NovelToon NovelToon
KISAH CINTA ALDARA DAN ARIES

KISAH CINTA ALDARA DAN ARIES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chinta Maulana

Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 034: Kegelisahan dan Kembali ke Tempat Perawatan

Sudah satu minggu berlalu, namun kabar dari Aries sangat jarang datang. Hanya tiga kali pesan masuk selama itu, membuat Aldara duduk termenung di kamar sambil menatap layar ponselnya yang sunyi. Ia menghela napas panjang berusaha menenangkan diri. “Pasti dia sangat sibuk, kan? Atau mungkin jaringan di sana memang sulit,” batinnya berusaha berpikir positif.

Namun tiba-tiba rasa nyeri hebat menyerang kepalanya. Belum sempat ia memanggil siapa pun, darah segar mengalir keluar dari lubang hidungnya. Aldara terkejut dan panik.

“Astaghfirullah… kenapa begini?” gumamnya lemah berusaha menyeka darah itu, namun pandangannya perlahan berkunang-kunang hingga akhirnya ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tergolek tak sadarkan diri di lantai kamar.

Tak lama kemudian, seorang pria berusia 37 tahun masuk ke kamar itu. Itu adalah Sarif, kakak kandung Aldara yang kebetulan sedang berkunjung. Melihat adiknya tergeletak pucat dengan darah yang mengering, ia langsung panik.

“Aldara! Astaghfirullah… Dede!” teriaknya cemas. Tanpa berpikir panjang, Sarif segera menggendong tubuh ringkih itu dan bergegas membawanya ke rumah sakit MEDIKA terdekat.

Sesampainya di sana, Aldara langsung ditangani tim medis di ruang gawat darurat. Di luar ruangan, Sarif mondar-mandir tak tenang sambil terus berdoa memohon keselamatan adiknya. Tak lama berselang, dokter keluar dengan wajah lelah namun berusaha tenang.

“Kondisinya membutuhkan perawatan intensif beberapa hari ke depan. Kamu sudah paham betul kondisi kesehatan adikmu ini, bukan?” tanya dokter yang sudah lama menangani Aldara.

“Benar Dok, saya paham sepenuhnya,” jawab Sarif dengan nada berat.

“Pastikan dia menjaga pola makan dan rutin minum obat sesuai jadwal. Jangan sampai terlewat,” pesan dokter sebelum beranjak pergi.

Saat Aldara didorong keluar dari ruang gawat darurat menuju ruang rawat inap, Sarif menatap wajah pucat adiknya dengan hati yang perih. Penyesalan mulai menyelimuti hatinya. “Kenapa kamu selalu begini, Dede? Kenapa kamu tak pernah memberi tahu kalau kondisimu sedang menurun? Kenapa kamu lebih memilih tinggal sendiri daripada tinggal bersama kami di kota? Bagaimana kalau aku tidak datang hari ini? Apa yang akan terjadi padamu?” batinnya penuh rasa Bersalah karena merasa gagal menjaga adik kesayangannya itu.

Sementara itu Aldara masih terbaring belum sadarkan diri bahkan di badannya berbagai banyak alat terpasang.

Di ruang rawat, Aldara masih terbaring lemas dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya. Sarif duduk setia di samping ranjang sambil menggenggam tangan adiknya. “Sembuhlah cepat, Dede. Abang akan selalu ada dan menjagamu dari sekarang,” bisiknya lembut.

Di tempat lain, suasana gelisah melanda hati Dede Ara dan Hafizah. Berulang kali mereka mencoba menghubungi Aldara, namun panggilan tak pernah tersambung.

“Ada apa ya Kak? Tidak biasanya dia begini,” tanya Dede Ara dengan nada cemas.

“Aku juga bingung. Selama ini ponselnya selalu aktif dan mudah dihubungi,” jawab Hafizah yang sama-sama gelisah.

Tiba-tiba Abang Chepot datang menghampiri dan menepuk pundak mereka berdua. “Ada apa ini? Kenapa wajah kalian penuh kekhawatiran?” tanyanya perhatian.

“Begini Bang, Kak Aldara sama sekali tidak bisa dihubungi. Ini baru pertama kalinya terjadi. Kami jadi takut terjadi sesuatu padanya,” jelas Dede Ara dengan suara bergetar.

“Tenang dulu, mungkin saja dia sedang sibuk atau ada urusan mendadak bersama keluarganya. Biar aku coba hubungi Aries dulu, siapa tahu dia tahu kabarnya,” ucap Abang Chepot berusaha menenangkan. Namun tak lama kemudian wajahnya kembali berkerut. “Nomornya tidak aktif. Sepertinya memang benar-benar tidak ada jaringan di tempatnya sekarang.”

Ketiganya duduk termenung dalam diam, rasa cemas makin merayap di hati.

“Nanti coba hubungi lagi ya. Siapa tahu baterainya habis atau jaringan sedang gangguan,” ucap Abang Chepot berusaha memberi harapan.

“Iya Bang,” jawab Dede Ara dan Hafizah serempak.

Dalam hati mereka masing-masing berdoa dengan sungguh-sungguh. “Ya Allah, lindungilah Kak Aldara di mana pun dia berada,” doa Dede Ara. “Semoga dia baik-baik saja, jagalah dia Ya Allah,” tambah Hafizah.

Sementara itu di rumah sakit, perlahan kelopak mata Aldara terbuka. Ia menatap sekeliling ruangan yang putih bersih dan penuh peralatan medis, lalu tersenyum pahit dan lemah. “Kembali lagi aku berada di sini…” gumamnya pelan.

Sarif yang menyadari pergerakan itu langsung bersorak gembira namun tetap berhati lembut. “Dede… kamu sudah sadar, Alhamdulillah.”

“Iya Bang… tapi tenggorokanku rasanya sangat kering dan haus sekali,” jawab Aldara dengan suara lirih.

Dengan sigap Sarif segera mengambilkan air minum dan membantunya meminumnya perlahan. “Terima kasih, Bang,” ucap Aldara setelahnya dengan tatapan yang masih terlihat lelah namun sedikit lebih tenang.

SARIF adalah saudara kandung Aldara yang berumur 37

1
Sribundanya Gifran
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!