Bilawal Kenta Faaruq nama seorang anak lelaki tampan yang mempunyai arti lelaki yang selalu menjaga kehormatan, harga diri dan bijak dalam bertindak apapun nyatanya tidak sesuai dengan kenyataan.
Al biasa dia dipanggil oleh teman-temannya adalah seorang ketua Basis di sekolahannya. Tiada hari tanpa masalah yang menghiasi hari-harinya. Keluar masuk ruang BP dan kantor polisi selalu ia lakoni namun tak kunjung jua dikeluarkan dari sekolahnya karena keponakan dari kepala sekolah tempatnya belajar sekaligus papanya menjadi penyumbang utama di sana.
Suatu hari Al bertemu dengan Makaila yang tidak lain ketua OSIS yang terkenal galak.
Konflik terjadi antara mereka berdua sampai akhirnya Al menyukai Makaila dan menjadi cinta pertamanya. Segala cara Al lakukan agar Makalia menyukainya, sampai Makalia menjadi target musuh anak Basis Al.
Segala cara Al lakukan untuk melindunginya sampai nyawa menjadi taruhannya.
Hi jangan lupa follow akun IG snow_white97suga
Tik-tok. snowwhite19975
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan Terakhir
Selama dalam perjalanan menuju kelasnya ucapan Deren selalu terngiang di telinganya. Memang Makaila tadi menyadari jika ucapannya sangatlah keterlaluan tapi itu memang kenyataan jika Makaila sudah membangunkan singa yang sedang tidur.
Wajahnya tiba-tiba saja berubah saat melihat seseorang yang disukainya dari kejauhan, senyum manisnya begitu merekah bagaikan bunga yang baru saja bermekaran.
Nanar matanya berbinar dengan tatapan sangat lekat, detak jantungnya mulai terasa cepat begitu bahagia. Dia adalah Jhousan yang sedang berjalan dari arah berlawanan bersama dengan teman-temannya yang hendak ke lapangan basket untuk pelajaran olahraga.
Tubuhnya mendadak tidak bisa diam meski terdiam mematung siap menyapanya, sesekali Makalia merapihkan rambutnya serta menunduk tersipu malu. Sesaat ia menarik napas panjangnya sampai Jhousan berpapasan dan berhenti saat melihatnya.
"Hai, Kak," sapa Makaila begitu terdengar lembut dengan senyuman manis di bibirnya menatap lekat Jhousan yang ada di hadapannya.
"Hai," balas Jhousan dengan sikap sedikit dingin dan datar.
Sikap Jhousan seketika menghilangkan senyum manis di bibir Makaila, eskpresi wajahnya berubah dalam hitungan detik ketika Makaila mengetahui sikap Jhousan yang terkesan cuek dan dingin padanya.
"Mau kemana?" tanya Makaila lagi mencoba membuat suasana menjadi hangat sesekali melemparkan senyuman manjanya.
Lagi-lagi perasaan Makaila harus dibuat kecewa dengan sikap Jhousan yang terkesan begitu dingin, biasanya Jhousan selalu menyapa dengan senyuman manisnya dan sikap hangat.
"Memangnya nggak liat gue pake baju apa? Kalau gue pake baju ginian berarti mau ke lapangan bukan ke lab," timpal Jhousan membuat Makaila menelan ludah dengan ucapannya.
Senyum Makaila sirna sudah yang ada hanya senyum simpul terlihat getir dan rasa kecewa di hatinya. Begitu juga dengan temannya Jhousan yang hanya tertawa kecil saat mendengar ucapannya.
Glek, Makaila terdiam membisu mendengarnya seraya menelan ludah. Mengapa sikap Jhousan begitu berbeda apa mungkin karena Jhousan melihat gantungan kunci yang dipasang oleh Bilawal di tasnya dan menganggap mereka berdua berpacaran.
"Oh iya, soal gantungan kunci foto gue sama Bilawal sebenarnya kita nggak ada...." Belum sempat Makaila menyelesaikan ucapannya Jhousan dengan cepat memotong pembicaraannya.
Sayangnya Jhousan tidak begitu tertarik dengan apa yang diucapkan oleh Makaila, ia menganggap jika Makaila dan Bilawal mempunyai hubungan spesial.
"Sorry, Kai. Gue duluan ya, soalnya anak-anak udah nungguin," pamit Jhousan membuat Makaila sangat kecewa mendengarnya apalagi Jhousan pergi berlalu begitu saja.
Deg, sikap dingin san cuek Jhousan membuat Makaila sedih dan kecewa. Ia hanya bisa menatap kepergian Jhousan dengan tatapan sendu yang lama kelamaan mulai menghilang dari pandangannya.
"Semua karena Bilawal sialan, Jhousan jadi menghindari gue," gerutu Makaila dalam hati dengan nada kesal.
-----------------‐----------------
Seusai dari ruang BP Jericho memutuskan untuk pergi ke UKS sebentar karena masih merasakan sakit akibat pukulan Kelvin kemarin. Langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Nares.
Keduanya saling menatap satu sama lain seolah menyimpan sebuah pertanyaan, sikapnya sangat dingin dan cuek seolah mereka tidak pernah saling mengenal satu sama lain.
Ada rasa sedikit malu dan kaku gang dirasakan oleh Nares setiap kali bertemu dengan Jericho, setiap kali berpapasan dengannya seketika Nares selalu menghindarinya seperti mempunyai dosa besar kepadanya.
"Mau sampai kapan lo diem jadi orang yang pengecut nyembunyiin semuanya?" tanya Jericho saat Nares baru saja melewatinya pergi tanpa pamit.
Deg, langkah kaki Nares terhenti dan ia mulai sedikit ketakutan saat sekian lama Jericho kembali mengungkitnya masa lalu yang seharusnya tidak boleh diucapkan.
Wajahnya mendadak terlihat gugup secepat kilat Nares membalikkan tubuhnya menoleh ke arah Jericho yang masih berdiri membelakanginya.
Detak jantungnya memacu sangat cepat dan rasa kesal mulai muncul di hati Nares seraya mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Gue nggak ngerti apa maksud lo!" Nares pura-pura tidak tahu dengan nada terdengar sinis menatap tajam ke arah Jericho yang kini mulai memutar tubuhnya menghadap Nares.
Tawa ringan terlukis di bibir Jericho seolah muak dengan ucapan Nares yang selalu berpura-pura baik dan tidak berdosa.
"Rahasia yang selama ini lo pendem suatu hari nanti akan terbongkar, dan gue pastikan seumur hidup lo akan menderita."
"Lo ngancem gue!" Nares mulai emosi dengan kedua bola matanya membulat sempurna dan mulai memerah.
"Gue cuma ngingetin karena kebenaran akan terungkap."
"Denger, ya. Semua salah lo bukan salah gue! Lo yang WA Bilawal bukan gue!"
"Oh, ya?" Jericho tertawa seolah mengejek Nares.
"Gimana kalau dia tahu yang sebenarnya?"
"Lo ngancem gue! Kalau sampai lo ngomong yang macem-macem, gue pastikan lo bakal berakhir di rumah sakit!" Ancam Nares menggertak Jericho.
Emosi Nares muali membara seolah ingin memukul Jericho habis-habisan. Sorot matanya tajam serta rahangnya mulai mengeras sementara Jericho terlihat sangat tenang dan santai karena selama ini ia tidak merasa bersalah.
"Gue nggak akan ngasih tahu siapapun karena suatu saat nanti lo sendiri yang harus mengakui semuanya di depan Bilawal. Dia menderita karena lo bukan gue!" Tegas Jericho sambil pergi begitu saja meninggalkan Nares yang mulai kesal dan murka dengan semua ucapan Jericho.
Selama ini Jericho selalu diam dan tidak bisa bicara kepada Bilawal, sudah hampir tiga tahun juga Bilawal sangat membencinya sampai Jericho tidak sanggup untuk bertatap muka dengannya.
Rasa bersalah Jericho menghantuinya setiap hari karena ia hanya bisa diam tidak bisa berbicara dengan Bilawal. Rasa bersalah juga menghantui Jericho karena tidak bisa melindungi Bilawal, andai saja ia bisa mengatakan semuanya pasti Bilawal tidak akan menderita seperti ini.
---------------‐-----‐-----------------
Diseretnya kursi tempat duduk Bilawal dari kelasnya melewati lorong beberapa ruangan dan kelas, ia berjalan begitu santai meskipun suara lengkingan menyebabkan gesekan antara besi kaki kursi dengan keramik menghasilkan decitan nyaring sedikit mengganggu pendengaran sekitar.
Semua yang ada di dalam kelas menoleh ke arah jendela melihat samar-samar Bilawal berjalan melewati ruangan satu per satu. Sampai akhirnya ia terhenti di kelas Makaila.
Brak....Dibukanya pintu kelas Makaila dan sontak membuat seisi kelas kaget bukan main dengan kehadirannya.
Ekspresi para murid yang tadinya biasa saja menunggu pergantian guru mendadak dibuat terkejut dengan kedatangannya apalagi membawa sebuag kursi besi yang sedari tadi diseretnya.
Seisi kelas berbisik sambil menatap Bilawal yang sepertinya sedang mencari seseorang. Makaila yang sadar akan kehadiran Bilawal di kelasnya juga ikut terkejut, apalagi dia sepertinya sedang mencarinya.
Setelah mereka bertemu mata saling menatap satu sama lain akhirnya Bilawal menemukan tempat di mana Makaila duduk.
Kursi itu masih di seret sampai terhenti di meja barisan paling depan, Bilawal menaiki kursi yang dibawanya tadi lalu menaiki meja melangkahkan kakinya dari satu meja ke meja yang lain untuk menghampiri Makaila yang duduk di tengah barisan ketiga.
Suasana menjadi ramai dan ricuh melihat aksi Bilawal yang berjalan dengan santai melewati meja yang sedang diisi pemiliknya. Ia melewati tanpa permisi menginjakkan kakinya begitu saja dengan tatapan lurus menatap Makaila begitu lekat.
Sama-sama terdengar teriakan kecil dan pembicaraan tentang Bilawal, tapi ia tidak perduli karena yang ditujunya adalah Makaila.
Setelah sampai di meja Makaila sejurus kemudian Bilawal berjongkok di atas meja dan kembali terdengar samar-samar suara teriakan teman sekelasnya, tidak ada yang berani melawannya.
Bilawal mematung dengan ekspresi andalannya tidak menghiraukan reaksi Makaila, hanya sorot mata tajam dan sikap dinginnya Bilawal terus terdiam membisu begitu juga Makaila.
"Mau ngapain lo?" Makaila memasang sikap juteknya membalas tatapan sinisnya.
Beberapa saat Bilawal terdiam menatap Makaila dengan tatapan dingin.
"Sekali lagi gue peringati lo buat yang terakhir kalinya, jangan pernah ikut campur lagi urusan gue. Lo nggak tahu apa-apa jadi stop buat ikut-ikutan." Bilawal berbicara dengan nada perlan namun terdengar sangat sinis dan tegas di telinga Makaila.
Glek, sorot mata itu adalah sorot mata yang Makaila lihat saat Bilawal mencekik lehernya beberapa waktu lalu. Tubuhnya sedikit gemetaran karena takut Bilawal kembali melakukan hal yang sama.
"Gue cuma nggak mau ada korban lagi, udah cukup lo bikin kesalahan dan jangan pernah diulang lagi!"
Dada Bilawal semakin terasa berat untuk bernapas dan emosinya kembali memuncak ketika Makaila menyinggung lagi masa lalunya Bilawal.
"Kesalahan apa maksud lo? Memang lo tahu kesalahan yang sebenarnya, hah?" suara Bilawal terdengar sedikit meninggi sehingga membuat Makaila tersentak kaget.
Perempuan cantik berambut panjang sebahu hanya bisa menelan ludah karena semakin ia mengenal Bilawal semakin menakutkan.
"Lo pembunuh temen sendiri," jawab Makaila dengan sedikit gemetaran dan mulai keluar keringat dingin di telapak tanganya.
Bagai tersengat listrik Bilawal mendengarnya, emosinya sudah diubun-ubun kepala dan ingin rasanya ia meluapkan segalanya.
Ucapan Makaila kembali gempar satu kelasnya dan semua murid kembali berteriak tidak percaya membuat suasana semakin panas dan mencekam.
"Dan sekarang lo yang akan gue bunuh!" Ancam Bilawal membulatkan kedua matanya semakin marah.
Sunggu situasi di dalam kelas Makaila semaki. Tidak terkendali karena semua murid ketakutan dan ada juga yang berteriak kecil agar ada yang mau menolong Makaila, tapi nihil semua sia-sia karena Bilawal bukan saingan mereka.
Tanpa banyak bicara Bilawal turun dari meja dan meraih tangan kanan Makaila lalu menyeret paksa keluar kelas mengikutinya.
Genggaman tangan Bilawal sangat kuat dan erat membuat Makaila kesulitan untuk melawan dan melepaskannya.
Semua teman satu kelasnya hanya bisa melihat dengan penuh rasa khawatir dan ketakutan berharap ada yang menghentikannya.
Sayang Arunika tidak ada di sana karena sedang berada di ruang kerja guru jadi tidak ada yang bisa menghentikan perbuatan Bilawal.