Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesona Dr. Darcel
Darah itu menyiprat di kemeja putih dan dasi hitam tipis yang Darcel kenakan. Dia garuk daun telinganya sampai meninggalkan noda darah, lalu tanpa berpikir panjang, dia masukkan sarung tangan itu ke mulutnya dan menjilat cairan merah dengan ekspresi datar. Seperti orang sedang mencicipi kuah dari sendok.
Mulutku terbuka tanpa sadar, melihat lidahnya yang bikin merinding. Aku bersusah payah menahan diri untuk enggak menyelipkan jari ke celana dalamku. Ada alasan kuat kenapa aku terobsesi sama dia.
Tiap malam, aku memikirkan dia, mengulang tiap detailnya di kepalaku. Garis rahangnya yang tegas. Mata ungunya yang dibingkai oleh bulu mata panjang dan elegan. Kulitnya yang jauh lebih gelap dari kulitku. Ditambah tatapan mata nakal itu, dia hampir kelihatan seperti bukan manusia.
Aku suka posturnya. Cara kelopak matanya turun waktu dia membaca sesuatu di mejanya. Manset kemejanya yang rapi dan ketat. Garis-garis halus pembuluh darah di lengannya. Ya, Tuhan. Enggak ada siapa pun yang seperti dia.
Dan sekarang, waktu dia masuk ke ruangan dengan seringai nakal di wajahnya, ada sesuatu di dalam diri aku yang bangkit. Dokter Terapi yang dingin dan kalem itu lenyap. Cowok di depan aku ini kelihatan jahat.
Bejat.
Keji.
Dia menipu semua orang, bahkan aku. Dan entah kenapa, itu justru membuatku makin terangsang sampai rasanya mau meledak.
Mata ungunya berkilau penuh waktu dia melangkah santai ke arah manusia yang tergantung di kail. Lidah Darcel menjulur, menjilat noda darah dari bibir si korban.
Bagaimana mungkin, aku yang selama ini terobsesi sama darah, bisa berakhir jatuh cinta sama Dokter Terapi yang hobi mengumpulkan darah di ember?
Itu kebetulan?
Atau … dia sengaja yang mencari aku?
Di detik itu, akhirnya aku bisa jujur sama diri aku sendiri.
Aku putus asa.
Obsesif.
Jatuh cinta.
Oh, jatuh cinta itu luar biasa memabukkan.
Dan sekarang, cinta dan obsesifku enggak perlu lagi cuma sekedar menjadi fantasi, karena aku bisa melihatnya jelas di depan mata.
Dr. Darcel adalah belahan jiwaku.
“Dasar psikopat bajingan!” ketir cowok yang tergantung di kait itu sekeras-kerasnya, membuatku meringis. “Aku bakal bunuh kamu, bajingan! Aku bakal bunuh kamuuuu!”
Dr. Darcel enggak bicara apa-apa. Enggak ada ekspresi sama sekali di wajahnya. Darcel lalu ambil ember bersih dari sudut ruangan. Ada suara gesekan pelan waktu ember itu ditaruh tepat di bawah tubuh cowok itu, tetap tanpa sepatah kata pun.
“Mereka bakal nemuin kamu,” geram cowok itu. “Aku tahu siapa kalian.”
Aku pikir dia sedang membicarakan kelompok tertentu.
“Kalian itu Bloodveil Butc—”
Kalimatnya kepotong sama suara basah yang mengerikan waktu Darcel condong ke depan, menekan pisau ke lehernya. Waktu seakan berhenti saat aku melihat kulitnya terbelah dan darah muncrat deras dari arteri. Wajah cowok itu membeku, ekspresi yang membuat dadaku bergetar.
Dr. Darcel menatapnya, lalu mengerang.
Sesuatu yang aneh langsung menghantam tepat di antara pahaku.
Begitu bau logam darah bercampur sama aroma klorin menusuk hidungku, seperti ada yang rusak di otakku. Rasanya seperti pupil mataku melebar, seperti ada konsleting di kepalaku waktu warna merah tua menutup wajah cowok itu. Sebuah erangan kecil lolos dari tenggorokanku sebelum aku sempat menahannya.
Kepala Darcel langsung menoleh ke samping. Mata ungunya menembus celah lemari tempat aku bersembunyi.
Dingin langsung menjalar di tulang punggungku. Paru-paruku terasa terbakar waktu aku nahan napas.
Seluruh tubuhku mulai gemetar, memaksaku siap untuk bertindak. Air mata mengalir dari mataku, mungkin itu merusak riasan di wajahku. Aneh banget, ya, memikirkan makeup di situasi seperti ini. Tapi kalau aku akan dibunuh sama belahan jiwaku, aku ingin kelihatan cantik saat itu terjadi.
Walaupun … mungkin dia malah ingin aku kelihatan berantakan. Mungkin dia tipe cowok yang suka lihat maskara luntur dan air mata.
Mungkin dia akan menyodorkan titidnya yang kasar itu ke mulutku, cuma untuk melihat mataku berair dan riasanku hancur.
Tatapan indah Darcel akhirnya beralih dari arah lemariku, dan tubuhku merasa sedikit lega. Matanya menyapu ruangan, mencari sumber suara. Di tengah kepanikan, aku melirik botol pemutih yang menempel di lututku, aku coba untuk benarkan posisi.
Lalu,
BRAKKKKKKK
Pintu lemari terbuka keras, dan jeritan melengking pun langsung keluar dari tenggorokanku. "Aaaaaaarrgggggghhhhhh!"