Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon
"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."
Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.
Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.
Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.
Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Jeritan dari Balik Cermin
Di sebuah ruang yang melampaui batas nalar fana, waktu tidak berjalan melingkar ataupun lurus; ia mengendap seperti minyak di atas genangan air bangkai. Jiwa Sekar yang asli tidak mati, namun kondisinya jauh lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Sukmanya terperangkap di dalam sebuah sangkar yang ditempa dari ilusi dan kutukan purba, jauh di dasar istana ghaib Kalingga yang terkubur di bawah sendang keramat lereng Gunung Raung.
Tempat itu adalah ruang tanpa batas dinding, namun sekaligus terasa sangat menyumbat. Lantainya berupa permukaan air hitam yang membeku kaku seperti marmer, memantulkan bayangan langit-langit ghaib yang berupa jalinan miliaran akar pohon beringin tua yang bergerak-gerak lambat seperti tentakel. Udara di sana berasa sedingin es, namun anehnya, setiap kali Sekar mengembuskan napas, yang keluar bukanlah uap dingin manusiawi, melainkan asap tipis sewarna jelaga yang berbau karat besi.
Di tengah-tengah ruang hampa itu, berdiri sebuah benda tunggal yang mendominasi seluruh siksaan psikologis Sekar: sebuah cermin ghaib raksasa.
Cermin itu tidak berbingkai kayu atau logam. Pinggirannya terbentuk dari kumpulan ular-ular kecil berwarna hitam pekat yang saling menggigit ekor satu sama lain, membentuk lingkaran oval setinggi dua kali tubuh manusia. Permukaan cermin itu tidak terbuat dari kaca raksa biasa, melainkan dari lapisan raksa ghaib yang bergejolak tenang, terus-menerus memancarkan pendaran kelabu yang redup.
Sekar berdiri tepat di depan cermin tersebut. Raga sukmanya tampak kurus kering, mengenakan kebaya putih yang robek di bagian belikat—bekas tempat di mana rajah pelindungnya dulu dihancurkan paksa. Kedua telapak tangannya menempel erat pada permukaan cermin yang terasa lengket dan sedingin mayat yang direndam air sumur.
"Ibu... Ibu, tolong Sekar...!"
Jeritan Sekar meluncur deras dari tenggorokannya yang terasa kering seperti diamplas. Suaranya melengking tinggi, memantul di dalam ruangan tanpa ujung tersebut, namun begitu menyentuh permukaan raksa cermin, gelombang suaranya mendadak diredam mutlak. Tidak ada satu desibel pun yang berhasil menembus keluar.
Di dalam cermin itu, sebuah pertunjukan horor dunia nyata sedang berlangsung secara real-time. Sekar dipaksa menjadi penonton setia atas kehancuran hidupnya sendiri.
Melalui permukaan cermin ghaib yang bergejolak, Sekar bisa melihat dengan sangat jelas kondisi kamar belakang rumahnya di dunia nyata. Dia melihat ibunya—perempuan tua yang kini tampak sepuluh tahun lebih tua, dengan rambut yang acak-acakan dan mata yang bengkak—sedang duduk di tepi dipan kapuk.
Di atas dipan itu, tidur sesosok tubuh yang sangat dia kenali. Itu adalah raganya sendiri. Kulitnya, wajahnya, struktur rambutnya... semuanya adalah miliknya. Namun, Sekar tahu dengan pasti bahwa entitas yang kini sedang menggerakkan jemari tangan di dalam cermin itu bukanlah dirinya. Itu adalah percikan kesadaran Kalingga, bagian dari energi siluman yang kini telah menyatu dengan jaringan saraf dan otot manusianya.
Sekar menyaksikan bagaimana "raganya" tiba-tiba terbangun dengan raut wajah yang dibuat teramat memelas. Dia melihat tiruan dirinya itu meneteskan air mata palsu, merangkak mendekati sang ibu, dan mulai menggerakkan bibirnya.
Meskipun suaranya tidak terdengar secara fisik di dalam ruang cermin, batin Sekar yang masih terikat kuat dengan raga aslinya bisa menangkap setiap frasa fitnah yang diucapkan oleh si pengganti.
"Dia menggunakan ilmu hitam untuk memikatku, Ibu... Bintang yang mengubur kain kafan hitam di bawah tikar... Dia yang membuatku gila...!"
"Tidak, Ibu! Jangan percaya! Itu bukan aku! Itu iblis yang berbicara...!" Sekar memukul-mukul permukaan cermin dengan kedua kepalan tangannya.
Buk! Buk! Buk!
Setiap pukulan yang dia layangkan hanya menimbulkan riak kecil di atas permukaan raksa cermin, memicu ular-ular di pinggirannya untuk mendesis pelan seolah-olah mengejek ketidakberdayaannya. Sekar melihat ibunya mulai termakan hasutan tersebut. Dia melihat mata ibunya yang semula penuh keraguan perlahan-lahan berubah menjadi pancaran kebencian dan ketakutan yang amat sangat terhadap Bintang.
Rasa frustrasi yang luar biasa mulai membakar dada Sekar. Yang paling menyiksa bukanlah rasa sakit fisik dari hawa dingin istana ghaib, melainkan kenyataan bahwa ibunya sedang dituntun menuju tepi jurang kehancuran oleh sosok yang mengenakan wajah anak kandungnya sendiri.
Horor psikologis itu mencapai puncaknya ketika Sekar melihat Bintang melangkah mundur di ambang pintu kamar. Dari balik cermin, Sekar bisa melihat garis-garis hitam racun Wisa Sengkolo yang berdenyut di leher Bintang—bukti nyata bahwa pemuda itu telah mengorbankan keselamatan spiritualnya sendiri demi menyelamatkannya.
Namun, apa yang diterima Bintang? Sekar melihat ibunya berteriak histeris, usiran itu terjadi. Pelindung terakhirnya, satu-satunya manusia yang memiliki pengetahuan dan keberanian untuk melawan kutukan lereng Raung, kini dipaksa berjalan keluar menembus kabut fajar, meninggalkan rumah tersebut tanpa pertahanan sedikit pun.
"Bintang... jangan pergi! Tolong jangan tinggalkan Ibuku...!" Sekar berlutut di atas lantai air yang kaku. Kedua tangannya mencakar-cakar bagian bawah cermin, meninggalkan jejak goresan ghaib sewarna perak yang langsung lenyap dalam hitungan detik. Air matanya mengalir deras, namun di dimensi ini, air mata itu berwarna hitam pekat seperti tinta gurita, menetes dan langsung menyatu dengan lantai air di bawah kakinya.
Saat punggung Bintang benar-benar lenyap di balik kelokan jalan setapak luar rumah, Sekar melihat "raganya" di dalam cermin mengubah posisi duduknya. Tiruan dirinya itu menoleh ke arah jendela kamar, menatap kepergian Bintang dengan seulas senyuman kemenangan yang sangat jahanam—sebuah senyuman yang merobek seluruh kepolosan wajah asli Sekar.
Hahaha... Ssssttt...
Sebuah gema tawa yang berat, berlendir, dan berlapis-lapis tiba-tiba terdengar dari arah belakang tubuh Sekar. Suara itu tidak keras, namun getarannya membuat seluruh permukaan air hitam di ruangan itu bergetar hebat, menciptakan riak-riak kecil yang mengeluarkan bau anyir sisik ular busuk.
Sekar membeku. Seluruh otot sukmanya mendadak kaku, terkunci oleh aura penindasan ghaib yang luar biasa masif. Hawa dingin yang tadinya hanya terasa di permukaan kulit kini mendadak menyusup masuk, membekukan pusat kesadaran spiritualnya.
Dari kegelapan di belakangnya, sepasang lengan yang sangat panjang dan pucat merayap perlahan, melingkari bahu Sekar. Jemari tangan itu ramping, namun kuku-kukunya panjang dan berwarna hitam pekat, persis seperti kuku raga Sekar saat kerasukan semalam. Di pergelangan lengan tersebut, tampak sisik-sisik halus berwarna emas tua yang berkilat redup terkena pendaran cermin.
Sebuah kepala perlahan mendekat ke samping telinga Sekar. Sosok itu adalah Kalingga dalam wujud setengah manusianya—seorang pria dengan paras bangsawan kuno yang teramat pucat, namun sepasang matanya tidak memiliki bagian putih, melainkan hitam legam dengan pupil vertikal berwarna kuning emas yang menyala tajam. Di atas kepalanya, sebuah mahkota emas berbentuk lingkaran ular kobra tegak berdiri, memancarkan aura takhta terkutuk.
"Lihatlah, Cah Ayu..." Kalingga berbisik tepat di lubang telinga Sekar. Napasnya tidak memiliki kehangatan; itu adalah hembusan angin kering yang membawa bau belerang dan daging busuk yang disembunyikan dengan wewangian bunga kantil.
"Ragamu... dia melakukan tugasnya dengan sangat baik di sana. Dia adalah boneka yang patuh, wadah yang sempurna untuk menampung seluruh sisa kejayaanku yang sempat terputus ratusan tahun lalu."
Sekar mencoba meronta, mencoba melepaskan diri dari dekapan sedingin es itu, namun setiap kali dia menggerakkan tubuhnya, jalinan akar beringin di langit-langit ghaib seolah-olah mengencang, memancarkan tekanan spiritual yang membuat kepalanya berdenyut gila seolah-olah tengkoraknya sedang diperas oleh raksasa.
"Lepaskan aku, iblis...!" desis Sekar dengan sisa keberaniannya. "Ibuku... jangan sakiti Ibuku...!"
Kalingga terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar seperti gesekan ratusan lambung ular di atas tumpukan daun kering. "Sakiti? Mengapa aku harus menyakiti perempuan tua yang malang itu? Dialah yang membuka pintunya sendiri untukku. Dialah yang mengusir satu-satunya ksatria yang bisa menahanku. Sekarang... dia akan merawat ragamu dengan penuh kasih sayang, memberinya makan, menjaganya, tanpa pernah tahu bahwa yang dia suapi setiap hari... adalah kematian bagi seluruh sisa keturunannya."
Kalingga mengulurkan tangan kanannya, menyentuh pipi Sekar dengan ujung kukunya yang tajam. Goresan kecil itu tidak mengeluarkan darah merah, melainkan uap kelabu yang membuat Sekar memekik perih.
"Kau akan tetap di sini, Sekar," lanjut Kalingga, matanya yang berpupil vertikal menatap lurus ke dalam pantulan cermin di depan mereka. "Menonton dari balik tirai tipis ini. Kau akan melihat bagaimana ibumu perlahan-lahan kehilangan kewarasannya saat dia menyadari bahwa anak kesayangannya... telah berubah menjadi sesuatu yang lain. Kau akan menyaksikan bagaimana tanah lereng Raung ini kembali meminum darah-darah segar dari manusia yang berani menantang kuasaku."
Sekar mengalihkan pandangannya kembali ke cermin. Di dalam sana, ibunya kini sedang menyelimuti raga palsunya dengan kain jarik tua. Sang ibu mengelus rambut raga itu dengan penuh air mata, sementara si pengganti berpura-pura memejamkan mata dengan raut wajah yang sangat polos, seolah-olah dia adalah korban paling menderita di dunia.
Kengerian psikologis yang dialami Sekar mencapai titik jenuh yang mematikan. Ini adalah bentuk siksaan yang paling jahanam: dia tidak bisa mati, dia tidak bisa melarikan diri, dan dia diberikan kebebasan penuh untuk melihat kehancuran orang-orang yang dia cintai tanpa bisa melakukan satu hal pun untuk mengubah alur takdir tersebut. Ketidakberdayaan itu merayap seperti racun, menggerogoti sisa-sisa kewarasan batin yang dia miliki.
"Bintang... tolong..." batin Sekar meratap, kini tidak lagi bersuara, hanya berupa gema putus asa yang tenggelam di dasar istana sisik hitam. Dia tahu, Bintang telah diusir dengan penuh kebencian oleh ibunya sendiri. Apakah pemuda itu masih mau peduli? Ataukah Bintang akan memilih pergi menyelamatkan nyawanya sendiri dari buruan racun Wisa Sengkolo yang kian mengganas?
Kalingga perlahan melepaskan dekapannya, melangkah mundur ke dalam kepekatan bayangan akar beringin, meninggalkan Sekar yang kembali bersimpuh sendirian di depan cermin raga.
"Nikmatilah tontonanmu, Cah Ayu," gema suara Kalingga terdengar kian menjauh, namun tetap memenuhi setiap sudut ruangan. "Sebab malam Kliwon berikutnya... raga manusiamu tidak akan lagi bisa menyembunyikan sisik-sisiknya. Proses penyatuan kita sudah tidak bisa dibalikkan lagi."
Di dalam permukaan cermin, gambar tiba-tiba berganti fokus. Kamera spiritual cermin itu menembus kain jarik yang menutupi punggung raga Sekar di dunia nyata.
Sekar terpekik, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Di sana, di bawah kulit ari belikat punggung raganya, kini telah berubah warna menjadi hitam legam. Dari dalam pori-pori kulit yang menghitam itu, mulai muncul bintik-bintik kecil yang keras dan berkilat keemasan. Bintik-bintik itu menyebar perlahan namun pasti, membentuk pola simetris yang sangat mengerikan: pola sisik ular kobra raksasa yang mulai tumbuh menembus jaringan kulit luar raga manusianya secara permanen di dunia nyata.
Perubahan fisik itu berjalan lambat, diiringi oleh denyut nadi hitam yang bergejolak kencang di sepanjang tulang belakang raganya. Setiap kali sisik itu tumbuh satu milimeter, sukma Sekar di dalam ruang cermin merasakan sensasi perih yang luar biasa, seolah-olah kulit rohnya sendiri sedang dikelupas menggunakan pisau berkarat.
Raganya sedang diubah secara struktural. Sifat-sifat kemanusiaannya sedang dikuras habis, digantikan oleh cetak biru makhluk melata dari dasar sendang.
Ruangan ghaib itu kembali jatuh ke dalam kesunyian yang mencekam. Permukaan cermin kini kembali menampilkan wajah tiruan Sekar di dunia nyata yang sedang tertidur lelap dengan napas yang teratur—panjang, kering, dan berat.
Sekar yang asli hanya bisa menyandarkan dahinya pada permukaan kaca raksa yang lengket itu. Air mata hitamnya terus mengalir, membentuk genangan kecil di atas lantai air. Harapannya kian menipis, terkikis oleh waktu ghaib yang terus berjalan menuju titik rotasi Kliwon berikutnya.
Dia kini tahu, bahaya yang sesungguhnya bukan lagi sekadar kepunahan jiwa manusianya, melainkan lahirnya kembali sesosok bencana berjalan di dunia nyata yang mengenakan wajah dan namanya sendiri—sebuah inkarnasi kutukan yang akan memulai pembalasan dendamnya kepada siapa saja yang pernah mencoba menghalangi kebangkitan sang Penguasa Istana Sisik Hitam.
Di luar istana ghaib, kabut lereng Gunung Raung terus menebal, membungkus rumah lapuk itu dalam isolasi spiritual yang mutlak, bersiap menyambut transformasi jahanam yang kian mendekati kesempurnaan.
jgn2 sekar anak pungut
atau sengaja di tumbalkan
ibu nya sekar terlalu banyak diam
hubungan sekar dan ibu nya
tak harmonis ,
ada kisah rahasia apa disini
dgn keadaan sekar
mungkin ada perjanjian dgn dunia ghoib ,