NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Untuk Keponakan Kembar

Menjadi Ibu Susu Untuk Keponakan Kembar

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu susu / Tamat
Popularitas:920.4k
Nilai: 5
Nama Author: De Shandivara

Berselang dua minggu sejak dia melahirkan, tetapi Anindya harus kehilangan bayinya sesaat setelah bayi itu dilahirkan. Namun, Tuhan selalu mempunyai rencana lain. Masa laktasi yang seharusnya dia berikan untuk menyusui anaknya, dia berikan untuk keponakan kembarnya yang ditinggal pergi oleh ibunya selama-lamanya.

Mulanya, dia memberikan ASI kepada dua keponakannya secara sembunyi-sembunyi supaya mereka tidak kelaparan. Namun, membuat bayi-bayi itu menjadi ketergantungan dengan ASI Anindya yang berujung dia dinikahi oleh ayah dari keponakan kembarnya.

Bagaimana kelanjutan kisah mereka, apakah Anindya selamanya berstatus menjadi ibu susu untuk si kembar?
Atau malah tercipta cinta dan berakhir menjadi keluarga yang bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Shandivara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Mengadu

“Apa sekarang Mas akan mengulang kejadian yang sama?”

“Terus menyakitiku dengan ucapan dan perbuatanmu, sama seperti yang kamu lakukan ke Kak Amelia dulu?”

Tentu, pertanyaan itu tidak mendapat jawaban dari Arsatya. Nalar Anindya memaklumi jika dia tidak bisa mengharapkan apa-apa pada seorang pria yang sudah mati rasa di hatinya. Mungkin, hati nuraninya sudah membeku sehingga tidak ada lagi sisa-sisa cinta yang tersimpan di sana.

Anindya merasa payah karena hatinya tersakiti untuk kesekian kali. Dulu, saat dia sedang bersedih, satu-satunya orang yang setia mendengarkan keluh kesahnya hanyalah Amelia seorang. Namun, sejak kepergiannya, seperti layang-layang terputus benang, Anindya melayang tidak tentu arah dan tujuan.

Dia duduk melantai di kamar si kembar, menatap ke bawah dari balkon kamar itu. Memandangi ke lantai dasar, terlihat sebuah lahan luas yang hijau karena rerumputan yang tumbuh segar di sana, cukup menarik hatinya untuk dia coba merasakan bagaimana rasanya terjung bebas ke hamparan hijau itu dari posisinya sekarang.

Penasaran saja.

Sesakit apakah?

Langsung mati kah?

Namun, saat itu dia sadar jika memutuskan untuk mengakhiri hidup tidak akan menyelesaikan apapun.

Lantas, pikirannya menerjang panjang jauh ke depan. Bila memang dia mati saat ini pun, mungkin tidak akan ada yang merawat jenazahnya, tidak ada yang peduli untuk melayat dan mendoakannya. Bisa saja mayatnya akan dibuang begitu saja seperti bangkai atau mungkin dibiarkan membusuk di tempat karena Anindya sadar, tidak ada yang mencintainya sehingga mustahil ada yang menangisi kepergiannya.

Ia merasa sebegitu tidak berharganya jiwa dan raganya di mata orang-orang sekelilingnya. Itu yang Anindya rasakan saat ini.

“Jangan dulu mati sebelum kau menemukan seseorang yang menganggapmu berarti, Anindya,” cetusnya dalam hati.

Satu-satunya harapan yang tersisa yang dia punya adalah orang tua, ayah dan ibunya. Dia lekas mengambil ponselnya dan menelepon nomor sang ayah.

Semoga saja mereka peduli.

“Ayah, huks huks,” Anindya menangis kala pertama kali yang terdengar ialah suara ayahnya menyapa meski lewat perangkat telewicara.

Anindya sejenak bungkam menahan isak tangisnya walau rasanya ingin sekali cepat-cepat mengadu tentang semua yang dia alami selama ini.

“Nin, kenapa, Nak?” suara sang ayah yang khawatir membuat Anindya semakin keras menangis sampai tersedu-sedu.

“Aku ingin pulang saja, Yah. Aku ingin berpisah dari Mas Satya, tapi bagaimana caranya?” Anindya meminta dukungan dan dia masih awam soal perceraian.

“Hei, ada apa? Tidak mungkin kalian berpisah, ada masalah apa? Mana suamimu?” tanya Suroyo yang sedikit terkejut mendengar penuturan anaknya.

“Dia sudah gila, Yah. Anin dibuat sakit hati terus di sini,” adu Anindya.

“Nak, dengar. Ansha dan Chesa sangat membutuhkanmu, jangan dulu menyerah. Selesaikan masalah kalian bersama-sama,” nasihat ayahnya.

“Tidak, aku tidak ada masalah dengannya. Mas Satya yang terlalu banyak masalah di hidupnya. Anin mau pulang saja, Anin mau pisah saja biar Ansha dan Chesa ikut Anin sampai mereka dewasa,” ucap Anindya.

Namun, di sana malah terdengar gelak tawa suara sang ayah.

“Nak, ayah tidak tahu apa masalah kalian yang jelas pasti itu bukan masalah besar karena rumah tanggamu masih seumur jagung. Sudah, ya. Nanti ayah bicara sama suamimu, ayah ada urusan penting.”

Ternyata di belakang sana, Arsatya ada di depan pintu yang sedikit renggang. Entah ada dorongan apa, dia berniat untuk meminta maaf dan ingin membicarakan semuanya secara baik-baik dengan pikiran terbuka dan sikap yang dewasa.

Sebenarnya, memang seperti itulah sikap pria dewasa jika mereka sedang waras–seharusnya.

Namun, begitu di bibir pintu, niatnya terurungkan saat mendengar Anindya yang sedang mengadu pada orang tuanya tentang masalah hidupnya. Merengek seperti anak kecil yang kalah berebut mainan.

Pria itu berkacak pinggang, berdecih, dan tersenyum miring menanggapi kelakuan bocah perempuan yang tidak pernah berpikir dewasa di matanya.

Namun, sebelum langkahnya pergi, dia kembali mendengar percakapan ayah dan anak itu.

“Ayah, kenapa tertawa? Aku benar-benar menderita di sini, Yah. Aku tidak mau mati muda seperti Kak Amelia,” ucap Anindya dengan serius.

Deg.

Arsatya terhenyak seketika. Dia dibuat diam sejenak, hatinya terasa diremas mendengar nama Amelia disebut dan dikatakan mati muda tidak lain karena ulahnya.

Tanpa sadar, Anindya menyalahkan pria itu atas kematian kakaknya, jelas bukan perkara yang salah tetapi tidak dibenarkan karena kini pria itu kembali muram menyalahkan dirinya sendiri.

“Kamu benar, aku telah membunuh istriku sendiri. Aku terlalu banyak menyakiti orang,” ucapnya sesaat sebelum melangkah pergi dari depan kamar bayi.

“Ayah, Anin ingin…” lanjut Anindya.

“Sudah, Nin. Jangan merengek saja, ayah juga punya banyak masalah kamu tahu? Ayah harus tutup teleponnya, kabarkan lagi kalau semuanya sudah membaik,” ucap ayahnya memutus sambungan.

“Untuk apa, Yah?”

“Kabar baik seperti apa, Yah? Untuk apa memberi kabar baik jika aku dan dia tidak pernah bisa baik-baik saja,” sambung Anindya meskipun dia tahu sambungan telah diputuskan sepihak oleh sang ayah.

Kini, giliran Anindya akan mengadu pada sang ibu. Harap-harap, ibunya bisa memberikan solusi yang lebih baik.

“Ibu, Anin–” ucap Anindya di  awal sebelum mengadu apa-apa.

“Cukup, Nin. Jawaban ibu sama seperti ayah, nurut sama suami kamu! Kuncinya itu saja,” tukas ibunya.

Kali ini jawaban ibunya lebih ekstrem lagi. Rentetan kata yang terucap dalam satu tarikan napas, lantas langsung memutuskan sambungan telepon itu tanpa memberi waktu lebih untuk Anindya berbicara.

“Semua orang pada kenapa, sih? Kenapa aku merasa sendirian di dunia ini, Ya Tuhan?! Tidak ada yang mengharapkanku ada,” ujarnya lantas menangis menekuk lututnya dan tersedu-sedu seorang diri di sudut ruangan itu.

"Tidak ada gunanya aku menangis lagi. Tidak ada yang mau peduli padaku, semua mencampakkanku. Hanya Kak Amelia yang tulus sayang padaku. Semoga saja Tuhan cepat mempertemukan kami," doa Anindya di ujung nestapa.

.

.

“Mau kemana?” tanya Arsatya dengan nada bicara datar saat tidak sengaja berpapasan di lantai bawah dan melihat Anindya yang berjalan pincang dengan menarik kopernya.

Tidak ada jawaban.

“Anin, mau kemana kamu?” tanya pria itu menahan koper yang Anindya bawa.

“Lepas! Aku mau pergi,” jawab Anindya menarik balik koper miliknya.

1
eka wati
Tragis.. kisah tokohnya tragis. 2 hati yg masih terluka tapi dipaksa utk menjalani kehidupan pernikahan. Harusnya masing2 saling berdamai dulu dgn diri sendiri dan masa lalu, minimal konsul ke psikolog lah. Agak gedek juga sama mamanya Aryasatya yg maksa2 nikah. Padahal sebelumnya udah kejadian kalau pernikahan anak2nya nggak bahagia
Umicho
mataku sampe bengkak... nangis sambil tiduran... air mata gak bisa berenti ngalir /Sob//Sob//Sob/
Umicho
pengennya pasti happy ending... meskipun gak menutup kemungkinan sebaliknya yg terjadi.... dari awal sampai akhir bikin nangis, sedih nya sampe ke hati.. serius... kadang gemes.. tinggal bilang apa susahnya.. ternyata plot nya emang slow, pelan tapi pasti, bikin penasaran, bahasanya enak, typo dikit dah biasa, kadang salah nama jg... but sdh bagus.... lanjut terus thor... tetap semangaaat...
Ellya Muchdiana
pergi aja anin, bawa keponakannya, toh bapaknya juga ga peduli
Ellya Muchdiana
laki2 edan, kalo ga terima kenapa mau nikahin anak orang
Mamanya Ruslan
Luar biasa
Happy Kids
pengen ku jitak kepalanya
Happy Kids
ah nyesel bgt ini kl ditinggal mati.
Novita Anggraini
Luar biasa
Ah Serin
cerita menarik knapa tak buat saessson2 lagi
mang tri
ternyata adiknya pantesan panggilnya mas ☺️
mang tri
😭😭😭😭😭😭😭
mang tri
ya ampuuunnnn 😭😭😭😭😭
mang tri
Anin pernah berkata Tuhan boleh mengambil apapun asal jangan ansha, jd orang tua nya sebagai pengganti ansha 😭
Safa Almira
,suka
Muhammad Hakim
Buruk
Dewi Kadimen
Luar biasa
Jisa Ajach
bgus
Tety Boreg
kasian anin thor..jgn dgn keadaan mabuk lah thor..😭😭😭
MommaBear
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!