NovelToon NovelToon
Kapan Menikah?

Kapan Menikah?

Status: tamat
Genre:Romantis / Badboy / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:9.5M
Nilai: 5
Nama Author: Senjahari_ID24

Alurnya mengandung kontroversi, jadi cerdaslah dalam menyikapinya. Jika penasaran mengapa mengambil alur semacam ini disarankan membaca hingga tuntas agar paham akan pesan yang ingin disampaikan melalui cerita ini.

Yang tidak kuat dengan alur semacam ini harap diskip saja 😊🙏.

Terima kasih dan selamat membaca.

*****

Kisah tentang seorang gadis bernama Bunga berusia 23 tahun yang sering mendapatkan pertanyaan dari orang-orang terdekatnya. Sebuah pertanyaan yang menjadi stigma di masyarakat dan paling ingin dihindari oleh setiap orang yang tak kunjung mempunyai pasangan.

"Umur kamu sudah segitu, kapan menikah?"

Pertanyaan yang seakan sederhana bagi yang bertanya, tetapi tidak bagi orang yang mendapatkannya.

Kemudian dia bertemu dan jatuh cinta kepada lelaki yang bernama Sastra Prawira, seorang Sastra dengan sejuta pesona yang menyihir dirinya yang tak berpengalaman.

Namun, sayangnya Sastra adalah sosok yang tidak percaya terhadap ikatan pernikahan karena trauma masa lalu yang dialaminya, bertolak belakang dengan Bunga yang sangat mengejar status tersebut akibat tekanan dari orang-orang di sekitarnya.

Kisah dua jiwa terluka, yang tertatih-tatih mencari penawarnya.

Bagaimanakah kelanjutannya? Akankah berlabuh pada ikatan suci tersebut atau malah sebaliknya?

Selamat membaca....


---
Warning 21+ ⚠️. Harap bijak memilih bacaan.

DILARANG PLAGIAT CERITA INI!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KM Part 30

Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya. Dukungan kalian selama ini membuatku semakin semangat menulis 💕

Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.

Terima kasih, selamat membaca 😊

With Love,

Senjahari_ID24

**********

Kini napas mereka berdua semakin memburu, sambil tetap terus menciumi leher gadisnya, Sastra perlahan membuka cardigan yang dipakai Bunga lalu tangannya bergerak menurunkan tali spaghetti gaun tidur warna hitam itu.

Gaun tidur itu sudah turun melorot hampir memperlihatkan bagian atas tubuh indahnya, tetapi gadis itu menghentikan tangan Sastra. Matanya yang asalnya terpejam seketika langsung terbuka dan secara tiba-tiba Bunga mendorong tubuh Sastra yang sedang berada di atasnya hingga pria itu terguling ke samping.

Bunga turun dari ranjang dan berlari masuk ke kamar mandi, sedangkan Sastra masih terkejut dengan apa yang terjadi. Kenapa Bunga tiba-tiba mendorongnya? Padahal gairahnya sudah mendesak hingga ke ubun-ubun.

Sastra berusaha menetralkan napasnya yang masih memburu, ia beranjak turun dan berjalan menuju pintu kamar mandi lalu mengetuknya.

Tok tok tok....

"Bunga kamu kenapa?" Sastra berseru tetapi Bunga tidak menjawab hanya terdengar suara air yang mengalir dari keran.

Sudah hampir lima belas menit tapi Bunga masih belum keluar dari dalam kamar mandi. Sastra yang masih berada di depan pintu kamar mandi semakin cemas kemudian kembali mengetuk.

"Bunga sayang kamu kenapa? cepat buka! Kalau kamu masih belum menjawab aku akan mendobrak pintunya," Suara Sastra naik beberapa oktaf.

Klekk....

Pintu kamar mandi pun sedikit terbuka, Bunga menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Sastra mengembuskan napasnya lega karena gadisnya ternyata baik-baik saja.

"Kamu kenapa lama sekali di dalam? dan kenapa tidak menyahut? aku sangat khawatir." Sastra menatapnya dengan cemas, sedangkan Bunga terlihat kikuk.

"Ma-maaf, maafkan aku. Tadi aku kebingungan karena tiba-tiba aku... aku datang bulan," ucapnya pelan dengan wajah tertunduk.

Sastra mengusap wajahnya frustasi dan menyugar rambutnya serampangan. Namun, ia mengernyitkan dahinya melihat Bunga yang tidak beranjak dari pintu kamar mandi dan masih hanya menyembulkan kepalanya.

"Bunga, kenapa kamu masih di situ? keluarlah." Sastra mengulurkan tangannya.

"Mmmm it-itu aku nggak bisa keluar dari sini," ucapnya lirih.

"Kenapa? ada apa?"

"Anu itu...." Bunga mengusap tengkuknya lalu menggigit kukunya, "masalahnya itu pembalutku... pembalutku habis, aku lupa belum membelinya, bisakah kamu membelikannya untukku?"

Deng....

Yang tadi gagal total dan sekarang apalagi, membeli pembalut? Seorang Sastra Prawira membeli pembalut? yang benar saja.

Sastra mengumpat dalam hatinya.

"Sas, apakah aku harus terus-terusan tetap berada di kamar mandi?" Bunga menatap Sastra dengan wajah memelas dan kalau sudah begini Sastra pasti tidak akan bisa menolaknya.

"Baiklah, di mana aku harus membelinya?"

"Karena sekarang sudah malam, beli saja di minimarket yang buka dua puluh empat jam di dekat pom bensin, maaf merepotkanmu." Bunga merasa tidak enak.

"Oke, kamu tunggu sebentar, aku akan membelinya dan segera kembali."

****

Sastra melajukan mobilnya ke minimarket yang di maksud, ia memarkirkan mobilnya serampangan dan langsung masuk ke dalam.

Setelah di dalam minimarket matanya mencari-cari letak pembalut wanita dan dari kejauhan dia melihatnya. Saat hendak mendekat ke tempat pembalut-pembalut itu dipajang, ia berjalan ragu-ragu dan mengusap-usap tengkuknya dengan gusar karena di sana tampak ada beberapa orang gadis yang juga sedang membelinya.

Sebenarnya Sastra malu setengah mati karena ini adalah kali pertama dia membeli pembalut wanita. Kalau bukan karena Bunga yang memintanya dia pasti tidak sudi melakukan ini. Sastra menunggu gadis-gadis itu selesai memilih dan barulah dia berjalan mendekat.

Sejenak Sastra tertegun karena bingung harus membeli pembalut yang mana. Ia baru tahu ternyata pembalut wanita itu banyak sekali jenis dan mereknya bahkan warna kemasannya pun bermacam-macam.

Dia tadinya mau bertanya pada seorang pelayan toko yang sedang berjaga untuk merekomendasikan mana merek pembalut terbaik, tetapi dia mengurungkan niatnya karena sang pelayan toko malah senyam senyum terpesona melihat ketampanannya.

Akhirnya Sastra mengambil pembalut yang paling mahal harganya dan yang paling besar kemasannya di antara pembalut yang lain, ia sudah ingin cepat-cepat pergi dari sini karena para wanita yang sedang berada di minimarket melihatnya dengan tatapan lapar.

Saat akan membayar di kasir, si kasir yang juga wanita malah ikutan tersihir dan berkata dengan nada mendesah yang dibuat-buat.

"Duuuuh masnya ini idaman banget deh, udah ganteng, perhatiaaaan pula."

Sastra hanya berekspresi datar, dia cepat-cepat mengambil kantong belanja berisi pembalut yang di belinya dan segera berlalu tanpa mengambil uang kembaliannya.

*****

Sastra menyerahkan kantong belanjanya pada Bunga yang sudah menunggu, Bunga menerima kantongnya dan langsung menutup pintu kamar mandi.

Bunga membuka kantong belanja yang di berikan Sastra dan ia menggelengkan kepalanya karena Sastra membeli pembalut kemasan paling besar yang di belakangnya tertulis untuk ibu yang habis melahirkan, untung saja fungsinya sama hanya ukurannya saja yang lebih panjang dari pembalut yang biasa dipakainya. Gadis itu tersenyum geli membayangkan Sastra yang membeli pembalut di mini market.

Sastra membuka kulkas dan mengambil minuman dingin, dia mendudukan dirinya lalu bersandar di sofa dan memejamkan matanya.

Bunga yang telah selesai memakai pembalut kemudian mengganti gaun tidurnya dengan dress tidur selutut berlengan panjang lalu keluar dari kamar untuk membuat teh madu hangat karena akibat datang bulan perutnya terasa mulas dan sakit seperti di remas-remas.

Dia melihat Sastra yang bersandar di sofa dengan mata terpejam, Bunga hanya berlalu tidak ingin mengganggu karena dia merasa bersalah telah membuat pria itu kerepotan karena dirinya.

Wajah Bunga memucat dan dari keningnya keluar buliran keringat dingin. Bunga merebus air sambil meringis menahan sakit di perutnya.

Sastra samar-samar mendengar suara rintihan dan suara air yang mendidih, dia membuka matanya dan menoleh ke arah dapur dan terlihatlah di sana Bunga yang sedang berpegangan pada pintu kulkas sedang mengambil sesuatu.

Sastra menghampirinya dan dia kaget melihat wajah Bunga yang pucat pasi disertai buliran keringat membasahi pelipisnya.

"Bunga kamu ini kenapa? jangan membuatku takut, dan kamu merebus air ini untuk apa? kenapa tidak membangunkanku," cecarnya.

"Ini perutku... perutku terasa sakit dan tidak nyaman Sas, aku merebus air untuk membuat teh madu jahe hangat semoga bisa meringankan rasa sakit di perutku."

"Perut kamu sakit? apa kamu salah makan, atau mungkin karena keracunan makanan? perlu ke Dokter?" Sastra bertanya tanpa jeda

dan terlihat semakin cemas, Bunga menggelengkan kepalanya.

"Bukan sakit perut yang itu Sas, tapi ini sakit perut datang bulan," Bunga berucap sambil meringis dan memegangi perutnya.

"Duduklah di sofa, biar aku yang membuatnya." Bunga berdiri dan tertatih-tatih menuju sofa, lalu duduk bersandar di sana.

Setelah tehnya siap Sastra membawanya ke dekat sofa, dan dia melihat Bunga memejamkan mata sambil meringis menahan nyeri.

"Bangunlah dan minum tehnya." Bunga meminumnya dan kembali bersandar.

"Apakah sangat sakit?" tanyanya.

Bunga mengangguk.

"Adakah yang bisa aku lakukan untuk meringankan rasa sakitnya?"

"Itu akan merepotkan," sahutnya.

"Katakan saja padaku, aku tidak tega melihatmu kesakitan," desak Sastra.

"Mmm.... mengoleskan kayu putih akan sedikit membantu, ta-tapi yang lebih nyaman adalah setelah di oleskan kayu putih ditambah dengan di usap-usap lembut dengan tangan." Bunga memalingkan wajahnya karena sangat malu harus membahas tentang hal ini dengan Sastra.

Sastra mendesah frustasi, baru saja dia berhasil menekan dan memaksa hasratnya untuk turun tapi sekarang jika ingin membantu Bunga dia harus bersentuhan kembali dengan gadis yang paling diinginkannya itu. Tetapi Sastra harus bisa mengendalikan dirinya karena Bunga membutuhkannya.

"Kamu ingin berbaring disini atau di kamar?"

"Dikamar saja," jawab Bunga.

Sastra menggendong Bunga ke kamar dan membaringkannya, dia mengambil kayu putih dan memberikannya pada Bunga.

"Oleskan kayu putihnya, atau kamu ingin aku yang melakukannya hmm?"

"Biar aku saja." Bunga memiringkan tubuh dan mengoleskan kayu putihnya dan setelah selesai dia kembali terlentang. Sastra menyusul berbaring di sebelahnya, tangannya bergerak mengusap-usap lembut perut Bunga.

"Apakah ini nyaman?" tanya Sastra.

Bunga menganggukan kepalanya, ia menelusup ke dalam pelukan Sastra, aroma maskulin lelaki itu membuatnya semakin merasa rileks. Lama mereka dalam posisi itu, lalu setelah beberapa saat Bunga mendongak menatap Sastra dengan mata menggenang dan berkaca-kaca.

"Sas, terimakasih untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," terdengar kesungguhan dari nada suara seraknya.

Sastra merasakan seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan dan berhamburan di dadanya, getaran asing yang hanya dirasakan ketika bersama dengan Bunga, ia akhirnya menyadari bahwa ternyata dirinya sudah jatuh cinta pada gadis di hadapannya ini dan sekarang dia benar-benar mengatakan kalimat ini dari lubuk hatinya.

"Sayang, aku pun mencintaimu...."

1
demoet..
Luar biasa
Marliyanilintangpratama
bisa gk ibu nya aja yg metong gitu.. dri awal baca selalu mendesak bunga kan kasian dia.. udah mah jdi tulang punggung keluarga di teken abis" pula tih biar cepet nikah heran deh yg di sebut perawan tua tuh klo udah umur 40ke atas... ini kan bunga bru umur 20an bukan yah.. ?? siapa tau si ina² itu MBA (marriage bay accident) kan kita gk tau yah
Widi Safitri
😭😭😭😭😭
Widi Safitri
kok sedih bnget kak ceritanya 😭😭😭
Widi Safitri
Luar biasa
Moertini
sudah baca mantap bagus aku suka
Moertini
sudah baca juga thor terimakasih
Moertini
sudah baca thor sampai 2 kali baguuus alur ceritanya dan bahasa nya mudah dipahami
Moertini
terimakasih thor mantap seru asyiiik lucu juga aku suka semua karyamu terus berkarya yaaa thor semangat dan selalu sehat
Moertini
sebaiknya suami isteri saling terbuka dimasa lalunya meskipun itu sangat menyakitkan untuk kekalnya sebuah perkawinan
Moertini
benar kan Caroline jodohnya Kevin akhirnya mereka menikah selalu deh Sastra ribut dengan Arion dimanapun tempatnya tapi lucuuu
Moertini
Bunga begitu besar rasa sayangnya kepada Arion pastinya kaget dan bingung setelah bangun tidur tidak ada Arion di boxnya karena capek main bola tadi malam yaaa hingga g denger Arion nangis kencang 🤭
Moertini
terimakasih thor sudah memberikan cerita yang bagus penuh tauladan bagi sebuah hubungan dan rumah tangga akhirnya Bunga hidup bahagia bersama Sastra dan baby Arion juga keluarga besarnya selamat terus berkarya thor semangat
Moertini
lucunya Bunga kesakitan mau melahirkan malah pingin empal gentong kok aku dulu tidak yaaa..
Moertini
akhirnya Caroline menyadari bahwa Sastra bukan jodohnya mungkin Cavin jodohnya
Moertini
harusnya Bunga menemui Caroline dengan bawa pentung untuk jaga2 atau tlp Sastra
Moertini
bahagianya Bunga dan Santra kalau betul Bunga hamil calon opa juga Papa Arya dan keluarga besar pastinya
Moertini
tanda tanda ngidam simpatik yaaa Sastra ikut bahagia deh aku
Moertini
mantap Bunga hajar saja tuu mak lampir Caroline emang sudah keterlaluan g tahu malu godain suamimu terus
Moertini
aduuuh Caroline akan bikin ulah niii thor janganlah berhasil yaaa kasihan Bunga dan Sastra baru bahagia2nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!