Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Atas Bukit dan Pengorbanan yang Tak Terduga
Kehangatan dan persaingan sehat di perkebunan teh itu mendadak menguap saat langit sore yang sejuk berubah menjadi kelabu pekat. Angin kencang bertiup menghantam dedaunan, membawa aroma tanah basah dan gemuruh guntur yang menggema dari balik bukit.
"Cuaca buruk datang lebih cepat dari perkiraan," ujar Dika, menatap langit dengan raut wajah yang berubah serius. "Kita harus segera turun ke desa sebelum jalur utama tertutup lumpur!"
Warga desa mulai panik dan berhamburan turun. Namun, di tengah keriuhan itu, seorang ibu menangis histeris di tepi kebun. Anak laki-lakinya yang masih SD ternyata belum kembali dari area lereng bagian atas untuk mengambil keranjang teh yang tertinggal.
Tanpa ragu sedikit pun, Dika melangkah maju. "Ibu tenang, saya akan cari Doni ke atas!"
"Pak Dika, ini berbahaya! Longsor sering terjadi di lereng atas kalau hujan deras!" cegah salah satu warga.
"Saya kenal medan ini," tegas Dika mantap, lalu melirik Maya dan Kian. "Bu Maya, bawa warga turun dulu. Mas Kian, tolong jaga Bu Maya!"
Maya menatap Dika dengan mata berbinar penuh kecemasan. "Pak Dika, hati-hati! Jangan paksakan kalau kondisi tidak memungkinkan!"
Namun, saat Dika baru saja berlari beberapa puluh meter menanjak, petir menyambar kencang disusul hujan lebat yang turun bagai dicurahkan dari langit. Suara gemuruh tanah runtuh bertabrakan dengan deru air mendadak terdengar dari arah tebing di atas mereka.
BOMMM!
Tanah lereng bagian atas jebol. Longsoran lumpur dan bebatuan meluncur deras menutupi jalur. Dika yang berada di paling depan sempat menghindar, namun satu hembusan material lumpur keras menghantam tubuhnya hingga ia jatuh terguling ke tepi jurang dangkal dan tertimpa batang pohon tumbang.
"PAK DIKA!" teriak Maya histeris. Air matanya langsung pecah seketika di tengah guyuran hujan.
Tanpa memikirkan status, pakaian mahal, atau ketakutannya pada medan licin, Kian bergerak secara refleks.
"Kian! Jangan ke sana! Bahaya!" jerit Maya memanggil Kian, memegang lengan kemeja pria itu dengan tubuh gemetaran.
Kian menoleh ke arah Maya. Di tengah hujan yang membasahi wajahnya, Kian tersenyum tipis—senyuman paling tulus dan berniat melindungi yang pernah ia berikan. Ia memegang jemari Maya yang basah dan dingin.
"Dika pria baik, Maya. Dia sudah menjaga warga dan mencintaimu dengan cara yang terhormat," bisik Kian dengan suara parau menembus suara gemuruh hujan. "Aku tidak akan biarkan orang sebaik dia hancur di depan matamu. Tetap di sini!"
Kian melepas pegangan Maya dan berlari menembus lumpur yang licin.
"KIAN!" Maya berteriak memanggil namanya, namun suaranya tenggelam dalam deru hujan. Hatinya tercabik-cabik. Di satu sisi ada Dika, pria lokal tulus yang selalu melindunginya di kota ini; di sisi lain ada Kian, pria dari masa lalunya yang rela mempertaruhkan nyawa demi membuktikan perubahan dirinya.
Di lokasi longsoran, Kian berusaha setengah mati mengangkat batang pohon yang menindih kaki Dika. Lumpur terus bergerak pelan di bawah pijakan mereka.
Mas... Kian... pergi dari sini!" rintih Dika dengan wajah pucat dan napas tersengal. "Tanah di atas mau runtuh lagi!"
"Diam kamu!" bentak Kian sambil mengerahkan seluruh tenaganya, meratapi betapa lemah otot tangannya dibanding Dika, namun menolak untuk menyerah. "Aku tidak akan meninggalkanmu! Kalau kamu mati, siapa yang bakal menantangku memperebutkan Maya secara adil?!"
Dengan dorongan napas terakhir dan bantuan dua warga desa yang akhirnya menyusul dengan peralatan seadanya, batang pohon itu berhasil terangkat. Dika berhasil ditarik tepat saat longsor susulan skala kecil menimbun tempat itu.
Namun, nasib naas menimpa Kian. Pijakan tanah yang ia tempati ambles. Kian tergelincir jatuh beberapa meter ke dalam ceruk lereng batu sebelum kepalanya menghantam akar pohon besar.
"KIAN!"
Suara jeritan Maya memecah keheningan lereng yang mencekam. Maya menerobos guyuran lumpur tanpa peduli lagi pada keselamatan dirinya sendiri. Saat ia sampai di ceruk tersebut, ia menemukan Kian terbaring tak berdaya. Darah segar mengalir dari pelipisnya, bercampur dengan air hujan dan lumpur.
Maya berlutut, memangku kepala Kian di paha basahnya. Ia mengusap wajah pria itu dengan tangannya yang gemetar hebat, tangisnya meledak tanpa bisa ditahan lagi.
"Kian... bangun, Kian! Tolong jangan seperti ini!" bisik Maya histeris, menyatukan keningnya dengan kening Kian yang dingin. "Kamu tidak perlu membuktikan apa-apa lagi... Tolong buka matamu!"
Di antara samar-samar kesadarannya, jemari Kian yang kotor bergerak pelan, mencoba menyentuh pipi Maya yang penuh air mata.
"Maya..." suara Kian begitu halus, hampir tenggelam oleh suara hujan. "Bagaimana... nilaiku hari ini...? Apa aku... sudah lulus jadi pria yang pantas... untukmu...?"
"Sepuluh sempurna! Nilaimu seribu sempurna, Kian! Tolong tetap bertahan!" jerit Maya sambil memeluk tubuh Kian erat-erat di tengah badai bukit yang gelap.
Mata Kian perlahan terpejam, meninggalkan Maya yang meraung memeluknya di bawah guyuran hujan, di saat warga desa bertaruh dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa sang CEO yang rela berkorban demi cinta.