Bagaimana jadinya jika seorang keponakan diam-diam mencintai tantenya sendiri? Sementara sang tante selalu membuat ulah dengan menerima semua laki-laki yang menyatakan cinta padanya.
Ini adalah kisah Dalziel Lawrance, anak yang diangkat di keluarga Tan dan adik dari ayahnya—Gloria Rusell Taneta.
Bagaimana kisah cinta mereka akan berujung? Cus kepoin ceritanya.
Jangan lupa follow Ig @nitamelia05
Salam anu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Akhir Pekan
Kekehan Gloria berhenti saat ponsel milik Ziel tiba-tiba berbunyi dengan nyaring. Ziel langsung menoleh ke arah meja, lalu menyambar benda pipih tersebut.
Selena, ibu kandung Ziel menelpon. Tanpa pikir panjang pria tampan itu langsung menerimanya.
"Halo, Mah," sapa Ziel lebih dulu, keningnya berubah berkerut takut ada berita tidak baik berasal dari kedua orang tuanya.
"Kamu belum tidur, Sayang?" balas Selena dengan suara lembut, saat ini dia sedang bersama Malvin—suaminya.
Ziel melirik ke arah Gloria lebih dulu, sebab gadis cantik itu terus bertanya 'ada apa' tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
"Belum, Mah. Kebetulan aku sedang ada pekerjaan malam ini, jadi aku akan begadang. Mamah sendiri bagaimana? Kenapa belum tidur, apakah ada sesuatu yang terjadi?"
Terdengar sebuah kekehan kecil di ujung sana. Selena menyandarkan kepalanya di dada bidang Malvin. "Tidak, Sayang. Mamah hanya sedang merindukanmu."
Ziel menghela nafas panjang, tetapi dadanya malah terasa semakin sesak, sebab Gloria memeluknya dengan sangat erat.
"Aku kira ada apa. Tiap minggu kan aku juga ke sana, Mah."
Pria itu berusaha melonggarkan pelukan kekasihnya, tetapi apa yang dia lakukan sia-sia.
"Iya tapi menunggu hari minggu itu lama, Ziel," rengek Selena, selama ini dia memang tidak pernah mengekang sang anak untuk tinggal bersama siapa.
Karena dia sadar, Aneeq dan Jennie juga berhak atas Ziel, terlebih Ziel sudah dewasa. Dia bisa memilih atas kehendaknya sendiri.
"Akhir-akhir ini Mamahmu sedang manja, Ziel," timpal Malvin seraya mengusap-usap rambut Selena.
"Sabtu malam aku ke rumah, Mamah dan Papah mau dibawakan apa?" tanya Ziel sambil menyandarkan dagunya di kepala Gloria, membuat gadis cantik itu mengulum senyum.
"Tidak perlu, dengan kamu datang saja Mamah sudah sangat bersyukur. Nanti Mamah masak yang banyak dan sesuai kesukaanmu ya," jawab Selena, tak sedikitpun dia ingin merepotkan sang anak.
"Kalau calon mantu bagaimana?" ceplos Ziel, yang langsung membuat Selena dan Malvin terperanjat. Bahkan saking terkejutnya, Selena lantas duduk dengan tegak.
"Apa, Ziel?" tanya kedua orang itu berbarengan. Sementara Ziel langsung terkekeh dengan keras, karena melihat wajah Gloria yang tersipu malu.
"Aku bercanda, Mah, Pah. Nanti aku bawakan buah saja," balasnya masih terkekeh, membuat Gloria langsung melayangkan cubitan panas di perut Ziel. Dia kesal, karena Ziel tidak mengakuinya.
Sementara Selena dan Malvin yang sempat jantungan, kompak menghela nafas dan saling pandang.
***
Akhir pekan telah tiba.
Sebelum makan malam, Ziel pamit pada Aneeq dan Jennie untuk pergi ke rumah orang tuanya. Namun, karena Gloria sudah tahu rencana itu, tentu dia akan menjadi si penguntit.
Apalagi sekarang dia tidak memiliki apapun untuk dinikmati, sebab semua fasilitasnya telah dicabut oleh sang ayah.
"Ziel, kamu mau pergi ke rumah Mamah Selen ya?" tanya Gloria basa-basi, membuat Ziel langsung mengangkat kepalanya.
Pria itu mengangguk lengkap dengan ekspresi datar.
"Dad, aku ikut Ziel yah. Aku ingin pergi ke rumah Mamah Selen juga," rengek Gloria pada Ken. Karena biasanya Ken akan merelakan dia pergi asal bersama anggota keluarga yang lain.
"Haish, jangan merepotkan orang, Glor! Kamu harus sadar diri, orang sepertimu tidak bisa menginap di rumah siapapun kecuali di hotel," jawab Ken apa adanya. Sadar akan sifat malas putrinya.
Mendengar itu, Gloria langsung berubah cemberut. Dia mengerucutkan bibirnya yang ranum, hingga membuat Ziel merasa gemas.
"Mamah Selen kan juga punya asisten rumah tangga, Daddy!" rengek Gloria seraya melipat kedua tangan di depan dada.
"Sayang, lain kali saja. Kali ini Ziel pasti menginap," sambar Zoya, ikut membujuk putri bungsunya yang memang suka kekanakan.
"Aku bosan di rumah, apalagi dengan hukuman yang Daddy berikan. Apakah Daddy tidak ingin sedikit saja memberiku kebebasan?" Gloria melirik ke arah Ken yang bergeming, seolah tak mendengar ucapannya.
Sementara semua orang hanya mendengarkan perdebatan itu. Termasuk Ziel yang belum bisa pergi begitu saja.
Hingga tiba-tiba satu orang kembali bersuara, seolah menjadi penyelamat untuk Gloria.
"Kalau begitu aku juga ikut. Aku akan menemani Aunty Glor, Grandpa. Supaya dia tidak mengacak-acak rumah Mamah Selen," ucap Amanda, yang membuat semua orang menatap ke arahnya, termasuk Ziel.
"Nanti kamu malah ikut mengacau lagi," cibir Aneeq, seakan tidak setuju dengan ide putrinya.
"Mana mungkin lah, Dad. Aku kan anak baik," balas Amanda dengan bangga.
Ken menghembuskan nafas kasar, tak ingin membuat sang putri makin kecewa. Akhirnya dia pun menganggukkan kepala. "Ya sudah, kamu Daddy izinkan pergi ke rumah Mamah Selen. Tapi ingat, jangan membuat masalah. Oke? Dan untuk Amanda, awasi Aunty-mu itu!"
Mendengar itu wajah Gloria langsung berubah sumringah.
***
Hola, kangen gak sama aku🙃 eh sama Ziel dan Yoy?