Zaman sekarang mau dijodoh-jodohkan, siapa yang mau?. Bram, sepupu Byakta Aryasatya berusaha menjodohkan sepupunya itu dengan sepupu istrinya. Tahu sendiri keluarga dari sebelah Bella, istri Bram banyak yang alumni pondok pesantren bahkan ada yang memiliki pondok pesantren. Sementara pemahaman Bella sendiri standar saja meskipun dia menutup aurat juga. Byakta menolak tawaran Bram.
Di hari pertama, Byakta masuk kerja karena menggantikan posisi Manajer Keuangan yang resign, dia dikejutkan oleh ruangan divisi keuangan yang ramai bak pasar. Banyak karyawan perempuan sedang sibuk memilih-milih barang.
Zeevana yang punya lapak langsung dipanggil Byakta keruangannya. Gadis itu dilarang buka lapak di dalam kantor. Zeevana sangat kesal dengan Byakta padahal dia tidak mengganggu jam kerja. Byakta saja yang datangnya kepagian. Sejak hari itu Zeevana bersikap tidak bersahabat dengan atasannya itu.
Ternyata Zeevana adalah sepupu Bella. Bella juga akan menjodohkan Zeevana dengan sepupu suaminya.
Akankah Zeevana menerima perjodohan dari sepupunya ?
Impian Zeevana yang ingin memiliki suami yang bisa menjadi imamnya dunia akhirat akankah terwujud ?
Sementara Byakta yang sudah mengetahui dengan siapa dia akan dijodohkan, jadi berpikir ulang untuk mencoba mengenal Zeevana lebih dekat dengan caranya sendiri.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Yuk lanjut baca aja 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rabiha Adzra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30 Dibesuk Vera and The Ganks
Di rumah sakit, Zeevana dipasangkan alat bantu untuk bernapas di hidungnya. Byakta sudah mengabari kedua orang tuanya mengenai musibah yang menimpa istrinya. Tapi untuk mengabari kedua mertuanya, Byakta masih berpikir dulu.
"Bagaimana keadaan, Zee?," tanya Dwina ketika tiba di ruang rawat inap.
"Alhamdulillah, kandungannya tidak apa-apa, Ma. Namun badannya lemas karena kekurangan oksigen akibat terkurung di dalam gudang," jawab Byakta.
"Ya Allah. Kenapa bisa sampai terkurung begitu, By?," tanya mamanya bingung.
"Iya, By. Apa yang terjadi sebenarnya?." Arya juga tidak mengerti kenapa menantunya sampai bisa terkurung di dalam gudang.
"Ada yang sengaja mengarahkan Zee ke gudang lalu menguncinya dari luar, Pa" jawab Byakta.
"Ini bukan main-main, By. Nyawa Zee bisa melayang. Papa mau kamu selidiki masalah ini sampai tuntas. Siapa pun dalangnya, papa tidak mau melihatnya ada di perusahaan lagi," ujar Arya geram.
"Iya, By. Jahat sekali orang itu. Memangnya Zee salah apa?. Itu pasti manusia yang iri dengan Zee," tambah Dwina emosi.
"Iya, Ma. Pasti aku selidiki karena ini berhubungan dengan Zee. Aku tidak akan tinggal diam," ujar Byakta tetap tenang.
"Mas...Mas," panggil Zeevana namun matanya masih terpejam.
"By, Zee memanggil kamu," ujar Dwina mendekati Zeevana.
Byakta pun menghampiri Zeevana dan duduk di samping ranjang. Byakta menggenggam tangan istrinya.
"Mas... Mas tolong!!," jerit Zeevana dengan raut wajah ketakutan. Zeevana belum sadar matanya masih terpejam.
"Sayang, ini Mas. Zee sadarlah, Mas ada di sini," ucap Byakta mengelus wajah Zeevana.
"Zee, tenanglah." Byakta mengusap kepala Zeevana agar istrinya tidak mengigau lagi.
Byakta merasakan tangan Zeevana membalas genggaman tangannya erat sekali. Byakta bisa merasakan bahwa istrinya itu sedang merasa ketakutan sekali.
"Sepertinya kejadian ini bisa membuatnya trauma," sela Arya melihat keadaan menantunya.
"Apa Abah perlu dikasih tahu, Pa?," tanya Byakta meminta pendapat.
"Kalau Abah tahu Zee seperti ini, dia tidak akan mengizinkan Zeevana bekerja lagi. Kalau kita tidak memberitahunya, nanti akan menjadi kesalahan untuk kamu By, kenapa sampai tidak mengabarinya jika terjadi sesuatu dengan Zee," jawab Arya.
"Jadi bagaimana, Pa?." Byakta jadi tambah bingung.
"Kita lihat kondisi Zee dulu sampai besok. Nanti baru ambil keputusan untuk memberitahu Abah atau tidak," sela Dwina.
"Iya, By. Papa setuju dengan pendapat Mama," ujar Arya.
Byakta mengangguk setuju.
Malam ini Byakta tidur di rumah sakit. Beberapa kali Zeevana mengigau lagi meminta tolong.
"Ya Allah, Zee," gumam Byakta.
Byakta menatap sedih istrinya yang belum membuka matanya.
Byakta melepaskan genggaman tangannya. Dia hampir lupa kalau belum sholat Isya. Byakta mengambil wudhu lalu sholat di ujung ranjang.
"Mas!," panggil Zeevana melihat Byakta mengucapkan salam mengakhiri sholatnya.
"Zee."
Byakta segera menghampiri Zeevana. Byakta tersenyum melihat Zeevana sudah sadar lalu meraih tangan istrinya itu.
"Aku haus, Mas. Uhuk...uhuk," ujar Zeevana dengan suara parau sambil terbatuk-batuk.
Dengan sigap Byakta langsung mengambil air minum. "Ini sayang minumnya," ujar Byakta meninggikan kepala ranjang agar Zeevana bisa minum.
"Mau makan?. Lapar nggak?," tanya Byakta antusias setelah Zeevana menghabiskan secangkir air putih. Zeevana menggeleng lemah.
💞💞💞
Byakta mengabari Anita mengenai musibah yang menimpa Zeevana sehingga untuk beberapa hari ke depan Zee belum bisa ke kantor.
"Ya Allah. Jadi Zee dikurung di gudang, oleh siapa?. Jahat banget sih!," ujar Vera geram mendengar informasi dari Anita kenapa bos mereka tidak datang hari ini.
"Iya. Pakai mengkambinghitamkan aku segala," sungut Mike emosi.
"Ya Allah. Baru berapa hari Zee menjadi manager, udah ada yang berani mau mencelakakannya," timpal Vemy.
"Pasti ini ulah orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan," tambah Onni.
"Onni, kamu nuduh siapa sih?," pelotot Mike dan Vemy. Onni malah cengengesan.
"Lah benar, kan?. Setelah Pak By mengumumkan status mereka, Zeevana sudah mendapatkan musibah. Sebelum diumumkan Zee aman-aman saja, kan?," jelas Onni.
Mike, Vemy, Anita dan Vera manggut-manggut mendengarkan analisis Onni yang masuk akal itu. Masalahnya, siapa orang yang sudah berani melakukan tindakan itu. Pikir mereka.
"Kalau aku, curiganya sama Bu Shindi," ujar Vera berbisik.
"Iya...iya, yang kelihatan naksir berat dengan Pak By, kan Bu Shindi. Bu Shindi sampai memberi banyak hadiah untuk Pak By, kalian ingat tidak?," tambah Mike.
"Benar tuh," ujar Onni dan Vemy setuju.
"Udah, ah. Kita jangan su'udzon sama orang yang belum tentu dia pelakunya. Wanita yang naksir Pak By kan banyak," ujar Anita tidak mau ikutan menuduh orang.
💞💞💞
Setelah tiga hari Zeevana dirawat, kondisinya juga semakin membaik. Dokter sudah mengizinkannya untuk pulang ke rumah.
"Assalamualaikum," teman-teman Zeevana datang membesuk setelah mereka pulang dari kantor.
"Waalaikumsalam. Masuk," ajak Byakta ramah.
"Bagaimana keadaan Zee, Pak?," tanya Vera.
"Kita ke ruang tengah saja, ya. Alhamdulillah, sudah sehat." Vera, Mike, Anita, Vemy dan Onni mengiringi langkah Byakta ke ruang tengah.
"Siapa, Mas?," tanya Zeevana keluar dari kamar karena mendengar suara di ruang tengah cukup ramai.
"Kalian...," tunjuk Zeevana terkejut melihat kedatangan teman-teman sekantornya.
"Maaf ya, Zee. Kami baru sempat membesuk, karena Pak By melarang kami datang ke rumah sakit," ujar Vera melirik Byakta.
"Iya, untuk keamanan kamu. Jadi aku tidak memberitahu siapa pun di mana kamu dirawat," jelas Byakta.
"So sweet. Kapan ya, aku punya suami kayak Pak By," canda Mike. Spontan yang lain tertawa mendengar ucapan Mike.
"Onni tuh masih jomblo," tunjuk Vera.
Mike menoleh melihat Onni.
"Dia?. Iih, nggak level," ledek Mike.
"Kamu juga bukan tipeku, Ke," ujar Onni membuang muka.
"Alah, kalian berdua ini nggak level lah, bukan tipe lah nanti kalau jodoh bagaimana?," timpal Vera tersenyum geli.
"Ihh, amit-amit," ujar Mike dan Onni serempak.
Zeevana tertawa kecil melihat ulah teman-temannya. Ada saja ulah mereka yang membuat suasana menjadi ceria.
"Iya nih, Ke. Benci-benci jadi cinta kayak Pak By dan Zee nantinya," sindir Vemy. Byakta dan Zeevana saling pandang lalu tersenyum.
"Ogah!!. Please jangan doakan aku sama Onni, yah. Masih ada laki-laki lain di dunia ini, kan?," elak Mike.
"Sialan kamu, Ke," ucap Onni tidak suka. Padahal tampang Onni nggak jelek-jelek amat.
"Udah-udah. Jangan ngeledekin mereka terus. Kalau urusan jodoh memang siapa yang tahu?. Menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah. Menurut kita jelek belum tentu jelek menurut Allah," ujar Byakta melerai mereka agar tidak menjadi perdebatan.
Zeevana menatap Byakta terkesima. Sejak kapan suaminya itu menjadi lebih religius ucapannya?. Zeevana tersenyum bahagia.
"Betul itu, Pak," kata Vera setuju.
"Lagian kita ke sini kan mau membesuk Zee bukan membahas Mike dan Onni," lanjut Vera sewot.
"Oya Zee, bagaimana kandungan kamu?. Nggak apa-apa, kan?," tanya Anita.
"Alhamdulillah sehat, Mba. Aku cuma shock saja, kok," jawab Zeevana.
"Bagaimana Pak, sudah tahu siapa pelakunya?," tanya Mike.
"Saya juga belum ke kantor sejak Zee dirawat. Mungkin sudah dapat, hanya belum ada yang memberitahu karena saya masih fokus dengan kesehatan Zee," jawab Byakta.
Vera cs akhirnya pamit karena hari semakin sore. Zeevana beruntung punya rekan kerja seperti mereka.
Ketika hendak berjalan ke kamar Zeevana berjalan sempoyongan. Byakta sigap menangkap badan istrinya lalu menggendongnya ke kamar.
"Yang, kamu kenapa?," tanya Byakta panik setelah membaringkan Zeevana ke atas ranjang.
Zeevana tersenyum melihat raut wajah panik Byakta. "Aku baik-baik saja kok Mas, cuma mau minta gendong aja ke kamar," ujar Zeevana menunjukkan deretan giginya.
"Zee!!. Keterlaluan kamu, ya!," ujar Byakta geram lalu mencubit pipi Zeevana. Padahal hatinya sangat cemas melihat Zeevana seperti itu.
Zeevana terkekeh lalu memeluk Byakta.
"Bilang saja kalau mau digendong. Nggak perlu sandiwara kayak gitu," bisik Byakta.
"Aku mau lihat suamiku ini siaga apa nggak," canda Zeevana.
Byakta hanya diam dalam pelukan Zeevana.
'Aku akan selalu menjagamu, Zee. Karena kamu adalah tanggung jawab ku dan aku sudah berjanji kepada Abah,' batin Byakta.
"Mas, maafkan aku," cicit Zeevana melihat suaminya hanya membisu.
'Apa ucapan ku tadi membuatnya tersinggung?,' batin Zeevana.
Byakta melepaskan pelukan Zeevana. "Insya Allah, Mas selalu siaga untuk si Ratu Kredit," ujar Byakta sambil mencubit gemas pipi Zeevana. Zeevana hanya tersenyum kecil memandang suaminya.