Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Nama Besar Mulai Bergerak
Malam itu, di dalam kamar tidur yang luasnya mungkin empat kali lipat seluruh kontrakan Rio, Kevin Aditya Pratama duduk di tepi ranjangnya dengan ponsel di tangan.
Layarnya menampilkan satu nama kontak.
**Ayah.**
Kevin menatap nama itu selama hampir satu menit penuh sebelum akhirnya menekan tombol panggil.
Nada tunggu berbunyi dua kali.
"Kevin." Suara di ujung telepon keluar dengan berat dan padat — jenis suara yang terbentuk dari puluhan tahun memberikan perintah di medan pertarungan dan tidak pernah terbiasa tidak didengarkan. "Ada apa malam-malam begini?"
"Ayah." Kevin menarik napas sekali, singkat, membuang sisa rasa ragu yang masih ada. "Ada sesuatu yang perlu Ayah tahu tentang teman sekelas gue."
Hening dua detik di ujung sana.
"Cerita."
---
Kevin bercerita selama dua belas menit tanpa jeda berarti.
Tentang hari panggung ujian kontrak, tentang harimau Leo yang ambruk gemetar tanpa sebab yang masuk akal. Tentang duel siang tadi di lapangan — bagaimana monyet kecil berbulu kusam milik Rio mengalahkan Leo dengan tiga gerakan yang bahkan Kevin sendiri tidak bisa sepenuhnya rekonstruksi ulang di dalam kepalanya meskipun sudah memutar ulang rekamannya empat kali.
Tentang tim investigasi yang datang hari ini dan anomali energi di dungeon pelabuhan yang waktunya terlalu pas untuk diabaikan.
Kevin bercerita dengan detail. Ia mewarisi kebiasaan itu dari ayahnya — dalam keluarga Pratama, laporan yang tidak lengkap dianggap sama buruknya dengan tidak melapor sama sekali.
Saat ia selesai, hening di ujung telepon berlangsung selama tiga detik penuh.
Bukan hening kosong. Kevin sudah cukup lama mengenal ayahnya untuk membedakan antara hening karena tidak ada yang perlu dikatakan, dan hening karena seseorang sedang berpikir dengan sangat cepat.
Ini adalah yang kedua.
"Nama murid itu?" suara Raymond Pratama keluar akhirnya.
"Rio Albert. Kelas sebelas B. Bakat resmi F-Rank, tier Warrior III."
Satu detik lagi.
"Hewan kontraknya monyet?"
"Iya. Kera batu. Tier Warrior I di data resmi sekolah."
Raymond tidak berkata apapun selama lima detik berikutnya. Lima detik yang terasa jauh lebih panjang dari hitungannya di telinga Kevin.
"Ayah kenapa?" Kevin akhirnya tidak tahan. "Ayah kenal nama itu?"
"Tidak." Jawaban Raymond singkat dan langsung. "Tapi ada sesuatu yang lebih menarik dari sekadar kenal atau tidak kenal, Kevin."
Kevin menunggu.
"Kamu bilang harimau Leo ambruk hanya karena beradu pandang dengan monyetnya. Dan kamu bilang dalam duel tadi, monyet itu mengalahkan Leo dalam tiga gerakan tanpa memperlihatkan skill aktif apapun yang bisa diidentifikasi secara visual." Raymond berhenti sebentar. "Itu bukan kemampuan hewan tier Warrior I."
"Iya, Ayah. Makanya gue—"
"Itu," Raymond memotong dengan nada yang tidak meninggi tapi entah kenapa terdengar lebih berat dari sebelumnya, "juga bukan kemampuan hewan tier Master. Atau Grandmaster. Atau bahkan Legend."
Kevin terdiam.
"Tekanan aura pasif yang bisa melumpuhkan insting bertarung hewan tier Master hanya dengan kontak mata," lanjut Raymond, suaranya sekarang terdengar seperti seseorang yang sedang membaca dari sebuah katalog yang hanya ia yang pernah melihatnya, "adalah karakteristik yang dalam seluruh database Asosiasi Hunter Nasional hanya tercatat dimiliki oleh makhluk di atas tier Mythic."
Keheningan di kamar Kevin tiba-tiba terasa seperti keheningan jenis yang berbeda.
"Ayah serius?" suara Kevin keluar lebih pelan dari yang ia rencanakan.
"Saya tidak pernah tidak serius soal hal seperti ini." Suara Raymond berubah — bukan lebih keras, tapi lebih fokus, seperti lensa kamera yang tiba-tiba tajam setelah lama blur. "Kevin, dengarkan baik-baik. Kamu tidak boleh mendekati murid itu lagi sampai Ayah selesai melakukan pengecekan."
Kevin membuka mulutnya untuk menjawab.
"Ini bukan saran," Raymond mendahului. "Ini instruksi."
---
Telepon itu ditutup pukul sembilan lewat empat belas menit.
Kevin menatap layar ponselnya yang kembali gelap, duduk di tepi ranjangnya dalam keheningan yang sama sekali berbeda dari keheningan sebelum ia menelepon tadi.
Ayahnya — Raymond Pratama, Hunter Legend peringkat tujuh nasional, veteran dua puluh dua tahun yang sudah menutup lebih dari tiga ratus dungeon berbagai tingkat di seluruh kepulauan — baru saja memberitahunya untuk tidak mendekati Rio Albert.
Bukan karena Rio berbahaya dalam artian yang biasa.
Tapi karena ayahnya tidak tahu apa yang Rio itu sebenarnya.
Dan dalam dua puluh dua tahun karir Raymond Pratama, ada sangat sedikit hal yang masuk dalam kategori *tidak tahu* itu.
Kevin berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit kamar.
Leo tidur di sudut kamar, meringkuk dengan kepala di atas cakarnya. Bahkan sekarang, beberapa jam setelah duel tadi, harimau itu masih sesekali mengeluarkan suara tidur yang tidak biasa — bukan mendengkur normal, tapi desahan pendek yang terputus-putus, seperti tidur yang tidak tenang.
Mimpi buruk, mungkin.
Atau mungkin bukan mimpi.
---
Sementara itu, di sebuah kantor pribadi di lantai dua puluh tiga gedung Asosiasi Hunter Nasional yang terletak di pusat ibu kota, Raymond Pratama menutup ponselnya dan langsung menekan tombol interkom di mejanya.
"Cari semua data yang ada tentang anomali energi dungeon liar di pelabuhan kota — laporan masuk dua hari terakhir." Suaranya keluar tanpa basa-basi pembuka. "Dan tarik rekaman sensor energi regional untuk area SMA Bakti Bangsa, hari ini antara pukul dua belas sampai empat sore."
"Siap, Pak Raymond. Untuk keperluan apa yang perlu dicantumkan di—"
"Keperluan pribadi. Tidak perlu dicantumkan di log resmi dulu."
Tombol interkom dilepas.
Raymond berdiri dari kursinya, berjalan ke jendela kantor yang menghadap ke kota yang sudah bersinar penuh lampu malam di bawahnya. Tangannya yang besar — tangan yang sudah memegang senjata dan menutup dungeon selama lebih dari dua dekade — berada di belakang punggungnya.
Ia berpikir.
Bukan tentang ancaman. Bukan tentang bahaya.
Tapi tentang sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan — rasa ingin tahu yang murni tentang sesuatu yang tidak bisa ia masukkan ke dalam kategori manapun yang ia kenal.
---
Pukul sebelas malam.
Rio baru saja selesai memberikan makan malam serigala abu-abu — daging sapi kali ini, karena warteg depan gang kebetulan punya stok lebih — dan sedang duduk bersandar ke dinding di lantai kamarnya dengan panel sistem terbuka di depannya.
Serigala berbaring di posisi rutinnya di pojok jendela. Kakinya sudah jauh lebih baik — pincangnya sudah berkurang menjadi sedikit tersendat saja saat berjalan cepat. Dalam dua hari lagi, Rio perkirakan, kaki itu akan pulih sepenuhnya.
Wukong sudah tidur di kursi meja belajar dengan ranting kayu di tangan, mendengkur sangat pelan dengan ritme yang teratur.
Rio membuka tab status squad di panel sistemnya, memeriksa update rutin malam sebelum tidur.
---
**[STATUS SQUAD — UPDATE MALAM:]**
**Slot 1 — Sun Wukong**
Tier: Epic I ★☆☆☆☆ → **★★☆☆☆ (Naik 1 Bintang)**
Catatan: Pertarungan duel siang tadi memicu akumulasi EXP pasif.
**Slot 2 — Void Shadow Wolf**
Tier: Warrior III ★☆☆☆☆
HP: 78% — Pemulihan Berjalan Sangat Baik
Estimasi Pulih Total: 18-24 jam
**Slot 3 — Abyssal Goddess Weaver**
Status Dormansi: **7.9%** ↑ dari 5.3%
Catatan: Peningkatan signifikan — laju pemulihan mulai akselerasi.
**Slot 4, 5: KOSONG**
---
Rio menatap angka 7.9% itu selama beberapa detik.
Naik dari 5.3% dalam kurang dari delapan jam. Tiga hari sebelumnya, dari nol ke dua persen butuh berhari-hari. Sekarang naik hampir tiga persen dalam satu hari.
Sesuatu berubah.
Ia melirik ke tasnya di sudut kamar, tempat kotak biola tua itu tersimpan. Kemudian melirik ke serigala yang sudah mulai tertidur di pojok jendela.
Mungkin ini tentang lingkungan. Mungkin makhluk yang sudah delapan puluh tahun sendirian itu mulai mendeteksi bahwa di sekitar kotak biola tua itu sekarang ada makhluk-makhluk lain — bukan manusia, bukan monster biasa, tapi entitas yang secara fundamental berada di tingkat yang sama dengannya.
Mungkin itu yang disebut sistem sebagai *lingkungan yang aman.*
Bukan sekadar tempat. Tapi kehadiran.
Rio hampir tersenyum memikirkan itu, tapi notifikasi baru muncul sebelum ekspresinya sempat berubah.
---
**[PERINGATAN SISTEM PRIORITAS TINGGI:]**
**[Terdeteksi Pencarian Data Aktif atas nama Pengguna dari sumber eksternal tidak dikenal]**
**[Sumber Pencarian 1: Database Asosiasi Hunter Regional — Investigator: Arinda Kusuma]**
**[Sumber Pencarian 2: Akses Pribadi — Sistem Internal Asosiasi Hunter NASIONAL]**
**[ID Akses Sumber 2: R-PRATAMA-07]**
---
Rio membaca dua baris terakhir itu dengan sangat diam.
R-PRATAMA-07.
Ia tidak perlu membuka search engine untuk mengetahui siapa yang punya ID akses dengan nama itu di sistem internal Asosiasi Hunter Nasional.
Raymond Pratama. Peringkat tujuh nasional.
Ayah Kevin.
Rio menutup panel sistemnya perlahan, meletakkan punggungnya ke dinding, dan menatap langit-langit kamarnya yang catnya sudah mengelupas di tiga sudut.
Jadi begini cara mainnya sekarang.
Bukan lagi sekadar tim investigasi regional dengan peralatan standar dan prosedur birokrasi yang bisa memperlambat mereka. Bukan lagi Kevin dengan gertakan di koridor sekolah.
Seorang Hunter Legend peringkat tujuh nasional baru saja mulai mencari namanya secara pribadi, di luar jalur resmi, tanpa log resmi.
Yang artinya Raymond Pratama tidak sedang melakukan ini sebagai tugas resmi.
Ia melakukan ini karena penasaran.
Dan seorang Hunter Legend yang penasaran, dari pengalaman Rio membaca berbagai laporan dan catatan hunting yang ia pelajari bertahun-tahun, adalah kategori masalah yang butuh penanganan yang sangat berbeda dari kategori manapun yang pernah ia hadapi sebelumnya.
---
Rio bangkit dari lantai, berjalan ke jendela kecil kamarnya, dan menatap jalanan gang yang sudah sepi di bawah cahaya lampu yang satu bohlam-nya masih mati sejak minggu lalu.
Di pundaknya tidak ada siapapun — Wukong sedang tidur, serigala sedang istirahat.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Rio berdiri sendirian dengan pikirannya sendiri tanpa hewan kontrak di sekitarnya.
Ia mengeluarkan kertas kecil dari saku celananya — nomor ponsel yang Maya berikan siang tadi. *Captain ekstrakurikuler riset dungeon. Koneksinya lumayan,* katanya.
Rio menatap nomor itu beberapa detik.
Koneksi. Informasi. Dua hal yang dalam situasi seperti ini nilainya jauh melampaui kekuatan fisik apapun yang ia atau Wukong miliki.
Kekuatan bisa menyelesaikan dungeon dalam satu malam.
Tapi kekuatan tidak bisa membuat Raymond Pratama berhenti mencari jawabannya.
Untuk itu, Rio butuh bermain di papan yang berbeda.
---
Ia meletakkan kertas itu kembali ke sakunya, berbalik dari jendela, dan berbaring di kasurnya dengan mata masih terbuka menatap langit-langit.
Serigala di pojok jendela mendengus pelan dalam tidurnya — bukan suara gelisah, hanya suara tidur yang dalam dan tenang dari makhluk yang mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya tidur di tempat yang benar-benar aman.
Di dalam tas di sudut kamar, tidak ada suara apapun dari kotak biola tua itu.
Tapi panel sistem yang Rio biarkan aktif di sudut penglihatan menampilkan satu baris yang berkedip sangat pelan seperti detak jantung yang stabil.
---
**[Abyssal Goddess Weaver — Status Dormansi: 8.2%]**
---
Naik lagi.
Bahkan di tengah malam, bahkan saat Rio tidak melakukan apapun secara aktif — angka itu terus bergerak naik dengan ritmenya sendiri yang pelan tapi konsisten.
Rio menutup matanya.
Besok Raymond Pratama mungkin sudah punya laporan awal dari sistem pencariannya. Besok Arinda Kusuma mungkin sudah punya hasil pemindaian kawasan sekitar kontrakan ini. Besok Kevin mungkin sudah mendapat instruksi lanjutan dari ayahnya tentang apa yang harus atau tidak harus dilakukan.
Banyak hal yang akan bergerak besok.
Tapi malam ini, di kontrakan yang pintunya masih miring dan sewanya masih murah, Rio menutup matanya dengan tenang yang tidak dibuat-buat.
Ia sudah bermain dengan tangan yang kelihatannya buruk sejak hari pertama sistem ini aktif.
Satu Hunter Legend yang penasaran hanya mengubah level kesulitan permainannya.
Bukan mengubah pemainnya.
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣