Saat keadilan sudah tumpul, saat hukum tak lagi mampu bekerja, maka dia akan menciptakan keadilannya sendiri.
Dikhianati, diusir dari rumah sendiri, hidupnya yang berat bertambah berat ketika ujian menimpa anak semata wayangnya.
Viona mencari keadilan, tapi hukum tak mampu berbicara. Ia diam seribu bahasa, menutup mata dan telinga rapat-rapat.
Viona tak memerlukan mereka untuk menghukum orang-orang jahat. Dia menghukum dengan caranya sendiri.
Bagaimana kisah balas dendam Viona, seorang ibu tunggal yang memiliki identitas tersembunyi itu?
Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Motor-motor saling mendahului satu sama lain, raungannya menggema bagai genderang perang yang ditabuh dan siap bertempur. Viona bergerak lincah tanpa mengurangi kecepatan menyalip motor-motor yang berada di garis depan.
"Sial! Perempuan itu ternyata bisa menyalip juga!" umpat seorang pemotor yang baru saja dilewati Viona.
Tak terima didahului oleh perempuan, dia menambah laju motornya. Mencoba mendahului Viona berniat hendak menggulingkannya. Namun, semakin dia menambah kecepatan, semakin tertinggal di belakang.
Viona tak peduli pada yang lain, tak peduli menjadi seorang pemenang. Satu yang dia kejar adalah Diaz yang saat ini memimpin di garis paling depan.
Viona lengah hingga beberapa pemotor kompak mengepungnya. Ia diapit tiga motor sekaligus, tapi masih tetap tenang dan melaju dengan stabil.
"Kalian pikir bisa menekan ku dengan melakukan hal seperti ini. Bodoh!" Viona tersenyum mencibir, seraya menambah laju kecepatan memaksa motor yang paling depan mempercepat diri.
Ia mencari celah untuk keluar dari kurungan itu tanpa memperlambat lajunya. Viona melirik ke samping kanan, pemotor itu hendak mendorongnya ke jurang bagian kiri. Tepat saat motor itu bergerak hendak menabrak dirinya, Viona menekan rem secara langsung. Motornya berputar cepat dan berhenti tanpa terjatuh.
"Argh!" Dua pembalap terjatuh nyaris terjun ke jurang. Satu motor di bagian kanan Viona, dan satunya pemotor yang di belakang terpaksa menarik rem dan hilang keseimbangan.
Viona membuka kaca helm, menatap remeh pada mereka yang terjatuh dan bergantungan di tepi jurang.
"Tolong aku!" katanya, sementara yang lain mencoba beranjak setelah tubuhnya menabrak sebuah pohon besar.
Viona menutup kembali kaca helm dan melaju tanpa mempedulikan mereka berdua. Sementara motor yang mengepungnya dari depan sudah menyusul yang lain.
Viona menangkap sebuah isyarat yang dilakukan oleh Dicky dan Diaz. Ia tersenyum, tahu apa yang akan mereka lakukan. Yaitu mengubah jalur perlombaan mengecoh mereka. Terutama Viona, Diaz ingin melakukan sesuatu kepadanya di tempat tersembunyi tanpa diketahui banyak orang.
Mereka berbelok ke jalan lain, jalanan kecil yang tidak seharusnya mereka lewati. Itu bukan jalur balapan karena jalan itu mengarah ke pemukiman warga yang padat. Semakin jauh semakin menyempit medannya.
"Aku akan ikuti permainan kalian!" ucap Viona seraya mengikuti arah yang dilalui oleh Diaz, sementara Dicky menggiring pemotor lain untuk melalui jalur lain.
Kini, hanya ada dua motor di jalanan sepi itu. Diaz melaju semakin cepat, Viona mengikuti dari belakang. Mengejarnya dengan laju hingga sampai mereka berdampingan. Diaz tersenyum aneh, tapi Viona tak peduli. Baginya itu menjadi kesempatan untuk membalas Diaz.
"Kau yakin sudah berada di jalan yang benar? Ini bukan jalur balapan," teriak Diaz meremehkan Viona.
"Aku tidak peduli karena tujuanku adalah kau!" balas Viona seraya mendahului Diaz dan berhenti secara langsung menghadang tanpa segan.
Diaz yang belum siap berhenti hilang keseimbangan, dan jatuh bersama motornya.
"Sial!" umpatnya seraya berdiri dan membuka helm.
Viona beranjak turun dari motor, melakukan hal yang sama seperti Diaz. Membuka helm menunjukkan dirinya sebelum menghukum penjahat itu. Rambutnya tergerai, menampakkan sesosok wajah yang cantik rupawan tanpa cela.
Diaz tertawa seraya berkata, "Cantik juga rupanya. Seharusnya kau menemaniku di atas ranjang bukan di jalanan seperti ini. Sayang sekali wajah cantikmu itu jika disia-siakan."
Dia tertawa, menatap liar pada sosok Viona dari ujung rambut hingga ujung sepatu yang ia kenakan. Viona diam tak menanggapi, ia menarik ikat pinggang yang dikenakannya sembari melangkah mendekat.
Menggulungnya di tangan kanan, menatap Diaz tanpa berkedip. Bayangan kesakitan Merlia, jeritan, serta tangisannya saat memohon, membuat amarah dalam diri Viona memuncak. Dia berlari, menerjang udara melayangkan serangan cukup keras.
Diaz mengangkat tangan mencoba menangkis serangan Viona. Ia kira wanita itu sama seperti yang lainnya, tidak memiliki tenaga dan hanya akan melayangkan pukulan lemah yang menggelitik. Nyatanya, dia terpukul mundur meski berhasil menangkis serangan Viona.
"Sial! Kuat juga serangannya," rutuknya sembari mengibaskan tangan yang terasa berdenyut nyeri terkena besi dari ikat pinggang Viona.
"Siapa kau sebenarnya? Mengapa mengincar ku?" tanya Diaz menatap tajam pada Viona.
Tatapan liarnya hilang, tak lagi meremehkan Viona.
"Siapapun aku, yang perlu kau tahu malam ini aku adalah kematian untukmu!" ucap Viona menggeram penuh amarah.
Dia kembali menyerang, tapi Diaz menangkap tangannya. Viona menarik tangannya seraya berputar. Ia melepas gulungan ikat pinggang, menghantam punggung Diaz.
"Argh!" Laki-laki itu menjerit, terhuyung tubuhnya ke depan dan nyaris jatuh.
"Kurang ajar! Kau ...."
"Aku Viona, seorang ibu yang anaknya kau lecehkan. Aku membawa derita Merlia untuk ku kembalian kepadamu."
Viona menerjang, melayangkan ikat pinggang, mencambuk tubuh Diaz. Setiap kali menghindar, dengan cepat pula Viona menghantam. Tak satu pun dari serangannya yang meleset.
"Kurang ajar!" Diaz tersulut, dia menggeram meski seluruh tubuh terasa sakit.
Dari saku celana, Diaz mengeluarkan sebuah belati dan menyerang Viona secara membabi-buta. Namun, serangannya tak satu pun berhasil mengenai tubuh Viona. Semuanya dapat dihindari dengan mudah.
"Kau!" Diaz tak dapat berkata-kata, napasnya tersengal-sengal. Tenaganya terkuras habis melawan Viona.
Bibir tipis Viona tersenyum, ia menggerakkan tangan, mencambuk udara. Bunyi dari sabetan ikat pinggang itu membuat Diaz bergetar ketakutan. Ia sadar bahwa Viona bukanlah lawannya. Diaz memikirkan cara untuk menipu wanita itu.
Ia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Viona, merendahkan diri sendiri meski harus kehilangan harga diri. Tak ada siapapun di sana, selain mereka berdua.
"Tolong! Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal telah melakukan itu kepada anakmu. Saat itu aku sedang membutuhkan biaya untuk pengobatan ibuku, secara kebetulan seseorang menawariku uang yang banyak. Aku tergiur, aku hanya khilaf sesaat saja. Tolong ampuni aku!" mohonnya ditambah berbohong soal ibu.
Dia pikir Viona tidak tahu kebohongannya. Senyum miring mencibir tercetak di bibir wanita itu. Ia menggeleng, tak percaya dengan ucapan Diaz.
"Hebat sekali! Sungguh anak yang berbakti dan patut diapresiasi, tapi sayang ... aku adalah orang yang tidak memiliki belas kasih. Aku akan tetap menghukum orang-orang jahat seperti kalian. Mati atau cacat seumur hidup!" kecam Viona, seketika wajahnya berubah sangar khas agen Vi yang dikenal banyak orang.
"Agen Vi ...." Diaz terjatuh, tubuhnya lemas seketika saat mengetahui siapa yang ada di hadapannya.
Agen Vi ... nama itu sangat dikenal di kalangan masyarakat meski mereka tidak pernah melihat wajahnya. Hanya dengan menyebutkan namanya saja, sudah membuat para penjahat ketar-ketir.
Diaz terdiam, tak ingin mati konyol tanpa perlawanan. Dia mengambil belatinya, berdiri untuk melawan meski tahu akan kalah. Tak ada siapapun yang bisa mengalahkan kehebatan agen Vi.
"Aku tidak peduli siapa kau. Bahkan, meski kau agen Vi yang terkenal itu, aku akan tetap melawan mu!" ucap Diaz seraya menyerang Viona dengan belati di tangan.
Bas!
Viona mencambuk kaki Diaz hingga tubuhnya terjungkal. Ia kembali mengayunkan ikat pinggang itu menghantam tubuh Diaz.
"Bukankah seperti ini kau memperlakukan anakku?" geramnya seraya kembali menghantam tubuh Diaz menggunakan ikat pinggang.
Rasa nyeri, perih, dan panas dirasakan Diaz di sekujur tubuh. Ia menggeliat, meronta dan memekik kesakitan. Viona mendekat, mata mereka beradu tajam. Diaz sudah kehilangan udara dan membuatnya sesak. Viona tersenyum lebar, mengangkat satu kakinya tepat di atas kejantanan milik Diaz.
"Tidak! Jangan! Jangan lakukan itu! Kumohon jangan!" mohonnya mengiba.
Namun, Viona tak mengindahkan permohonannya.
"Seperti dirimu yang tak mendengar ratapan anakku. Maka untuk apa aku mendengar mu?" katanya seraya menginjak kejantanan Diaz dengan sekuat tenaga.
"ARGH!" Diaz menjerit sekuat-kuatnya hingga suaranya terbawa udara dan sampai ke telinga mereka yang tengah berkumpul meski hanya samar saja.
Gerigi-gerigi di bawah sepatu Viona yang mengenai benda itu memberikan sensasi rasa sakit yang luar biasa dan tak dapat dijelaskan.
"Argh!" Sekali lagi dia memekik kesakitan.
Viona menggerakkan kakinya sambil menekan semakin dalam. Rasanya benda itu telah pecah membuat sekujur tubuh Diaz lemah tak bertenaga.
"Bagaimana rasanya? Apakah sama nikmatnya dengan yang waktu itu kau rasakan?" desis Viona menggeram, ia terus menekan kakinya semakin dalam.
"Argh! Sakit, ampun! Aku menyesal, aku benar-benar menyesal!" teriak Diaz dengan napas memburu menahan rasa sakit yang luar biasa.
Viona beranjak, mendekati kepala Diaz. Mengira sudah selesai menghukum, Diaz bisa sedikit bernapas. Akan tetapi, Viona justru menjambak rambutnya. Menyeret tubuh Diaz ke tepi jurang hendak melemparnya.
"Tidak, tidak! Jangan, kumohon jangan! Jangan lempar aku ke bawah sana. Kumohon jangan lakukan itu kepadaku!" pinta Diaz panik.
Viona tidak mendengar, ia menarik kepala laki-laki itu dan melempar tubuhnya ke dalam jurang.
"Tidak!" Suara Diaz menggema di dalam jurang, dan bunyi benda jatuh pun menyusul. Keadaan menjadi sepi, hening tak ada suara.
Viona membawa motor Diaz ke tepi jurang yang sama. Menggulingkannya ke bawah, motor itu jatuh dan hancur. Viona melempar pemantik api, dan bunyi ledakan mengguncang tempat itu. Api membumbung tinggi, mengiringi langkah Viona meninggalkan tempat tersebut.
haiisshh.. masih banyak Vi..!! semangaaattt...!! ✊🏼✊🏼💪🏼💪🏼🔥🔥