Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selalu Ada yang di Luar Dugaan
Pada akhir karena keadaan yang jadi canggung, Ryu Jeong memutuskan pulang tak lama setelah meneguk habis minuman yang disuguhkan Anjani.
Mengutuk diri sepanjang jalan.
Sekarang di apartemen-nya.
“Aku benar-benar bisa gila! Selain untuk memastikan keadaannya, tujuanku melakukan itu juga membangun kedekatan hubungan agar ke depannya bisa mengalir dan dia 'tak terus canggung. Tapi kenapa malah membangunkan yang lain?”
Wajahnya yang meringis merunduk, menatap ke bagian bawah tubuhnya yang sulit diajak kompromi saat sedekat itu dengan sang dipuja, apalagi dengan size dada yang wow abrakadabra di balik atasan rajut yang sangat ketat.
Tidak sangat besar, hanya bagus saja. Ck!
“Siaaaal!”
Kim Raon menatap tuannya di kejauhan dengan kening berkerut, dua cangkir minuman di tangan ikut tertahan. “Kenapa lagi dia? Apa tinjuku di wajahnya kurang membuat bonyok?”
Memikirkan sebentar, lalu berdecak.
“Apakah jatuh cinta membuat orang sebodoh dan segila itu?”
Cara Jeong mencari perhatian wanita memang agak lain. Segala minta dibuat babak belur, dalam sekejap hilang aura pengacara demon dalam dirinya.
Raon hanya bisa menggeleng-geleng.
Baru langkah akan disusun, suara orang sinting itu memecah udara ruang.
“Jangan bersungut-sungut di belakangku, Raon! Mengumpat di depan hidungku lebih baik dibanding jadi pecundang yang seperti ibu-ibu.”
Tersentak sebentar, lalu berdeham untuk menetralkan diri. "Tidak, Pengacara, Bos. Aku tidak akan berani," sangkal Raon seraya melangkah ke arah Jeong, dua cangkir coklat panas untuk dirinya dan sang tuan yang sedang gila segera datang.
“Cih! Selalu cari aman."
“Iya. Aku tidak mau berakhir konyol dengan menerima balasan tinjumu."
“Ck! Sialan ini.” Hanya sampai di sana, Jeong sedang malas berdebat dengan asisten dingin dan tengik seperti Raon. Pikirannya kembali ke titik awal, tentang Anjani. Menyanggakan leher dan kepala ke bagian atas sofa, mendongak ke langit-langit dengan mata memejam ayam.
Raon tidak menimpal, sama malasnya. Yang dilakukan sekarang adalah duduk lalu membaca dokumen berkas persidangan mendatang yang sejak awal ada di atas meja.
“Aku memasang ekspresi terbaik dengan wajah hasil pukulanmu, tapi malah aku yang jadi gila karena perlakuannya.”
Perhatian Raon direbut lagi, sedikit ada ketertarikan. Tapi sampai di sana dia belum punya kata tepat untuk menimpal.
"Raon!"
“Ya, Pengacara Boss?!" Namun sigap asisten itu menjawab.
“Berikan saran yang lebih jitu dibanding caraku! Aku harus bagaimana untuk lebih menarik perhatiannya? Dia bukan tipe wanita yang mudah didekati."
Doeng!
Raon terkesiap. Ingin tidak ikut campur, tapi tatapan bos-nya itu membuatnya sedikit terintimidasi. Cepat memutar otak untuk berpikir, dan pada akhir memaksakan diri. “Aku tidak bisa pastikan itu akan berhasil. Tapi, Pengacara Boss ... saranku ...."
Jeong langsung menegakkan badan, menagih apa yang akan dibagikan asisten itu. “Apa?"
Sebelum menjawab, lebih dulu Raon menarik napas, mengenyahkan perasaan tak enak agar terlihat bijak, lalu bicara, “Saranku, sebaiknya Pengacara Boss pakai cara biasa saja. Jadi diri Bos sendiri tanpa ....”
“Katakan saja! Aku tidak akan menghukummu walaupun itu salah.”
“Baiklah. Maksudku ... Pengacar Bos tak perlu melakukan trik konyol seperti tadi lagi.”
“Lalu?”
“Lakukan saja mengalir, jadi diri Pengacara Bos sendiri yang sekeren biasa. Berakting lemah hanya akan membuatnya simpati saja, bukan jatuh hati secara alami.”
Itu sederhana, Jeong Sudah memikirkannya. Tapi ... apakah Anjani akan mudah menerimanya?
-**-
Esok malam ....
Jeong menunggu tanpa mengganggu, di sudut luar toserba yang tidak terjangkau pandangan dari dalam. Namun Anjani yang sedang sibuk tetap bisa dilihatnya secara jelas.
Setidaknya setengah jam lagi wanita itu baru akan selesai.
Tidak memainkan ponsel atau memakan camilan kering, Jeong benar-benar hanya diam memerhatikan dengan intens mendalam. Sesekali tersenyum hanya karena melihat Anjani memakan sesuatu yang mirip manisan, lucu baginya.
"Kenapa dia selalu mengikat rambutnya seperti itu?" gumamnya, bertanya pada udara atau pada bayangan pohon yang melintang di tengah jalan. “Akan seperti apa jika rambut panjang legam itu digerai? Bolehkah aku melihatnya sekali saja?"
Sesak isi kepalanya dipenuhi hanya satu narasi saja, tak terasa waktu mengantarnya pada kesudahan menunggu. Anjani baru menyentuh pintu kaca toserba untuk keluar. Namun baru akan beranjak, pemandangan di depan membuatnya berganti raut lalu diam kembali.
Dua orang pria menghampiri Anjani dan mereka nampak sedang bicara sekarang. Namun dari tatapan yang penuh telisik, Jeong menilai dari ekspresi, sepertinya wanita itu merasa risih bahkan terus berjalan meski dikejar dua pria yang berjalan mundur di hadapannya.
Sampai pada pemandangan lengan Anjani ditarik-tarik paksa dan berteriak, barulah Jeong ....
VROOM! VROOM!
Kedatangan sepeda motor berjenis ninja, berputar mengelilingi lalu berhenti tepat di hadapan mereka, Anjani terkejut, tak terkecuali dua pria itu juga.
"Siapa kau, Bedebah?!" tanya salah satunya.
Helm yang meliput kepala membuat wajah pengendara itu tidak terlihat.
"Ayo naik, Anjani!"
Anjani terkejut. "A-aku?'
"Ya, cepat!”
"Ta-tapiー"
"Hey! Berani-beraninya kau menikung!"
"Turun kau, sialan!"
"Hah." Pemotor yang jelas adalah Jeong itu mengerang kesal. “Merepotkan saja.” Dengan gerakan malas turun juga dari motornya, membuka helm dan menaruhnya ke atas jok.
Saat berbalik ....
"Ki-Kim Jeong!”
GREBB!
Refleks yang bagus, Jeong baru saja menggagalkan sebuah pukulan yang hampir mendarat di pipinya, mengesampingkan sebentar Anjani yang terkejut karena kemunculannya.
"ARGH! UGH!"
Bagus, setelah memerintil pergelangan tangan yang hampir meninjunya sesaat lalu, Jeong menendang pinggang orang itu hingga tubuhnya terpental beberapa jarak menimpa tepian jalan.
"Kau mau coba juga?” Dia bertanya pada pria satunya yang masih tegak. "Pukulanku bisa mematahkan tulang leher lho!”
Mungkin hanya ancaman, tapi seringai di wajah Jeong menguar aroma kelam yang biasa ditunjukkan oleh villain di film-film. Itu cukup menambah beban untuk kemudian menghalau pria itu terbirit-birit.
"Tunggu aku, Sialaaan!” Temannya meneriaki, ikut berlari kabur sambil terpincang-pincang.
Jeong mendesah menatap mereka.
"Te-terima kasih."
Nada terbata dari suara lembut menarik pandangan Jeong lekas ke sana. “Kau baik-baik saja?" tanyanya pada Anjani, sambil mendekat.
"I-iya, aku baik-baik saja.”
“Syukurlah."
“Terima kasih sudah menolongku."
“Aku senang melakukannya ... terutama untukmu.” Setelah itu hilang senyumnya, menjadi raut datar yang di dalamnya menyimpan makna tak sederhana. “Anjani, apa kau sering mendapat gangguan seperti tadi?!”
Pertanyaan itu lolos di telinga Anjani, tapi penyikapannya membentuk bingung. “Ti-tidak. I-ini ... pertama kalinya.”
Jawaban yang sangat ingin didengar, tapi mata Anjani ... Jeong tidak bisa memercayainya. “Baguslah," katanya seolah bersyukur, namun lain di dalam hati, “Aku harus menempatkan orang di dekatnya untuk mencegah hal-hal seperti tadi.”
Di tempatnya berdiri, Anjani resah bersikap. Dia tak bisa membaca apa yang ada dalam pikiran Jeong. Namun, dengan apa yang dilakukan pria itu sekarang atasnya, dia tentu tidak akan bisa lagi bersikap acuh.
“Kenapa? Ada masalah lagi?” Jeong bertanya terkait kediamannya.
“Tidak! Hanya saja ....”
Sekarang Anjani ragu, atau mungkin malu. Namun perasaannya tidak nyaman jika tidak melakukannya.
“Ayo makan malam bersama aku yang traktir.” Terucap dengan satu tarikan napas.
Terkesiap sebentar, sudut bibir Jeong langsung melebar setelah itu. “Hmm, bolehkah?”
“Tentu saja," jawab Anjani sambil membuang muka, malu sedikit. “Itu hanya sebagai bentuk ucapan terima kasih karena sudah menolongku di saat tepat."
“Hmm." Jeong manggut tenang. “Tapi kemarin aku menyusahkanmu juga. Kau menolongku, jadi ... ayo makan malam bersama, aku yang traktir.”
DZIIIING... 🤜🥴💨
Selamat jingkat buat Author!