MISI KEPENULISAN!
JANGAN HERAN JIKA ADA NOVEL DENGAN ALUR YANG SAMA.
Amanda Batari, atau lebih dikenal dengan nama Amanda, harus rela tinggal bersama pria yang bernama Daniel Aiden. Dan dia juga harus menjadi sekretaris Daniel selama 3 bulan. Hal itu dilakukan Amanda, sebagai upaya menolak perjodohan yang diminta kakeknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NUR ASRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sindiran
30
Sonia melihat Amanda memakai baju itu dengan sangat indah. Amanda terlihat bak seorang putri raja. Sonia cemburu pada Amanda. Dia iri melihat Amanda lebih cantik darinya.
"Pelayan, aku mau gaun itu" ucap Sonia.
"Maaf nona, tapi gaun itu sudah dibeli" tolak pelayan butik.
Sonia merasa marah karna penolakan pelayan itu.
"Sayang,, aku mau gaun itu" rengek Sonia pada pacarnya.
"Sayang,, gaun itukan sudah dibeli, kau pilih gaun lain saja" ucap Hans (pacar Sonia).
"Ah,, tidak mau.." tolak Sonia.
Hans memandang wajah pacarnya itu.
"Sayang,, dia itu wanita yang sudah mempermalukanku di depan semua orang. Tadi dia juga mempermalukanku di hadapan kakek Bagas. Masa kau tega membiarkan dia mer*but apa yang aku sukai? Apa kau tidak menyayangku?" tanya Sonia.
"Jadi dia Amanda?" tanya Hans agak syok.
"He'emh,, dia wanita yang kuceritakan padamu.." jawab Sonia manja.
"Tenang saja sayang, aku akan membuat gadis itu melepaskan gaunnya. Dan gaun itu akan menjadi milikmu seutuhnya" balas Hans.
"Ah,, ma'acih,, jadi tambah cayang deh sama kamu.." ucap Sonia.
Sonia dan Hans saling senyum.
"Pelayan, cepat ambil gaun itu" titah Hans.
"Maaf tuan tapi.." ucapan pelayan itu dipotong oleh Hans.
"Aku tidak mau tau. Pokoknya, kau ambil gaun itu dari wanita yang sedang memakainya" desak Hans.
"Tuan, sudah ku katakan, gaun itu sudah dibeli" jelas pelayan itu.
"Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan? Cepat ambil gaun itu darinya. Jika tidak, kau akan rasakan akibatnya" tegas Hans.
"Hem,, baiklah. Aku akan bicara pada nona itu. Tuan dan nona tunggu sebentar" ucap pelayan itu dengan pasrah.
Dari pada terkena b*ntakan Hans lagi, Pelayan itu menghampiri Amanda yang sedang bercermin.
"Permisi nona.." ucap pelayan itu pada Amanda.
"Iya?" tanya Amanda.
"Maaf nona, bisakah anda melepas gaun itu?" jawab pelayan itu dengan sebuah pertanyaan.
Amanda menaikan alisnya sebelah. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh pelayan butik itu.
Sonia dan Hans mendekat pada Amanda.
"Tak disangka gadis dari kampung kecil bisa masuk ke dalam butik mewah ini" sindir Sonia pada Amanda.
Amanda menatap Sonia dengan datar.
"Cepat lepaskan gaun itu" titah Sonia. "Kau tidak pantas memakai gaun sebagus dan semahal itu. Gaun itu terlihat sangat rendah saat kau memakainya. Kau merusak keindahan gaun itu gadis kampung" lanjut Sonia mengh*na Amanda.
Amanda tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Sonia. Amanda memilih menutup telinganya rapat-rapat.
Amanda mengeluarkan black card miliknya. Amanda menyerahkan black card itu pada pelayan untuk menggeseknya.
Sonia melihat kartu itu di tangan Amanda. Sonia berpikir kalau kartu itu adalah pemberian dari Daniel.
"Black card? Bagaimana bisa dia mempunyai black card? Ah,, pasti Daniel yang sudah memberikan kartu itu padanya" pikir Sonia.
Saat Sonia berpikir tentang Daniel, seketika dia teringat sikap Daniel pada Amanda yang begitu perhatian.
"Kenapa Daniel sangat perhatian pada Amanda? Bahkan dia mengesampingkanku yang statusnya sebagai teman masa kecilnya. Bahkan kami pernah menjadi kekasih masa kecil. Daniel tidak mungkin memiliki rasa pada Amanda" pikir Sonia.
Sonia diam sebentar.
Saat pelayan itu hendak menerima kartu dari Amanda, tiba-tiba Sonia berucap dan membuat tangan pelayan itu terhenti mengambil balck card milik Amanda.
"Aku akan bayar dua kali lipat" ucap Sonia.
"Aku pasti akan terlihat ribuan kali lebih cantik memakai gaun indah itu dari pada Amanda. Saat waktunya tiba, Daniel akan melihat kecantikanku menggunakan gaun itu. Dan dia akan menyukaiku, dia tidak akan mengalihkan pandangannya dariku" pikir Sonia.
"Bayar dua kali lipat? Kau bahkan tidak bisa membedakan barang yang asli dan barang yang palsu. Apa jadinya jika kau memakai gaun ini? Jika ada orang yang bertanya apakah gaun itu asli atau palsu, kau akan menjawab apa? Kau tidak mungkin menjawab gaunku ini palsu namun berkualitas tinggi alias KW1. Apa bedanya dengan yang asli? Toh, tidak akan ada yang tau kau memakai gaun palsu" Amanda menyindir Sonia dengan t*jam.
Sonia hampir pingsan karna marah mendengar sindiran dari Amanda.
"Berani sekali kau berkata seperti itu" ucap Sonia.
"Mengatakan apa? Aku mengatakan yang sebenarnya. Kenapa kau marah pada kenyataan?" tanya Amanda acuh.
"Ah,, sayang.." rengek Sonia pada Hans. "Dia sudah berani mengatakan itu padaku. Aku sangat sedih,, pokoknya aku mau gaun itu.." adu Sonia.
"Ih,, manja sekali kau" ucap Amanda merasa jijik pada sikap sonia.
"Sayang,, dia mengejekku lagi.." adu Sonia lagi.
"Lanc*ng sekali kau mengejek pacarku di hadapanku" ucap Hans pada Amanda.
Amanda menatap Hans dengan mata yang membulat serta pipi yang mengembung. Amanda seperti sedang mengolok-ngolok Hans.
"Kau menantangku?" tantang Hans dengan marah. "Berikan gaun itu sekarang juga" titah Hans.
"Tidak mau. Gaun ini sudah melekat ditubuhku. Itu artinya gaun ini milikku, bukan milik pacarmu, atau milik orang lain" tolak Amanda sambil menunjuk Sonia.
Hans sudah sangat marah. Tangan terulur untuk menarik gaun yang dipakai oleh Amanda. Amanda memberikan perl*wanan dengan mempertahankan gaun yang dia pakai.
Al hasil, Amanda hampir jatuh ters*ngkur karna Hans.
"Tolong hentikan, tuan, nona" lerai pelayan toko. "Tolong jangan membuat keributan di butik ini. Konsumen yang lain akan terganggu karna ulah kalian" lanjut pelayan toko itu.
Amanda segera bangkit dan memperbaiki posisinya. Amanda mengatur nafasnya dan kembali tenang.
Pelayan butik yang melihat pertengkaran itu bingung harus berbuat apa. Akhirnya dia memutuskan untuk memanggil manager butik itu.
"Saya akan memanggil manager butik ini, supaya masalah kalian cepat terselesaikan" ucap pelayan itu.
"Baiklah. Cepat panggil manager butik ini" ucap Sonia.
Pelayan itu pergi memanggil manager butik.
"Aku yakin, Amanda akan diusir oleh manager dari butik ini. Manager itu tidak akan berani menyinggungku. Jika dia berani menyinggungku, itu artinya dia sudah siap kehilangan pekerjaannya" Sonia berpikir dengan sangat yakin.
Di saat pelayan sedang pergi memanggil manager dan Sonia sibuk dengan pikirannya, Amanda mengeluarkan ponselnya.
Amanda mengetik dan mengirim pesan pada seseorang yang bertanggung jawab di butik itu. Amanda terlihat sangat tenang menghadapi situasi seperti ini. Ini sudah keempat kalinya Amanda menghadapi orang yang sama, yaitu Sonia. Namun Amanda selalu menang. Karna Amanda mengambil keputusan dengan sikap tenangnya.
10 menit kemudian, manager butik datang. Manager butik itu berjalan melewati Sonia dan Hans. Dia berjalan menuju Amanda tanpa memperdulikan Sonia dan Hans.
"Nona Amanda, mohon maaf atas ketidak nyamanannya. Saya selaku manager di butik ini, mengucapkan permintaan maaf yang sangat dalam pada nona Amanda" ucap manager itu dengan penuh rasa hormat pada Amanda.