Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Bersamaan
Setelah resmi jadian, suasana di antara mereka masih terasa sedikit canggung. Oca dan Dirga berjalan berdampingan kembali menuju gedung sekolah. Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Sesekali tatapan mereka bertemu, sebelum akhirnya sama-sama mengalihkan pandangan.
Begitu sampai di persimpangan koridor, langkah mereka berhenti.
"Kalau gitu... gue masuk dulu, ya," ucap Dirga sambil mengusap pelan tengkuknya.
Oca mengangguk kecil. "Iya."
Belum sempat mereka berpisah, dua orang teman Dirga datang dari arah belakang. Salah satunya langsung merangkul bahunya, sementara yang lain hanya melirik sekilas ke arah Oca sebelum menyunggingkan senyum tipis.
"Ngapain, Bro? Dari tadi dicariin."
"Ayo, yang lain udah nunggu."
Dirga hanya terkekeh kecil. Sebelum ikut berjalan bersama kedua temannya, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah Oca.
"Nanti ketemu lagi."
"Iya," jawab Oca sambil mengangguk pelan.
Setelah sosok Dirga menghilang di balik koridor, Oca pun berbalik melangkah menuju kantin. Suasananya masih dipenuhi para siswa yang sedang menikmati jam istirahat. Matanya menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya menemukan Andira dan Kinan yang langsung melambaikan tangan begitu melihatnya.
"Ca! Sini!"
Oca menghampiri mereka lalu menarik kursi kosong di hadapan kedua sahabatnya.
"Gimana?" tanya Andira tanpa basa-basi. "Jangan bikin gue penasaran."
"Iya, cepetan cerita," sambung Kinan dengan mata berbinar.
Oca hanya tersenyum kecil sambil menatap mereka bergantian.
"Apanya?"
"Ya ampun." Andira langsung memajukan tubuhnya. "Dirga! Lo terima apa nggak?"
Oca sengaja membiarkan mereka menunggu beberapa detik. Melihat ekspresi keduanya yang sudah tidak sabar, ia akhirnya mengembuskan napas pelan.
"Gue nerima dia."
Sejenak Andira dan Kinan saling berpandangan seolah memastikan mereka tidak salah dengar.
"Hah? Serius?"
Oca mengangguk pelan.
"Iya."
"Woy! Akhirnya!" Andira spontan menepuk meja hingga beberapa siswa di sekitar mereka menoleh. "Resmi punya pacar, nih!"
"Selamat ya, Ca," ucap Kinan ikut tersenyum.
Oca hanya menggeleng geli melihat tingkah kedua sahabatnya.
"Lebay banget."
"Lebay gimana?" Andira menunjuk Oca sambil tertawa. "Mulai hari ini status lo berubah."
"Terus?"
"Ya traktir kita, lah."
"Enak aja."
"Harus!" Kinan kali ini ikut membela Andira. "Masa baru jadian nggak ada syukuran?"
Oca memandang mereka bergantian sebelum akhirnya menyerah.
"Yaudah... sekali ini aja."
"Siap!" seru Andira semangat. "Bang, tiga bakso sama es teh!"
Jam istirahat pun berlalu diiringi tawa dan obrolan ringan mereka. Setelah menghabiskan makanan, mereka bertiga membereskan meja sebelum kembali ke kelas.
______
Setelah itu, kegiatan belajar kembali berlangsung seperti biasa. Sisa hari itu terasa berjalan begitu cepat hingga tanpa disadari bel pulang akhirnya berbunyi. Suasana sekolah yang sejak tadi dipenuhi aktivitas belajar perlahan kembali riuh oleh para siswa yang berhamburan keluar dari kelas masing-masing.
Oca, Andira, dan Kinan pun ikut berjalan menyusuri koridor menuju gerbang sekolah sambil sesekali masih saling menggoda.
"Jadi sekarang statusnya udah resmi nih?" goda Andira sambil menyenggol pelan lengan Oca.
Oca hanya memutar bola matanya. "Iya."
"Wah... bentar lagi pasti lupa sama kita," celetuk Kinan pura-pura menghela napas.
"Ih, apaan sih. Nggak mungkin, lah."
Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil dari belakang.
"Ca!"
Ketiganya serempak menoleh. Dirga tampak berlari kecil menghampiri mereka sebelum akhirnya berhenti tepat di depan Oca. Ia menarik napas sejenak sebelum berbicara.
"Lo mau nggak pulang bareng gue?"
Oca tampak terdiam beberapa saat, seolah mempertimbangkan ajakan itu.
Andira yang berdiri di sampingnya langsung menyenggol pelan lengan Oca. "Jawab, dong. Kasihan tuh, udah nyamperin jauh-jauh."
Kinan ikut tersenyum geli. "Lagian kalian sekarang udah resmi pacaran. Nggak usah malu-malu lagi."
Oca menggeleng pelan sambil tersenyum kecil melihat tingkah kedua sahabatnya.
"Yaudah.”
Senyum Dirga langsung mengembang. Ia mengajak Oca menuju parkiran, lalu menyerahkan sebuah helm cadangan.
"Nggak keberatan naik motor, kan?"
"Nggak. Santai aja"
Setelah mengenakan helm masing-masing, mereka pun meninggalkan sekolah. Sepanjang perjalanan, obrolan mereka masih sederhana. Dirga sesekali bercerita tentang pertandingan basket kemarin, sementara Oca lebih banyak mendengarkan sambil sesekali menanggapi. Meski masih terasa canggung sebagai pasangan baru, suasana di antara mereka justru terasa nyaman.
Beberapa menit kemudian motor Dirga berhenti di sebuah persimpangan yang letaknya tidak jauh dari mansion tempat Oca tinggal.
"Udah, sampai sini aja," ucap Oca sambil melepas helm.
Dirga mengernyit. "Yakin? Ga mau gue anterin sampe rumah."
Oca mengangguk. "Nggak usah, gue jalan aja dari sini."
Dirga tidak memaksa. Ia menerima helm itu kembali lalu tersenyum tipis.
"Kalau gitu hati-hati, ya."
"Iya."
"Udah sampai rumah kabarin."
Oca mengangguk pelan sebelum melanjutkan langkahnya. Di tengah perjalanan ia sempat menoleh ke belakang. Dirga ternyata masih berdiri di tempatnya, memperhatikan hingga sosok Oca perlahan menghilang di ujung jalan. Melihat itu, tanpa sadar sudut bibir Oca ikut terangkat membentuk senyum tipis.
Sementara itu, di lokasi syuting, Anthony baru saja menyelesaikan pengambilan adegan terakhir lebih cepat dari jadwal. Begitu mobil mulai meninggalkan lokasi, ia menoleh ke arah sopir.
"Fransesca sudah dijemput?"
Sopir menggeleng hormat. "Belum, Tuan. Tadi Nona menghubungi saya. Katanya hari ini tidak usah dijemput."
Anthony sedikit mengernyit. "Tidak usah dijemput?"
"Iya, Tuan. Biasanya Nona selalu memberi tahu kalau ada perubahan jadwal."
Anthony tidak lagi bertanya. Pandangannya beralih ke luar jendela hingga akhirnya mobil memasuki halaman mansion. Hampir bersamaan, gerbang kecil di samping rumah terbuka dan Oca baru saja tiba setelah berjalan kaki dari arah persimpangan.
Tatapan mereka bertemu sesaat. Oca tampak sedikit terkejut melihat Anthony sudah berada di rumah, sementara Anthony hanya memandangnya dalam diam.