Berawal dari link aplikasi aneh yang masuk dalam obrolan chat grup kelasnya, Yufuin Tenn, Demon Lord yang bereinkarnasi menjadi seorang manusia akhirnya harus mengikuti sebuah game aneh karena terpaksa.
[Code Name: Alice Liddell]
[Welcome to the Murderland]
Game dengan seribu kisah dongeng sebagai setting permainan membuat Tenn semakin penasaran dengan orang di balik permainan ini tersebut.
Hanya satu cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui sosok di balik game ini dan menyelesaikan permainannya yaitu mengumpulkan kartu klondike untuk masuk ke level selanjutnya.
Demi mengetahui apa alasan dia terpilih dalam game pembunuhan dalam kisah dongeng tersebut, Tenn harus berusaha membuat dirinya lolos ke level berikutnya tanpa ada yang tau identitasnya sebagai demon lord hingga akhir permainan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayano Kaname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30. Zombie Fairy Tales: Hansel and Gretel bag. 3
Di tempat penuh bebatuan yang tajam tanpa pepohonan dimanapun, satu-satunya tempat bersembunyi adalah dengan berlari melewati area tersebut sampai ke semak-semak hutan atau di belakang bebatuan tajam, runcing dan besar yang banyak di sekitar tempat itu.
“Ini akan menjadi area yang bagus untuk bocah itu bertarung. Terlalu banyak bebatuan di sini.” gumam Tenn.
Yang dimaksud olehnya tentu saja Code Name: Hansel dan Code Name: Gretel.
Kombinasi serangan mereka cukup kuat, bahkan bisa dikatakan lebih berguna dari milik Code Name: Tarzan.
Tenn dan Code Name: Mad Hatter mengikuti kedua anak kecil itu dengan tetap menjaga jarak antara keduanya.
“Kita berhasil menjaga jarak sejauh 5 meter. Harusnya di jarak ini, anak kecil tidak akan tau. Alice, kita bunuh saja sekarang.” kata Code Name: Mad Hatter dengan mudahnya.
Tapi Tenn tidak terlihat setuju dengan itu. Dia jauh lebih berhati-hati sekarang.
“Aku tidak akan berpikir demikian untuk saat ini. Pertama, sihir yang bisa kugunakan sangat terbatas karena admin sial itu.”
“Kedua, aku tidak boleh sampai ketauan saat menggunakan sihir oleh si yandere ini.”
“Ketiga, aku harus berhati-hati dengan kemungkinan terburuk yaitu adanya makhluk lain selain zombie di tempat ini.”
“Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah mengamati sebelum bertindak. Menyerang anak kecil itu tidak sulit, tapi menyerang anak kecil yang kemampuannya jauh di atas rata-rata itu akan beda cerita.”
Tenn mulai berjalan perlahan dengan Code Name: Mad Hatter yang mengikutinya.
Kedua anak kecil itu tampak tenang dan tetap berpegangan tangan. Di jarak yang cukup jauh, tidak ada satupun dari mereka yang saling memulai kontak.
Sampai akhirnya, ada sesuatu yang membuat mereka terpaksa harus memulai pertarungan lebih cepat, yaitu ketidaksabaran Code Name: Mad Hatter.
“Aku melihat ada kartu di depan kita. Serahkan mereka padaku, Alice.”
“Apa?”
Code Name: Mad Hatter langsung berlari cepat menuju kedua anak itu. Tenn yang menyaksikan itu mengumpat dengan bahasa dunia bawahnya.
“Ten glupiec! Jakze czesto postepuje lekkomyslnie bez planu! (si bodoh itu! Bisa-bisanya dia bertindak tanpa rencana!)”
Begitu Code Name: Mad Hatter berlari untuk menyerang kedua anak kecil itu dengan pukulan dari belakang, tiba-tiba ada sesuatu yang menyerang.
Sesuatu yang cepat, seperti tongkat besar yang tiba-tiba muncul sehingga membuat Code Name: Mad Hatter membatalkan serangannya dengan cara melompat ke belakang.
“Cih!”
Setelah itu, salah satu dari mereka memukul Code Name: Mad Hatter dengan tongkat itu. Itu adalah permen tongkat.
Yang membawanya adalah Code Name: Gretel dan tentu saja dia juga yang menyerangnya.
Serangan dengan tongkat tersebut dilanjutkan oleh anak kecil itu.
“Hah! Matilah kalian!” teriaknya.
Pukulannya memang tidak bisa dianggap halus, tapi gerakannya cukup lincah untuk ukuran anak berusia di bawah 10 tahun.
Tenn yang melihat dari jauh cukup terkesan. Tidak ada wajah panik, hanya menunjukkan senyum sinisnya.
“Menarik. Sistem, katakan padaku kartu apa yang dimiliki kedua anak kecil itu.”
[Memproses pemeriksaan]
[Pemeriksaan selesai]
[Code Name: Gretel memiliki 2 kartu suit “Hearts” yaitu “King of Hearts” dan “Hearts 10”]
[Code Name: Hansel memiliki 2 kartu suit “Diamonds” yaitu “King of Diamonds” dan “Ace of Diamonds”]
“King dan…Ace ya…menyusahkan. Aku sudah punya kedua kartu itu. Tapi untuk suits “Hearts” yang dibawa oleh mereka…”
Tenn mengambil kartu yang ada di saku celananya. Terdapat lima kartu di tangannya sekarang. Dua di antaranya adalah “Queen of Hearts” dan “Jack of Hearts”. Itu adalah suits milik mendiang Code Name: Tarzan yang diberikan oleh Code Name: Mad Hatter padanya.
“Kartu suits milik Tarzan justru sudah hampir lengkap.”
“Dengan mendapatkan satu kartu “Ace of Hearts” maka aku akan mendapatkan kombinasi “Royal Straight Flush”. Aku harus membunuh anak bernama Hansel.”
Mata merah Tenn menyala dan dia bersiap untuk menggunakan semua kemampuan fisik demon lordnya.
“Meskipun sihir yang kupunya tidak ada yang bagus, aku akan bertaruh dengan apa yang aku punya.”
Sementara itu, Code Name: Mad Hatter sedang bersenang-senang sekarang.
“Ini menyenangkan. Mereka bukan anak sembarangan. Ahahahaha! Akan aku penggal mereka dan kuberikan pada Alice.”
Code Name: Hansel berteriak ke arah Code Name: Gretel.
“Gretel! Dia Mad Hatter! Kau harus hati-hati!”
“Mad Hatter?!”
Code Name: Gretel jadi terlihat serius sekarang. Dia mundur ke tempat Code Name: Hansel dan menyentuh salah satu batu panjang di dekat mereka.
Batu tersebut menjadi permen tongkat kembali dan dia memberikannya pada Hansel.
“Gunakan ini untuk membunuhnya. Jangan pernah memberinya kesempatan hidup, Hansel.”
“Aku mengerti, Gretel. Kita habisi dia dan rebut kartunya!”
Tampaknya anak-anak itu bukanlah anak-anak normal. Kenapa begitu? Karena gerakan mereka seperti seorang anak dengan kemampuan beladiri yang cukup bagus.
Mengingat salah satu dari mereka bisa menendang zombie hingga jatuh meski tidak begitu jauh membuktikan bahwa mereka terlatih.
Code Name: Mad Hatter mulai berlari ke arah keduanya. Tanpa senjata dan hanya berbekalkan perasaan senang dan nafsu membunuh, dia mulai menyerang anak-anak itu.
Baik Code Name: Hansel maupun Code Name: Gretel saling menyerang dengan mengayunkan permen tongkat mereka.
Serangan itu tidak mengenai Code Name: Mad Hatter, tapi permen tongkat besar yang diayunkan itu mengenai tanah bebatuan yang akhirnya menciptakan lubang kecil.
Bisa dibilang bahwa permen itu cukup berat dan padat untuk membuat lubang meskipun kecil.
“Kalau aku terkena itu, aku mungkin bisa mati nanti. Ahahaha!”
Memang dia terlihat waspada, tapi ekspresi dan nada bicara serta gerak tubuhnya tidak menunjukkan dia kesulitan dengan itu. Bisa dibilang dia tampak menikmatinya.
Bukan tidak ingin menggunakan kekuatan usernya, tapi Code Name: Mad Hatter sendiri tidak ingin terlalu terburu-buru sehingga dia memilih untuk melawan secara fisik seperti bermain-main.
Sementara itu, di saat pertarungan baru berlangsung, Tenn yang baru saja hendak ingin ikut di dalamnya merasakan sesuatu mendekat.
*****