Tak mau anaknya tumbuh menjadi mafia, Erika nekat pergi meninggalkan Ervan, suaminya sendiri. Mengingat sang suami adalah ketua mafia yang paling ditakuti dan kejam.
Demi sang anak, Erika rela meninggalkan kehidupan mewah dan dunia gelapnya. Namun kaburnya Erika tentu tak lepas dari perhatian Ervan. Karena itu, Erika beberapa kali harus berpindah-pindah tempat tinggal untuk menghindari kejaran sang suami.
Suka dan duka dilalui Erika. Hidup di luar dari kebiasaannya tidak mudah. Apalagi saat dia harus bekerja di bawah pimpinan orang. Alhasil Erika mencoba membuat usaha. Ia pergi ke desa dan membeli lahan luas di sana. Erika memutuskan bercocok tanam buah dan sayuran sebagai mata pencaharian baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Awal Kebun Erika
Melihat suaminya mengamuk, terbersit sebuah ide dalam otak Viona. Ia segera menghampiri Sullivan.
Dua pengawal yang sejak tadi di sampingnya, langsung mengejar Viona. Mereka takut Viona akan berusaha menyerang Sullivan. Mengingat itu pernah beberapa kali terjadi.
"Tenangkan dirimu. Kalau kau begini, kau tidak akan bisa melawan musuhmu," kata Viona sembari menenangkan Sullivan.
Sullivan mengerutkan dahinya. Ia menatap Viona dengan perasaan heran.
"Tumben sekali kau mencemaskanku. Bukankah harusnya kau senang melihatku begini?" selidik Sullivan.
Viona menggeleng. "Kedatangan wanita itu juga menggangguku. Dan aku punya cara agar kau bisa mengalahkannya," ungkapnya berkilah.
"Benarkah? Apa itu?" Sullivan penasaran. Dia selalu tertarik dengan segala ide yang bisa membuat musuhnya jatuh.
"Kau harus membujuknya untuk tunduk padamu. Terserah itu pakai uang atau apapun. Bicaralah baik-baik dengannya. Semuanya tidak harus dilakukan dengan kekerasan bukan?" saran Viona.
Sullivan terdiam. Dia terlihat berpikir. Sedangkan Viona mengamatinya dengan serius. Wanita itu yakin kalau Sullivan pasti akan setuju dengan usulannya. Sebab dia tahu betul perangai sang suami.
Setelah berpikir lama, Sullivan akhirnya membuat keputusan. Benar saja, dia setuju untuk mencoba ide Viona.
Tanpa pikir panjang, Sullivan mengajak anak buahnya untuk mendatangi Erika.
"Aku boleh ikut bukan? Aku bisa kau jadikan rencana cadangan kalau bujukanmu tidak berhasil," imbuh Viona.
"Terserah!" Sullivan kali ini tidak bersikap keras pada Viona. Ia juga membiarkan sang istri ikut bersamanya. Kini mereka dalam perjalanan menuju kediaman Erika.
Di sisi lain, Erika sekarang sedang sibuk menyiram kebunnya. Dia melihat beberapa tanaman sudah tumbuh, dan hal tersebut membuat dirinya merasa sangat senang.
Erika bangga pada dirinya sendiri. Kini hanya perlu merawat semua tanamannya sampai berbuah.
"Harusnya kau gunakan tiga budakmu untuk melakukannya," ujar Ethan yang baru saja datang.
"Mereka sudah terlalu banyak bekerja. Lagi pula aku sudah bosan bersantai. Badanku uni harus bergerak," sahut Erika.
"Sekarang kita hanya perlu melihat bagaimana hasilnya," imbuh Ethan seraya memandangi kebun Erika.
"Lihatlah! Aku berhasil bukan? Jadi jangan meremehkanku!" timpal Erika yang merasa sudah berhasil dengan kebunnya.
Ethan terkekeh. "Ini baru permulaan. Saat semua tanaman ini tumbuh besar, maka di situlah cobaannya. Kau akan menemukan banyak sekali makhluk yang akan mengganggu. Dari yang besarnya seperti semut, bahkan sampai seperti manusia," ungkapnya.
"Cih! Aku bisa mengalahkan mereka! Tak peduli apakah mereka nantinya akan sebesar gajah!" tantang Erika.
"Oke. Kita lihat saja nanti. Aku sangat menantikannya," tanggap Ethan, menarik sudut bibirnya ke atas. Sebagai orang yang telah berpengalaman berkebun, dia tentu tahu bagaimana seluk beluk dalam berkebun.
"Apa kau sibuk?" tanya Erika.
"Tidak. Penginapan sedang sepi. Jadi aku ke sini," jawab Ethan.
"Bukannya penginapanmu itu selalu sepi?" balas Erika sambil terkekeh. Ia tahu tidak banyak turis yang datang berkunjung ke desa Lotuscia.
"Sialan." Ethan memutar bola mata sebal. Namun dia cukup senang karena hubungannya dengan Erika sudah lebih dekat. Entah sejak kapan itu, tetapi sepertinya Ethan memiliki ketertarikan pada Erika.
"Kalau tidak sibuk, temani aku membeli peralatan cat," kata Erika.
"Kau akan mengecat rumah tua itu?" tanya Ethan.
"Iya. Lihatlah! Rumah itu sama sekali tidak layak dilihat," jelas Erika.
"Hati-hati, nanti hantunya marah." Ethan bermaksud bercanda.
"Kalau dia marah, maka harusnya marah padamu. Karena kau menjual rumahnya padaku." Erika tak mau kalah. Namun Ethan meresponnya dengan tawa elegan.
Kening Erika mengernyit. Jika dilihat baik-baik, ada yang aneh dengan sikap Ethan.
Bersamaan dengan itu, Erika dan Ethan melihat dua buah mobil yang berhenti di depan rumah. Mereka semakin dibuat terkejut saat melihat yang datang adalah Sullivan.
..._____...
*Panggilan Mr. Sullivan aku rubah jadi Sullivan aja ya guys. Karena sosoknya gak misterius lagi. 😊
𝚋𝚝𝚠, 𝚊𝚙𝚊 𝚋𝚊𝚔𝚊𝚕 𝚊𝚍𝚊 𝚔𝚒𝚜𝚊𝚑 𝚕𝚎𝚛𝚘𝚢 𝚜𝚊𝚍𝚒𝚎 𝚔𝚊𝚑 🤔🤔