NovelToon NovelToon
ARKANA

ARKANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:121.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Canum Xavier

Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Awalnya aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada dan aku tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi padaku.

Matanya yang menatap penuh keangkuhan, alisanya yang entah bagaimana berada di sana menambah kesan menawan di wajahnya, coklat gelap di matanya menatap berkeliling ruangan kelas dengan tajam, tidak ada kesan ramah di sana. Matanya sempat bertatap sebentar denganku.

Lalu tersungging sedikit senyum di bibirnya saat dia memperkenalkan diri.

" Halo semua, namaku Arkana Samudera Wijaya. Panggil saja aku Kana", dia berkata sambil menatapku tanpa malu-malu.

Dan aku berani bersumpah, dia mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum berjalan ke arah bangku yang ditunjuk guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Adalah Negara 'Swiss'

" Tuli ya? Awan bilang tidak bisa", suara Kana berat dan dingin.

Aku kaget melihat reaksi Kana. Biasanya dia lebih tenang dan cool dalam menghadapi masalah seperti ini. Karena takut aku refleks menarik sedikit baju seragam Kana seperti memberi kode untuk tidak terpancing dalam adu mulut tidak berguna itu.

Aku malu. Beberapa anak 2IPS 1 dan 2 mulai berkumpul di sekitar kami. Ada yang hanya melongok kan kepalanya dari jendela, ada yang tanpa malu- malu melihat kami untuk menunggu adegan selanjutnya.

 Sepertinya mereka penasaran, kenapa Arkana yang biasanya tenang tiba-tiba bersuara cukup keras di tengah keramaian.

Tian menggaruk kupingnya dengan kelingking lalu meniup pelan kotoran yg tidak terlihat itu ke arah Kana.

" Wuis... Santai bro... ", kata Tian sambil tersenyum mengejek karena Kana terpancing.

" Kamu gak usah macam-macam lah", cara bicara Kana yang asli keluar. Nadanya datar tapi mengintimidasi.

Tian tertawa pelan. " Aku gak macam-macam. Aku cuma ajak Awan pulang bareng. Salahnya di mana? Toh dia bukan pacar siapa-siapa kan sekarang alias jomblo. Jadi ....tidak ada salahnya kan", Tian menjelaskan sambil mengangkat bahu.

Aku yang di sebut namanya, langsung melotot. ' Ini kenapa lagi sih, perkara pulang saja jadi masalah', aku membatin jengkel.

" Awan ada janji dengan ku sore ini. Jadi urungkan saja niatmu itu", kata Kana lalu dia berbalik melihatku dan Inka.

" Ayo balik ke kelas", ajak Kana dingin.

Inka dan aku mengangguk cepat dan serempak saking gugupnya melihat Kana yang datar tanpa ekspresi itu.

Tian menahan bahu Kana, wajahnya berubah tidak senang. Kana yang di tahan menatap Tian tidak suka.

" Bersaing lah dengan benar dan adil. Biarkan Awan memilih dengan siapa dia akan pergi", Tian mencengkram bahu Kana keras.

Kana menepis tangan Tian kasar. Tidak menjawab perkataan Tian. Jelas Kana tidak suka dengan kehadiran Tian di sisi Awan.

" Aku tunggu di gerbang ya cantik. Sampai saat itu tiba pikirkan dengan baik. Kamu mau pulang sama aku atau sama sampah ini", kata Tian padaku dengan senyum manis.

Kana tidak memberikan reaksi apapun terhadap perkataan Tian, malah menarik ku untuk pergi dari sana. Inke mengikuti kami. kumpulan anak-anak IPS itu belum bubar karena Tian meneriakan sesuatu yang buat wajahku merah.

" Awaaan... Aku suka kamuuu..", teriak Tian di tengah tontonan itu.

Wajahku menjadi merah saat mendengar teriakan Tian dan deru tepuk tangan anak IPS menggema di lorong menyemangati Tian.

" Jangan balik... Jalan terus..cepetan", aku menyeret Kana dan Inka pergi dari sana. Sampai tikungan lorong suara ribut anak IPS masih terdengar.

" Wah gila, Tian ternyata sinting", Inka tertawa ringan lalu berjalan lebih dulu menuju kelas.

Aku masih berdiri di luar kelas, menunggu sampai panas di wajahku menghilang.

Kana memutar bola matanya kesal. " Kamu suka yang seperti itu? aku bisa lebih sinting dari itu Awan", Kana jelas sangat tidak suka dengan kejadian hari ini.

" Gak... Jangan aku malu. Jangan pernah lakukan hal seperti itu ", aku melotot ke Kana.

Kana tersenyum mengetahui fakta aku tidak suka dengan tindakan Tian barusan. " Iya aku tidak akan seperti itu", jawab Kana.

***

Pulang sekolah hari ini memang bencana. Tian benar-benar menungguku di depan gerbang sekolah. Aku yang tidak menyangka dia tetap akan melakukan semua kata-katanya hanya bisa menghela nafas.

Inka menggandeng tanganku menyalurkan energi kesabaran. Belum selesai penguatan dari Inka, muncul Kana dengan motornya di gerbang. Bersebelahan dengan Tian. Mereka tidak saling bicara tapi tujuan mereka satu yaitu aku.

" Aduh... Ini teh gimana Inka?", aku mulai mengeluh. Tidak suka jika ada kegaduhan karena aku. " Apa kita di kelas saja sampai malam?", aku mulai aneh.

" Sembarangan. Kalau kamu tidak muncul malah lebih parah atuh. Salah satu dari mereka akan nyari kamu ke kelas. Trus belum lagi nanti magrib-magrib ada wewe gombel. Serem ah", Inka menolak saranku mentah-mentah.

Inka benar, tidak mungkin aku menunggu sampai malam hanya untuk menghindari dua orang ini. Jadi apa yang harus aku lakukan?

Akhirnya aku dan Inka berjalan menuju gerbang dengan penuh percaya diri. Inka masih membisikkan banyak kemungkinan yang akan terjadi antara Kana dan Tian. " Tapi gak mungkin mereka berantem, ini di sekolah loh", Inka berbisik.

" Sudah jalan aja. Pura-pura gak liat", aku balas berbisik.

Banyak siswa masih ramai saat pulang sekolah seperti ini. Ada yang sekedar berdiri di luar gerbang, ada yang menunggu jemputan pulang. Semoga aku dan Inka tidak terlihat.

Tapi memang dasarnya Kana dan Tian sudah niat, mau sembunyi-sembunyi gimanapun cara keluarnya tiba-tiba dua suara bass memanggil namaku. Kencang lagi.

" AWAN", mereka serempak memanggilku.

Mendengar namaku di panggil, aku dan Inka otomatis berhenti melangkah.

" Aduh ... Mereka lihat ternyata", Inka hanya bisa nyengir kuda melihat kedatangan Kana dan Tian dari dua sisi yang berbeda. " Haduh gelo pisan... Ini teh jadi masalah nih", katanya sambil menggeleng kepala saat melihat Tian mendekat ke arahku.

" Ayo pulang", kata Tian.

" Awan ayo pergi. Kamu sudah janji", Kana memegang lenganku.

Inka hanya bisa memandang kami bertiga dengan tatapan ' mereka bertiga sedang apa sih sebenarnya'.

Yang aku tidak tau adalah Helmi sedang memandangku dengan tatapan sinis dari kejauhan. Mungkin iri dan dengki di hatinya belum pulih. Di tambah lagi dua anak baru ini mengikuti aku ke mana-mana. Makin dongkol lah hatinya.

Beberapa siswa di dekat situ mulai menghentikan aktifitas mereka dan memperhatikan kami. Beberapa hari ini aku merasa menjadi tontonan satu sekolahan setiap bersama manusia dua ini.

" Iya aku .....", aku ingin menjelaskan kepada Kana dan Tian tapi belum selesai bicara, mereka sudah memotong kata-kataku.

" Ayo aku antar kamu pulang ", kata Tian menarik lenganku

" Tidak... Awan ada janji denganku", Kana mencengkram lenganku.

" Tidak bisa... Kamu jagan melanggar perjanjian dong", kata Tian mengingatkan Kana. " dari kita belum ada yang menang pertandingan catur. Jangan seenak kamu", kata Tian.

Kana mendengus sinis " aku akan memenangkan pertandingan itu. Tapi hari ini aku dan Awan ada janji lepaskan tangannya, jangan suka ikut campur", Kana berkata dingin dan penuh intimidasi.

" Tidak ... Aku akan mengantar dia pulang. Menepati janji seperti laki-laki sejati pada umumnya", Tian berkata sama dinginnya seperti apa Kana.

" Hah... Laki-laki sejati tidak akan menganggu wanita milik orang lain", Kana berkata kejam.

" Awan bukan milikmu", Tian menjawab dingin.

Siswa-siswa makin ramai. Bahkan ada yang mulai berani melangkah maju mendekati kami untuk mengetahui apa yang terjadi. Karena melihat hal itu aku refleks menghentikan mereka.

" STOP... STOP....", aku berkata cukup keras. Mereka berdua menatapku.

" Cukup debatnya... Oke ... dengar aku netral gak akan ikut siapapun. Okee....anggap saja aku negara Swiss... gak akan mendukung ke siapapun", aku berbicara ke arah Kana dan Tian.

Mereka berdua hanya menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku ungkapkan. Antara kesal dan entah apa lagi.

" Jadi sekarang lepaskan lenganku ...", aku meminta.

Tian lebih menurut di bandingkan Kana. Dia langsung melepas lenganku tanpa protes. Sedangkan Kana masih tetap mencengkram lenganku seperti singa yang siap menerkam.

" Arkana... Lepas", aku berkata tegas.

Dengan menghela nafas berat akhirnya Kana melepaskan cengkraman tangannya.

****

1
Diana
awan, tentukan pilihanmu sekarang!!🤭
Diana
so sweet😊
Diana
nah kan hawa²nya kisah mereka kayak juan nandes yg ngerebutin embun. tp walaupun akhirnya jodoh berpihak pd nandes tp aku tetap di barisan juan. hidup juan!!✊🤭
Diana
persahabatan awan dan inka mengingatkanku sama embun dan elsa. semoga kisah kasih awan kana tak setragis embun juan.
Diana
kok embun? awan kali, thor. 🤔
Diana
ke gunung apa ke pantai ya? ke gunung sj. ngapain ke pantai kl gak bisa berenang🤭
Diana
🤣🤣🤣jurus ngelawak inka
Diana
semoga konfliknya gak berat. biarlah badanku sj yg berat.🤭
Diana
masih setia dgn awan kana👍
Diana
jd pinisirin
Diana
jamanku dl SMA naik sepeda ontel, anak sekarang sdh main pesawat²an😂
Diana
ini settingnya thn berapa ya? dulu waktu SMA terakhir ada kelas bahasa (A4) alumni 93. entah thn berapa lg ada kelas bahasa.
Diana
ini novel ke 2 yg aku baca setelah merpati kertas yg berhasih membuat hatiku tidak baik² sj. semoga ini tak kalah istimewa👍🙏
ocha falisha
kasian juga tian yak...
nyR
aaaaahhhh so sweet G siiihhh
ocha falisha
kana maunya apa sih thor?
ocha falisha
apa tian memang jodohnya awan? 🤔
CheapShop
semoga ga ada konflik lagi
Ayas Arus
aaahhh bahagianya awan n nyeseknya tian
Evita
Apa cerita ini sdh selesai thor, kok akhirnya ga enak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!