Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.
Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.
Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.
Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.
"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bekunjung ke kantor polisi
Langkah kaki Ghea terdengar berat saat menyusuri lorong dingin gedung tahanan mapolda. Aroma karbol yang menyengat beradu dengan hawa pengap khas ruangan tertutup langsung menyambut indra penciumannya. Setelah melewati beberapa pos pemeriksaan, ia akhirnya dituntun masuk ke dalam ruang kunjungan yang dibatasi oleh sekat kaca tebal dan deretan gagang telepon besi.
Di seberang kaca, seorang pria berjalan dengan kepala menunduk. Pakaian tahanan berwarna oranye melekat layu di tubuhnya yang kini tampak jauh lebih kurus.
Arkan.
Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan dari pria yang dulu selalu mengenakan kemeja necis bermerek. Wajahnya kusam, lingkaran hitam menggantung tebal di bawah matanya, mencerminkan malam-malam panjang yang dilewatinya dengan penyesalan yang menggerogoti jiwa. Namun, saat Arkan mendongak dan melihat Ghea duduk di sana, sorot matanya tidak lagi memancarkan kemarahan atau keserakahan, melainkan rasa bersalah yang teramat dalam.
Arkan duduk, lalu perlahan mengangkat gagang telepon besi itu. Ghea melakukan hal yang sama di seberang kaca.
"Kenapa kamu masih datang ke sini, Ghea?" Suara Arkan terdengar serak, parau, dan bergetar melalui pengeras suara telepon. la menatap jins pudar dan kaos oblong yang dikenakan Ghea. "Aku kan sudah bilang waktu kita bertengkar di pengadilan kemarin... Pergi, Ghea. Cari laki-laki lain yang bisa menjamin hidupmu. Aku ini kriminal, aku sudah hancur. Aku tidak mau menyeretmu dan Mama ke dalam lubang penderitaanku."
Air mata Ghea merebak di sudut matanya, namun ia buru-buru menyekanya dan menggeleng tegas.
"Kamu ni kenapa sih?! Kan aku sudah bilang, aku nggak akan pernah pergi, Arkan" sahut Ghea, suaranya bergetar namun sarat akan komitmen. "Aku tahu kita salah, aku tahu kita sudah bertindak jahat di masa lalu. Tapi melihat kamu yang ikhlas menerima vonis hakim dan benar-benar bertobat di dalam sini... itu membuatku sadar kalau kamu pria yang layak aku tunggu. Aku dan Mama akan tetap mendampingimu."
Arkan memejamkan matanya rapat-rapat. Setitik air mata lolos melewati pipinya yang tirus. Rasa hangat sekaligus sesak menjalar di dadanya mendengar kesetiaan Ghea yang sama sekali tidak layak ia dapatkan.
"Lalu... bagaimana dengan kondisi di luar?" tanya Arkan ragu, mencengkeram gagang telepon lebih erat. "Rumah kita... sisa aset kita... apa semuanya disita habis? Bagaimana nasib Mama? Kita... kita akan jadi gelandangan, ya?"
Ghea menarik napas dalam-dalam, menempelkan telapak tangan kirinya pada kaca tebal, tepat di posisi tangan Arkan.
"Kita selamat, Arkan. Kita tidak akan jadi gelandangan" ucap Ghea lirih. "Tuntutan denda finansialmu resmi dipotong oleh pihak Devan. Sebagian rekening kita dan satu mobil operasional dikembalikan untuk kita. Uang itu lebih dari cukup untuk aku dan Mama menyewa rumah kontrakan kecil dan membuka usaha baru sampai kamu keluar nanti."
Arkan tersentak hebat. la mendongak, menatap Ghea dengan pandangan tidak percaya yang teramat pekat.
"Bagaimana bisa...?" bisik Arkan kebingungan. "Devan Alister... pria itu punya kuasa mutlak dan dia sangat membenciku. Dia pasti ingin menguliti kita sampai miskin. Siapa yang berhasil meruntuhkan ego monster setinggi dia, Ghea?!" tanya Arkan tak percaya.
Ghea terdiam sejenak. Tenggorokannya mendadak terasa tercekat oleh rasa bersalah yang luar biasa besar saat harus mengucapkan nama itu.
"Bukan Devan yang berbelas kasihan pada kita, Arkan... tapi Nadia."
Mendengar nama mantan istrinya disebut, tubuh Arkan mendadak kaku. la mematung di atas kursi besinya, napasnya tertahan. "Na... Nadia?"
Ghea mengangguk. "Iya. Kemarin aku nekat datang ke mansion Alister, bersujud dan mengemis di kaki Nadia" cerita Ghea dengan air mata yang kini mengalir deras. "Dan di luar dugaan... wanita yang dulu kita buang seperti sampah itu justru menangis membela kita. Dia membawa-bawa anak di kandungannya di depan Devan. Nadia bilang... dia ingin melupakan seluruh luka masa lalu. Dia tidak ingin anaknya lahir di tengah lingkaran dendam. Dia yang memohon agar dendamu diringankan."
Hancur.
Detik itu juga, seluruh ego dan harga diri Arkan sebagai pria runtuh tak bersisa. la membekap mulutnya sendiri, pundaknya berguncang hebat saat tangis penyesalannya pecah di dalam ruang kunjungan yang sunyi itu.
Rasa malu yang teramat sangat menghunjam ulu hatinya hingga terasa sesak. Di masa lalu, ia telah membalas ketulusan Nadia dengan pengkhianatan yang kejam. Namun kini, di titik terendah dalam hidupnya, justru tangan lembut wanita berhati malaikat itulah yang menyelamatkan ibu dan istrinya dari kehancuran total.
"Nadia... maafkan aku... ya Tuhan, maafkan aku..." isak Arkan pilu, dahinya menempel pada kaca dingin di depannya.
Ghea menatap calon suaminya dengan pandangan sendu. la memahami rasa sakit yang dirasakan Arkan, karena ia pun merasakan hal yang sama.
"Tapi Arkan... ada harga mahal yang harus dibayar Nadia untuk menyelamatkan kita" lanjut Ghea dengan nada suara yang merendah, dipenuhi kecemasan. "Gara-gara membela kita, Nadia terlibat pertengkaran hebat dengan suaminya. Devan sangat marah dan kecewa dengan keputusan naif Nadia. Pria itu membentak Nadia habis-habisan, bahkan di depan ku sendiri Devan berkata kasar kepada Nadia."
Arkan mendongak lambat, matanya merah dan sembap. Rasa bersalahnya kini kian bertambah besar saat mengetahui bahwa kebaikan hati Nadia telah menjadi bom waktu yang meretakkan rumah tangga baru wanita itu.
"Aku... aku berutang nyawa dan masa depan pada Nadia, Ghea" ucap Arkan dengan suara serak yang tegas, menatap lekat mata istrinya. "Jalani hidup yang baik di luar sana bersama Mama. Aku akan menebus semua dosaku di dalam sel ini dengan patuh. Dan tolong... kita harus selalu mendoakan kebahagiaan Nadia. Jangan biarkan pernikahan wanita berhati suci itu hancur karena bajingan seperti aku."
Ghea mengangguk pelan, mempererat tempelan tangannya di kaca seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya pada Arkan. "Iya, Arkan. Kita akan berubah. Kita akan tebus semuanya dengan lembaran hidup yang baru."
Di balik jeruji besi dan sekat kaca yang memisahkan mereka, sepasang kekasih yang penuh dosa itu kini disatukan oleh satu rasa yang sama, penyesalan yang mendalam atas masa lalu, kesetiaan untuk memulai dari nol, dan utang budi yang teramat raksasa pada luasnya hati seorang Nadiara.
★★★
Maap yah tiga hri g up, soalnya lgi sibuk😌🫰🏼