Menikah dengan pria usia matang, jauh di atas usianya bukanlah pilihan Fiona. Gadis 20 tahun tersebut mendadak harus menerima lamaran pria yang merupakan paman dari kekasihnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paman Pacarku
(Rasanya tubuhku seperti terbakar ... Ada apa ini? Ada yang salah. Kenapa denganku? Gerah sekali ... Kenapa tidak nyaman ... panas sekali)
Seorang perempuan dibuat kelimpungan karena reaksi obat yang sudah dimasukkan secara rahasia ke dalam minumannya. Wanita yang terbilang masih muda tersebut kelihatan gelisah dan tidak tenang. Ia mengusap tengkuknya, benar-benar tidak nyaman.
(Kenapa ini ... Ada apa denganku? Kenapa aku ....)
Fiona, gadis yang akrab disapa Fiona tersebut merasa tak bisa mengatasi kegelisahan nya itu. Setelah dilihatnya sosok pria yang cukup dekat jaraknya, seketika tangannya menarik tali dasi lelaki tersebut.
Ia berusaha mendekati si pria, tapi lelaki itu justru berusaha menahan diri untuk tidak menyentuh Fiona.
(Tidak, aku tidak segila itu ... Menyentuhnya dan memanfaatkan kondisi nya yang seperti ini. Aku bukan pria sebejat itu!)
Sang pria yang sosoknya hanya terlihat dari belakang tersebut berusaha mengelak nalurinya sendiri. Karena bagaimanapun juga, dia tetaplah laki-laki yang normal. Disentuh dan di dekati perempuan cantik seperti saat ini, siapa yang tidak terpancing. Mati-matian, pria bernama Arga itu menepis bujuk rayuan dan belaian tangan halus Fiona, kekasih dari keponakannya.
"Fiona ... Hentikan!"
Arga menangkap tangan Fiona saat tangan itu dengan berani menyentuh bagian-bagian sensitifnya.
Fiona tak mengindahkan, semakin dilarang, ia semakin liar.
...****************...
Beberapa jam sebelumnya.
"Jangan lupa, kirim ke meja yang di sana, gadis cantik pakai baju merah!" seorang pemuda sedang berbisik pada salah satu pelayan cafe. Dia juga memasukkan beberapa lembar uang ke dalam saku pelayan tersebut. Sebagai uang tutup mulut.
"Baik!" ucap pelayan itu sambil menganggukkan kepalanya. Di tangannya ada nampan dan segelas minuman berwarna sedikit kuning keruh.
Pemuda itu kemudian memperhatikan dari jauh, dilihatnya sang kekasih sedang duduk memainkan ponselnya. Tak lama berselang, seorang pelayan datang sambil membawa nampan. Ia meletakan gelas itu kemudian pergi.
Fiona, gadis muda yang sedang menempuh pendidikan di salah satu kampus swasta itu pun meraih gelas tersebut. Matanya fokus pada HP, kemudian meraih gelas dan perlahan minum sampai tersisa separuhnya saja.
Dari jauh, sepasang mata mengamati bagai elang yang siap menerkam mangsanya, senyum tipis tergambar di wajahnya yang masih muda dan tampan tersebut.
Masih sambil senyum penuh kepuasan, bibirnya bergumam, "Malam ini kamu gak bisa ngelak lagi, sayang. Pacaran dua tahun, cuma pegang-pegang tangan? Tidak bisa, malam ini kamu akan jadi milikku!"
Setelah memastikan Fiona sudah meminum minuman yang dia berikan bubuk tertentu, pemuda itu kemudian menghampiri. Pura-pura dari kamar kecil, kemudian duduk santai seperti tidak terjadi apa-apa sambil menunggu pesanan mereka yang belum datang.
"Lama sekali?" protes Fiona. Ia menatap sang kekasih dengan tatapan manja.
"Antri," kata Davin, pemuda yang sudah dua tahun memacari Fiona sejak keduanya masuk universitas.
Tak lama berselang, pesanan makanan mereka datang. Fiona langsung bersemangat, karena memang sudah merasa lapar. Apalagi ketika melihat menu kesukaannya yang kelihatan lezat.
"Kelihatan enak banget, sepertinya malam ini akan tidur nyenyak," celoteh Fiona dengan muka polos.
Davin tersenyum ramah, kemudian mengusap rambut kepala Fiona. "Makan yang banyak sayang," ucapnya lembut.
Baru beberapa suapan, Fiona merasa ada yang tidak beres. Ia merasa lehernya panas, badan gerah dan tidak nyaman.
"Sayang, kayaknya alergi aku kambuh ... " gumam Fiona sambil melihat udang-udang di atas piring di depannya.
Sementara itu, Davin langsung memasang muka cemas. "Ya sudah, jangan diteruskan. Di mobil ada obat alergi kamu," ajak Davin.
Fiona tak curiga, daripada semakin tak nyaman, ia pun meninggalkan cafe meskipun makanan belum ia makan sepenuhnya.
Baru di parkiran, Fiona sudah merasa kepanasan. Matanya tidak fokus. Tubuhnya terasa tersiksa, biasanya efek alergi makanan tidak seperti Iki.
"Salah makan apa ini?" gumam Fiona tak nyaman. Fiona dipapah oleh Davin. Di parkiran kelihatan sepi, saat akan masuk mobil, terdengar ponsel Davin berbunyi.
"Kamu masuk mobil dulu," pinta Davin buru-buru menjauh. Ada telpon yang harus dia angkat. Kalau bukan telpon urgent, sudah pasti dia abaikan.
"Hallo, Ma? Ada apa?" tanya Davin sambil matanya menoleh melihat pintu mobil yang masih terbuka. Dipikirnya Fiona sudah masuk ke dalam mobilnya. Jadi ia merasa situasinya sudah aman terkendali.
"Kamu pulang sekarang, di rumah ada perempuan yang ngaku hamil anak kamu! Kamu jangan buat masalah terus, sebelum papamu tahu, cepat pulang sekarang!" omel sang mama. Kebiasaan Davin, putranya itu memang suka main dengan perempuan. Kenalkan remaja yang susah dihilangkan.
Padahal punya pacar yang kelihatan anak baik-baik, tapi tetap saja anaknya itu suka main-main. Playboy.
Sementara itu, setelah dihubungi sang mama, Davin hanya mengangguk paham, "Ya."
Ia kemudian mengumpat kesal, ia jadi ingat adik tingkat di kampusnya, beberapa bulan lalu mereka memang terlibat pesta di sebuah klub dan berakhir di sebuah hotel. Tapi dia tak menyangka, hal yang hanya untuk main-main itu justru jadi masalah.
Padahal sudah sepakat untuk melupakan, hanya senang-senang saja. Siapa yang menyangka, gadis itu datang ke rumah dan bertemu keluarganya, apalagi bilang hamil? Tidak mau percaya begitu saja, paling juga anaknya orang banyak, karena Davin tahu, dia bukan yang pertama pakai.
"Sepertinya rencana malam ini gagal ... Fiona ... Kamu selamat malam ini," gumam Davin lalu putar badan dan menuju mobilnya. Pintunya masih terbuka lebar, Gavin langsung melihat ke dalamnya, sedikit terkejut saat mobilnya kosong.
"Fiona ... Fio ... Fiona?" Davin mencari sang pacar yang tidak kelihatan di mana-mana.
Ia berjalan mengitari mobil, mencari di area parkiran. Tidak ada orang yang lewat, hanya beberapa mobil yang melintas.
"Di mana dia?" gumam Davin masih dengan mata yang sibuk menatap ke sana ke mari.
Gavin merogoh saku celananya, mencoba menelpon sang kekasih.
(Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif)
"Kenapa nomornya?"
Ia mencoba mengirim teks pesan dah kembali menelpon.
Tut Tut tutttt!
"Syallll!" Davin mengumpat lagi, kemudian sedikit berlari mencari ke sekeliling. Sampai beberapa menit kemudian, ia akhirnya menyerah dan masuk ke dalam mobilnya. Apalagi sang mama sudah miss call berkali-kali.
"Ke mana dia?"
Davin yang kesal sampai memukul setir bundarnya tersebut.
***
Di situasi dan tempat lain. Di dalam mobil mewah, sopir kelihatan gelisah melihat spion. Beberapa kali sudut matanya mencuri-curi pandang.
"Pak Arga, kita akan ke mana? Ke rumah sakit dahulu atau ke apartemen?" tanya sang sopir.
Saat mereka di parkiran tadi, tiba-tiba seorang gadis langsung masuk dan duduk di belakang, duduk di sebelah Arga, pria matang berkacamata dan memiliki garis wajah yang tegas.
Sempat akan diusir karena salah masuk, tapi ketika Arga melihat dengan jelas muka si gadis, dia tahu kalau itu pacar sang keponakan. Arga juga tahu, ada yang aneh dari gelagat si gadis. Kondisinya tidak normal, bukan sakit parah yang butuh pertolongan dokter, tapi sepertinya terpengaruh obat tertentu.
Sebagai lelaki dewasa yang sudah matang dan banyak pengalaman, Arga tentu paham apa yang sedang terjadi pada pacar keponakannya itu. Tanpa mengatakan apapun, dia minta pada sang sopir sekaligus sekretarisnya itu langsung menjalankan mobilnya.
Arga dan Davin, rupanya keduanya sama-sama makan malam di tempat yang sama. Pada akhirnya, Fiona yang semula datang bersama Davin, kini justru pulang dengan mobil Arga, paman dari kekasihnya.
***
Apartemen
Arga membopong tubuh Fiona, gadis yang selalu sopan itu malam ini kelihatan seperti tidak terkendali. Beberapa kali dalam gendongan Arga, ia menarik dasi dan jas pria tersebut, sambil bibirnya mengoceh tidak jelas.
"Siapa kamu ... Turunkan aku, eh ... Siapa saja, turunkan aku."
Fiona masih saja mengoceh, sementara Tara, sekretaris Arga, lelaki itu jalan di belakang sambil membawa sepatu Fiona yang sudah lepas satu pasang.
"Kamu boleh pergi sekarang!" ucap Arga pada sang sekertaris. Ia akan mengatasi masalah ini sendiri.
Tara mengangguk, ia letakkan alas kaki milik Fiona di dekat rak, kemudian melirik sedikit. Dilihatnya Arga menurunkan tubuh Fiona di sofa.
(Malam-malam begini, kenapa tidak diantar ke asrama saja? Pak Arga kan tahu, gadis itu pacar Davin, ponakannya)
(Kenapa juga tidak dibawa ke rumah sakit? Hem ... Apa pak Arga tertarik pada gadis ini? Tapi kan pacar ponakannya sendiri?)
Tara sibuk berasumsi sendiri, sampai Arga menoleh ke arahnya, karena lelaki itu tak kunjung pergi juga.
"Permisi!" pamit Tara buru-buru, tatapan Arga, membuat lelaki berjas hitam itu langsung segera keluar dan menutup pintunya.
Klek!
(Sudahlah ... Itu urusan keluarga mereka)
Tara menoleh ke pintu, wajahnya menyimpan rasa penasaran. Ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam sana. Mengingat sang bos lama single. Sampai usia di atas 30 an. Kini di apartemen dengan seorang gadis muda. Memikirkan saja membuat Tara merinding.
***
Esok harinya
Gorden jendela masih tertutup, tapi sebagian sedikit tersibak, membuat beberapa cela dan cahaya masuk ke dalam ruangan kamar di salah satu apartemen mewah di pusat kota tersebut.
"Di mana ini?" gumam Fiona. Suara belum bisa keluar sempurna dari mulut. Bibirnya kering, begitu juga dengan tenggorokannya.
Ia memegangi kepalanya, kemudian menoleh ke samping. Seperti tersengat listrik, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang, nyaris saja dia teriak kencang, spontan dia menutup mulutnya sendiri.
(Fiona ... Apa yang sudah kamu lakukan semalam???)
Fiona masih mengumpulkan nyawanya, sementara pria di sebelahnya masih tertidur dengan selimut yang menutupi sampai bagian pinggang saja. Wajah Fiona langsung pucat dan lemas, apalagi saat dia mengintip ke dalam selimut yang sama.
"Apa yang harus aku lakukan?"
langsung enddd kaakk😆😆😆
alkhamdulillah Happy end
yg musuh Tp menikah di lanjut kaaak 😃🙏
Di tunggu buku yng lain nya Thor
Tetap💪🏼💪🏼❤❤
d tunggu novel baru nya kak 🥰
Davin kabarnya gimana dia
jangan sampai me ngusik kebahagiaan ini za
Atau bu Sasmita pura2 sajah untuk menghindari hukum 😠😠😠