NovelToon NovelToon
Bukan Sekedar Sugar Daddy

Bukan Sekedar Sugar Daddy

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Romansa / Pelakor / Selingkuh / Konflik etika / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Tri Haryani

Dia adalah pria yang sangat tampan, namun hidupnya tak bahagia meski memiliki istri berparas cantik karena sejatinya dia adalah pria miskin yang dianggap menumpang hidup pada keluarga sang istri.

Edwin berjuang keras dan membuktikan bila dirinya bisa menjadi orang kaya hingga diusia pernikahan ke-8 tahun dia berhasil menjadi pengusaha kaya, tapi sayangnya semua itu tak merubah apapun yang terjadi.

Edwin bertemu dengan seorang gadis yang ingin menjual kesuciannya demi membiayai pengobatan sang ibu. Karena kasihan Edwin pun menolongnya.

"Bagaimana saya membalas kebaikan anda, Pak?" Andini.

"Jadilah simpananku." Edwin.

Akankah menjadikan Andini simpanan mampu membuat Edwin berpaling dari sang istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 30 Boleh Saya Mencium Anda?

Andini membuka paperbag yang Edwin berikan padanya. Matanya seketika berkaca-kaca saat melihat isi didalamnya. Edwin membelikan ikat rambut yang harganya tak seberapa namun yang membuat Andini terharu ialah tulisan didalamnya.

"Happy birthday," kata Edwin seraya tersenyum.

"Pak ...."

"Kamu suka?" tanya Edwin.

"Dari mana anda tahu kalau saya ulang tahun hari ini?" tanya Andini menatap Edwin ya masih tersenyum padanya.

"Saya pernah melihat CV kamu di kantor."

"Jadi anda diam-diam memperhatikan saya?"

"Tidak sengaja."

"Benarkah tidak sengaja? Bukan karena anda tertarik pada saya?" tanya Andini menggoda.

Edwin tersenyum, dia mencubit hidung kecil Andini. "Sedikit," ucapnya lalu memeluk Andini yang duduk disebelahnya.

Andini juga tersenyum dia membenamkan wajahnya didada Edwin. Rasa rindunya pada pria itu kini sudah terbayarkan dengan Edwin yang memeluknya erat.

Edwin mengusap rambut panjang Andini, lalu merogoh saku celana sebelah kanan dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.

"Saya punya oleh-oleh buat kamu," ucap Edwin seraya mengurai pelukannya pada Andini.

"Apa itu?" tanya Andini menatap Edwin lekat.

Edwin lalu memberikan benda kotak berisi sepasang anting berlian pada Andini.

"Kamu yang buka." Edwin menyerahkan benda kotak itu pada Andini.

Andini mengangguk, lalu membuka benda kotak yang Edwin berikan padanya.

"Ya ampun, Pak, ini cantik sekali," ucap Andini seraya mengambil anting berlian itu dan mengangkatnya.

"Silau saya melihatnya, Pak," kata Andini saat anting itu terkena sorot cahaya lampu diruangan itu. Andini bahkan menyipitkan matanya karena pantulan dari silaunya anting itu mengenai matanya.

Edwin tertawa, dia menggelengkan kepala merasa lucu dengan reaksi Andini diberi anting-anting itu.

"Kenapa Anda tertawa? Ini pasti mahal ya, Pak?" tanya Andini.

"Tidak juga. Sini saya pakai kan," kata Edwin lalu mengambil alih anting-anting ditangan Andini.

"Masa tidak mahal, sih, Pak? Berapa harganya?" tanya Andini.

"Seharga motor kamu," jawab Edwin lalu menyingkap rambut Andini yang menutupi telinga.

Edwin melepas lebih dulu anting emas yang ada ditelinga Andini lalu menggantinya menggunakan anting-anting yang baru saja diberikan.

"Cantik," puji Edwin mengusap pipi Andini yang memerah karena mendapat pujian darinya.

"Terima kasih ya, Pak, anda baik sekali. Tidak terhitung sudah berapa uang anda yang saya habiskan. Anda terlalu memanjakan saya dengan materi."

"Tak apa, An, saya senang bisa menyenangkan kamu."

"Selalu kalimat itu yang anda katakan," ucap Andini membuat Edwin tertawa lagi.

Memang benar kalimat itu yang selalu Edwin katakan pada Andini bila gadis itu merasa tidak enak menerima pemberian darinya. Andini sampai hafal karena terlalu sering mendengarnya.

"Saya akan makan malam disini. Bisa nanti kamu masakan sesuatu yang lezat untuk saya?" tanya Edwin.

"Tentu, Pak," jawab Andini cepat. Dia bahkan langsung bangkit dari duduknya.

"Mau kemana?" tanya Edwin menahan tangan Andini.

"Masak."

"Nanti saja, sekarang saya ingin ditemani nonton televisi," kata Edwin.

Andini mengangguk lalu kembali duduk disebelah Edwin. Edwin tersenyum senang karena Andini tak pernah menolak apa yang dia inginkan.

...****************...

"Sudah Papa katakan, jangan punya anak dari Edwin, kenapa kamu malah bulan madu dengannya?" tanya Pak Wisnu pada Mona yang datang ke rumahnya mengantarkan oleh-oleh.

"Edwin suami aku, Pa, hal yang wajar aku punya anak darinya," ucap Mona menyahuti.

"Tapi Papa tidak ingin memiliki cucu darinya, Mona."

"Pa, please, jangan larang aku punya anak dari Mas Edwin. Papa tahu karena masalah ini aku hampir bercerai dengan Mas Edwin. Aku tidak mau bercerai dengannya."

"Bukannya bagus kalau kalian bercerai. Kamu bisa nikah lagi dengan pria yang memang sudah Papa jodohkan denganmu dan kamu bisa punya anak darinya."

"Tidak, Pa, aku tidak mau itu terjadi. Aku mencintai Mas Edwin."

"Lalu bagaimana dengan karir dan hobi kamu?"

"Aku tetap diperbolehkan bekerja tapi untuk melukis sementara aku akan berhenti."

"Berhenti? Bukannya kamu sangat menyukai melukis kenapa kamu berhenti?" tanya Pak Wisnu.

"Aku terpaksa melakukannya, Pa, lagi pula hanya sementara," jawab Mona.

"Jangan bilang Edwin yang melarang kamu melakukannya?"

"Tidak, Pa, ini keinginan aku."

"Jangan bohong, Mona, Papa tahu Edwin banyak mengekang kamu. Kamu tak akan bahagia bila terus bersama dia, Mona."

"Mas Edwin memang mengekang aku, Pa, tapi aku lebih tidak bahagia bila kehilangan dia."

Pak Wisnu geram mendengar apa yang Mona katakan. Pak Wisnu ingin Mona memiliki suami setara dengan dirinya dan membebaskan Mona melakukan apa saja yang Mona inginkan karena karir dan hobi sudah melekat pada diri Mona.

Bukan seperti Edwin yang mengekang Mona melakukan ini dan itu.

"Sebentar lagi kamu akan menjadi direktur utama dan kamu akan lebih disibukkan dengan pekerjaan kamu. Papa tidak mau karena kekangan dari Edwin kamu mundur dari jabatan kamu, Mona."

Mona menggangguk. "Papa tidak perlu khawatir aku akan tetap berkarir dan tidak akan pernah mundur dari jabatanku. Hanya saja aku minta sedikit waktu untuk meyakinkan Mas Edwin. Aku tidak mau kehilangan dia aku juga tidak mau meninggalkan karir dan hobiku. Jadi ku mohon Papa mengertilah."

...****************...

Edwin merebahkan kepalanya dipangkuan Andini dengan pandangan menatap ke layar televisi. Mereka sedang menikmati siaran berita. Andini mengusap rambut Edwin yang sudah panjang dari terakhir kali dia menyentuhnya.

"Rambut anda minta dicukur, Pak," kata Andini menunduk menatap Edwin yang memejamkan matanya.

Edwin tersenyum Andini sangat memperhatikan dirinya sementara Mona selama satu minggu pergi bulan madu saja bahkan tak pernah memperhatikannya seperti ini.

"Saya belum sempat cukur," kata Edwin lalu membuka matanya yang tadi terpejam.

Edwin memposisikan tubuhnya jadi terlentang, menarik tangan Andini lalu ia sentuhkan ke rahangnya yang terdapat rambut-rambut disana.

"Ini juga belum saya cukur," kata Edwin.

"Iya, Pak, sudah terlihat panjang," kata Andini mengusap rahang Edwin.

Edwin kembali memejamkan matanya menikmati sentuhan Andini yang mengusap rahangnya. Tangan Andini lalu menyusuri wajah Edwin, menyentuh alisnya, hidungnya dan juga bibirnya. Andini menghentikan tangannya saat menyentuh bibir Edwin, jarinya mengusap bibir pria itu.

"Pak, boleh saya mencium anda?" tanya Andini kemudian.

Edwin membuka matanya, menatap wajah Andini dari bawah lalu tersenyum. Dia mendudukkan tubuhnya disebelah Andini, mengangkat tubuh gadis itu untuk duduk di pangkuannya.

"Cium saya sesuka kamu, Andini," kata Edwin memberi izin.

Andini tersenyum, dia mendekatkan bibirnya pada bibir Edwin, menempelkan lebih dulu barulah menciumnya. Andini membuka mulutnya, menggerakkan lidah, mellumat, menyesap bibir Edwin dan menggit kecil bibir itu. Ini pertama kalinya Andini mencium Edwin lebih dulu. Meski malu namun Andini menginginkannya.

Mereka saling berpagut cukup lama, tubuh mereka saling berdesir menginginkan lebih dari itu namun Andini menghentikannya.

"Terima kasih, Pak, sudah mengizinkan saya mencium anda," kata Andini seraya mengusap bibir Edwin yang basah.

1
Ca
terimakasih KK author..,ceritanya bagus ..jadi pingin nambah 😍
Ca
knp ga hubungi polisi aja sih
Ca
Edwin ga paham mode bahaya apa gimana ya ..bisa2 nnya masih menyimpan foto mona ,kalo msh kepikiran wajarlah ,tapi masih menyimpan foto mantan istri ?..hadeuhhhh
Ca
Edwin boleh kawatir sama mona ,tp Andini juga bisa kawatir dengan Edwin .kalo ada apa2 nya dgn Edwin ,siapa yg mau bertanggungjawab.ingat Luis adalah mafia
Ca
harusnya Andini tidak bersikap seperti itu . bagaimana pun Edwin sudah beristri .dan Andini sudah tau itu .jadi kalo misal Edwin mau menemui istrinya ya jgn cemberut 🤣
Ca
bingung antara bela mona atau Edwin .dua2 nya salah soalnya 🤭
Ca
lepaskanlah Andini ..trs yg bayar pengobatan ibunya siapa 🤣
Ca
masih Gedeg sama bima .kawatir sih kawatir ..tp coba bandingin bila Andini jadi di pake Luis .dijamin hamil tp ga ada tanggung jawab .mana mau Luis pake pengaman ,mana pastinya kasar lagi ..
bima mestinya bersyukur udah ditolong Edwin .lagian jaman gini Nemu orang yg tulus ikhlas membantu itu syulittt ,apalagi nominalnya Gedhe ..
Ca
drpd dengan Luis yg hanya dpt duit sebesar biaya operasi + bonus rambut yg dijambak atau kekerasan lainnya mending dengan Edwin kan bim .dibiayai pengobatan ibumu juga Andini bisa kuliah lagi dsb .mikir kesitu bim ..
Ca
bima lucu ..lha sebelum ketemu Edwin ,adikmu malah mau kamu jual ke penjahat kelamin .
giliran Edwin menjadikan Andini simpanan ,dia ga rela
Ratna Ningsih
di bab bab akhir lgi musim panen bawang merah, huuuuaaaaa😭😭😭
Ratna Ningsih
bab ini bertaburan irisan bawang merah 😭😭😭
Ratna Ningsih
kehilangan Edwin org yg dicintai ga jdi pembelajaran buat Mona tuk bisa menghargai dan menghormati keinginan pasangan nya. egois dan arogan masih menutupi mata hati Mona merasa terlahir dri sendok emas jdi ga bisa menghormati dan menghargai keputusan dan keinginan pasangan nya 🙏🙏🤦🤦
Ratna Ningsih
apartemen apa rumah susun yg sembarang org bisa masuk, apalagi mengganggu penghuni lain dan menanyakan unit penghuni lainnya 🤦🤦 seperti kita bertetangga di perumahan umum🤭🤭
Ratna Ningsih
10 th menggunakan pil kontrasepsi, pda saat ingin hamil kandungan nya kering, karena dr pun tdk menyarankan org yg belum pernah hamil untk menggunakan kontrasepsi terkecuali pil kontrasepsi pengantin baru itupun hanya boleh setshun🙏🤔🤔
Hr sasuwe
👍
LuckyOne
Bagaimanapun harusnya Edwin ceraikan Mona dulu br deh sama Andini, jadi kedua perempuan itu gak akan tersakiti
Yanti Yulian
Luar biasa
Lindo Riee
aq jd mona dsuruh berenti krj ok siap aj,berbakti ma suami dn punya ank ,lengkap sudah kebahagiaan q🥰,impian para ibu rumah tangga ini
Dwi Pa
makin seru nih..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!