Dia tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang raja.
Namun jiwa seorang pemimpin sudah melekat sejak kecil dalam dirinya. Dan darah seorang raja mengalir dalam tubuhnya.
Carlos, seorang pemuda yang menjadi pewaris dan penerus dari kakek moyangnya Atalarik attar.
Namun tidak semudah seperti apa yang dibayangkan, rintangan demi rintangan harus ia hadapi. Mampukah Carlos menghadapinya?
Penasaran? Baca yuk!
Cerita ini hanya fiksi belaka tidak ada kaitannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Lawan menyerang terlebih dahulu, dengan kehebatan yang ia miliki dia sangat yakin bisa mengalahkan Carlos.
Karena sebelumnya hanya butuh beberapa menit saja, ia sudah berhasil mengalahkan lawannya.
Namun kali ini, pria itu belum juga bisa menembus sistem pertahanan milik Carlos. Carlos belum menyerang sama sekali.
"Dia hanya seorang bocah, pasti aku bisa dengan mudah mengalahkan nya," batin pria itu.
Sudah 30 menit berlalu, namun lawan belum juga bisa menembus sistem pertahanan milik Carlos. Pria itu menyeka keringat di dahinya.
"Aku belum menyerang, tapi dia sudah keringatan," batin Carlos.
Satu jam berlalu, Carlos belum juga menyerang. Namun pria itu sudah mulai kesal karena belum bisa mengalahkan lawannya.
"Sial, siapa sebenarnya dia? Kenapa sistem pertahanan nya begitu sulit ditembus?" batin pria itu.
Carlos sengaja melemahkan sistem pertahanannya, membuat pria itu tersenyum karena bisa menembus sedikit sistem pertahanan Carlos.
Dia tidak tahu jika itu hanya umpan untuk Carlos melakukan serangan balik. Pria itu mengirim virus kepada Carlos. Kemudian ia tertawa karena Carlos menerima kiriman virus tersebut.
Carlos menahan virus yang di kirim, lalu dengan mudah ia mengembalikannya ke pemiliknya. Kemudian Carlos menambahkan virus yang ia ciptakan.
Pria itu mulai panik, karena virus yang ia kirim berbalik menyerangnya. Ditambah dengan virus dari Carlos.
"Selesai!" ucap Carlos dengan lantang.
"Ahh sial...!" pekik pria itu.
Laptop miliknya pun gelap, beberapa detik kemudian keluar asap dari laptop tersebut. Pria itu pun segera membuang laptopnya sedikit menjauh agar tidak terkena dirinya.
"Bagaimana? Babak pertama kalian kalah," kata Carlos.
"Hahaha, jangan senang dulu anak muda, masih ada dua babak lagi," jawab Abraham.
Abraham meminta pengawalnya untuk membawa peti yang berisi senjata api. Semua terpisah satu sama lain. Lalu di tuangkan diatas meja untuk dirakit menjadi senjata utuh.
"Peraturannya, siapa yang selesai lebih dulu dialah pemenangnya. Tapi, harus menembak lingkaran itu," ucap Abraham sambil menunjuk kearah papan yang sudah di sediakan.
Carlos mengerti, kini ia sudah duduk berhadapan dengan penantang kedua. Keduanya pun bersiap-siap dengan tangan diatas meja.
Kemudian dalam hitungan ke 3, mereka harus segera mulai. Dan waktu yang digunakan 60 detik.
"1, 2, 3 mulai!" ucap Abraham.
"Huh, ada untungnya juga aku belajar merakit senjata," batin Carlos.
Perdana menteri, Andreas, kakek Bahram dan Sofia terlihat tegang. Mereka takut Carlos tidak bisa melakukannya.
Dor... Suara tembakan dari Carlos pertanda bahwa ia sudah selesai. Sementara lawannya baru mengacungkan pistol kearah papan yang diberi lingkaran.
Tidak sampai 60 detik, Carlos sudah menembak papan tersebut. Sementara lawannya memerlukan waktu 59 detik untuk menyelesaikan nya.
Saat ia merasa menang, ternyata Carlos lebih dulu menembak. Hanya selisih 2 detik saja Carlos bisa memenangkan tantangan yang ke dua.
"Ternyata dia lebih cepat dariku, belum ada yang bisa mengalahkan aku selain dia," batin pria itu.
Andreas, kakek Bahram dan yang lainnya bersorak kegirangan karena Carlos sudah berhasil memenangkan dua perlawanan.
"Raja Carlos, kau bernasib baik kali ini," ucap Abraham memuji. Namun hatinya terasa panas karena Carlos lebih unggul dari orang-orangnya.
"Tapi jangan senang dulu, masih ada satu lagi. Jika kami menang, maka perjanjian ini batal," imbuh Abraham.
"Kami sudah memenangkan dua tantangan, jika kali ini kalian yang menang, berarti kemenangan masih di pihak kami," bantah Carlos.
Abraham tersenyum miring, karena setelah ini dia ada rencana lain untuk menjatuhkan Carlos.
"Kami yang membuat permainan ini, jadi kami berhak menentukan," kata Abraham.
"Baik, jika Tuan sudah berkata seperti itu, berarti kami juga berhak mengajukan persyaratan," ujar Carlos.
"Apa?" tanya Abraham.
"Wilayah timur kita bagi menjadi dua bagian, yang mengarah ke sini berarti bagian kami, begitu juga sebaliknya," jawab Carlos.
Abraham berbincang dengan petinggi kerajaan. Mereka pun setuju daripada semuanya kembali kepada Carlos.
"Saya setuju. Dan sesuai kesepakatan, jika kami kalah, maka wilayah timur mutlak menjadi milik negara kalian," ucap Abraham.
Carlos menunggu tantangan selanjutnya. Saat melihat busur panah dan anak panahnya, Carlos pun mengerti.
Abraham menjelaskan permainan ini. Siapa yang memanah tepat di lingkaran merah berturut-turut sampai tiga kali, berarti dia pemenangnya.
Dan Abraham menjelaskan, siapa saja boleh asalkan masih dari kerajaan ini. Mau rakyat atau petinggi istana juga bisa ikut.
Carlos memilih mempercayakan permainan ini kepada Sofia. Karena ia yakin kemampuan Sofia saat memanah.
"Sayang, aku percayakan kali ini kepadamu," ucap Carlos dengan lembut.
"Aku?" tunjuk Sofia pada dirinya sendiri. "Apa kamu yakin? Bagaimana jika kita kalah?" tambahnya.
Carlos mengelus kepala Sofia. "Aku percaya kamu, jadi yakinlah," ucap Carlos memberikan semangat.
Sofia dengan ragu-ragu maju ke arena yang sudah disiapkan. Abraham dan orang-orang nya malah mengejek karena yang ikut adalah perempuan.
"Raja Carlos, apa sudah tidak ada lagi pria tangguh di negara mu? Sehingga kamu meminta permaisuri mu untuk ikut andil? Dimana sifat ksatria mu sebagai seorang raja?" ejek Abraham.
"Jangan menilai orang dari sampulnya, aku rasa kalian melawan perempuan saja sudah kalah. Apalagi melawan para pria nya," balas Carlos.
Abraham mengepalkan tangannya kuat, ia merasa diremehkan oleh Carlos. Padahal ia sendiri yang mulai, tapi dia juga yang tidak terima.
"Hanya seorang perempuan apa hebatnya?" kata pria yang ingin bertanding melawan Sofia.
Sofia menoleh ke Carlos, Carlos hanya tersenyum lalu mengangguk. Sementara Andreas dan istrinya merasa cemas. Karena mereka tidak mengetahui kehebatan putrinya.
Pemanah di mulai dari lawan. Satu anak panah melesat kearah papan yang dilapisi gabus busa. Dan tepat di lingkaran merah.
"Bagus, bagus." Abraham tertawa senang karena mendapat nilai sempurna.
Kemudian anak panah kedua melesat juga ke lingkaran merah, Abraham dan orang-orang nya bertepuk tangan. Mereka memuji kehebatan pria itu.
Kini anak panah ketiga ternyata meleset dan hanya mengenai garis merah bukan lingkaran merah.
Namun mereka masih tetap yakin akan menang. Karena lawannya hanya seorang perempuan.
Bagi mereka seorang perempuan hanya mampu melayani mereka di dapur dan ditempat tidur. Itu sebabnya saat perempuan ikut dalam pertandingan ini, dianggap remeh oleh mereka. Terutama Abraham.
Kini giliran Sofia. Sofia mengambil busur panah yang lain, lalu mengambil satu anak panah. Tapi sebelum itu, ia kembali menoleh ke suaminya.
Carlos mengepalkan tangannya memberikan dukungan penuh. Dengan senyum manisnya yang membuat para wanita klepek-klepek.
"Semangat!" ucap Carlos dengan gerakan tangan dan gerakan bibir. Sofia pun mengangguk.
Sofia dengan yakin melesatkan anak panahnya kearah lingkaran merah. Dan saat anak panah melesat, ketegangan pun terjadi diantara mereka. Terutama Andreas dan istrinya.
Dan anak panah pun tepat mengenai anak panah milik lawan. Sehingga anak panah itu terbelah menjadi dua.
Abraham dan orang-orang nya melongo melihatnya. Bahkan pria yang tadi memanah pun ikut melongo.
Mereka tidak menyangka jika seorang perempuan, apalagi seorang permaisuri bisa melakukan hal seperti itu.
"Mustahil, ini tidak mungkin," pria yang tadi memanah. Sedangkan Abraham tidak bisa berkata apa-apa.
Andreas dan istrinya juga kaget melihat kehebatan putrinya dalam memanah. Tidak ada yang bersuara karena mereka seakan tidak percaya dengan semua ini.
yg penting seru💪💪💪💪💪