Sadewa dan Bianca sudah bersahabat dari kecil. Terbiasa bersama membuat Bianca memendam perasaan kepada Sadewa sayang tidak dengan Sadewa,dia memiliki gadis lain sebagai tambatan hatinya yang merupakan sahabat Bianca.
Setelah sepuluh tahun berpacaran Sadewa memutuskan untuk menikahi kekasihnya,tapi saat hari H wanita itu pergi meninggalkannya, orang tua Sadewa yang tidak ingin menanggung malu memutuskan agar Bianca menjadi pengantin pengganti.
Sadewa menolak usulan keluarganya karena apapun yang terjadi dia hanya ingin menikah dengan kekasihnya,tapi melihat orangtuanya yang sangat memohon kepadanya membuat dia akhirnya menyetujui keputusan tersebut.
Lali bagaimana kisah perjalanan Sadewa dan Bianca dalam menjalani pernikahan paksa ini, akankah persahabatan mereka tetap berlanjut atau usai sampai di sini?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 28
Sore itu, aroma masakan Bianca memenuhi ruang makan. Bianca memasak agak berlebihan lebih dari biasanya sekadar agar ia terlihat sibuk sebagai istri. Sadewa membantu menata meja, walau lebih sering salah ambil sendok atau menaruh piring terbalik. Bianca diam-diam merapikan semuanya sambil mendesah pelan.
Mama Hanum keluar dari kamar, rambut masih basah dibungkus handuk, wajah berseri seperti seseorang yang akan memulai penyelidikan.
“Wah… harum. Ini pasti masakan Bianca,” pujinya sambil duduk.
Bianca tersenyum kecil. “Semoga cocok, Ma.”
Sadewa ikut duduk. Baru saja ia ingin mengambilkan nasi untuk mamanya, Mama Hanum bersuara pelan namun tajam:
“Bianca, tolong ambilin sayur buat suami kamu. Kalau bisa, suapin.”
Bianca membeku. Sendok di tangannya menggantung di udara.
Sadewa tersedak ludah sendiri. “Ma, nggak usah—”
“Kenapa nggak usah?” Mama Hanum menaikkan alis. “Mama cuma mau lihat kalian bahagia. Atau ada yang salah?”
Bianca mengangguk panik dan langsung memasukkan sendok ke mangkuk. Ia meraup sayur dengan gemetar, kemudian menyodorkannya ke arah Sadewa.
"Suapin? Beneran nih? Sekarang?"
Sadewa menatap sendok itu. Bianca hampir menariknya kembali, tapi Sadewa dengan berat hati menunduk sedikit dan membuka mulut sambil menghindari tatapan Bianca.
Sendok itu masuk.
Suapan pertama.
Suapan paling canggung dalam sejarah.
Bianca buru-buru menarik sendok, pipinya memanas. Sadewa mengalihkan wajah, menelan perlahan.
“Aneh,” gumam Mama Hanum sambil menyendok lauk untuk dirinya sendiri.
Keduanya serentak menoleh. “A-aneh?”
Mama Hanum mengayunkan sendoknya santai. “Biasanya suami istri itu… saling lihat mata, bukan lihat lantai.”
Tatapan Sadewa dan Bianca bertumbukan. Mereka menahan napas.
Bianca memaksa senyum.
Sadewa memijit pelipis.
“Ma…” Sadewa mencoba terdengar santai, tapi jelas gagal. “Kami cuma belum terbiasa.”
“Belum terbiasa makan bareng?”
“Belum terbiasa mesra.”
Bianca hampir tersedak udara. Sadewa menutup mata, menyesali kalimatnya sendiri.
Mama Hanum tersenyum tipis senyum yang bukan semata-mata lembut, tapi menilai.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Mama nggak akan memaksa. Tapi Mama bisa lihat, kok. Kalian masih jauh. Masih ada dinding di antara kalian.”
Bianca menunduk. Kata-kata itu menusuk seperti jarum.
Sadewa mengepalkan tangan di bawah meja, seolah ingin membantah tapi diam.
Setelah makan malam selesai, mereka membantu membereskan meja. Saat Bianca menuju dapur, Mama Hanum tiba-tiba memanggil.
“Bianca. Duduk sebentar sama Mama.”
Sadewa spontan ingin ikut, tapi Mama mengangkat tangan, menghentikan langkah putranya. “Kamu jangan ikut.”
Sadewa berhenti di tempat. Bianca duduk perlahan di sofa. Mama Hanum duduk di sampingnya, menggenggam tangan Bianca. Hangat, tapi juga mengintimidasi.
“Bianca. Mama mau tanya jujur. Kalian baik-baik saja?”
Nada suara Mama lembut, tapi matanya tajam, mencari celah.
Bianca menelan saliva. Ia tahu ini berbahaya. Satu kata salah semua bisa runtuh.
“Kami… berusaha, Ma,” jawab Bianca akhirnya. Itu bukan bohong. Tapi juga bukan kejujuran penuh.
Mama Hanum mengusap punggung tangan Bianca. “Mama takut kamu terluka. Sadewa pernah buat keputusan yang buruk. Mama nggak mau itu terulang.”
Bianca menunduk, menahan napas.
Di dapur, Sadewa diam, mendengarkan dari balik pintu, wajahnya tegang.
“Kalau ada apa-apa,” lanjut Mama Hanum, “kamu bilang Mama. Jangan ditahan sendiri. Mama ingin kamu bahagia. Bukan cuma bertahan.”
Bianca mengangguk cepat, senyum tipis. “Aku mengerti, Ma. Terima kasih sudah peduli.”
Mama menarik Bianca ke pelukan hangat. Bianca memejamkan mata, menahan air mata yang tiba-tiba ingin jatuh. Ada rasa rindu disayangi seperti itu.
Saat pelukan terlepas, Sadewa pura-pura sibuk dengan piring di wastafel. Tapi telinganya masih merah.
Mama Hanum berdiri.
“Baik, sekarang Mama mau lihat bagaimana kalian tidur di kamar. Biar Mama yakin nggak ada yang aneh.”
Bianca membelalak. Sadewa hampir menjatuhkan piring.
“Maksud Mama…?”
“Kalian tidur bareng kan? Suami istri.”
Udara di ruang tamu menegang.
Tidak ada jalan keluar.
Bianca dan Sadewa saling memandang panik, bingung, dan untuk pertama kalinya, satu tim.
Bianca mengambil napas panjang.
Sadewa menelan ludah.
Dan malam terburuk sekaligus paling menegangkan baru saja dimulai.
...****************...
Malam sudah turun, lampu kamar redup. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu meja di pojok ruangan, menciptakan bayangan lembut di dinding. Bianca keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah, mengenakan piyama panjang sederhana. Sadewa sudah lebih dulu duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak dan wajahnya terlihat tegang.
Di antara mereka, sebuah bantal panjang telah diletakkan, membentang lurus seperti garis demarkasi di tengah ranjang.
Batas teritorial.
Batas kenyamanan.
Batas yang tak boleh dilanggar.
Bianca menatap bantal itu beberapa detik, lalu naik ke sisi ranjangnya tanpa berkata apa-apa.
Sadewa menarik selimutnya, suara kain terdengar jelas di keheningan. “Kalau kamu nggak nyaman, aku bisa tidur di sofa,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan. Nada suaranya kaku, namun ada rasa bersalah yang sulit disembunyikan.
Bianca tidak langsung menjawab, matanya fokus pada langit-langit. “Nggak apa-apa. Kita cuma pura-pura harmonis di depan Mama Hanum. Dan ini bagian dari perannya.” Bianca berusaha terdengar santai, tapi nada suaranya goyah.
Sadewa mengangguk. “Tetap… kalau kamu merasa keberatan—”
“Aku baik-baik saja, Dewa,” potong Bianca lirih. Dia buru-buru menarik selimutnya sampai setinggi dada, memalingkan wajah ke arah lain, punggungnya membelakangi Sadewa.
Keheningan kembali merayap.
Detik berubah menit.
Nafas mereka terdengar bergantian.
Jarak di antara mereka terasa ribuan kilometer meski dipisahkan hanya satu bantal.
Sadewa bergeser sedikit, memastikan dirinya tidak melewati garis batas itu. Sejak kapan kamar ini terasa sempit? pikirnya. Aroma shampo Bianca yang manis mengisi udara, membuat pikirannya tidak karuan. Apalagi bayangan foto-foto dirinya dan Sarah yang tadi dilihat Bianca membuat rasa bersalahnya menggunung.
“Aku akan ganti semua foto itu besok,” ucap Sadewa tiba-tiba, suaranya serak.
Bianca terdiam. Kelopak matanya merapat sedikit. “Nggak usah,” jawabnya pelan tapi dingin. “Itu bagian dari hidup kamu. Nggak ada hubungannya sama aku.”
Sadewa menelan ludah keras-keras. "Tapi sekarang kamu bagian dari hidupku juga," kata-kata itu menggantung di ujung lidah, tapi tidak pernah terucap.
Dia hanya menarik napas panjang.
“Bianca…” Sadewa memanggil, ragu.
Bianca tidak bergerak, namun suaranya terdengar. “Iya?”
“Maaf.”
Kata itu begitu sederhana, namun terasa berat seperti beban bertahun-tahun.
Bianca memejamkan mata lebih rapat. Ada rasa getir yang merambat di dadanya—campuran antara kecewa dan rasa tidak ingin peduli. “Udah tidur aja. Besok Mama Hanum bangun pagi.”
Sadewa menatap punggung Bianca lama sekali sebelum akhirnya ikut mematikan lampu.
Kamar tenggelam dalam gelap.
Dua tubuh, satu ranjang.
Dibatasi sepotong bantal yang menjadi saksi jarak emosi.
Di antara jeda napas, terdengar desahan hati yang sama-sama letih.
Tanpa saling tatap.
Tanpa sentuh.
Tanpa bicara.