Instagram : @imeldona
SEASON 2 : Tentang Kasih Sayang dan Perjuangan Orangtua untuk mengungkap kebenaran anaknya, juga berlatar belakang kisah cinta Remaja.
SEASON 1 :Kisah Cinta pertama.
Saling mencintai namun karena pertentangan orangtua, mereka saling dipisahkan.
Hingga Kemudian Mereka dipertemukan kembali, tapi mereka sudah tidak dapat bersama karena Sefia sudah menjadi istri pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Lelah
Tolong ya..!! Kasih Author ucapan selamat, maka Author akan sangat berterimakasih dan lebih semangat untuk segera TAMAT-in Novel ini dengan Apik.
caranya \=\=> Klik gambar dibawah nama Author lalu beri ucapan selamat.
****
Untukmu, semua hati yang pernah mencintai dan dicintai. Yang pernah di khianati sampai tak ingin hidup lagi. Baca kisah ini dengan hati hati.
****
Sefia perlahan sudah bisa mengendalikan emosinya, ia melepaskan jas milik Dedi yang menutupi wajahnya.
Saat jas itu terbuka, penglihatannya langsung tertuju pada wajah pria tampan yang sedang menyunggingkan senyum di hadapannya.
Dedi mengusap air mata yang masih menetes dipipi perempuan cantik di depannya, lalu kemudian ia menarik tubuh Sefia agar tenggelam di dadanya.
"Jangan bersedih lagi!" ucap Dedi parau sembari mengelus rambut Sefia.
Sefia pun kembali duduk tegap, lalu mengusap matanya dengan kasar. Ia pun mengangguk dan tersenyum kembali sekuat tanaga untuk terlihat tegar.
"Terimakasih." ucapnya serak.
"Untuk apa?"
"Terimakasih sudah peduli padaku."
"Fia, bukannya sudah aku katakan kalo saat kamu ada masalah atau ingin berbagi, kamu boleh datang padaku. Sebab, tak memilikimu, gak jadi alasan untuk membencimu. Aku dan perasaanku masih untukmu. Fi." ucap Dedi lembut sembari mengelus rambut Sefia.
Tapi ucapan itu membuat Sefia makin terisak, dia sungguh sangat menyadari bahwa dirinya tidak pantas untuk bersama dengan Dedi, dirinya hanya wanita biasa, tidak sederajat dan apa bila bersama maka akan menjadi gunjingan orang-orang bahwa dirinya adalah seorang janda. Apalagi sekarang sangat terlihat jelas bahwa dirinya rendah dimata orang lain.
Hidup mendampinginya adalah suatu hal yang rumit, tapi mengapa pria didepannya ini sangat kokoh untuk mencintai dirinya?
"Kenapa, Fia?" Dedi panik pasalnya Sefia makin terisak. "Aku salah ngomong ya?"
Segera Sefia menggelengkan kepalanya lalu mengusap air matanya. "Enggak kok. Terimakasih."
lagi-lagi hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulut Sefia untuk menggambarkan bagaimana beruntungnya dirinya.
Telah lama dalam kebisuan, akhirnya Sefia dapat menyadarakan dirinya. Sefia menggenggam erat jemari Dedi untuk memohon.
"Dedi, bisakah kamu tarik keputusanmu yang kamu ucapkan tadi?"
"Kenapa, Fi? Jangan katakan kalo kamu peduli! Mereka pantas mendapatkannya."
"Enggak, Ded! Ini bukanlah keputusan yang tepat, jangan hanya karena aku mereka jadi kehilangan perkerjaan mereka. Lagian mereka gak salah apa-apa kok."
"Fia, kamu itu bagiku bukan sekedar 'hanya', kamu hidupku Fi, dan juga aku gak akan pernah memaafkan mereka yang memperlakukanmu seperti itu. Apalagi si **** Angga itu."
Sefia kemudian duduk tersipu memeluk Kaki Dedi, membuat Dedi membelalak kaget.
"Fia, apa yang kamu lakukan? Berdiri!" perintah Dedi setengah berteriak.
"Enggak, Ded! Aku mohon, tarik kembali kembali keputusanmu."
Sebegitu cintakah kamu sama suamimu, Fi.
Dedi mengepalkan tangannya, merasa sesak dan kesal melihat perempuan yang ia cintai memohon karena oranglain.
"Baiklah! Aku akan memaafkan mereka, kecuali hubungan kerjasama antara perempuan itu (Ny. Park), aku tidak bisa memaafkannya."
Sefia pun bangkit dan merasa lega. "Terimakasih." ucap Sefia, tapi kali ini Dedi langsung pergi mengabaikannya.
Sangat terlihat jelas bahwa Dedi kecewa padanya.
Kemudian Dedi turun menemui para tamu yang sedang gelisah dan frustasi.
Saat pria itu datang menuruni tangga, sontak semua bersujud dan memohon pengampunan.
"Maafkan kami pak, kami bersalah." ucap mereka dengan bibir bergetar.
"Jangan meminta maaf padaku!" sahutnya memandang acuh. "Minta maaflah kepada sekretarisku dan juga berterimakasihlah padanya! Kalau bukan karena dia, aku tidak akan memaafkan kalian semua." ucap Dedi kemudian berlalu pergi dengan wajah kesal.
"Terimakasih, pak. Terimakasih."
Tak ada habisnya mereka berkata penuh syukur dan mengelus dada merasa tenang, juga bersyukur karena Sefia baik hati mau membantu mereka dari kemarahan atasannya.
****
Sedangkan Angga kemudian datang kembali menemui istrinya yang sudah dalam keadaan tenang.
"Sef, kamu udah gak apa-apa?" tanya Angga mengernyitkan dahinya.
"Sefi udah gak apa-apa kok mas, udah baik-baik aja." sahut Sefia tenang.
"Kenapa kamu sampek nangis kaya gitu sih, Sef? Tadi sampek heboh begitu, tahu gak?" tanya-nya sedikit jengkel.
Tak bisa dipercaya, bukan sebuah permintaan maaf yang terlontar dari mulut suaminya tapi malah kalimat mengentengkan serta menyudutkan dirinya.
Dia tidak berubah sama sekali, tetap suami yang tak bisa menghargaiku.
"Kamu kok tanyak gitu sih, mas? Seharusnya mas kan nolong aku tadi tapi kok malah nyudutin aku." ucap Sefia meninggi.
"Bukan gitu maksudku, Sef! Aku tadi cuma merasa ga enak kalo nanti kena marah sama atasan, apalagi mereka itu Client penting perusahaan."
"Tapi akhirnya pak Dedi yang malah belain aku daripada kamu mas, ya kan? Dia peduli sama aku daripada kamu yang malah ngorbanin harga diriku demi kepentingan dirimu sendiri." ucap Sefia menekan dada suaminya dengan ujung jarinya, menekan hatinya yang tak berprasaan.
"Bukan begitu Sef, aku cuma merasa gak enak." Angga mengusap wajahnya kasar, tak bisa menjelaskan.
"Udahlah mas, aku capek sama kamu." ucap Sefia berbalik, memunggungi suaminya.
"Maksudmu apa, Sef?"
"Aku capek diperlakukan kayak gini, aku ini istrimu bukan orang lain. Hargai aku!" ucap Sefia lalu berlalu pergi.
Sefia berlalu pergi mempercepat langkahnya tanpa menoleh pada Angga yang mencoba menahannya dengan memanggil namanya.
"Aku lelah, aku ingin berakhir." ucapnya terisak.
****
Tett Tett
Suara bunyi bel pintu kamar hotel milik Sefia, tapi Sefia tak menggubrisnya.
Ia sibuk memiringkan badannya diatas kasur, melamun, meratapi diri.
Apa ini karmaku yang sudah meninggalkan Dedi tanpa pamit sepuluh tahun lalu? Bahkan sampai saat ini aku masih saja menyakitinya.
Sefia hanya terisak dan menyalahkan dirisendiri. Sampai pada akhirnya seseorang diluar pintu begitu panik dan langsung masuk begitu saja dengan kunci cadangan yang ia punya.
Ia masuk kemudian langsung melompat keatas kasur, berhasil membuat kaget Sefia yang tengah melamun.
"Astaga, jantungku." Sefia berteriak sebal sembari memukul bahu Dedi hingga ia mengaduh kesakitan.
"Ha ha, makanya jangan melamun dong!"
"Dih, kamu ngapain disini?" tanya Sefia.
"Ga ada sih, cuma mau liatin orang jelek." godanya sambil menyandarkan tubuhnya dipapan kasur sedangkan Sefia duduk ditepi ranjang.
"Hap." Dedi menjulurkan kaki di pangkuan Sefia.
"Kakimu bau." ucap Sefia menutup hidungnya, bercanda.
"Bagus, coba cium!" mengangkat kakinya hampir menyentuh hidung Sefia tapi dengan sigap Sefia langsung menepisnya.
"Sialan! Berhentilah bertingkah konyol."
"Ha ha, kok bisa ya kamu ngomong gitu seakan kamu berbicara mesum padaku?" godanya, kemudian memutar posisinya dan menempatkan kepalanya di pangkuan Sefia.
"Dedi." Sefia melotot.
"He he. Jangan bergerak! Kalo kamu bergerak, aku akan berteriak kalo kamu mau mesum terhadapku."
"Idiot!" umpat Sefia, menarik hidung Dedi hingga ia mengaduh kesakitan. "Kamu sendiri yang datang ke kamarku."
"Aku hanya bercanda sayang." sahutnya seraya bercanda.
Dedi kemudian memejamkan matanya dipangkuan Sefia, sedangkan Sefia menatapnya lamat-lamat dan ragu-ragu ingin menggerakkan jemarinya untuk mengelus rambut milik Dedi.
Dedi yang tahu itu, ia langsung mengambil jemari Sefia lalu menempatkan pada rambutnya. Tentu, Sefia mengusapnya dengan lembut.
"Fia." panggilnya sembari memejamkan matanya.
"Iya, ada apa?" sahutnya lembut.
"Aku sudah menyetujui pertunanganku dengan Sherly."
Deg!!
Informasi itu bagaikan hantaman keras bagi Sefia, tapi ia harus pura-pura bahagia mendengarnya.
"Wah, selamat ya! Sherly itu memang pantas untukmu, kalian akan menjadi pasangan yang sangat serasi." ucap Sefia memaksa senyum.
Dedi yang mendengar jawaban Sefia langsung berajak duduk dan menatap serius. "Kamu sungguhan tidak keberatan soal itu? Aku akan melangsungkan pertunangan setelah pulang darisini."
"Kenapa aku harus keberatan?" lagi-lagi Sefia memberi senyum palsunya. "Sebagai temanmu, aku mendukungmu."
"Ah.. teman." Dedi mengulang kata dengan lemah.
Sefia memberi tepukan di bahu Dedi yang telah menunduk lemah, tanpa harapan. "Semoga pertunanganmu berjalan lancar."
Tanpa menjawab, Dedi beranjak lalu mengacak rambut Sefia dengan gemas kemudian berlalu pergi.
"Kita memang sudah berakhir."
****
Dedi : Aku akan menempuh jalan terjal dan berlari, agar kamu bisa bahagia dengan orang yang kamu cintai, Fi.
aga & Yuna jg donk Thor.. lg seru2 nya..