NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Aroma Kakek-Kakek

Jika ada kompetisi menatap paling lama tanpa berkedip, mungkin Ayana dan Arkananta Pradipta sudah memenangkan medali emas olimpiade saat ini. Sudah lima menit berlalu sejak Direktur Rumah Sakit dan paman Arka meninggalkan kubikel UGD untuk memberikan "ruang privasi" bagi calon dokter pribadi dan pasien VIP-nya.

Ayana masih berdiri dengan tangan bersedekap, sementara Arka duduk bersandar di brankar sambil mengancingkan kembali kemeja putihnya yang kusut. Gerakan jemari pria itu terlihat tenang dan elegan, kontras dengan tensi tinggi yang masih tertinggal di udara setelah pengumuman sepihak tadi.

"Tiga kali lipat?" Ayana akhirnya memecah keheningan. Suaranya sengaja dibuat sedatar mungkin, menahan gejolak di dalam dadanya yang sebenarnya ingin berteriak 'Alhamdulillah, cicilan rumah lunas!'

"Kenapa? Kurang?" Arka melirik Ayana sekilas, lalu merapikan kerah kemejanya. "Empat kali lipat dari gaji pokokmu di sini. Ditambah tunjangan transportasi, kesehatan, dan bonus jika performa kerja kamu memuaskan. Bagaimana?"

Ayana menelan ludah. Angka yang barusan disebutkan Arka bukan lagi sekadar angka, melainkan tumpukan uang yang bisa menyelamatkan dompetnya dari jeratan paylater dan biaya perawatan wajah bulanan yang makin mencekik. Namun, harga diri seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam tidak boleh digadaikan begitu saja demi seonggok materi. Ia harus tetap terlihat profesional dan tidak murahan di depan CEO sombong ini.

"Ini bukan cuma masalah nominal uang, Pak Arka," ujar Ayana, melangkah mendekat dan mengambil pulpennya yang tadi jatuh di bawah brankar. Ia mengelap pulpen itu dengan tisu antiseptik sebelum memasukkannya kembali ke saku jas. "Menjadi dokter pribadi artinya saya harus mendedikasikan waktu saya hampir sepenuhnya untuk Anda. Bagaimana dengan pasien-pasien saya di rumah sakit ini? Saya punya tanggung jawab moral."

Arka mendengus pelan, sebuah senyuman sinis terukir di wajah tampannya. "Tanggung jawab moral atau kamu cuma sedang jual mahal untuk menaikkan harga taruhan, Dokter Ayana? Pihak rumah sakit sudah setuju untuk mengalihkan semua pasien rawat jalanmu ke dokter spesialis lain. Jadwal jagumu dikurangi sembilan puluh persen, kecuali untuk kasus darurat tertentu. Rumah sakit ini tidak akan bangkrut hanya karena kehilangan satu dokter yang hobi makan cilok di jam kerja."

Mata Ayana membelalak sempurna. "Anda memata-matai saya?!"

"Saya hanya mengamati. Dan kebetulan, mata saya cukup jeli melihat bumbu kacang di sudut bibirmu tadi," jawab Arka santai, menunjuk wajahnya sendiri untuk menyindir Ayana.

Wajah Ayana mendadak terasa panas bukan main. Ia buru-buru meraba sudut bibirnya dengan canggung, memastikan tidak ada sisa-sisa bumbu cilok maut yang tertinggal di sana. Sialan, CEO ini jeli sekali kalau urusan mempermalukan orang, batin Ayana dongkol setengah mati.

"Baik," Ayana menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai keadaan agar tidak makin terintimidasi. "Kalau memang masalah birokrasi rumah sakit sudah Anda selesaikan dengan kekuasaan uang Anda, sekarang giliran saya yang memberikan syarat."

Arka menaikkan sebelah alisnya, tampak tertarik melihat keberanian dokter di hadapannya. "Syarat? Menarik. Silakan."

"Pertama," Ayana mengacungkan jari telunjuknya. "Saya adalah dokter pribadi Anda, bukan asisten rumah tangga, bukan sekretaris, dan jelas bukan bodyguard. Tugas saya murni medis. Memantau kesehatan fisik Anda, mengatur pola makan yang sesuai, dan memastikan Anda meminum obat tepat waktu."

"Diterima. Saya sudah punya terlalu banyak sekretaris yang kompeten untuk mengurus hal di luar medis," sahut Arka acuh tak acuh.

"Kedua, jam kerja saya fleksibel tapi manusiawi. Jika tidak ada kondisi darurat medis, setelah jam delapan malam adalah waktu pribadi saya. Anda tidak boleh menelepon saya hanya karena Anda tidak bisa tidur atau karena Anda merasa sedikit pusing setelah membaca laporan keuangan perusahaan."

Arka terdiam sejenak. Sorot matanya yang tadi jenaka mendadak meredup, menyisakan kekosongan yang dingin untuk sepersekian detik. Namun, itu hanya berlangsung sangat cepat sebelum ia kembali memasang topeng angkuhnya. "Jika saya mengalami serangan seperti tadi di atas jam delapan malam, apa itu tidak termasuk darurat medis?"

"Itu pengecualian. Tapi dengan syarat, itu adalah serangan panik yang nyata, bukan serangan manja karena Anda bosan atau kesepian," balas Ayana telak.

Arka mendecih, merasa tersinggung dengan frasa 'serangan manja'. "Ketiga?"

"Ketiga, dan yang paling penting... jaga jarak profesional kita. Jangan pernah merendahkan profesi saya, dan jangan pernah mencampuri urusan pribadi saya di luar pekerjaan," tegas Ayana.

Arka menatap Ayana dengan intens, mengamati kilat tekad di sepasang mata bulat dokter muda itu. Ada sesuatu yang berbeda dari Dokter Ayana. Biasanya, orang-orang di sekitar Arka akan tunduk ketakutan atau justru menjilat demi mendapatkan keuntungan materi. Tapi wanita di hadapannya ini menatapnya seolah-olah ia hanyalah seorang pasien biasa yang kebetulan punya banyak uang dan sedikit gangguan kecemasan.

"Deal," ucap Arka singkat. Ia menjulurkan tangannya yang kokoh ke arah Ayana. "Besok pagi jam tujuh, sopir saya akan menjemputmu di lobi apartemen. Jangan terlambat satu menit pun."

Ayana menatap tangan Arka yang terulur. Setelah ragu sejenak, ia akhirnya menyambut jabat tangan itu. Kulit tangan Arka terasa hangat, namun ada sedikit getaran halus yang lagi-lagi tertangkap oleh sensor medis Ayana. Pria ini masih cemas, batinnya, menyadari ada luka dalam yang disembunyikan sang CEO.

Keesokan harinya, petualangan baru Ayana pun dimulai. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik sudah nangkring di depan lobi apartemennya tepat jam 06.45 WIB. Ayana yang buru-buru keluar sambil mengunyah roti bakar isi selai srikaya hampir saja menjatuhkan tas medisnya saat sang sopir membukakan pintu belakang dengan sangat hormat.

"Silakan masuk, Dokter Ayana," ujar sopir paruh baya yang memperkenalkan diri bernama Pak Joko.

Begitu bokong Ayana mendarat di kursi kulit mobil yang empuk, matanya langsung tertuju pada sesosok pria yang sudah duduk manis di pojok kanan kursi belakang. Arkananta Pradipta hari ini mengenakan setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi, sibuk menatap layar iPad-nya dengan kening berkerut. Aroma parfum maskulin yang mahal berpadu dengan wangi kopi instan langsung menusuk indra penciuman Ayana.

"Selamat pagi, Pak Arka," sapa Ayana sopan, meski batinnya masih merasa canggung setengah mati.

"Hmm," Arka hanya mendeham tanpa mengalihkan pandangan dari iPad. "Pak Joko, jalan."

Mobil melaju dengan mulus membelah jalanan ibu kota yang mulai padat. Di dalam mobil, keheningan terasa begitu pekat sampai suara kunyahan roti Ayana terdengar sangat jelas. Sadar dirinya menjadi pusat perhatian dadakan karena suara kunyahannya, Ayana buru-buru menelan rotinya dan meminum air dari botol tumblernya.

"Ini jadwal minum obat Anda untuk seminggu ke depan," Ayana membuka tas medisnya, mengeluarkan sebuah kotak obat harian yang sudah ia susun rapi semalam demi menunjukkan profesionalitasnya. "Ada vitamin untuk stamina, suplemen lambung karena saya dengar Anda punya riwayat mag kronis, dan... obat penenang dosis rendah yang hanya boleh diminum jika saya yang menginstruksikan."

Arka melirik kotak obat plastik berwarna-warni itu dengan tatapan jijik. "Saya tidak suka minum obat-obatan kimia. Singkirkan itu."

"Pak Arka, Anda membayar saya mahal bukan untuk mengabaikan saran saya," Ayana mulai gemas. Ia membuka kotak obat itu dan mengambil sebotol kecil cairan yang sengaja ia bawa dari rumah. "Dan satu lagi. Karena Anda sering mengalami sesak napas akibat kecemasan, saya bawakan ini."

Arka mengernyitkan dahi saat melihat botol kecil kemasan kaca yang disodorkan Ayana ke depan wajahnya. "Apa itu? Racun jenis baru?"

"Ini minyak kayu putih aromaterapi," ujar Ayana bangga. "Kalau dada Anda mulai terasa sesak atau pikiran Anda mulai tidak tenang, hirup ini atau usapkan di leher. Ini sangat membantu merilekskan sistem saraf secara alami."

Arka mendengus geli, tawa mengejek lolos dari bibirnya yang berlekuk sempurna. "Kamu bercanda? Saya ini CEO Pradipta Group, Dokter Ayana. Kamu mau saya rapat bersama investor asing dengan aroma tubuh seperti kakek-kakek habis kerokan? Singkirkan benda murah itu dari depan wajah saya."

Ayana menarik kembali botol minyak kayu putihnya dengan wajah cemberut. Dasar CEO sombong, belum tahu saja dia khasiat ajaib minyak ini, gerutu Ayana dalam hati.

Tiba-tiba, mobil yang mereka tumpangi mengerem mendadak dengan sangat keras. CITTTT!

Suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal terdengar memekakkan telinga, disusul oleh suara dentuman keras dari arah depan karena ada truk yang menabrak pembatas jalan beberapa meter di depan mobil mereka. Tubuh Ayana terdorong ke depan dengan keras, namun untungnya sabuk pengaman menahannya dengan aman.

"Aduh! Pak Joko, ada apa di depan?" tanya Ayana panik sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing akibat guncangan.

"Maaf, Dok! Itu di depan ada kecelakaan beruntun mendadak!" sahut Pak Joko dari kursi depan dengan suara yang bergetar ketakutan.

Ayana hendak membuka pintu untuk melihat apakah ada korban yang butuh pertolongan medis darurat, namun perhatiannya mendadak teralih oleh suara napas yang aneh dari arah sampingnya. Ia menoleh, dan seketika itu juga jantung Ayana mencelos.

Arka. Pria itu kini sedang mencengkeram dadanya sendiri dengan kedua tangan yang mencengkeram kuat. iPad-nya sudah terjatuh begitu saja ke lantai mobil. Wajah Arka memucat seputih kertas, matanya membelalak penuh ketakutan yang amat sangat, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat seperti orang yang kedinginan di kutub utara.

"Uhuk... hhh... hhh..." Arka berusaha meraup udara, namun tenggorokannya seolah terkunci rapat. Suara dentuman keras dari kecelakaan di depan tadi rupanya menjadi trigger atau pemicu yang membuka paksa kotak pandora trauma masa lalunya. Bayangan pecahan kaca, darah, dan suara sirine ambulans mendadak berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang menyiksa jiwanya.

"Pak Arka! Tatap saya!" Ayana langsung berpindah posisi, bergeser mendekati Arka di kursi belakang. Ia meraih kedua tangan Arka yang bergetar, menggenggamnya dengan sangat erat untuk menyalurkan kehangatan. "Pak Arka, dengar suara saya! Anda aman di sini. Tidak ada apa-apa. Tarik napas... buang perlahan..."

Namun Arka seolah tidak mendengar apa-apa lagi. Ia mulai kehilangan kesadaran diri, tenggelam dalam badai panik yang mencekik napasnya. Air mata dingin mulai menetes di sudut matanya yang terpejam rapat menahan sakit.

Melihat kondisi yang semakin kritis dan tidak ada waktu lagi, Ayana tidak punya pilihan lain. Ia meraih botol minyak kayu putih di tasnya, menuangkan cairan itu ke telapak tangannya dalam jumlah banyak, lalu tanpa permisi langsung menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi dan leher Arka. Ia memaksa pria itu menghirup aroma tajam tersebut, sambil jari-jarinya memijat lembut tengkuk Arka untuk merangsang saraf vagus-nya agar detak jantungnya menurun.

"Lihat saya, Arka! Bernapas... satu... dua... tiga... buang..." bisik Ayana dengan nada suara yang sangat lembut, sangat hangat, menembus dinding ketakutan yang mengurung jiwa sang CEO.

Entah karena aroma kayu putih yang kuat atau karena kehangatan tangan Ayana yang menyentuh kulitnya dengan penuh ketulusan, perlahan-lahan mata Arka terbuka kembali. Fokus matanya yang tadinya kosong mulai terarah pada wajah cantik Ayana yang kini berada hanya beberapa sentimeter saja di depan wajahnya. Di dalam mobil yang terjebak kemacetan dan kepanikan itu, untuk pertama kalinya, Arka merasa menemukan sebuah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kegelapan masa lalunya yang kelam.

.

Bersambung.

1
Susilawati Susilawati
up lagi thor
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!