Baru naik kelas 12, sudah di nikahkan? Alana dan Barra terpaksa menikah, karena permintaan terakhir sang Ayah, sebelum Ayah Alana pergi untuk selamanya. Namun, kisah cinta mereka tidak semulus jalan tol dan tidak seindah Romeo and Juliet. Kepribadian keduanya bertolak belakang. Akankah pernikahan mereka bertahan Lama? Yuk simak Kisah Alana dan Barra.
*Kalau Ayah gak minta aku nikah sama kamu, mana mungkin aku mau! Itu semua karena keterpaksaan! — Alana Valerie.
*Awas aja ya lo berani macem macemin gue! Gue bakal minta pertanggung jawaban lo Alana! — Barra Ardana Abiputra.
*AKU SAYANG BANGET SAMA KAMUUUUU — *****
Bestie tolong maklum ya jika banyak typo yang betebaran 🥰👌🏻
HAPPY READING & HAPPY KIYOWO BESTIE 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAP 30 : TERPESONA
Keduanya kini berjalan menuju parkiran yang tidak jauh dari gudang tersebut. Alana memasuki mobil Barra dan Barra ijin untuk ke loker mengambil tas dan seragamnya di sana.
Hari ini Alana merasakan takut sekaligus senang yang datang secara bersamaan. Kebas pada pipinya sudah tidak terasa, yang terasa hanyalah kecupan lembut yang Barra berikan tadi.
Setelah beberapa saat menunggu Barra di mobil, akhirnya orang yang di tunggu muncul juga. Barra berjalan dengan tegap seperti biasa dan tatapan yang begitu dingin.
Apa sih sok cool gitu.
Barra memasuki mobil dan mengeluarkan kota p3k yang ada di dashboard mobil. Ia mengeluarkan betadine dan kapas. Alana menautkan kedua alisnya, pasalnya gadis itu anti dengan yang namanya betadine, karena menurutnya malah menambah perih alih alih membuat lukanya sembuh.
"Buat siapa tuh betadine?" Tanya Alana seraya memegang pergelangan tangan Barra untuk menghentikan pergerakannya.
"Ya buat lo lah, masa buat gue sih. Orang yang luka lo." Sungut Barra.
Alana menggelengkan kepalanya serta memundurkan wajahnya, ia tidak mau, lukanya ini sudah terasa perih masa mau di buat perih lagi sih!
"Gak! Aku gak mau pake itu, malah tambah perih bukan sembuh tahu." Alana tidak melepaskan tangannya, ia tetap menahan pergerakan tangan Barra.
"Lo mau luka lo infeksi?! liat tuh bibir lo berdarah gitu. Kalo Mama tahu lo bisa di marahin habis habisan." Ucap Barra. Tapi memang fakta, Agatha begitu anti melihat luka yang tidak di obati, menurutnya itu bisa membahayakan.
"Ck, tapi sedikit ya jangan banyak banyak, awas lho!" Ujar Alana, seraya membulatkan mata dan memberi sebuah kepalan tinju di hadapan wajahnya.
Barra terkekeh dan memberi 1 anggukkan. Barra mulai mengoleskan betadine dengan secara perlahan pada ujung bibir Alana.
" Hss!" Alana kerap kali meringis merasa kesakitan. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, karena memang betadine itu obat pembunuh kuman sekaligus obat pembunuh manusia xixixi. Menurut nya.
Alana tidak sadar bahwa dirinya sedari tadi memperhatikan setiap inci, setiap ukiran yang ada pada wajah Barra. Lalu Alana memperhatikan netra hitam indah milik Barra, kalau di lihat secara dekat pemuda itu sangat lah menawan.
Ehem...
"Gue tahu gue ganteng jadi biasa aja liatin dong" Ucap Barra, menyadarkan Alana dari alam bawah sadarnya.
"A—apa sih pede banget." Ujar Alana gugup, ia dengan cepat memalingkan wajahnya, di rasa sekarang pipi sudah berubah warna karena malu deh. Bener bener ya hati aku lembek banget kek yupi, ish!
Setelah selesai Barra menyimpan kotak p3k kembali pada tempatnya, lalu ia bersiap untuk menyalakan mobil untuk lanjut pulang. Padahal hari ini rencananya Barra ingin mengajak Alana ke sesuatu tempat, tapi gagal gara gara Gery Syalan.
Barra melaju kan mobilnya dengan kecepatan rata rata. Kyra? Oh iya bocah itu sekarang sok sok an sibuk, katanya ada kerja kelompok lah, ada rapat ekskul lah, ahh entahlah intinya memang sok sibuk anak kesyil satu ini.
Waktu sudah menunjukan pukul 5 lewat, yang artinya Damar dan Agatha sudah ada dirumah, karena hari ini tidak ada meeting jadi mereka pulang tepat waktu. Barra dan Alana langsung masuk ke dalam rumah saat sudah sampai, Alana sengaja menunduk agar tidak ketahuan ia memiliki luka di wajahnya.
Gadis itu pun mencepol rambut nya agar tidak terlalu kelihatan berantakan. Saat sudah di dalam dan bertemu Damar dan Agatha, keduanya mencium tangan Damar dan Agatha. Dan Alana langsung pamit menuju kamar, namun lengan nya di tahan oleh Barra.
"Mah, tolong obatin luka di muka Alana dong, tadi Barra cuma ngasih obat merah aja." Ucap Barra yang seketika membuat Alana membelalakan matanya. Mulut Alana komat kami mengucapkan sumpah serapah yang tentunya Barra tidak mengerti.
"Ehh ko bisa luka seperti ini sih, Al?" Ujar Agatha panik, ia langsung menghampiri Alana dan menelisik setiap inci wajahnya.
Syalan emang tuh anak, aku udah nunduk juga dari tadi, malah di bilangin. Batin Alana.
"Gak papa kok mah, cuma luka sedikit ini."
"Apanya yang sedikit, ini pipi kamu lebam gini terus ujung bibir kamu luka. Sebenarnya apa yang terjadi, Al?"
"Mah mending mamah obatin dulu, biar di jelasin nya nanti deh. Kalo gitu Barra ke atas ya mau mandi dulu." Barra kemudian melenggangkan langkahnya, pergi meninggalkan Alana dan Agatha di ruang tamu.
Barra merebahkan dirinya di atas kasur sebelum ia mandi, lalu membuka ponsel karena sedari tadi ada beberapa pesan yang masuk.
...Gilang calon pendamping hidup Mayang...
Virgan : nongki yuk gengs, gue bosen ini di rumah terus. Apa lagi orang orang rumah kaga ada semua.
Gilang : kasian amat si lo, sorry dorry morry di rumah gue mah rame.
Virgan : sombong banget si lu, jabingan!
Gilang : bukan sombong sayang, tapi for your information aja beb 😘
Virgan : @Barra @Elang nongki yuk, gak kasian apa lu pada sama gue. Kalo si anak tapir gak ikut juga gue rela deh.
Barra : nongki di cafe biasa, jam 7 oke!
Elang : oke ntar gue nyusul
Virgan : widih sekali tag langsung cus nongki nih. @Gilang lu gak usah ikut deh cuman bisa ribetin doang.
Gilang : kurang ajar bener ni bocah.
Tidak lama Barra kemudian menyimpan ponselnya di atas nakas, lalu memejamkan matanya sebentar. Menikmati kasur yang begitu ia rindukan sedari tadi, punggungnya kini terasa lurus dan pegal pegal nya sudah lumayan hilang
Tring... Tring... Tring...
Baru saja ia memejamkan mata, suara dering an ponsel terdengar begitu nyaring. Barra mengambil kembali ponselnya lalu melihat siapa yang menelepon, mengganggunya di kala menikmati surga dunia ini.
Saat di lihat, tertera nama Vallen yang terpampang di sana, dengan berat hati Barra mengangkatnya.
Haiii sayang selamat hari aniversarry yang ke 1 tahun ya sayang.
Belum Barra mengatakan sesuatu tapi gadis yang di serang sana tiba tiba mengucapkan aniv, Barra mengerutkan kedua alisnya.
Yang aniv siapa?
Barra bertanya dengan dengan dingin.
Ya kita dong sayang, hari ini kan hubungan kita genap 1 tahun. Masa kamu lupa sih baby, jahat deh kamu.
Suara Vallen begitu mendayu dayu dan terdengar begitu manja. Rasa rasa Barra ingin muntah mendengar nya.
Heh! Hubungan kita udah berakhir ya, lo lupa?!
Tanya Barra dengan sedikit ketus, ia mulai merasa risih sekarang. Karena Vallen kerap kali menelepon nya dan membahas yang tidak penting. Barra langsung mematikan ponselnya secara sepihak.
Rasanya tidak kuat lagi mendengar suara Vallen yang sok imut itu, serasa ingin mencomot bibirnya lalu di putarkan.
Barra beranjak dari kasurnya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang sudah mandi keringat sedari tadi. Hari ini begitu melelahkan karena latihan yang terlalu keras, untuk mendapatkan hasil maksimal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aaaa aku seneng banget sama komen komennya, kek asksndjdbfhdksksk. Positif semua, semoga kalian suka ya sampai nanti novel ini end.
Babay bestie, tetep setia ya. Kalo gak, nanti Alana sama Barra nya aku ceburin kolam loh.
Terimakasih and happy kiyowo bestie.