NovelToon NovelToon
Aku Bukan Istri Yang Lemah Lagi

Aku Bukan Istri Yang Lemah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Strategi Dibalik Pintu

​Nindya baru saja hendak memutar gagang pintu kamarnya ketika sebuah cengkeraman mendarat di pergelangan tangannya. Langkahnya terhenti seketika. Haris menahannya—cengkeraman pria itu tidak menyakitkan, namun dipenuhi rasa frustrasi dan kepanikan yang membuncah.

​"Nindya, tunggu!" potong Haris, matanya menatap tajam, menuntut jawaban yang sejak sore membakar pikirannya. "Jawab aku dulu. Dari mana saja kamu dan Arka jam segini baru pulang? Ponselmu mati saat aku telepon!"

​Nindya melirik pergelangan tangannya yang ditahan Haris, lalu mendongak. Tidak ada kegetiran atau ketakutan di matanya, hanya tatapan lurus yang menembus pertahanan ego Haris. Dengan gerakan pelan namun tegas, Nindya menarik tangannya kembali hingga genggaman Haris terlepas.

​"Aku dari mana?" tanya Nindya dengan nada datar tanpa intonasi marah. "Tadi ada orang yang menabrak bumper belakang mobilku."

​Haris tersentak kaget. Wajahnya yang semula tegang mendadak dipenuhi rasa cemas yang tak dibuat-buat. "Apa? Mobilmu ditabrak? Kamu dan Arka baik-baik saja, kan? Ada yang luka?"

​Haris refleks memajukan langkahnya, tangannya terulur ingin memeriksa bahu dan lengan Nindya. Namun Nindya mundur satu pijakan, menciptakan jarak aman yang membatasi suaminya.

​"Kami tidak apa-apa," potong Nindya dingin, memotong kepanikan Haris. "Guncangannya kecil. Penabraknya orang yang bertanggung jawab. Dia langsung mengurus mobilku ke bengkel resmi, dan kami menunggu di sana sampai perbaikannya selesai dan dia melunasi semua biayanya."

​Haris menelan ludah, dadanya kian bergemuruh. Jawaban Nindya begitu masuk akal, tenang, dan tanpa cela. Tidak ada kebohongan yang terpancar dari wajah istrinya. Namun, ada sesuatu dalam nada bicara Nindya yang membuat Haris merasa makin tak berdaya—wanita itu menceritakan insiden berbahaya tersebut seolah-olah Haris hanyalah tetangga yang kebetulan menanyakan kabar, bukan seorang suami yang berhak melindungi keluarganya.

​"Kenapa... kenapa kamu tidak meneleponku, Nindya?" bisik Haris dengan nada yang terdengar seperti rintihan kecil. "Aku ini suamimu. Kalau ada kecelakaan atau masalah, harusnya aku yang kamu hubungi pertama kali, bukan mengurusnya sendiri dengan orang asing!"

​Nindya menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum tanpa kehangatan yang terasa sangat ironis.

​"Meneleponmu?" Nindya menatap mata Haris lurus-lurus. "Untuk apa, Mas? Agar aku tidak mengganggu waktu kerjamu? Bukankah kamu selalu sibuk?"

​Kata-kata itu menghantam Haris tepat di dada. Sindiran halus itu mengingatkannya kembali pada kebohongan-kebohongannya selama ini, saat ia selalu beralasan sibuk meeting atau dinas luar kota padahal sedang menghabiskan waktu bersama Siska.

​Haris kaku berdiri di tempatnya. Tenggorokannya terasa begitu kering, tak mampu menyusun satu kalimat pun untuk membalas ucapan istrinya.

​"Urusan mobil sudah selesai, orangnya sudah bertanggung jawab, dan Arka sudah tidur nyenyak," tutup Nindya dengan nada pamit yang dingin. "Sekarang, izinkan aku istirahat."

​Nindya membalikkan badannya, melangkah masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintunya rapat-rapat. Suara pengunci pintu yang berbunyi halus malam itu terdengar seperti vonis mutlak bagi Haris—meninggalkannya sendirian di lorong rumah yang dingin bersama rasa bersalah yang makin membakar jiwanya.

​Begitu daun pintu kamar rapat terkunci, Nindya menyandarkan punggungnya di permukaan kayu yang dingin itu. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menguraikan ketegangan yang sempat berkumpul di dadanya.

​Di luar pintu, langkah kaki Haris terdengar menjauh secara perlahan dan gontai. Nindya memejamkan mata sejenak, mendengarkan keheningan rumah yang kembali menyelimuti malam.

​Haris tidak boleh curiga, dan dia tidak boleh tahu kalau aku mulai bekerja lagi, bisik Nindya mantap dalam hatinya.

​Skenario ini harus berjalan sangat rapi. Nindya paham betul karakter Haris. Jika Haris tahu ia berniat bekerja di toko emas—apalagi dengan tujuan mengumpulkan modal mandiri untuk merebut hak asuh Arka—pria itu pasti akan menggunakan kekuasaan dan pengaruh finansialnya untuk menghalangi jalannya. Haris bisa saja menekan pemilik toko atau bahkan mengurung Nindya dengan alasan kewajiban sebagai istri.

​Oleh karena itu, Nindya harus memainkan peran ini dengan sangat halus. Di hadapan Haris, ia akan tetap bersikap sebagai ibu yang fokus merawat Arka dan menjalankan rutinitas rumah tangga, sembari secara diam-diam menjalankan pekerjaannya dan berkoordinasi dengan tim hukum Pak Lukas.

​Nindya melangkah menuju meja riasnya. Ia membuka tas kerjanya, mengeluarkan offering letter dari toko emas serta dokumen persiapan dari kantor pengacara, lalu menyimpannya di dalam brankas rahasia di dasar lemari baju yang hanya ia sendiri yang tahu kata kuncinya.

​Setiap langkah yang ia susun kini dihitung dengan cermat. Jam kerjanya di toko emas akan disesuaikan persis dengan jadwal sekolah dan kegiatan les Arka. Dengan begitu, Haris yang selalu sibuk dengan "urusan kantor" dan Siska tidak akan pernah menyadari keberadaan Nindya yang perlahan tapi pasti sedang membangun benteng kekuatannya sendiri.

​Nindya menatap bayangan dirinya di cermin meja rias. Wajah anggun dengan potongan rambut ash brown sebahunya menatap balik dengan binar keberanian yang tak pernah ada sebelumnya. Tidak ada lagi raut kesedihan atau rasa kasihan pada diri sendiri. Yang ada hanyalah seorang wanita dewasa dan seorang ibu yang siap bertarung demi masa depan putranya.

​"Satu bulan," gumam Nindya pelan pada bayangannya di cermin. "Hanya butuh waktu satu bulan untuk mengumpulkan bukti dan mengamankan segalanya."

​Nindya mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur temaram berkehadiran hangat. Ia berbaring di atas tempat tidur, memeluk bantalnya, dan memejamkan mata dengan perasaan tenang. Malam ini, di balik pintu yang terkunci, Nindya tidur dengan nyenyak—mengetahui bahwa setiap detik yang berlalu makin mendekatkannya pada kebebasan yang ia impikan bersama Arka.

1
sunaryati jarum
Maya baik bangett Sampau mau menggantikan Sif,Noval memberi kompensasi mungkin
sunaryati jarum
Maya baik bangett Sampau mau menggantikan Sif,Noval memberi kompensasi mungkin
sunaryati jarum
Aduuh masih tidak punya malu mengharap Nindya kembali.Dalsm mimpi saja tidak akan, Haris.Kamu mengadu tentang Siska pada Nindya tidak malu diketawain dan disyukurin
sunaryati jarum
Ingin hati mau melihat Arka putranya namun kelelahan hat dan fisiknya membuatnya tidur.
sunaryati jarum
Kehancuran hidupmu yang terpampang jelas,akibat kamu tidak setia Haris.
sunaryati jarum
Bab sebelumnya bawa mobil dari taman ke kontrakan kok sekarang cari taksi.Sunnguh karma yang.ksmu terima tunai,Haris.
sunaryati jarum
Masih beruntung kamu menyesal dan sadar akan semua kesalahanmu,hingga Masi ada waktu untuk memperbaiki diri,walau sudah terlambat
sunaryati jarum
Jika niat Haris baik jangan terlalu kejam zRin,dan kamu Haris ingat Arin masih trauma akan perbuatanmu,dia tidak percaya padamu,Ris.Itulsh konsekuensi atas pengkhianatan kamu dalam rumah tanggamu.
sunaryati jarum
Haris itu ayahnya mungkin ingin memperbaiki kesalahannya,jika tidak berbuat buruk, berikan waktu Haris untuk menemui Arka putranya tapi dengan izinmu, bukan diam- diam seperti ini
sunaryati jarum
Otw bahagia Nindya dan Arka
sunaryati jarum
Nah terima dan jalani serta perbaiki diri
sunaryati jarum
Simpan penyesalanmu,anakmu saja tanpa diajari , merasakan bahwa kamu tidak pernah hadir memberi kasih sayang dan perhatian
sunaryati jarum
Nikmati buah kesombongan dan pengkhianan yang kau lakukan ,Haris.Jangan- jangan dalam kandungan Siska bukan benih Haris.👋👋👋🤣🤣🤣
Ade Chubi
syukurin
sunaryati jarum
Bagus Nindya Haris jika datang membujuk tinggal ingatkan semua kesalahannya.
Datu Zahra
katanya gundik kecelakaan, kaki terkilir parah, masa ya udha jalan². cepet amat sembuh
Alia Chans
kasihan banget ya jadi Nindy😣
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Semangat dengan status dan kehidupan barumu
sunaryati jarum
Nikmati kehidupan yang telah kamu pilih Haris.Itulah jika kebaikan kau balas dengan pengkhiatan,kau dan Siska tidak akan pernah menemukan kebahagiaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!