Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Altair menatap datar jeruji besi di depannya. Dia merasakan begitu banyak emosi dalam dadanya tapi tidak bisa mengekspresikan hal itu. Marah, kecewa, sedih, sakit dan kebencian yang sangat kentara. Dia tidak mengerti kenapa hidupnya bisa semenyesahkan ini.
Kedua tangannya di ikat dengan besi serta seluruh tubuhnya penuh dengan luka berat dan ringan. Wajahnya yang dulunya sangat tampan, kini penuh luka bakar di sana serta sebelah matanya telah di cungkil.
Dia hanya bisa menyesali semua perbuatannya. Mungkin memang benar. Cinta akan membuat orang menjadi bodoh. Padahal niat pertamanya masuk ke keluarga Andrea's adalah membalas kematian kedua orang tuanya.
"Lo pasti lagi mikir gimana caranya keluar kan?!"
Pertanyaan itu lebih terdengar seperti tuduhan di telinganya. Dia menatap laki-laki yang berdiri di depannya. Terhalangi jeruji besi tempat dia di kurung.
"Gue pastiin lo nggak bakal bisa kabur dari sini. Lo bakal membusuk di tempat mainan gue"
Altair mengangkat pandangannya dengan susah payah, tangannya terkepal kuat melihat sosok di depannya. Evan, laki-laki yang membuatnya mengalami nasib mengenaskan seperti ini.
Laki-laki yang menjadi penyebab kehancurannya. Dia juga merebut gadis yang di cintainya. Evandra Alexander, pewaris utama keluarga Alexander.
"Kenapa nggak ngerti juga? Gue yang di cintai Ruby Andrea's. Lo cuman bidak di permainan kita"
Suara langkah berat terdengar dari belakang Evan. Tuan Andrea's dan anak kesayangannya, Ruby Andrea's masuk dengan wajah datar dan dingin. Ruby melihat keadaan Altair yang jauh dari kata baik, hanya tersenyum sinis. Gadis itu berlari kecil memeluk lengan Evan.
"Sayang..." Panggil Ruby manja.
Evan membalas pelukan itu dengan kecupan sekilas di bibir gadis itu sambil menatap Altair yang sedang menahan marah melihat gadis yang dicintai di cium oleh musuhnya.
"Dasar bodoh!" Daniel mendekat, menyunggingkan senyum liciknya. "Kau tidak menyadari bahwa aku tahu siapa kamu sebenarnya. Kau adalah anak musuhku"
Altair semakin mengepal tangannya kuat. Mencoba menahan gejolak emosi di dalam dadanya. Bagaimana mungkin mereka bisa tahu bahwa dia adalah anak musuhnya?! Padahal, Altair sudah membuat rencana dengan sangat matang saat masuk ke keluarga itu, tapi nyatanya dia kalah karena jatuh cinta dengan gadis di depannya yang lebih memilih pria di sampingnya.
"Sampai akhir, kau tetap tertipu dengan muka polos putri kesayanganku" lanjut Daniel.
"Sudahlah papa mertua, sekali sampah tetap sampah" Evan tertawa mencemooh. Dia mengarahkan tatapan menjijikan kepada Altair.
"Menyedihkan."
Evan pergi bersama Ruby. Meninggalkan Daniel di sana yang masih memberi tatapan begitu tajam. "Kau kalah anak muda. Saya sungguh baik, sebentar lagi saya akan mengirim mu ke keluargamu" Daniel pergi mengikuti langkah putri dan menantunya.
Menyedihkan? Altair tersenyum miris. Mungkin memang benar, dia adalah orang yang sangat menyedihkan. Hancur karena permainannya sendiri.
Altair menunduk. Merasakan penyesalan yang begitu menyiksa dalam dirinya.
"Alta!" panggilan dengan nada lirih itu membuatnya mendongak.
"Steve!"
Steve, sahabat dekat Altair. Satu-satunya orang yang selalu ada untuknya. Steve menggenggam erat jeruji besi di depannya, kemarahannya tidak terbendung. "Lo tenang aja! Lo bakal segera keluar dari tempat ini"
Klik!
Gembok otomatis terbuka hanya bermodal besi kecil di tangan Steve, laki-laki itu dengan mudah membuka gembok tersebut membuat Altair hanya bisa tersenyum tipis. Sahabatnya memang nggak bisa di remehkan tentang membuka gembok.
"Kita harus cepat, Al. Sebelum mereka kembali" Steve mulai membuka pengait rantai di kedua tangan Altair. Setelah terlepas, dia langsung memapah Altair keluar dari sana. Tubuh Altair begitu lemas dan tanpa tenaga sedikitpun, membuatnya terpaksa menyeret tubuh itu sebisanya.
Mereka melewati lorong. Altair bisa melihat dua bodyguard tergeletak tidak jauh dari tempatnya di kurung tadi. Itu pasti ulah sahabatnya.
Steve menghentikan langkahnya saat mereka sampai di ujung koridor. Dia melihat keadaan sekitar. Memastikan tidak ada penjaga di sekitar sana.
"Sedang apa kalian?"
Suara itu mengagetkan keduanya. Mereka baru saja akan melangkah keluar dari tempat persembunyian mereka. Steve melihat ke belakang. Di sana, berdiri Aquilla yang menatap mereka datar.
Aquilla. Dia adalah anak angkat keluarga Andrea's.
Steve menegang. Tentu ia tahu siapa gadis di depannya itu. Gadis yang pernah menjadi istri sementara Altair.
"Pergilah!" Potong Aquilla. "Anggap kita nggak pernah ketemu."
Setelah mengatakan itu Aquilla langsung berlalu. Membuat Steve dan Altair tertegun. Tidak menyangka Aquilla akan membiarkan mereka begitu saja. Padahal, sebelumnya hubungan antara Altair dan Aquilla sangatlah buruk. Setiap ketemu pasti adu mulut.
"Ayo!"
Steve kembali memapah Altair. Mereka berjalan di taman melewati taman mansion tersebut.
"Brengsek!" Umpat Steve.
Altair mendongak ke depan. Dia terbelalak saat melihat gerombolan pengawal yang dipimpin Evan menuju ke arah mereka.
"Lo pikir, bisa bawa dia begitu saja? No Steve... Lo sama saja menantang gue" Setelah mengatakan itu, Evan langsung menarik pelatuk pistolnya ke arah kepala Steve.
"Steve!" Pekik Altair melihat sahabatnya sudah tergeletak di tanah dengan darah merembes dari kepalanya.
"Kematiannya... Semua gara-gara lo!" teriak Evan. "Andai aja dia nggak nolong lo, gue nggak bakal bunuh dia"
Altair melihat ke arah Evan. Di depannya berdiri sosok pengusaha sukses yang tidak berperasaan bukan seorang teman yang selalu membantunya.
Tubuh Altair luruh. Dia berlutut dengan air mata yang terjatuh dan mengalir di pelupuk matanya.
Altair melihat kedua kaki Evan yang berjalan mendekat ke arahnya. Dia merasa rahangnya dicengkram dengan kuat dan dipaksa untuk mendongak.
Cowok itu sudah tidak perduli lagi saat Evan menghantuk kepalanya ke tanah. Dia bisa merasakan ujung pistol di kepalanya.
"Selamat tinggal Altair."
Saat itu Altair merasakan sengatan kuat pada kepalanya. Dia melihat mayat Steve dengan sendu. tubuhnya ambruk.
"Steve," Altair membatin lirih, "Karena kebodohan gue, lo juga harus merasakan ini"
Kesadaran Altair mulai menghilang, di tengah-tengah kesadarannya itu. Ia memohon dengan penuh rasa putus asa dan kekecewaan.
"Aku mohon. Tolong biarkan aku balas rasa sakit dan penderitaan yang aku rasakan ini. Biarkan aku...membalas semua rasa dendam ini. Tolong... Jangan buat aku jatuh cinta seperti orang bodoh lagi. Ku mohon!"
Altair tak sengaja menatap seseorang dari kejauhan, melihatnya dengan perasaan sedih. Altair berusaha menyesuaikan penglihatan nya, mungkin saja itu halusinasinya. Tapi seseorang itu masih berdiri kaku di sana, menangisinya.
Dua bodyguard mendekati orang itu, membawanya pergi secara paksa dari sana. Altair bisa melihat orang itu memberontak tak ingin pergi, tapi kekuatannya kalah banyak dengan kedua bodyguard itu.
"Aquilla... Kenapa kamu ada di sana? Apa aku nggak salah lihat? Kamu mengkhawatirkan ku? Tapi bagaimana bisa, mengingat selama ini kita selalu bermusuhan" batin Altair.