NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Syahrul Mulia

Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.

Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?

Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.

Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Detak Elektronik di Balik Kulit

Aula utama mansion faksi Volkov di pinggiran Paris mendadak sehangat es di puncak musim dingin. Kata-kata Jenderal Ivanov yang menggelegar dari atas panggung tidak hanya membekukan kepanikan para tamu elit dunia hitam, tetapi juga menghentikan sirkulasi darah di dalam tubuh Arunika. Di lantai marmer putih yang kini ternoda darah hangat pelayan pembunuh yang baru saja dia tikam, Arunika berdiri terpaku, membiarkan pisau belati kecilnya yang berlumur darah tetap berada di dalam genggaman tangannya yang mendadak kaku.

"Microchip... pelacak?" bisik Arunika, suaranya begitu tipis hingga nyaris tersapu oleh desau sistem pendingin ruangan aula yang megah.

Kedua matanya menatap kosong ke arah Jenderal Ivanov, lalu perlahan beralih ke arah bahu kirinya sendiri. Di bawah potongan gaun sutra hitam asimetris yang mewah itu, tanda lahir bulan sabit merah yang selama dua puluh dua tahun ini dia anggap sebagai simbol kepalsuan dari Baskoro, kini seolah-olah mulai memancarkan sensasi panas yang membakar.

Bukan sekadar tinta kimia dunia bawah tanah. Di dalam sana, tertanam sebuah teknologi militer Rusia yang dirancang untuk satu tujuan: menjadikannya detonator berjalan yang akan menghancurkan apa pun di sekitarnya saat perintah eksekusi dikirimkan.

Arsen Valentino tidak melepaskan rangkulan tangannya di pinggang Arunika, namun cengkeramannya mengencang hingga ke batas yang menyakitkan. Sepasang mata elang sang raja mafia menyipit tajam, menatap layar ponsel di tangan Jenderal Ivanov yang masih menampilkan grafik koordinat satelit militer yang berkedip-kedip konstan. Skema pengalihan di pelabuhan utara, sandiwara di makam keluarga, hingga pelarian Valeria ke Paris... semuanya hanyalah rantai umpan yang dirancang dengan sangat presisi untuk membimbing Arsen membawa 'bom berjalan' ini langsung ke episentrum kekuatan mereka sendiri.

"Katarina Vane memang seorang wanita yang penuh kejutan," desis Arsen, suaranya tetap terdengar begitu tenang dan datar, seolah ancaman pemusnah massal di samping tubuhnya hanyalah sebuah kalkulasi bisnis yang meleset sedikit. Pria itu perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Valeria Baskoro yang berdiri anggun dengan gaun putih saljunya di samping sang jenderal Rusia.

"Dan kau, Valeria... kau membiarkan dirimu menjadi pion dari militer Rusia hanya untuk merebut aset yang bahkan tidak akan pernah bisa kau nikmati jika tempat ini hancur menjadi abu?"

Valeria Baskoro menyunggingkan senyuman manipulatifnya yang paling sempurna. Dia melangkah setapak ke depan di tepi panggung, menatap adiknya—atau tameng hidupnya—dengan pandangan mata yang sarat akan kemenangan mutlak.

"Tempat ini tidak akan hancur, Arsen," suara Valeria terdengar begitu merdu namun beracun menembus keheningan aula. "Jenderal Ivanov memiliki frekuensi dekoder untuk menonaktifkan chip di bahu Arunika sebelum hitungan mundurnya mencapai titik nol. Tapi tentu saja, dekoder itu hanya akan diaktifkan jika kau bersedia menandatangani dokumen pengalihan seluruh hak pengelolaan saham faksi Valentino di Eropa secara sukarela malam ini juga. Jika tidak... biarkan kota mode ini menyaksikan akhir tragis dari dinasti Valentino bersama jalang kecil yang kau bawa sebagai istrimu."

Ketegangan di dalam aula naik turun seperti grafik kematian. Puluhan moncong senapan serbu pasukan khusus Rusia yang mengelilingi mereka berdua tampak kian rapat, jari-jari para tentara bayaran itu sudah menempel ketat di atas pelatuk senjata, siap memuntahkan peluru baja seketika perintah eksekusi keluar dari bibir Jenderal Ivanov.

Arunika merasakan sebuah sensasi getaran halus yang aneh mulai merayap di bawah permukaan kulit bahu kirinya. Itu bukan ilusi psikologis. Detak elektronik yang sangat tipis dan berirama cepat mulai berdenyut di dalam dagingnya, seirama dengan grafik koordinat di ponsel Jenderal Ivanov yang berubah warna dari hijau menjadi merah menyala. Hitungan mundur telah diaktifkan secara otomatis oleh sistem satelit karena jarak mereka dengan target utama—Arsen Valentino—telah terpenuhi di dalam radius jangkauan mematikan.

"Arsen..." bisik Arunika lagi, kali ini sepasang mata porselennya yang hampa menatap lurus ke arah garis rahang tegas pria di sampingnya.

Kekosongan emosi di dalam dadanya mendadak digantikan oleh sebuah kepasrahan yang luar biasa dingin. Kehidupannya telah dihancurkan sejak bayi, namanya dipalsukan, identitasnya ditukar, dan kini tubuhnya dijadikan wadah bom oleh ibu kandungnya sendiri. Tidak ada lagi alasan baginya untuk mempertahankan napas di dunia yang sekotor ini.

"Bunuh aku sekarang," ucap Arunika, nadanya luwes, datar, dan tanpa ada keraguan sedikit pun.

Dia mengangkat tangan kanannya yang memegang belati beracun, mengarahkannya tepat ke arah dada kirinya sendiri, ke arah jantungnya. "Jika aku mati sebelum chip itu meledak, sistem pelacaknya akan kehilangan sinyal vital dan melumpuhkan detonatornya.

Jangan biarkan mereka mendapatkan sahammu, Arsen. Hancurkan faksi Volkov dengan tanganmu sendiri."

Mendengar permintaan bunuh diri yang begitu tenang dari pengantin penggantinya, sesuatu yang tidak biasa melintas di kedalaman sepasang mata elang Arsen. Ego dan dominasi sang raja mafia bergejolak hebat. Dia tidak pernah membiarkan apa yang sudah menjadi miliknya dihancurkan oleh orang lain, dan dia paling benci dipaksa menyerah kalah dalam permainan intrik politik dunia hitam.

"Aku tidak memberikan izin padamu untuk mati malam ini, Valeria," bisik Arsen di dekat telinga Arunika, suaranya sedingin es musim dingin namun memiliki daya ikat yang mutlak.

Dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat dan tak terduga, Arsen mencengkeram pergelangan tangan Arunika yang memegang belati, menyentaknya hingga senjata kecil itu terjatuh ke lantai marmer. Di saat yang bersamaan, tangan kanan Arsen bergerak ke balik tuksedo hitamnya, bukan untuk mencabut senjata api berkaliber besar miliknya, melainkan sebuah alat pemotong sirkuit elektronik mini berfrekuensi tinggi (*EMP jammer*) berbentuk pulpen perak yang selalu dia bawa di saku jasnya.

"Marco! Sektor empat, eksekusi!" perintah Arsen menggelegar membelah keheningan aula pesta.

*Duar!!!*

Suara ledakan masif tidak berasal dari bahu Arunika, melainkan dari arah dinding kaca besar di sisi kanan aula pesta yang menghadap langsung ke arah halaman luar mansion. Tiga buah kendaraan taktis lapis baja milik faksi Valentino yang bergerak di bawah komando rahasia Marco menerobos masuk menembus dinding kaca dengan benturan yang mengerikan, menghancurkan pilar-pilar marmer dan melemparkan pecahan kaca raksasa ke arah barisan pasukan khusus Rusia.

Kericuhan masif kembali pecah dalam hitungan detik di dalam aula pesta Volkov. Suara tembakan senjata otomatis bersahut-sahutan dari arah kendaraan lapis baja Valentino, memuntahkan peluru kaliber berat yang langsung memotong barisan pertahanan tentara bayaran Rusia. Para tamu elit dunia hitam berteriak histeris, berlarian dengan liar mencoba menyelamatkan diri ke arah pintu keluar darurat yang mulai dipenuhi oleh kepulan asap hitam tebal.

Arsen memanfaatkan momen kekacauan krusial tersebut dengan sangat taktis. Dia menekan tombol aktivasi pada pulpen perak di tangannya, lalu menghujamkan ujung jarum magnetik alat tersebut tepat ke atas tanda lahir bulan sabit merah di bahu kiri Arunika. Sebuah gelombang kejut elektromagnetik skala mikro meletus pendek di bawah kulit Arunika, memicu rasa sakit yang luar biasa menyengat hingga gadis itu memekik tertahan dan jatuh berlutut di atas lantai marmer.

Detak elektronik di bawah kulitnya seketika berhenti berdenyut dengan kaku. Sinyal microchip pelacak militer Rusia itu berhasil dilumpuhkan secara paksa oleh sistem *EMP* milik Arsen, membuat grafik koordinat di ponsel Jenderal Ivanov mendadak mati total dan menampilkan layar hitam eror.

"Sialan! Tembak mereka! Jangan biarkan mereka keluar dari aula ini hidup-hidup!" jerit Jenderal Ivanov dari atas panggung, wajah keriputnya memerah oleh amarah yang luar biasa hebat saat melihat kartu as militernya dihancurkan dalam sekejap.

Valeria Baskoro yang melihat situasi beralih menjadi baku tembak terbuka tidak lagi mempertahankan ketenangannya. Wanita bergaun putih itu bergerak cepat ke balik panggung utama, mencoba melarikan diri menuju ke arah helikopter evakuasi darurat yang telah disiapkan di atas atap mansion faksi Volkov.

Arsen menyambar tubuh Arunika yang masih lemas akibat dampak gelombang kejut elektromagnetik, mengangkatnya ke dalam gendongannya dengan langkah tegap menembus hujan peluru yang memantul di bodi kendaraan lapis baja faksi Valentino. Marco muncul dari balik pintu kendaraan lapis baja tengah dengan senapan serbu di tangan kanannya, meskipun lengan kirinya masih terbalut kain taktis akibat cedera di makam sebelumnya.

"Tuan Arsen! Kita harus bergerak ke arah sayap timur mansion! Pasukan Jenderal Ivanov telah mengunci seluruh jalur jalan raya luar!" teriak Marco di tengah gemuruh suara tembakan yang memekakkan telinga.

Mereka melangkah cepat menembus koridor-koridor mansion Volkov yang mulai dipenuhi oleh kepulan asap dan serpihan dinding yang hancur. Arunika mencengkeram erat kerah tuksedo hitam milik Arsen, matanya menatap lurus ke arah langit-langit mansion tempat suara putaran baling-baling helikopter evakuasi Valeria mulai terdengar bergetar rendah.

Rasa sakit di bahunya perlahan berganti menjadi tekad kegelapan yang kian mengkristal di dalam jiwanya. Dia tidak akan membiarkan kakaknya lolos lagi membawa rahasia identitas aslinya.

Mereka berhasil mencapai tangga darurat menuju lantai atas mansion yang mengarah langsung ke area landasan helikopter di atap terbuka (*helipad*). Angin malam musim dingin Paris yang sangat dingin langsung menyergap tubuh mereka saat pintu atap terbuka kasar.

Di tengah landasan beton yang luas, sebuah helikopter militer Rusia tampak sudah menyala dengan baling-baling yang berputar cepat membelah kabut malam.

Valeria Baskoro sudah berdiri di dekat pintu kabin helikopter, dibantu oleh dua orang pengawal elit Rusia. Namun, sebelum wanita itu sempat melangkah masuk ke dalam kabin, sesosok wanita paruh baya dengan pakaian taktis hitam yang compang-camping dan tubuh yang dipenuhi luka bakar parah tiba-tiba muncul dari balik bayang-bayang menara transmisi radar di sudut atap.

Wanita itu adalah Katarina Vane. Dia entah bagaimana berhasil selamat dari ledakan sekunder di kompleks pemakaman Indonesia dan mengikuti rute pelarian faksi Volkov internasional hingga ke Paris dengan menggunakan jalur bawah tanahnya sendiri. Di tangan kanannya, Katarina memegang sebuah granat nanas yang pin pengamannya sudah dicabut dengan menggunakan giginya.

"Permainan ganda kalian selesai malam ini, Valeria!" teriak Katarina, suaranya parau berbaur dengan deru angin baling-baling helikopter. Dia menatap Valeria dengan sepasang mata yang memancarkan hasrat membunuh yang murni, lalu melemparkan dirinya ke depan, memeluk tubuh Valeria dari belakang dengan erat sebelum wanita itu sempat menggunakan senjatanya.

"Ibu! Jangan!" jerit Arunika dari arah pintu tangga darurat, emosinya kembali meledak melihat ibu kandungnya yang asli bersiap melakukan aksi bunuh diri ganda di depan matanya sendiri.

Namun, tepat di saat Katarina Vane memicu ledakan granat di tangannya untuk memusnahkan dirinya bersama sang pewaris takhta Volkov palsu, pintu kabin helikopter militer Rusia itu mendadak terbuka lebih lebar dari dalam.

Sesosok pria paruh baya dengan rambut yang sepenuhnya memutih dan mengenakan setelan kemeja batik khas Indonesia melangkah keluar dari dalam kegelapan kabin helikopter. Pria itu memegang sebuah senjata laras pendek dengan peredam suara, mengarahkannya dengan sangat dingin tepat ke arah dahi Katarina Vane sebelum granat tersebut sempat meledak.

*Blam!*

Tembakan presisi merobek dahi Katarina, membuat tubuh wanita penembak jitu legendaris itu ambruk ke belakang, terjatuh dari tepi atap mansion menuju ke jurang kegelapan sub-urban Paris di bawah sana. Granat di tangannya lolos dan menggelinding masuk ke dalam saluran pembuangan air atap sebelum meledak dengan dentuman rendah yang tidak merusak helikopter.

Arunika membeku di tempatnya berdiri, seluruh aliran darahnya seolah-olah menguap menjadi kehampaan yang tak berdasar. Pria paruh baya yang berdiri di ambang pintu helikopter Rusia itu... pria yang baru saja menembak mati ibu kandungnya dengan wajah tanpa emosi... adalah Baskoro. Ayah paruh baya yang beberapa jam lalu dia lihat sekarat di atas kursi roda dengan kedua kaki hancur ditembak di Indonesia, kini berdiri tegak di atas kedua kakinya sendiri tanpa ada luka sedikit pun di tubuhnya.

Baskoro menurunkan senjatanya perlahan, menatap lurus ke arah Arsen Valentino dan Arunika dengan sepasang mata keruhnya yang kini memancarkan aura dominasi seorang penguasa tertinggi dunia hitam—sebuah ekspresi yang sama sekali belum pernah Arunika lihat selama dua puluh dua tahun kehidupannya yang palsu. Pria tua itu menyunggingkan sebuah senyuman kejam yang amat mengerikan, lalu membisikkan sebuah kalimat pendek melalui pengeras suara eksternal helikopter militer sebelum pintu kabin menutup rapat dan helikopter melesat terbang membelah kabut malam Paris.

_____________________________

**Bersambung ke Bab 17...**

*Rahasia mengerikan apakah yang disembunyikan oleh Baskoro hingga dia memalsukan seluruh kelumpuhan fisiknya dan muncul sebagai dalang tertinggi di balik aliansi militer Rusia? Jika Baskoro bukanlah pria paruh baya lemah yang hancur oleh judi, siapakah identitas asli pria itu sebenarnya di dalam silsilah darah tertinggi faksi mafia internasional? Dan bagaimanakah Arsen bersama Arunika akan mengejar penerbangan maut tersebut saat seluruh aset mereka di Eropa berada di ambang kehancuran total? Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin memanas dan penuh plot twist luar biasa di bab berikutnya!*

1
lee eun ji
😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!