"Awas adik...." refleks aku maraih tangan gadis kecil yang melintas di depanku.
Anya adalah gadis kecil yang berumur kurang lebih 4 tahun. Putri pengusaha sukses yang bernama Zaidan. Harus mengalami peristiwa yang tragis. Ibunda meninggal saat melindungi dirinya dari serangan pembunuh yang menginginkan dirinya.
Peristiwa ini meninggalkan trauma yang mendalam pada dirinya. Sehingga menimbulkan rasa takut yang berlebihan.
Selanjutnya, silahkan membaca novel ini.
Apabila ada nama atau tempat yang sama, maka itu ketidaksengajaan, karena ini hanya fiksi belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : Persiapan
"Kok putri ayah teriak. Ada apa?"
Zaidan yang baru saja keluar dari kamar, mendengar teriakan Anya, merasa heran dan juga senang. Namun ketika melihat apa yang terjadi di ruang tengah, dia tertawa. Terlihat satu hantaran telah terbuka dan isinya berantakan. Perbuatan siapa lagi kalau bukan putrinya yang cantik itu, yang kini terlihat wajahnya penuh dengan remah-remah kue dari kacang hijau.
"Putri ayah kok sudah berantakan. Nanti nggak diajak ayah lho ...."kata Zaidan.
Wajahnya tampak cemberut. 2 buah kue yang tadi ingin dia diberikan kepada eyang putrinya, diletakkan kembali ke napan. Tangan yang mungil menata kue tersebut agar kembali rapi.
"Sudah Ayah. Sudah Anya rapikan. Anya ikut ke Ammah Dinda ya ..."
"Iya, sini ayah rapikan rambut Anya."
Dengan telaten Zaidan merapikan dan membersikan rambut, wajah dan baju Anya. Sementara nyonya Hendiyana membereskan akibat kenakalan cucunya itu.
"Anya sudah kenyang?"
"Maaf, Ayah. Anya tidak tahu."
"Pingin lagi?"
"Nggak."
"Sini."
Zaidan meraih putri kecilnya tersebut dalam pangkuannya. Dan memeluknya serta mencium rambutnya Dengan lembut.
"Maaf bi Rahma. Tolong itu dibereskan." kata Zaidan ketika melihat bi Rahma terlihat baru saja masuk ke dalam rumah, selesai bersih-bersih halaman rumah.
"Baik, Den."
Bi Rahma segera membantu nyonya Hendiyana yang membereskan akibat kenakalan putrinya itu. Dia menghampiri Zaidan yang tampak gelisah , termenung sambil membelai kepala putrinya. Nyonya Hendiyana duduk dengan tenang di dekatnya. Seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Zaidan. Kelihatannya kamu gelisah. Apa yang kamu pikirkan?"
Terlihat Zaidan termenung sejenak dan menundukkan kepala. Kemudian pandangannya menatap jauh ke depan. Seakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Beban berat yang dia sembunyikan.
"Mom, kemarin aku tak bisa menjaga bundanya Anya. Sekarang aku sudah memasukkan lagi seseorang yang akan menggantikannya. Aku takut akan bernasib sama." kata Zaidan membuat nyonya Hendiyana terenyuh.
"Aku mengerti apa yang kamu pikirkan. Mommypun hanya bisa berdo'a, semoga hal itu tak terjadi lagi."
"Aku takut, Mon ...."
"Kalau kamu takut, siapa yang menguatkan Dinda dan Anya."
"Ya, Mom."
Zaidan sedikit lega dengan dukungan yang diberikan oleh ibu angkatnya itu. Kegalauan yang dia rasakan seakan menemukan titik terang, berkat orang-orang yang menyayanginya. Ada mommy, ada kak Lisa. Tak lupa Anya yang senantiasa menguatkan hatinya untuk melangkah.
Waktu sudah teramat petang. Hingga tak terasa waktu maghrib menjelang. Dari jauh suara azan terdengar. Menandakan saat panggilan kerinduan menemukan muaranya. Pada yang terkasih akan diadukan semuanya. Agar langkahnya senantiasa dalam ridhonya. Dalam menyusuri jalan kehidupan. Kadang berliku kadang mendaki. Tanpa adanya kekuatan dari padaNya, sulit untuk mengetahui makna dari apa yang dijalaninya.
Lalu Zaidan beranjak dari duduknya dengan menggandeng Anya untuk menuju musholla dalam rumah. Dan diikuti oleh nyonya Hendiyana.
Terlihat juga kak Lisa keluar dari kamarnya, menuju arah yang sama. Kedua asisten keluarganya, juga ikut serta.
Semua lengkap. Tak terkecuali Aldo dan juga satpam. Semua ikut berjamaah bersama.
Setelah selesai melakukan sholat maghrib berjamah, Zaidan mohon doa restu kepada semuanya agar diberi kelancaran, dalam acara khitbah yang akan dia lakukan.
Kali ini dia akan mengemudikan mobil sendiri. Untuk membawa keluarganya menuju ke rumah Dinda. Hanya mereka berempat yang akan datang. Yang merupakan keluarga inti yang dipunyai oleh Zaidan. Yaitu mommy, Kak Lisa dan Anya.
Sengaja dia tidak mengajak Aldo dalam acara ini. Karena dia sudah berjanji pada Syarif, untuk melamarkan Dinda untuknya. Mengingat Syariflah yang lebih mengerti soal ini.
Biarlah Aldo menyelesaikan tugasnya yang terasa semakin rumit. Yang mungkin Zaidan sendiri sulit mengerti dan menyelesaikannya.
Bi Rahma dan bi Sari yang kebetulan kali ini tidak pulang, membantu membawa semua napan dan hantaran ke dalam bagasi mobil. Aldo mengiringi Zaidan dengan sesekali candaan dilontarkan agar Zaidan tidak tegang.
"Kok hanya dilamar Zai, sekalian saja nikah. Terus terang aku masih pingin mencicipi masakannya lagi."
"Kamu itu Al ... yang dipikirkan cuma perut doang."
"Halaaah ... kayak kamu nggak aja." jawab Aldo yang disambut dengan tinju oleh Zaidan di punggung Aldo. Lalu mereka tertawa bersama.
Aldo mendekati Anya yang terlihat berjalan paling belakang. Dan membisikkan sesuatu, sehingga mereka tertawa gembira dan saling memberikan tos. Entah apa yang mereka bicarakan. Sebelum Anya berlari menyusul keluarganya masuk ke dalam mobil.
"Mari semuanya. Doakan ya .... Assalamualaikum." kata Zaidan berpamitan pada semua penghuni rumah yang mengantarkan.
"Waalaikum salam." jawab mereka serempak sambil melambaikan tangan. Dan dengan sigap pak Tata membukakan pintu gerbang.
Mobil Zaidan berjalan berlahan meninggalkan pintu gerbang menuju ke jalanan.
Setelah memasuki daerah peekotaan, terlihat Zaidan memperlambat laju mobilnya.
"Mom, sebentar kita mampir dulu ke masjid itu. Mau jemput Syarif."
"Jangan lama-lama." jawab nyonya Hendiyana.
Zaidan segera membuka pintu dan keluar dari mobil. Menyebrang jalan menuju masjid yang ada di sisi jalan yang lain. Tak berapa lama kemuadian, dia kembali dengan seseorang. Sepertinya nyonya Hendiyana sudah mengenalnya.
"Assalamualaikum ... Nyonya." sapa pemuda itu pada nyonya Hendiyana setelah duduk di kursi depan, di sisi kiri Zaidan.
"Syarifkah?"
"Iya, Nyonya."
"Waalaikum salam. Kamu nggak berubah, Rif. Kamu sekarang dimana?"
"Dekat dengan Islamic Center, Nyonya..."
"Kapan-kapan mampir ke rumah, Zaidan!"
"Insya Allah."
Zaidan fokus mengemudikan mobil barumya, yang baru dibelinya tadi siang. Tanpa memperdulikan Syarif yang sedang mengobrol dengan mommynya.
"Zaidan, sudah kamu murojaah?"
"Sudah satu kali."
"Kok nggak setor."
"Nantilah, belum begitu lancar."
"Kutunggu." jawab Syarif.
"Baik ustadz."jawab Zaidan semaunya, membuat Syarif tertawa.
Cahaya surya di ufuk barat telah sempurna menghilang. Menutup petang dengan gelapnya malam. Mengiringi perjalanan Zaidan, mengawali langkahnya mewujudkan kebahagiaan putri tercintanya. Disana, terselip pula kebahagiannya yang terpendam.
Dari kaca spion yang terpasang di depan, terlihat putrinya sangat bahagia. Sesekali bernyanyi, kadang mengaji. Yang ini bila terjadi, terlihat Syarif bahagia sekali.
"Siapa yang mengajari?"
"Ayah."
"Bagus. Ayahku dulu itu sudah hafal 10 Juz. Teruskan, kalau bisa lebih. Biar ayah kalah." kata Syarif memberi semangat.
Tapi hanya di jawab dengan diam oleh Anya. Karena dia belum akrab dengan teman ayahnya itu. Walau sudah beberapa kali bertemu.
Lalu kembali Anya asyik dengan dirinya. Sesekali membuat kami semua tertawa, menikmati kelucuannya.
Satu langkah untuk wujudkan impian bagi hati-hati yang terpaut oleh tunas-tunas cinta yang mulai bersemi. Untuk diungkapkan secara nyata, dalam maghligai rumah tangga yang sesungguhnya. Bukan hanya khayalan belaka.
Langkah kaki ini tak akan berhenti. Apalagi kini mereka sudah ada di depan rumahnya. Yang tampak sudah bersiap menyambut mereka.Walau tak banyak orang seperti keluarga yang dibawa Zaidan.
q jd kepo sama ceritanya
semangat terus berkarya 👍
Mampir ya ke karya ku "Menikah Denganmu Adalah Takdirku"
Insyaa Allah Update setiap hari
terimakasih
salam kenal dari sajak cinta sufi dan araby
dan salam kenal dari aku dia rahasia kak 👋