WARNING!
NO BOOM LIKE! HARGAI KARYA ORANG!
“Permisi! Maaf saya mengganggu, kenapa kamu malam-malam sendirian disini?” tanya Radit.
Wanita itu berhenti bernyanyi, ia sedikit mengangkat kepalanya. Tapi, ia tidak menjawab pertanyaan Radit.
“Hey, Mbak. Kenapa diam saja? Kenapa mbak berada di kelas ini sendirian? Apakah mbak tidak takut?” tanya Radit.
“Saya gak bisa pulang!” sahut wanita itu dengan suara pelan.
“Kenapa?” tanya Radit. Wanita itu hanya menggeleng pelan.
“Saya antar, ya!” tawar Radit. Wanita itu menjawab lagi dengan anggukan kepala.
Radit segera mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut tangan Radit yang hangat. Radit terkejut setelah meyentuh tangan wanita itu, tangan yang begitu dingin.
“Kenapa tangannya begitu dingin? Apakah dia sakit?” batin Radit.
.
.
.
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tempat dan nama tokoh. Itu semua hanya kebetulan semata. Dan karya ini hasil imajinasi saya sendiri, bukan PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 30
Keesokan harinya, Darto dan istrinya sudah sampai lebih dulu di kota A. Saat ini, ia dan istrinya sudah berada di kostan putrinya. Yaitu Diandini.
“Ada apa, kok bapak dan ibu tiba-tiba datang mengunjungi Dian?” tanya gadis yang selalu berpakaian tertutup itu, kepada kedua orangtuanya.
“Bapak bukan mau mengunjungi kamu, tapi bapak mau menyelesaikan semua urusan bapak yang sudah tertunda selama puluhan tahun,” kata Darto. Tampaknya, pria setengah paruh baya itu sudah memantapkan hatinya.
“Urusan apa, pak, bu?” Tanya Dian.
“Nanti juga kamu akan tahu, tapi ibu minta setelah kamu mengetahuinya. Kamu tidak akan membenci bapakmu,” kata Ibu Dian. Istri Darto.
“Kenapa Dian harus membenci? Bukankah agama kita mengajarkan untuk tidak membenci orang lain, terutama orangtua kita sendiri,” Diandini menatap wajah ibu dan bapaknya begantian.
Darto hanya bisa menatap sendu kepada istri dan anaknya. Ia berharap, arwah Cempaka bersedia memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri. Itu lah yang di harapkan Darto, tapi jika seandainya nanti Cempaka meminta nyawanya sebagai ganti. Ia akan tetap menerima, asal kedua anak dan istrinya tidak di libatkan oleh Cempaka.
Di satu sisi, Darto dan istrinya sudah tiba dan berkumpul di kontrakan putrinya. Di sisi lain, Lastri datang bersama Herman. Sebelum berangkat, mereka berdua membuat janji temu terlebih dahulu.
“Bagaimana? Kamu sudah siap?” tanya Lastri pada Herman.
“Sudah, lebih baik kita berangkat sekarang,” kata Herman. Mereka berdua pun segera bergegas pergi ke kota A.
“Aku sudah datang ke dukun, dan dukun itu memberiku air ini!” Herman memberikan sebuah botol kecil yang berisi air kepada Lastri. “Kata dukun sakti itu, kita hanya perlu menyiramkan air ini pada sosok setan itu, jika ia mendekat ke arah kita.”
“Bagus kalau begitu, aku juga sudah datang ke dukun sakti. Aku meminta jimat penangkal hantu kepada dukun itu, dan dia memberiku jimat ini!” Lastri mengeluarkan jimat yang diberikan Mbah Sukmo kepadanya. “Aku sengaja meminta tiga, untukku, untukmu dan Darto.”
“Semoga saja, kita bisa memusnahkan arwah itu. Jika tidak, kita tidak akan pernah hidup dengan tenang,” kata Herman. Ia tampak sangat was-was, ia begitu takut untuk mati.
“Pasti bisa, dulu saja kita bisa melenyapkan dia dengan mudah. Apalagi sekarang, dia kan hanya setan,” ucap Lastri. Ia begitu menyepelekan Cempaka.
“Menghadapi mahluk halus sama manusia itu berbeda, Lastri. Kayaknya gak semudah itu deh! Aku ingat betul saat aku dan istriku hendak membawa jenazah anakku kembali ke kota D. Cempaka menampakan wujudnya di siang hari,” kata Herman. Ia mengingat dimana saat Cempaka hadir di tengah-tengah Radit dan anak-anak yang lainnya.
“Kalau dia tidak memiliki kekuatan yang besar, mana mungkin dia bisa muncul di siang hari!”
“Jadi, yang aku liat saat putraku hendak di bawa pulang itu benar-benar perempuan sial itu!” Lastri juga mengingat, dimana ia melihat sosok Cempaka yang melambai kearahnya. Dan yang anehnya, hanya dia yang dapat melihat. Sedangkan suaminya tidak.
“Bisa jadi, aku jadi ragu untuk kembali ke kota itu lagi, “ kata Herman.
Ckittt! Brak! Tiba-tiba, mobil taxi yang di tumpangi Herman dan Lastri berhenti mendadak dan menabrak seseorang pembatas jalan, bahkan nyari terjadi kecelakaan.
“Astagfirullah,” ucap supir taxi itu.
“Ada apa? Bisa nyetir yang bener gak sih, pak?” tegur Lastri kepada supir taxi.
“Maaf, bu, pak. Tadi didepan tiba-tiba ada perempuan yang menyebrang,” kata Supir taxi sembari membuka pintu mobilnya dan mencari sosok perempuan yang nyaris ia tabrak. Ia ingin meminta maaf kepada perempuan itu.
“Loh! Kok perempuan itu gak ada lagi,” batin supir taxi.
“Gimana, pak?” tanya Lastri.
“Perempuan itu hilang, bu. Gak ada lagi,” kata Supir taxi. Pria setengah paruh baya itu segera kembali ke mobilnya.
.
.
.
“Beneran, pa. Nanti malam kita ke tempat itu lagi?” tanya Radit kepada papanya.
“Iya, kita harus memastikan dan menyaksikan. Apa yang akan di lakukan oleh sosok Cempaka,” kata Papa Harun.
“Tapi, Radit sekarang benar-benar takut, pa. Apalagi, arwah itu sering banget deket-deket sama Radit,” ucap Radit.
“Kamu tenang aja, ada mama dan papa,” kata Papa Harun. “Lagi pula, arwah Cempaka sering berdekatan sama kamu, karena dia mengingat papa di masalalu.”
“Tapi, pa. Kalau yang di bilang Ibra itu bener gimana? Kan Radit gak mau ikut Cempaka, pa. Radit masih pengen hidup di dunia sama papa dan mama,” kata Radit. Tampak, pemuda itu sangat cemas.
“Jangan berpikir terlalu jauh, Boy! Yakin lah, bahwa Cempaka tidak akan melakukan hal itu kepada kita yang sudah mau membantunya,” kata Papa Harun.
Setelah mendengar perkataan Papanya. Akhirnya, Radit bisa sedikit tenang dan mengurangi rasa takutnya akan keberadaan Cempaka.
“Di mana putra papa yang selama ini selalu bersikap berani dan keras kepala? Hmmm!” Papa Harun tersenyum sembari menepuk kedua bahu Radit.
Radit pun membalas senyuman Papanya itu, ia pun memutuskan untuk ikut semua orang kembali ke universitas garuda pada malam itu.
BERSAMBUNG!
terbongkar dech persembunyian x
walau telat sih 🥺
maaf bukannya sok tau hanya menyampaikan sja mungkin endingnya beda ya kn. saya harap seeprti itu