Felisia harus menerima nasibnya. Menikah disaat dia tidak menginginkannya. Dan setelah dia menerimanya, apa yang terjadi? Suaminya malah membawa seorang wanita dengan anak berusia tiga tahun kerumah.
"Mulai sekarang Wilona dan anak kami akan tinggal dirumah ini."
Anak kami?
Selanjutnya, bisakah Felisia menerima Wilona dan anak dari suaminya bersama wanita lain? Mampukah hatinya bertahan di rumah itu? Membagi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L2080617, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BC:SAM? #30
Saat di perjalanan tiba tiba Evelyn terpikir akan sesuatu.
"Gilbert, apa kamu sanggup mengendarai mobil sampai ke Jerman?" Tanya Evelyn tiba tiba.
"Maksud kamu?" Tanya Gilbert.
"Aku pikir sebaiknya kita tidak perlu menaiki pesawat. Dafi nanti bisa menyelidiki kepergian ku dan melihat aku pergi dengan pesawat. Daddy ku juga bisa saja menanyakan kepada pilot. Pilot itu pasti akan menjawab jujur. Lalu setelah itu Daddy akan mengikutiku dan Dafi bisa saja mengikuti Daddy. Semuanya akan hancur kalau begitu," jawab Evelyn menjelaskan.
Dia baru terpikir saat ini akan hal itu. Sungguh pemikiran ini sangat datang terlambat.
"Jadi para pilot dan pramugari yang sudah ku siapkan bagaimana? Apa mereka disuruh bubar?" Tanya Gilbert.
"Iya itu lebih baik. Aku akan menghubungi mereka," jawab Evelyn sambil mengambil ponselnya dan menghubungi pilot.
"Halo Nona, saya dan tim sudah ready disini," ucap pilot itu melapor.
"Iya, tapi perjalanan nya di batalkan. Maaf, tapi anda dan tim bubarlah. Nanti saya akan mengirim hadiah sebagai permintaan maaf," ucap Evelyn.
"Baik Nona," balas pilot itu patuh.
Pilot itu tidak merasa kesal atau semacamnya. Karena hal seperti itu sudah biasa terjadi.
Setelah itu Evelyn mematikan telepon dan menyimpan ponselnya.
"Semuanya sudah beres. Kamu bisakah mengendarai mobil sampai ke Berlin (Ibukota Jerman)?" Tanya Evelyn.
"Pasti," jawab Gilbert.
"Oh ya, kalau kamu capek atau mengantuk, jangan segan untuk mengatakannya kepadaku. Kita akan bertukar nanti. Aku yang menyetir dan kamu yang istirahat," ucap Evelyn.
"Baik," balas Gilbert.
Karena capek dan mengantuk akhirnya Evelyn tertidur pulas.
Gilbert tidak sanggup membangunkan Evelyn. Oleh karena itu dia memberhentikan mobilnya di tempat peristirahatan.
Evelyn, kamu itu cantik dan sangat baik. Siapapun yang menjadi jodohmu pasti akan sangat bahagia memilikimu. Ku harap jodohmu itu adalah seorang pria yang baik, mau menerima dirimu dan menghargai mu, juga menerima masa lalu mu. Semoga saja jodohmu itu bukan Tuan Andhika itu
ucap Gilbert dalam hati sambil menatap wajah Evelyn yang tertidur seperti bayi.
Gilbert iseng memotret Evelyn dan Sophie yang sedang tertidur.
***
Evelyn terbangun karena Gilbert.
"Evelyn bangunlah" ucap Gilbert lembut.
"Ya, ada apa?" Tanya Evelyn.
"Sekarang sudah pagi. Sebaiknya kita sarapan dulu" ucap Gilbert.
Evelyn menutup mulutnya dengan tangan kanan karena menguap. Dia sedikit mengucek matanya untuk mengumpulkan nyawa nyawa nya.
"Kamu bungkus saja makanannya. Kita makan di mobil saja. Tidak bagus jika menampakkan wajah di tempat umum. Apa kamu ada membawa penutup wajah seperti masker, kacamata, atau topi gitu?" Tanya Evelyn.
"Ada di dalam sana" jawab Gilbert sambil menunjuk laci dashboard.
Dengan cepat Evelyn membuka laci dashboard. Disana terdapat masker, kacamata, dan topi sesuai yang Evelyn katakan tadi.
"Sebagai ketua pengawal terkadang aku menyamar untuk melakukan tugas rahasia. Jadi benda benda itu selalu ada di mobilku" ucap Gilbert seakan tahu bahwa Evelyn bingung.
"Oh," balas Evelyn sambil mengambil masker, kaca mata, dan topi.
"Ini," ucap Evelyn sambil memberikan ketiga barang itu.
"Ok," Gilbert menerima barang barang itu dan langsung memakainya.
Setelah itu dia keluar dari mobil untuk membeli sarapan mereka bertiga.
Evelyn melihat ke kursi belakang dimana Sophie masih terlelap.
Evelyn tersenyum melihat pemandangan itu. Sangat bersyukur atas keberadaan Sophie di hidupnya.
"Sophie kamu bahagia terus ya nak. Maaf karena Mommy memisahkan kamu dari Daddy kandungmu," ucap Evelyn lirih.
Setelah beberapa saat Gilbert kembali.
Melihat hal itu, Evelyn langsung pindah ke kursi belakang bersama dengan Sophie.
Gilbert membuka pintu dan melihat Evelyn yang sudah duduk di kursi belakang.
"Ini untukmu dan Sophie," ucap Gilbert sambil menyerahkan sarapan yang dibelinya.
"Thank you," balas Evelyn.
"Sophie, bangun sayang" ucap Evelyn sambil membangunkan Sophie.
"Sophie, ayo bangun nak. Sarapan dulu yuk" ucap Evelyn sambil menepuk pelan pipi Sophie.
Gadis kecil itu tidak peduli dengan gangguan Ibunya. Dia malah tetap bahkan semakin nyenyak tidur.
"Biar aku coba" ucap Gilbert data melihat percobaan Evelyn membangunkan Sophie gagal.
"Silahkan," ucap Evelyn.
Gilbert pergi ke pintu belakang. Dia membisikkan sesuatu kepada Sophie.
Dan dengan cepat Sophie bangun.
"Mana kue ku?" Tanya gadis kecil itu tiba tiba.
"Kue?" Tanya Evelyn bingung.
"Iya, tadi ada yang bilang kalau Sophie gak bangun. Kue Sophie akan dimakan Mommy. Mommy makan kue Sophie ya. Ah Mommy jahat," ucap Sophie marah marah.
"Gilbert, kamu bilang itu sama Sophie?" Tanya Evelyn dengan nada mengintimidasi.
"Maaf, aku hanya ingin mengerjainya. Biasanya dia yang selalu mengerjai semua orang. Awalnya aku hanya mencoba tapi ternyata berhasil" ucap Gilbert dengan nada bercanda.
Evelyn hanya geleng geleng kepala melihat pria satu ini.
"Jadi mana kue Sophie?" Tanya Sophie lagi.
"Nanti kita beli kuenya ya. Sekarang jadi anak baik dan sarapan lah" ucap Evelyn.
"Suapin Mom," ucap Sophie manja.
"Anak Mommy bukannya udah mandiri ya. Mau jadi baby lagi kamu sayang?" Tanya Evelyn lembut sambil membuka tempat sarapan itu.
"Ah, buka mulutmu" ucap Evelyn.
Sophie membuka mulutnya dan makan. Saat ini dia sedang malas bergerak karena baru bangun.
"Anak Mommy kok lesu gitu sih. Biasanya selalu semangat. Selalu Aktif ngusilin orang," ucap Evelyn.
"Disini hanya ada Daddy dan Mommy. Gak ada Tante pelayan atau paman pengawal. Kalau Sophie mau ngerjain Daddy dan Mommy harus berpikir dulu. Nanti Sophie yang dikerjai bukan Mommy atau Daddy," ucap Sophie jujur.
"Itu karena Mommy sama Daddy mu pintar" ucap Evelyn dengan bangga dan tawa kecil di akhir kalimatnya.
Sophie mengunyah makanannya sambil mengerucutkan bibirnya tanda tidak terima dengan ucapan Mommy nya.
"Selesai, ini minumnya" Evelyn memberikan air minum kepada Sophie setelah anaknya itu menelan suapan terakhir.
"Gilbert, biar aku yang menyetir. Kamu pasti lelah menyetir" ucap Evelyn sambil melap bibir Sophie.
"Tapi kamu belum sarapan," ucap Gilbert.
"Aku belum lapar. Nanti saja aku sarapan" ucap Evelyn sambil turun dari mobil dan naik ke kursi pengemudi.
"Baiklah, terserah padamu" ucap Gilbert seraya turun dari kursi pengemudi dan duduk di apung kursi pengemudi.
"Sophie juga mau duduk di depan" ucap Sophie.
Gadis kecil itu merasa terasingkan dengan duduk di kursi belakang.
Sophie berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan.
Gilbert menyambut gadis itu dan mendudukkan Sophie di pangkuannya.
"Siap sayang?" Tanya Evelyn.
"Siap Mom. Sophie udah gak sabar mau main di pantai" ucap Sophie.
Lagi lagi Evelyn hanya bisa geleng geleng kepala.
Anaknya ini seperti tidak pernah ke pantai saja. Padahal dia sering sekali ke pantai.
***
Jangan lupa like dan komen 🤗🤗🤗.
beda dgn IGD, pasien baru akan menerima tindakan, apakah itu mau di oprasi, atau tindakan lainnya, sesuai dgn keadaan pasien, apakah dia gawat, atau luka ringan..