NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Arkan menutup kembali buku catatan bersampul kulit hitamnya dengan bunyi ketukan yang tegas, lalu memasukkannya ke dalam saku dalam kemejanya. "Memahami duniaku tidak masuk dalam deskripsi kerjamu, Millyanita. Cukup pastikan kau tidak melanggar satu detik pun dari jadwal yang sudah direvisi."

SUV lapis baja itu terus membelah jalanan kota yang mulai padat, bergerak menjauhi area katedral dengan kecepatan konstan yang terkendali.

Milly memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap refleksi kacamata bulatnya yang sedikit berdebu akibat pelarian di lorong bawah tanah tadi. Kejengkelannya perlahan surut, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa. Namun, rasa penasaran yang besar kembali terusik saat ia melirik tablet taktis di pangkuan Arkan yang masih menampilkan titik-titik hijau tim pengamanan Mahendra Group yang sedang bergerak melakukan pembersihan.

"Tuan," panggil Milly pelan, memecah keheningan di dalam kabin mobil yang kedap suara. "Jika semuanya adalah umpan, apakah Bara dan timnya baik-baik saja di katedral?"

Arkan tidak langsung menjawab. Jemarinya yang panjang dan kokoh mengetuk permukaan tablet sekali, mengubah tampilan layar menjadi grafik persentase netralisasi ancaman.

"Bara telah bersamaku selama tujuh tahun, Milly. Dia tidak akan membiarkan efisiensi operasionalnya turun di bawah sembilan puluh lima persen hanya karena sisa-sisa pengikut Wijaya," sahut Arkan datar. Matanya beralih menatap Milly, menyadari gumpalan debu tipis yang menempel di ujung hidung dan pipi gadis itu.

Pria itu mendengus pelan, lalu merogoh saku konsol tengah mobil dan mengeluarkan selembar tisu basah steril. Tanpa peringatan, Arkan memajukan tubuhnya, mencondongkan badan di atas kursi kulit hingga aroma parfum maskulinnya kembali mengunci indra penciuman Milly.

Milly menahan napas, matanya membelalak kaget saat jemari kokoh Arkan bergerak lembut menyeka noda debu di pipinya. "T-Tuan... saya bisa sendiri..."

"Diamlah. Kau bergerak satu milimeter saja, dan tangan cerobohmu akan membuat kacamata itu menusuk matamu sendiri," potong Arkan ketus, meski intensitas usapannya di wajah Milly terasa begitu hati-hati.

Setelah memastikan wajah Milly bersih, Arkan menarik kembali tubuhnya dan membuang tisu tersebut ke tempat sampah kecil di bawah dasbor. "Aku tidak mau ibumu di paviliun barat berpikir aku menyiksa putrinya hingga penuh debu seperti ini. Itu akan merusak indeks reputasi domestikku."

Milly meraba pipinya yang terasa hangat, membuang muka demi menyembunyikan semburat merah yang mendadak muncul. Dasar gengsi tingkat tinggi. Bilang saja peduli, apa susahnya sih? batin Milly kesal.

SUV hitam itu akhirnya memasuki gerbang besi raksasa mansion utama Mahendra Group tepat pukul sembilan pagi. Begitu mobil berhenti sempurna di lobi utama, pintu langsung dibukakan dari luar oleh salah satu pengawal yang siaga.

Milly turun terlebih dahulu, berniat langsung menuju Paviliun Barat untuk memastikan keadaan ibu dan adik-adik panti asuhannya dengan matanya sendiri. Namun, langkahnya terhenti di anak tangga pertama ketika suara bariton Arkan kembali memanggil namanya dari belakang.

"Millyanita."

Milly berbalik dengan helaan napas pasrah. "Ada denda atau potongan kontrak baru lagi, Tuan Presdir?"

Arkan melangkah turun dari mobil, berdiri tegak di bawah sinar matahari pagi yang mulai menghalau kabut. Angin sepoi-sepoi memainkan ujung rambut hitamnya yang rapi, memberikan kesan santai yang jarang terlihat pada sosoknya yang kaku.

"Bara baru saja melaporkan bahwa seluruh perimeter katedral telah bersih total. Tidak ada korban dari pihak kita, dan sisa aset Wijaya telah diserahkan ke otoritas hukum," ujar Arkan, menatap Milly dengan ekspresi yang sulit diartikan. Pria itu berjalan mendekat, lalu mengeluarkan kembali buku hitam legendarisnya.

Milly memutar bola matanya pasrah. "Dan?"

Arkan menggoreskan penanya dengan cepat di atas lembar amandemen terbaru, lalu menunjukkannya pada Milly dengan gerakan presisi.

Milly berkedip beberapa kali, menatap angka delapan tahun enam bulan yang tertulis rapi di sana. "Tunggu... Bonus Penyesalan Manajemen Risiko? Apa itu, Tuan? Anda sedang membuat-buat istilah akuntansi lagi ya?"

Arkan menutup buku hitamnya dengan bunyi klek yang tajam, lalu menatap Milly lurus-lurus di balik lensa kacamatanya.

"Itu adalah kompensasi karena aku tidak memberitahumu tentang skema umpan di katedral tadi pagi," ucap Arkan, suaranya terdengar sangat serius, tanpa ada nada mengejek sedikit pun. "Aku tidak suka berutang penjelasan, dan aku jauh lebih tidak suka melihat calon istriku menebak-nebak variabel keselamatannya sendiri."

Pria itu berbalik, melangkah anggun menaiki tangga menuju mansion utama tanpa menunggu jawaban dari Milly. "Bersiaplah untuk makan malam bersama keluargamu nanti malam. Aku sudah meminta koki mansion mengatur menu dengan kalori yang seimbang untuk mereka."

Milly terpaku di tempatnya berdiri, menatap punggung tegap Arkan yang perlahan menghilang di balik pintu lobi. Senyuman tulus yang sejak tadi ia tahan akhirnya terukir jelas di wajahnya. Delapan tahun enam bulan. Waktu yang lama, tetapi entah mengapa, berjalan di samping monster korporat kaku ini mulai terasa tidak seburuk yang ia bayangkan sebelumnya.

Aroma panggangan daging bumbu herba dan sup krim hangat menguar memenuhi ruang makan Paviliun Barat malam itu. Sesuai dengan instruksi ketat dari sang Presdir, meja panjang yang biasanya terlihat lengang kini telah dipenuhi oleh berbagai hidangan premium berkalori seimbang.

Milly, yang sudah mengganti pakaiannya dengan gaun rajut santai, duduk di tengah-tengah keluarganya. Di sebelahnya, sang ibu tersenyum lega, sementara enam adik panti asuhannya sibuk mengagumi presentasi makanan yang menyerupai restoran bintang lima. Total tujuh anggota keluarga yang diselamatkan Arkan kini berkumpul dalam kehangatan yang utuh.

"Milly, Tuan Arkan benar-benar orang yang baik ya," bisik ibunya pelan, menyentuh punggung tangan Milly. "Ibu tidak menyangka pengusaha sebesar dia mau repot-repot memikirkan menu makan malam dan memastikan keselamatan kita semua di sini."

Milly tersenyum tipis, meski dalam hati ia mendengus. "Baik kalau ada maunya, Bu. Semuanya dihitung pakai kalkulator di kepalanya," batin Milly. Namun, ia tidak bisa menampik rasa hangat yang merayapi dadanya saat melihat adik-adiknya makan dengan lahap tanpa rasa takut lagi. Perlindungan absolut Mahendra Group benar-benar bukan sekadar isapan jempol.

Tepat saat makan malam hampir selesai, pintu Paviliun Barat terbuka. Sosok Arkananta Mahendra melangkah masuk. Pria itu telah menanggalkan kemeja hitam formalnya, menggantinya dengan sweater rajut abu-abu gelap dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku. Auranya sedikit melembut, namun wibawa seorang pemimpin tetap tidak berkurang.

Semua orang di meja makan serentak menghentikan aktivitas mereka, tampak segan. Namun, Arkan segera mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat pelan. "Lanjutkan makan malam kalian. Saya hanya ingin memastikan semua protokol domestik berjalan sesuai rencana."

Arkan berjalan mendekat ke arah Milly, berdiri tepat di belakang kursinya. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Milly refleks menegakkan punggungnya, mendadak merasa gugup di hadapan keluarganya sendiri.

"Bagaimana makan malamnya? Apakah koki mansion memenuhi standar nutrisi yang kalian butuhkan?" tanya Arkan, suara baritonnya terdengar rendah namun jelas memenuhi ruangan.

"Sangat lebih dari cukup, Tuan Arkan. Terima kasih banyak atas kebaikan Anda," jawab ibu Milly dengan nada tulus yang mendalam.

Arkan mengangguk formal. Tatapannya kemudian turun, mengunci sepasang mata Milly yang mendongak menatapnya di balik lensa kacamata bulat yang kini sudah bersih. Tanpa memedulikan tatapan penasaran dari adik-adik Milly, Arkan mencondongkan tubuhnya sedikit, meletakkan satu tangannya di sandaran kursi Milly.

"Ikut saya ke ruang kerja utama setelah ini, Millyanita. Ada draf revisi operasional untuk minggu depan yang perlu kau ketahui sebelum pernikahan kita," bisik Arkan, menyisipkan nada perintah yang tidak menerima penolakan.

Milly menelan ludah, mengangguk pelan. "Baik, Tuan."

Sepuluh menit kemudian, Milly berjalan mengekor di belakang Arkan menyusuri koridor mansion utama menuju ruang kerja pribadi sang Presdir. Begitu pintu kayu ek besar itu tertutup rapat, Arkan langsung berjalan ke balik meja kerjanya, namun ia tidak duduk. Ia bersandar di tepi meja, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Milly yang berdiri canggung di tengah ruangan.

"Duduklah, Milly," ujar Arkan, menunjuk kursi direksi di hadapannya.

Milly melangkah maju dan duduk perlahan. "Ada perubahan jadwal lagi untuk gladi bersih kedua, Tuan?"

Arkan tidak langsung menjawab. Ia meraih sebuah dokumen baru berlogo Mahendra Group dari atas meja dan menggesernya ke hadapan Milly. "Keluarga Wijaya telah sepenuhnya dilikuidasi dari papan catur pergerakan korporat. Artinya, ancaman luar terhadapmu telah berkurang sebanyak empat puluh persen."

Milly membuka dokumen tersebut, matanya membelalak saat melihat isi lembarannya. Itu bukan jadwal, melainkan draf amandemen kontrak pernikahan mereka, lengkap dengan tanda tangan Arkan yang tegas di bagian bawah.

"Saya memotong sisa kontrakmu lagi," ucap Arkan datar.

Milly buru-buru membalik halaman ke bagian kalkulasi akhir dan membaca angka yang tercetak tebal di sana:

"Delapan tahun?" Milly mendongak, menatap Arkan dengan dahi berkerut heran. "Tuan, jika ancamannya sudah berkurang dan musuh Anda mulai hancur, bukankah seharusnya kontrak ini bisa selesai lebih cepat? Kenapa Anda menahannya tepat di angka delapan tahun?"

Arkan menegakkan tubuhnya, melangkah perlahan mengitari meja hingga ia berdiri tepat di hadapan kursi Milly. Ia menumpukan kedua tangannya di pegangan kursi kiri dan kanan, mengurung Milly dalam jarak yang begitu intim hingga gadis itu bisa merasakan kehangatan napas sang Presdir.

"Karena delapan tahun adalah waktu minimal yang aku butuhkan, Millyanita," desis Arkan pelan, matanya berkilat dengan intensitas yang membuat jantung Milly berdebar dua kali lebih cepat.

"Waktu minimal untuk apa?" tanya Milly, suaranya mencicit hampir tak terdengar.

Arkan mengulurkan satu jarinya, menyentuh pinggiran kacamata bulat Milly dengan gerakan yang teramat lembut. "Waktu minimal untuk memastikan bahwa setelah kontrak ini berakhir... kau sendiri yang akan memohon padaku untuk tidak pernah menghapus namamu dari seluruh aset dan perlindungan hidupku."

Milly tertegun, lidahnya mendadak kelu saat menyadari arti dari tatapan mata elang pria perfeksionis di hadapannya. Di balik semua rumus efisiensi dan angka potongan kontrak, sang monster korporat kaku itu ternyata sedang merancang sebuah jebakan absolut yang paling berbahaya sebuah kepatuhan yang berakar dari hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!