Dijodohkan dari sebelum lahir, dan bertemu tunangan ketika masih di bangku SMA. Aishwa Ulfiana putri, harus menikah dengan Halim Arya Pratama yang memiliki usia 10tahun lebih tua darinya.
Ais seorang gadis yang bersifat urakan, sering bertengkar dan bahkan begitu senang ikut tawuran bersama para lelaki sahabatnya.
Sedangkan Halim sendiri, seorang pria dingin yang selalu berpembawaan tenang. Ia mau tak mau menuruti permintaan Sang Papi.
Bagaimana jika mereka bersatu? Akankah kehangatan Ais dapat mencairkan sang pria salju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah semangkuk Ice cream
Bel masuk telah berbunyi. Nisa dan Ais bergandengan tangan memasuki kelas mereka. Sesuai jadwal, hari ini ujian praktek agama, dan Ais tampak begitu siap dengan segala atributnya.
"Ais, Masya allah cantik banget." puji Taufan padanya, yang telah memakai mukenah.
"Jangan ngeledek, jangan deket-deket gue udah wudhu." sergah Ais padanya.
"Yee, orang muji di bilang ngeledek. Baperan loe."
"Bukan baper, tapi gue males bolak balik ke tempat wudhu lagi, Fan. Udah sono, gabung sama Anak lakik." usir Ais padanya.
Seperginya Taufan, datanglah Nisa yang juga telah rapi dengan mukenah Pinknya. Ia menghampiri Ais, dan mulai lagi membimbing dengan segala hafalan. Sembari menunggu giliran untuk melakukan apa yang diperintahkan.
" Loe ngga bersentuhan sama Taufan?"
"Engga."
"Yakin? Kalau bersentuhan batal loh. Coba inget lagi."
"Ish, engga, Nisa. Dia aja jauh kok. Lagian cuma praktek, emang harus bener-bener bersih?" tanya Ais mode kesal.
"Meski praktek, tapi harus di lakukan dengan baik. Ini soal agama, jadi Loe harus belajar sebaik mungkin. Agar bisa praktek menjadi makmum yang baik buat suami." balas Nisa.
"Yeee, jomblo nasehatin orang yang udah nikah." ledek Ais, berakhir dengan pukulan sebuah penggaris di dahi nya.
"Sakit, isssh!"
"Hussst, belajar yang bener." tegur Nisa padanya.
Menit demi menit berlalu. Giliran Ais untuk maju dengan dengan segala ilmu yang Ia hafalkan.
"Yakin bisa?" tanya sang guru.
"Ibu jangan ngeledek terus deh. Kapan mulainya."
"Yaudah mulailah. Malah ngajak berantem." perintah sang guru padanya.
Ais hanya mencebik bibir. Kesal, tapi Ia sedang berlatih sabar kali ini. Ia pun memulai praktek shalatnya. Tampak begitu khusyu, dan melafadskan semua ayat nya dengan baik. Para tim penilai tercengang olehnya.
" Itu, Aishwa?"
"Iya..."
"Tumben?" kagum salah seorang gurunya.
***
Suara Hp berbunyi. Lim yang tengah fokus dengan laptop dan semua dokumennya.
"Siapa?" fikirnya, lalu membuka pesan di Wa nya.
Nisa mengirim sebuah video, ketika Ais melaksanakan ujiannya.
"Pintar... Ternyata lancar juga meski belajar mendadak. Atau, memang Ia tipe orang yang seperti itu? Yang fokus, dalam keadaan terdesak. Tapi, kebanyakan bertindak secara spontan, tanpa memikirkan akibatnya." gumam Lim.
"Ya, emosimu. Itu yang harus dikendalikan." ucap Lim.
Ia tak membalas pesan itu, dan langsung meletakkan Hp kembali di mejanya. Pekerjaan yang begitu banyak, dan memang Ia tak begitu suka berbalas pesan. Ia lebih memilih untuk berbicara langsung Via telepon biasanya.
***
" Assalamualaikum warrahmatullah..." ucap Ais, di akhir shalatnya.
Ais pun membuka mukenahnya, dan melipatnya lagi dengan begitu rapi. Lalu, undur diri dari hadapan para tim penilai yang masih terperanga melihat aksinya.
"Yey, Ais hebat." puji Nisa.
"Alhamdulillah. Spontan aja sama semua yang baru di hafal kemaren. Abis ini, paling lupa lagi." tawa Ais.
"Eh, jangan lupa. Masa bentar aja lupa sih."
"You know me Beibh." balas Ais, dengan kedipan mata genitnya.
Kini giliran Nisa. Ia pun menghadap pengawas untuk prakteknya. Ia begitu fasih, karena memang rajin dalam kehidupannya sehari-hari. Dan para penilai pun tak heran jika Nisa dapat nilai baik nantinya.
Cling! Hp Ais berbunyi. Ais pun meraih Hpnya dan melihat isi pesan.
"Sukses, buat ujian prakteknya. Semangkuk Ice cream menunggu."
"Wuaah, Pak suami kirim Wa." ucapnya takjub.
Ais pun tampak bahagia. Apalagi, dengan sesuatu yang telah di janjikan. Padahal, Ia tak pernah meminta itu dari Lim.
biar je...