolah waktu melambat.

PAAAK!

Suara smash-nya keras dan bersih. Bola menukik tajam ke lantai lawan tak ada yang bisa menahannya.

Tribun penonton meledak.

“SMASH POINT!!!”

teriak komentator kampus dengan suara memecah malam.

Lapangan bergemuruh.

Pelatih Henry berteriak dari tepi lapangan, “Lari! Rayain, cepat!”

Dimas tertawa, menjulurkan lidah, lalu berlari mengitari lapangan sambil disambut rekan-rekannya.

Pelatih gemuk itu sudah berdiri di tepi pagar, wajahnya merah padam karena girang. Ia memeluk Dimas sambil berteriak,

“Kau bikin sejarah, Nak! Universitas Indonesia juara!”

Sorak-sorai menggema di seluruh stadion itu..

“Oii… pelatih, siapa nama cowok itu?”

Teriakan seorang gadis cantik terdengar dari barisan penonton. Ia mengenakan jaket bertuliskan Universitas Indonesia, wajahnya penuh rasa ingin tahu.

Pelatih Henry menoleh sebentar, lalu tersenyum bangga.

“Dia? Namanya Dimas,” katanya lantang.

Dimaaaaas!

Dimaaaaas!

Tepuk tangan~ tepuk tangan~

Sorakan itu langsung menyebar ke seluruh tribun. Penonton mulai bertepuk tangan sambil meneriakkan nama Dimas berulang kali.

Seluruh lapangan menggema.

Lampu sorot menyoroti wajahnya yang berkeringat namun tenang.

Dimas menatap pelatihnya sekilas, lalu fokus kembali ke permainan. Ia tahu ini set terakhir.

Skor 24–25.

Kalau mereka kehilangan satu poin lagi, gelar juara akan melayang ke kampus lawan.

Lawan bersiap melakukan servis. Pemain Universitas Dakarta itu tampak gugup ia tahu siapa yang berdiri di seberang net.

Dimas menunduk sedikit, kuda-kuda sempurna.

Servis datang cepat, meluncur ke arah sisi kanan.

Dimas berlari, menekuk lutut, dan menahan bola dengan passing rendah yang sempurna.

Kapten mengoper balik.

Bola melambung tinggi ke udara.

Semua mata tertuju pada Dimas.

Ia melompat tinggi sekali, seolah gravitasi kehilangan daya tarik.

Namun kali ini, bola lawan menipu arah. Bola yang semula terlihat lurus malah berputar sedikit karena efek spin. Dimas mengayun terlalu cepat.

Tik!

Smash-nya meleset tipis.

Bola melambung ke luar garis, jatuh di luar lapangan.

“OUT!” teriak wasit.

Sorakan di tribun mendadak hening.

Beberapa penonton menatap kecewa, tapi tak lama kemudian, kapten tim Universitas Indonesia menepuk bahunya.

“Gak apa-apa, Mas. Masih ada satu bola lagi. Fokus!”

Dimas mengangguk pelan, menarik napas panjang. Ia menundukkan kepala sejenak, menatap lantai kayu lapangan yang penuh bekas jejak sepatu, lalu menatap ke arah pelatih Henry.

Pelatih mengangkat tangannya dan berteriak,

“Tenang aja, Dimas! Kita percaya sama kamu!”

Kini skor 25–25.

Mereka butuh dua poin berturut-turut untuk menutup pertandingan.

Lawan bersiap lagi. Servis meluncur kencang lebih keras dari sebelumnya. Dimas menerima bola itu dengan gemetar, namun ia berhasil mengangkatnya sempurna. Setter timnya mengoper cepat ke depan.

Kapten memberi isyarat bola berikutnya untuk Dimas lagi.

“Ambil alih, Mas!” katanya.

Dimas melangkah ke depan.

Keringat menetes di pelipisnya.

Dia tahu, kalau dia gagal kali ini, mereka kalah.

1
Rai Rainadus
lanjutkan cerita nya sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!