DUREN SAWIT (duda keren sarang duwit)
Menceritakan seorang duda yang mati-matian mengejar cinta seorang remaja delapan belas tahun yang bernama Rianti. Gadis sederhana yang wajahnya begitu mirip dengan mendiang sang istri.
Hayu kepoin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adisty Rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di gendong ala bridal style
Veno berjalan mendekati Shinta yang sedang duduk di ranjang rumah sakit dan sang dokter sedang berjongkok mengobati lutut Shinta yang terluka.
Ia melihat ekspersi wajah Shinta yang dulu pernah ia lihat waktu pertama kali mereka bertemu.
Apaan maksudnya itu ... tersenyum malu-malu gak jelas. Baru kemaren bilang suka sama aku, eeh sekarang malah suka sama orang lain. Dasar ganjen! gadis vulgar! Labil! rutuk Veno.
"Heh ... siniin KTP-mu!" ucap Veno memerintah.
Wajah Shinta yang awalnya tersenyum mendadak berubah menjadi kesal.
"Buat apaan sih!" jawab Shinta sambil memandang tajam pada mantan idolanya itu.
"Buat isi ini," jawab Veno sambil mengangkat selembar kertas di tangan kirinya.
Shinta pun mengeluarkan KTP-nya dari dalam dompet dan menyerahkan kepada Veno. Ia kembali memandang dokter tampan yang ada di hadapannya. Sedangkan Veno mengisi kertas yang ada di tangannya.
Oo jadi nama gadis labil ini Shinta ... cihh norak! Sama kaya tingkah-lakunya, batin Veno. Iaa pun mengisi formulir yang ada ditangannya.
Shinta terlihat senyum malu-malu saat di obati oleh dokter yang menurutnya tampan.
Ia melihat tag nama di snelli yang dokter itu pakai.
"Jadi nama Mas dokter ini Irwan Syahputra ya," ucap Shinta membuka obrolan.
Dokter yang bernama Irwan itu pun mendongak memandang wajah Shinta yang sudah mulai memerah.
"Iya," jawabnya sambil melepaskan senyum ke arah Shinta.
Shinta seperti terdorong untuk mengobrol dengan Irwan. Seakan lupa dengan rasa sakit yang di deritanya.
"Mas Irwan udah punya pacar belum? Trus tipe wanita idaman Mas seperti apa?"
Veno yang mendengar pertanyaan aneh Shinta sontak berdecak heran dan melihat ke arah gadis itu.
Pertanyaan apa itu? Gadis itu memang luar biasa, batin Veno sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Saya itu belum punya pacar, tapi kalo soal wanita idaman, paling tidak dia harus dewasa dari segi umur maupun sikap," ucap Irwan tanpa menoleh dan masih membersihkan luka di lutut Shinta.
Rasain ... pasti malu tuh, gumam Veno yang tersenyum sinis.
Shinta hanya terdiam seolah telah di skak matt dan senyumannya pun perlahan hilang.
Irwan yang sudah selesai mengobati luka Shinta langsung berdiri.
"Kamu jangan panggil saya Mas, saya ini udah 34 tahun, udah tua, mungkin sebaya dengan om kamu. Jadi panggil saya Pak Irwan atau Dokter Irwan," ungkap si dokter tampan.
"Tapi aku tetep suka sama Mas Irwan. Walaupun udah tua Mas Irwan masih menawan," ucap Shinta yang mulai mengesampingkan rasa malunya.
Entah mengapa Veno merasa gerah mendengar perbincangan itu.
"Kamu ada alergi obat gak!!! teriak Veno yang berada di sudut ruangan, ia sengaja menggagu obrolan mereka.
"Gak ada!" balaa Shinta sekenanya.
Mata Shinta kembali menatap dokter Irwan yang sedang menulis sesuatu di atas meja.
"Mas Irwan, aku boleh minta no hp kamu gak," ucap Shinta sambil mencoba turun dari tempat tidur pasien.
Irwan hanya tersenyum dan menghampiri Veno.
"Ini resep obat yang harus ditebus. oleskan secara teratur biar luka adik anda cepat sembuh," Irwan pun berjalan meninggalkan ruangan.
Shinta yang mendengar perkataan dokter tampannya itu menjadi meradang.
"Dia bukan abang aku ... Mas Irwan!" pekiknya.
Karena teriakan Shinta, beberapa orang pasien dan perawat memandang aneh kepadanya. Dan Veno yang dianggap sebagai wali juga tak luput kena dampaknya.
"Jangan teriak-teriak, bikin malu," protes Irwan seraya mendekatinya.
Shinta hanya melirik tajam pada Veno. Ia mulai berjalan namun karena luka di lututnya ia tak bisa bergerak bebas. Veno yang mengikutinya dari belakang menjadi sedikit emosi.
"Kamu lama banget sih jalannya. Udah kaya siput aja." Veno pun menggendong tubuh kecil Shinta ala bridal style.
"Apa ini! Turunin gak!" pekik Shinta. Bahkan orang yang mereka lewati memandang aneh pada keduanya. Namun Veno sama sekali tidak peduli, ia masih menggendong tubuh Shinta.
"Kamu itu kalo jalan lelet ... aku masih punya banyak urusan. Jadi, kamu cukup diem aja, kalau masih berisik ntar aku lempar kamu ke kali," ancam Veno. terukirbsenyum licik di wajahnya.
Shinta terdiam sambil melihat wajah orang yang menggendongnya. Ia menjadi teringat dengan kejadian tempo hari.
Orang ini memang ngeselin.
"Kamu tunggu di sini. Aku tebus obat sama nyerahin ini dulu," ucap Veno setelah memasangkan seatbelt pada Shinta.
Sambil menunggu Veno, Shinta mencari-cari bungkusan nasi padang yang ia beli.
Nasi bungkusku mana? Perasaan tadi aku pegang ... apa mungkin jatuh pas di paksa masuk mobil tadi ya ... aghh aku lapar ....
Shinta memegang perutnya yang sudah mulai keroncongan.
Veno tiba dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Nih obat kamu ... ada salep juga ... jadi harus dioles secara teratur," tutur Veno sambil memberikan bungkusan obat yang berwarna putih. Ia pun mengendarai mobilnya dengan perlahan keluar dari parkiran rumah sakit.
Selama perjalanan Shinta hanya terdiam. Ia sebenarnya lapar namun enggan untuk bicara.
Perut oh perut tolonglah tenang. Nanti kalau sudah sampai kamar aku kasih kamu mi rasa rendang.
Namun setelah memikirkan mi rasa rendang, perut Shinta makin keroncongan dan terdengar oleh Veno.
"Kamu lapar ... kenapa gak ngomong?" tanya Veno dengan suara beratnya.
"Udah ... cepet antar aku pulang. Aku mau makan mi instan aja," sahut Shinta sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.
Namun Veno menghentikan laju mobilnya dan berhenti di parkiran restoran.
"Mau ngapain ke sini!" ucap Shinta yang masih menyimpan dendam karena kejadian tempo hari.
"Ya makanlah ... kamu gak laper?".
"Aku gak mau di sini. Aku mau makan bakso mang Cecep. Kalau kamu mau, kamu aja yang masuk."
Ya Tuhan ... ni anak bener-bener nguras emosi.
Tanpa banyak tanya, Veno pun mengendarai mobilnya keluar dari parkiran restoran menuju tempat bakso mang Cecep. Ia mengikuti arah jalan yang di tunjuk Shinta.
"Dari sini pilih kanan, pas di perempatan belok kiri, terus ambil lurus."
"Kamu yakin mau makan di sini? Ini rame banget lho ..." tanya Veno setelah sampai di tempat tujuan.
"Ia di sini tempatnya. Kamu pulang aja. Nanti pulangnya aku bisa pesan ojek online," jawab Shinta yang masih di mode jutek. Ia pun melepas seatbelt dan turun dari mobil Veno.
Tanpa di duga, ternyata Veno juga ikutan turun dan langsung menggendong tubuh Shinta.
"Turunin gak! Ngapain di gendong lagi sih! Aku bisa jalan sendiri!" pekik Shinta.
Namun sepertinya Veno tidak memperdulikan ucapan Shinta dan masih menggondongnya ala bridal style sampai ke dalam warung bakso mang Cecep.
Semua pelanggan di sana langsung bersorak dan dalam sekejap keadaan menjadi riuh-rendah melihat adegan yang seperti drama dan novel.
*****
**Terima kasih yang sudah mampir membaca cerita receh saya 😊
Kalau berkenan tolong klik like ya.
Kalau ada krisan tolong di tuang di dalam kolom kometar.
Terima kasih**.
,Heran aku..Gitu aja udah luluh aja..