NovelToon NovelToon
This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Renny Ariesya

❝Vina, bila kau ingin tahu siapa ayah kandung Baby El, datanglah ke rumah keluarga Archielo.❞

Malam ketika saudarinya meninggal kecelakaan. Davina Oswalden mengetahui kenyataan siapa ayah kandung Baby El (Eleanore Oswalden). Berbekal surat wasiat saudarinya, Davina nekad datang ke kota Vancouver, Canada - bersama Baby El; bayi laki-laki berusia lima bulan.

Davina mengetahui fakta yang tidak diketahuinya selama ini, ketika dia mengetuk pintu rumah keluarga Archielo ... pria itu---ayah kandung Baby El---mencium dan memeluknya, membisikkan kata ....
❝Ini bayi kita, Sayangku!❞

Di sisi lain...
Ketika penyesalan masa lalu menghantui seorang Mario Archielo ... tiba-tiba, suatu hari pintu rumahnya diketuk oleh seorang wanita manis nan mungil, lalu menyodorkan bayi laki-laki lucu padanya.
❝Ini bayi kandungmu...❞
Apakah ini saatnya membayar sebuah kesalahannya di masa lalu?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renny Ariesya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bawa Aku Pergi

Davina meringis ketika irisnya menyapu sekeliling ruangan. Asap rokok, dan bau alkohol menyatu di udara yang pengap - penuh sesak manusia. Ditambah dengan pertunjukkan musik live oleh band pengisi acara malam ini. Menambah riuh suasana.

Namun, Davina sangat bersyukur akan hal itu. Ini lebih baik dari tempatnya beberapa menit yang lalu. Di dalam sebuah van. Beruntung dirinya berhasil melarikan diri.

Tadi sore, dia pergi izin dari Marrie untuk membeli keperluan mandi Baby El. Tapi, ketika dia menyusuri beberapa toko. Tiba-tiba saja ada sebuah van berhenti tepat di depannya. Dan beberapa orang tak dikenal---berpakaian jas hitam---keluar dari van tersebut. Secepat kilat mereka bergerak. Tanpa sempat berlari atau pun melawan, Davina telah dibius.

Entah berapa lama Davina pingsan, dan berada di dalam van. Ketika membuka mata, malam telah menjelang. Ia melirik pada satu orang yang duduk di sebelahnya. Menelepon seseorang. Satu hal wanita muda ini merasa lega, tangannya tidak diikat dan dia dibiarkan saja tertidur di jok dekat pintu van. Itu artinya, dia berkesempatan melarikan diri. Di detik berikutnya. Tanpa berpikir panjang lagi, Davina berhasil lolos dengan memanfaatkan kelengahan orang yang menyekapnya - selain sibuk menelepon, ternyata pintu vannya tidak dikunci.

Dan di sinilah Davina berada. Di dalam club malam. Setelah berhasil lolos main kejar-kejaran dengan para penyekap itu. Kendati berhasil meloloskan diri, bukan berarti dia bisa lega seketika. Saat menoleh ke belakang, Davina melihat orang-orang yang menyekapnya, ternyata mengejarnya sampai ke dalam club.

Tak ingin kembali tertangkap. Dengan gesit Davina menyelinap di dalam lautan manusia yang menonton live show musik. Terus berjalan susah payah, hingga berada di sisi panggung paling depan. Lalu mencengkram erat sisi panggung.

Ya. Dengan begitu, orang-orang tersebut takkan bisa berbuat banyak lagi terhadapnya. Bila mereka berani melakukannya. Maka dia akan menjerit dan meneriakkan bahwa dirinya diculik. Siapa yang akan mengambil risiko akan hal tersebut. Begitupula dengan para penculiknya. Mereka hanya menunggunya di sudut ruangan, menunggu sampai acara musik ini selesai.

Dan Davina hanya perlu bertahan lebih dari itu. Ingin menelepon Mario pun percuma, karena ponselnya telah dihancurkan oleh para penculiknya. Dalam hati wanita muda ini berdo'a. Semoga saja ada yang menolongnya dari situasi berbahaya saat ini.

"Ravi i love you ..."

"Ravi! Rav! Ravi!"

"Raviii."

Eh??? Davina mengernyit saat suara beberapa gadis di sampingnya, meneriakkan nama Ravi. Adik iparnya.

Dan ketika dia mendongak ke atas panggung. Benar saja, Ravi sedang bermain gitar mengiringi alunan suara vokalisnya. Dalam diam Davina bernapas lega, bersyukur akan kehadiran Ravi di sekitarnya. Meski pria itu tidak melihatnya ....

Itu beberapa menit yang lalu. Kini mata mereka saling bertemu, saat Ravi juga menatapnya. Sempat raut wajah pria muda itu berubah. Terkejut melihatnya, kenapa Davina bisa berada di sini?

Lalu Ravi berpaling ke arah lainnya. Juga melihat Lily bersama teman-temannya sedang minum. Tampak gadis muda itu sudah mabuk berat.

 

 

*This Is Your Baby*

 

 

"Tapi Mom ...." Ravi menjauhkan ponselnya dari telinga kala mendengar Roxanne mengumpat keras pada Lily. Kesal, karena gadis itu malah mabuk dan mengabaikan perintahnya.

"Mom, Ravi tak bisa mengantar Lily sekarang. Ravi sedang bekerja. Bahkan, bila Mom tidak percaya, di sini ada Vin---"

Ada jeda pembicaraan di antara mereka, ketika Roxanne memutus paksa percakapan di seberang telepon. Ravi mengembuskan napas. Sepertinya, pembicaraan mereka berjalan alot. Berulang kali ia meminta Roxanne yang menjemput Lily, bukan dirinya. Bahkan Ravi---berulang kali tanpa henti---memberikan alasan; bahwa dia sedang melakukan pertunjukan live musik. Serta ada Davina bersamanya saat ini. Tetap saja Roxanne tidak mau tahu. Memaksanya mengantar adiknya ini pulang.

Davina tersenyum tipis ketika Ravi menatapnya, merasa tak enak hati padanya.

“Pokoknya, Mommy tidak mau tahu. Antar Lily pulang!”

"Baiklah aku akan mengantarnya," ucap Ravi jengkel, menutup sambungan teleponnya. Mengangkat kedua belah bahu. Dia menyerah akan sikap keras ibunya.

Ah sialan ... Ravi mengacak rambutnya. Kecewa. Padahal dia hanya ingin pulang berdua saja dengan Davina.

"Vin, kau ingin di sini? Atau kembali ke tempatmu tadi?" tanya Ravi memberikan pilihan. Sebab waktu istirahatnya telah habis, dan dia harus kembali ke panggung, menuntaskan acaranya.

"Aku rasa ... kembali ke tempat tadi saja."

Davina menatap sekilas pada Lily yang mabuk, dan menatap orang yang menyekapnya - masih menunggunya di depan pintu masuk club. Lebih baik dia pulang bersama Ravi saja, itu akan aman, meski ada Lily yang mabuk bersama mereka.

"Oke! Lagipula, banyak yang ingin kutanyakan padamu, Vin." Ravi menepuk bahu Davina sekilas. Salah satu pertanyaannya, mengapa Davina bisa berada di kelab ini, adakah kaitannya dengan beberapa orang suruhan ibunya itu.

 

 

*This Is Your Baby*

 

 

Mario menatap bangunan di depannya. Menghela napas pendek, dan melepas sabuk pengamannya. Keluar dari Mercedes Benz Sport miliknya - menuju club malam, di mana biasanya Ravi manggung mengisi acara.

Dia ke sini bukan untuk menemui Ravi. Melainkan Davina. Ya, gelagat Roxanne saat berbicara di telepon tadi membuatnya curiga. Terlebih ketika Roxanne menekankan untuk mengantar Lily pulang---bagaimana pun caranya---sambil melirik takut-takut padanya.

Dan itu sudah membuktikan bahwa ada yang aneh di antara pembicaraan Roxanne dan Ravi. Sekilas, Mario membaca gerak bibir Roxanne, seolah ingin menyebut nama Davina pada Ravi. Namun diurungkan saat mengetahui dia mengawasinya. Satu hal lagi yang mencurigakan. Tidak biasanya Ravi menelepon Roxanne, mengadu kalau Lily mabuk di tempat pertunjukkannya. Dan Lily, Mario juga tahu. Tidak mungkin Lily bisa ada di satu tempat bersama Ravi, kecuali adik perempuannya ini punya maksud tertentu. Salah satunya, mengawasi seseorang atas perintah ibu mereka.

"Anak ini memang tak bisa di andalkan! Kenapa malah tanding mabuk-mabukan. Bukan itu yang Mommy perintahkan---"

Ucapan Roxanne tadi terus terngiang-ngiang di benaknya. Ia bisa menyimpulkan semuanya. Ketiganya saling berkaitan.

 

 

*This Is Your Baby*

 

 

Dan keyakinan Mario makin bertambah kuat. Saat kakinya menginjak lantai club ini. Di pintu masuk dia menemukan orang mencurigakan. Saat melihatnya, orang mencurigakan tersebut buru-buru segera pergi dari club ini. Mario yakin, itu pasti orang suruhan ibunya untuk melakukan sesuatu.

Segera mata elang Mario menyisir tempat ini. Dia menemukan Lily telah teler di sudut ruangan - bersama beberapa teman-temannya. Tetapi Mario tidak tertarik menuju tempat adiknya berada.

Ada yang lebih menarik perhatiannya saat ini. Matanya hanya tertuju pada sosok yang tersenyum lebar, menatap ke atas panggung, di mana Ravi sedang bermain gitar. Sesekali Ravi juga melempar senyuman pada Davina.

Ck! Jadi Vina bersenang-senang. Pergi menonton acara live musik Ravi. Meninggalkan Baby El pada Rie. Membohongi Rie, mengatakan hanya pergi sebentar. Bahkan telah membuatku khawatir padanya, karena ponselnya mati. Sialan!

Mario bersidekap, matanya memicing tajam - seakan ingin memakan Davina bulat-bulat. Berulang kali Mario mendengkus keras. Marah pada sikap istrinya, ditambah rasa cemburu, karena Davina tersenyum lebar pada Ravi, dan begitupula sebaliknya.

Di mata Mario, keduanya terlihat seperti sedang berkencan di sela-sela bekerja.

Geez, menjengkelkan. Tak tahukah Vina, saat ini dia dalam bahaya. Sementara dirinya menikmati menonton musik Ravi.

Mario terus bersungut-sungut kesal dalam hati. Menggertakkan giginya, bila mengingat orang-orang yang mencurigakan di depan pintu masuk tadi. Tanpa berpikir lagi. Pria ini segera menyatu dalam puluhan penonton di depannya.

 

 

*This Is Your Baby*

 

 

"Ravi yang semangat~"

"Ravi! Ravi! Ravi!"

Tanpa sadar Davina berteriak. Terhipnotis akan beberapa cewek di sebelahnya. Meneriakkan nama Ravi. Akhirnya, dia pun ikut larut dalam euforia penonton, setelah berbaur selama sejam lebih.

Jadi, inikah yang namanya menonton konser secara langsung? Bisa jingkrak-jingkrak sepuasnya, berteriak-teriak memanggil nama artis idolanya. Meski telinganya masih asing akan lagu-lagu yang dibawakan oleh band Ravi.

Katakanlah, Davina aneh, atau apalah. Sudah seumur segini, belum pernah menonton konser. Ya. Davina memang tidak tertarik akan hal-hal seperti ini. Menurutnya, membuang-buang energi dan waktu serta uangnya saja. Baginya, ada yang lebih penting dari menonton konser seperti ini.

Sedikit Davina bisa bisa bernapas lega. Melupakan sejenak ketakutannya - dari kungkungan para penyekapnya. Terus mengawasinya dari kejauhan, bagaikan predator menandai mangsanya. Bahkan semenjak acara musik di lanjutkan lagi, Davina tak berani lagi menoleh ke arah belakang.

Dia lebih fokus menatap Ravi, seakan mencari perlindungan. Hatinya merasa sedikit nyaman bila Ravi memperhatikannya.

Deg!

Jantung Davina berdegup kencang. Menahan napas. Tubuhnya bergetar. Jadi, para penculik berengsek ini nekad rupanya.

Wanita muda ini menggigit bibirnya. Menatap kaku kedua tangan yang melingkar erat di perutnya. Seseorang telah memeluknya begitu erat dari belakang. Kali ini, mereka takkan membiarkannya lolos lagi.

"Kau nakal, Vin. Diam-diam menonton musik Ravi tanpa seizinku."

Dug-dug-dug!

Saat ini jantung Davina bekerja tiga kali lipat dari sebelumnya. Dia semakin menarik napas. Suara berat yang berbisik padanya itu, dia hapal persis. Suara yang mulai akrab di telinganya, dan didengarnya setiap hari.

"Vina, rupanya kau tak takut bahay---"

"Hiks, Rio ..." Tangis Davina pecah. Mendadak---dari sekian jam dirinya merasakan ketakutan---perasaan teramat lega membuncah di dadanya. Hatinya menghangat dua kali lipat dari sebelumnya. Seakan menemukan sandaran hatinya selama ini.

Davina sadar, ternyata kehadiran Mario sungguh berarti baginya. Mampu melindunginya dari rasa ketakutannya, dan membuatnya nyaman seketika.

Mario terpaku. Saat sang istri memutar balik tubuhnya, dan membalas pelukannya. Lalu menangis, menumpahkan segala sesak yang menghimpitnya.

Rasa amarah Mario yang awalnya berada di ujung ubun-ubunnya seketika menguap begitu saja kala mendengar isak tangis---lolos dari bibir--- Davina.

Meski garis-garis samar tetap setia menghiasi dahi pria ini. Bertanya-tanya dalam hati akan perubahan sikap istrinya. Mengapa sosok ini malah menangis? Adakah kaitannya dengan orang suruhan ibunya tadi?

Hati Mario terenyuh. Setelah beberapa menit berlalu, membiarkan Davina menangis di dadanya. Ia menarik napas, dan diembuskan perlahan-lahan.

"Jangan menangis, Vin. Tak usah takut lagi, ada aku di sini," ucap Mario, mengerti akan yang dirasakan Davina saat ini.

"Kita duduk saja, atau kau ingin tetap berada di sini?" Mario memberikan pilihan. Berbisik lembut sambil mengusap punggung sang istri dalam rengkuhannya.

Davina menggeleng lemah, berucap dengan suara paraunya. "Tidak mau di sini lagi, hiks ..."

"Baiklah kita pergi saja." Mario membawa Davina keluar dari kerumunan para penonton dengan tetap memeluk erat sang istri.

Sedang Ravi, raut wajahnya berubah kecewa. Menatap kosong punggung lebar Mario yang merengkuh erat Davina. Menuntun sosok manis itu perlahan-lahan menjauh darinya.

Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.

Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.

 

 

1
TongTji Tea
tinggal baca aja pada protes .Heran gw sama reader NT ini .Mau yang sat set langsung jebrat jebret jangan baca novel tsaay .cerpen aja .paling cuma 2 halaman kelar .
Ani Jaja
ga ada bosennya, biar di ulang terus jg, bacanya
💟노르 아스마💟
Luar biasa
Netti Irawati
ngak suka ...terlalu kasar , boleh menghukum tp ngak kasar juga
Netti Irawati
kebanyakan teka teki nya ...
Airin Moo
😂😂😂😂
hersita maharani
Luar biasa
Atmita Gajiwi
/Rose//Rose//Rose//Rose//Heart/
Anita noer
bikinx kurang panas thor
Anita noer
very cool....proof it
Anita noer
read again for fourth time...and still enjoy it
Anita noer
always cool....tpi kok skr ga pernah nulis lg d noveltoon sih thor
Dafila Nurul
bagus ceritanya
bunda DF 💞
bagus ceritaanya
Rose_Ni
udah ingat ini
Rose_Ni
ravi sadboy
Rose_Ni
the making of Baby El diskip otor
Rose_Ni
gak capek emang bohong terus
Rose_Ni
Yes!!!
Rose_Ni
wow😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!