Hasrat adalah sebuah keinginan. Keinginan dalam apapun. Tapi kata "hasrat" biasanya berkonotasi sedikit negatif. Kata itu selalu disandingkan dengan keinginan untuk bercinta.
Sedangkan bagi Abra Ishan Abinawa dia tidak mengenal kata itu. Dia tidak memiliki keinginan untuk berhubungan dengan wanita di usianya yang sudah tidak muda lagi, yakni 32 tahun. Menurutnya wanita itu sungguh ribet dan menyusahkan. Terlebih sebuah alergi muncul saat dia bersentuhan dengan wanita. Hingga dia bertemu oleh seorang gadis yang memanggilnya "Om".
Gadis cantik berusia 25 tahun bernama Ciara Kamila Prasojo itu selalu membuat Abra naik darah. Ada saja ulah Ciara yang membuat Abra kehabisan akal.
Apakah akan muncul hasrat dari Abra kepada Ciara?
Lalu kira-kira hasrat seperti apa itu?
Dan, bagaimana dengan alergi Abra?
Cerita ini pol ringan ya guys. Nggak akan ada konflik yang berat. So nikmati aja oke.
HAPPY READING
pict. by pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presdir Ketus 30
Ciara saat ini sedang berada di restoran milik Arka yang akan didesign oleh Ciara. Terlihat Ciara dan Arka begitu serius untuk membahasnya. Arka dan Ciara begitu akrab, terlihat seperti benar-benar teman lama yang selalu dekat.
Ckiiit, Abra yang awalanya tidak ingin datang pada akhirnya tetap mendatangi lokasi tersebut. Melihat Ciara tertawa dengan pria lain sungguh membuat Abra merasa seluruh tubuhnya panas. Tiba-tiba dia ingin sekali meremas wajah pria yang ada di dapan Ciara.
" Tinggi sekitar 170, masih tinggi aku. Badannya juga kurus, jelas tidak punya otot. Rambutnya astaga belah samping klimis macam orang dulu. Gantengnya sangat jauh ada di bawahku," ucap Abra dengan nada kesal. Sepetinya dia sedang membandingkan dirinya dengan pria yang bernama Arka itu.
Rasa kesalnya itu semakin menjadi saat tangan Ciara tiba-tiba dipegang oleh Arka. Abra yang tadinya masih berdiri samping mobil seketika berjalan cepat menghampiri Ciara dan Arka.
" Sayang, kamu kenapa? Laah ini tangannya kenapa luka begini?"
Duarrr!!!
Arka dan Ciara sangat terkejut saat Abra datang tiba-tiba dan meraih tangan Ciara yang dipegang oleh Arka. Dengan ajah yang penuh ekspresi khawatir Abra membawa Ciara untuk duduk.
" Sayang, kamu boleh saja kerja tapi nggak boleh sampai terluka begini," ucap Abra.
Ciara hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar dengan perlakuan Abra. Presdir ketus itu, kenapa bisa bersikap begitu manis. Sungguh luar biasa.
" Cia, dia~"
" Aaah maaf, saya lupa mengenalkan diri saya kepada Anda. perkenalkan saya Abra Ishan Abinawa, kekasih Ciara," potong Abra cepat. Dia dengan bangga memperkenalkan dirinya kepada Arka sambil mengulurkan tangannya.
" Dia bu~"
" Jangan begitu, aku tahu kamu marah karena aku pergi ke luar kota tanpa memberitahumu. Maaf ya," sahut Abra. Dia tahu Ciara akan mengatakan bahwa dirinya bukanlah kekasih Ciara. Maka dari itu Abra langsung merangkul bahu Ciara.
Dengan sedikit kikuk Arka menyambut tangan Abra. Ada rasa yang berkecamuk dalam hati Arka saat Abra mengatakan bahwa ia kekasih Ciara.
" Ka-kalau begitu, sebentar saya ambilkan kotak P3K."
Arka membalikkan tubuhnya dan pergi mengambil kotak pertolongan pertama untuk Ciara. Sedangkan Ciara, wajahnya sudah tidak terkondisikan karen saking kesalnya. Banyak sekali hal mengejutkan hari ini.
" Kamu! Kamu kenapa bisa-bisa nya mengatakan bahwa aku ini adalah kekasihmu. Lalu, mengapa kamu bisa ada di sini!"
" Sttt, jangan berisik. Tanganmu, kenapa tanganmu bisa terluka begitu. Kamu itu designer interior bukannya tukang. Ngapain kamu ikut turun tangan bantu tukang buat meruntuhkan tembok. Memangnya kamu itu melakukan side job? Selain jadi designer interior, kamu jadi tukang, nggak sekalian aja jadi teknisi."
Ciara hanya menggelengkan kepalanya cepat saat Abra bicara tanpa henti. Ingin rasanya dia membungkam bibir pria yang duduk di sampingnya itu.
Tidak lama kemudian, Arka datang membawakan kotak P3K. Abra mengambilnya cepat lalau mulai mengobati luka di tangan Ciara. Abra melakukannya dengan sangat telaten. balutan luka Abra juga sangat rapi. Sejenak Ciara terkesima dengan hal tersebut. Tapi tak lama kemudian ia kembali sadar.
" Tu~ eh maksudku Mas. Kamu ngapain di sini."
Sebuah tatapan tajam Abra tujukan kepada Ciara saat gadis itu ingin memanggil dirinya Tuan. Beruntung Ciara peka sehingga langsung mengubah panggilannya tersebut.
Greb!
Abra menarik tubuh Ciara lalu menempelkan kepala Ciara di dadanya. Hal tersebut tentu membuat Arka menjadi tidak nyaman saat berada di sana.
" Sayang, aku tuh khawatir, makanya aku kemari menyusul mu. kan bener tanganmu terluka. Maaf ya Tuan Arka, sebaiknya saya membawa pacar saya ini pulang terlebih dulu. Aaah iya saya ingin bilang, Ciara ini kan designer interior dan bukannya tukang. Seharusnya dia tidak boleh melakukan pekerjaan kasar. "
Arka hendak membuka mulutnya tapi Abra sudah lebih dulu mengangkat tangannya. Ia lalu pamit membawa Ciara untuk pulang.
Brak!
Abra memasukkan tubuh Ciara ke dalam mobilnya dan menutup dnegan rapat. Wajah Ciara kini sangat merah, bukan karena bersemu malu tapi saking marahnya.
" Tuan Abra yang terhormat. Sebenarnya apa yang Tuan lakukan! Bisa-bisa nya Anda datang kemari dan mengacaukan pekerjaan saya," teriak Ciara dengan nada kesal.
Tapi sepertinya Abra tidak menggubris setiap kata yang keluar dari bibir Ciara. Ia memilih menyalakan mobilnya dan membawa gadis itu pergi. Ciara yang masih sangat kesal berusaha memberontak dan menggedor-gedor pintu mobil.
" Jika kau tidak bisa diam maka akan ku cium saat ini juga!"
Glek! Kicep.
Ciara langsung menghentikan aksi protesnya, ia juga langsung diam tidak berbicara sema sekali. Tapi tiba-tiba dirinya teringat akan sesuatu.
" Mobil! Bagaimana dengan mobilku!"
" Hallo Bil, ambil mobil CIara di Jl. XX lalu antarkan ke JD. See beres. Jadi sebaiknya diam dan patuh."
Ciara benar-benar tidak habis pikir dengan perilaku mantan bosnya itu. Tadi di depan Arka, Abra bersikap begitu manis layaknya seorang kekasih yang sangat mencintai pasangannya. Tapi lihatlah saat ini, pria itu benar-benar seorang presdir ketus dengan tingkah yang sangat absurd.
Ckiiiitttt
Abra menghentikan mobilnya di sebuah tempat parkir. Dia lalu membuka pintu Ciara dna meminta gadis itu turun dari mobil.
" Ikuti aku, aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu."
Ciara membuang nafasnya kasar, tanpa berkata apapun Ciara hanya turun dan mengikuti kemana Abra berjalan. Ternyata Abra menghentikan mobilnya di sebuah kawasan Kota Tua, ia membawa Ciara masuk ke dalam salah satu museum yang berada di sana.
" Hanya ingin bicara mengapa harus membawa ku dengan cara seperti ini."
" Ayo berpacaran! Tidak! Ayo menikah!"
Ciara diam dia tidak bereaksi apapun. Tapi tangan Ciara mengulur ke arah Abra dan menyentuh kening pria itu.
" Nggak panas? Berarti nggak sakit," gumam Ciara pelan.
Abra mendesahkan nafasnya berat. Ia menarik tangan Ciara dari keningnya lalu menggenggamnya erat.
" Aku serius, dan tidak sedang bercanda. Ayo menikah."
" Tuan Abra yang terhormat, pernikahan itu bukanlah untuk main-main. Itu sebuah hal yang sangat serius. Dan lagi pun kita batu ketemu beberapa kali, mengapa juga saya harus menikah dengan Anda. Sepertinya banyak wanita di luat sana yang sangat menginginkanmu menjadi suaminya."
" Mungkin kamu benar, tapi aku hanya bisa menikah dengan kamu. Kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa ku sentuh dan tidak membuatku mual."
TBC
Yuhuu 4 Bab, othor mau dikasih apa nih week end ini hahhaha. Becanda tenan-teman. Alhamdulillah retensi 20 bab kemarin lolos. Terimakasih buat semua readers kesayangan yang sudah mendukung othor hingga saat ini.
Oh iya BTW, bunda sekar dna ayah aryo tinggal nunggu ripiu ya. Udah up dr kemarin tapi yang 2 bab blm juga lolos hingga hari ini. Mohon ditunggu.
Terima kasih utk karyanya Kak, sehat2 slalu 🙏🏼💐💪🏼