NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Tok... tok... tok!

​Matahari baru saja menyembul dari peraduan, memancarkan bias cahaya yang terasa hangat menyentuh kulit. Jarum jam baru menunjuk ke arah pukul tujuh pagi, tetapi Nadya sudah berdiri anggun di depan pintu. Penampilannya tampak segar dan manis dalam balutan baby doll dress yang dipadukan dengan sepatu kets. Rambut panjangnya yang sepinggang dibiarkan tergerai indah, dipermanis oleh jepitan pita yang menghias helai-helai rambutnya. Uniknya, alih-alih hanya menenteng tas selempang Chanel mewahnya, seonggok kantong kresek berisi bahan-bahan masakan mentah turut memeriahkan gaya modisnya pagi itu.

​Pemandangan kontras justru tersaji saat pintu terbuka.

​Rexsaka berdiri di ambang pintu dengan tampilan yang acak-acakan khas orang baru bangun tidur. Kaus oblong yang sedikit kusut dan rambut yang mencuat ke segala arah menjadi bukti nyata bahwa ia terpaksa menyeret langkah demi menemui sang tamu tak diundang, gadis nekat yang telah berani mengacaukan waktu tidur berharganya.

"Ada apa?" tanya Rexsaka langsung. Nadanya terdengar ketus dan sarat akan kekesalan yang kentara. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh senyuman manis menawan yang terkembang di bibir Nadya.

​Namun, sepasang netra cokelat milik gadis itu justru sedang terfokus ke arah lain. Pandangannya turun, menatap area perut Rexsaka dengan binar lapar yang menggelikan.

​Nadya telanjur terpana, mendadak kehilangan fokus akibat disuguhi pemandangan deretan otot perut Rexsaka yang tercetak samar di balik kaus oblongnya yang sedikit tersingkap. Pasti nyaman banget kalau tidur di sana, batin Nadya menjerit gemas.

Sadar akan arah tatapan kurang ajar gadis di hadapannya, Rexsaka dengan sigap merapikan penampilannya. Ia menarik turun ujung kaus oblongnya yang tersingkap, menutup rapat pemandangan yang baru saja membuat sang tamu terpesona. Tindakan spontan itu seketika membuahkan helaan napas kecewa yang kentara dari Nadya.

​"Jika tidak ada keperluan penting, saya tutup pintunya," ketus Rexsaka dingin, bersiap mendorong daun pintu tanpa berniat ramah sedikit pun.

"Tunggu!" Nadya dengan nekat menahan daun pintu menggunakan bahunya. "Aku mau masak di sini," cetusnya seraya mengangkat kantong kresek di tangannya ke depan wajah Rexsaka, memamerkan hasil jerih payahnya mengelilingi supermarket pagi-pagi buta.

​Termotivasi oleh petuah bijak Mang Juki kemarin, Nadya memang telah membulatkan tekad. Ia rela memerangi rasa malas demi bangun di kala subuh untuk berbelanja, berniat meracik hidangan spesial bagi pria yang dicintainya. Sesuai dengan pepatah lama yang pernah dia dengar, jika ingin menaklukkan hati seseorang, mulailah dari perutnya. Siapa tahu, ketulusan yang ia tuang ke dalam masakan nanti mampu mengetuk hati beku Rexsaka untuk mulai menoleh ke arahnya.

​"Di sini bukan dapur umum yang bisa Anda pakai sesuka hati. Lebih baik Anda pergi dan memasak di rumah Anda sendiri," sahut Rexsaka sedingin es, mulai mendorong daun pintu dengan sedikit penekanan.

​Tidak sudi usahanya patah di tengah jalan, Nadya menolak menyerah. Ia menjatuhkan kantong belanjaannya begitu saja ke lantai, lalu sedetik kemudian langsung menghambur maju dan memeluk tubuh tegap Rexsaka erat-erat.

​"Nggak mau! Pokoknya Nad mau masak di sini!" seru gadis itu gigih. Ia mengunci belitan tangannya di pinggang Rexsaka sekuat tenaga, mengabaikan upaya pria itu yang mulai berusaha melepaskan diri.

​Nadya sudah memperhitungkan segalanya. Jika ia memasak di rumah lalu mengantarkan makanan yang sudah jadi, Rexsaka pasti akan langsung menolak, atau bahkan membuangnya ke tempat sampah. Maka, mumpung Paman Amar, ayah Rexsaka, sedang berada di rumah, Nadya sengaja menumpang masak di sini. Rexsaka sekaku apa pun jelas tidak akan berkutik atau tega menolaknya di depan sang ayah.

"Lepas!" bentak Rexsaka seraya mendorong bahu Nadya, berusaha keras menjauhkan tubuh gadis itu yang menempel erat pada dirinya.

​"Nggak mau, Kak Rex! Biarkan Nadya masak untuk kalian. Kak Rex nggak kasihan sama Paman Amar? Beliau kan masih sakit, pasti belum bisa masak, kak Rex juga kan gak bisa masak" cerocosnya dengan nada manja. Gadis itu seolah lupa bahwa dirinya sendiri pun masih berstatus sebagai pasien yang belum sembuh benar.

​"Saya bisa beli," sahut Rexsaka ketus.

​Ia menunduk, menghujamkan tatapan tajam pada paras ayu di bawahnya. Namun, bukannya takut, Nadya justru dengan lancang menumpukan dagu runcingnya di atas dada bidang Rexsaka. Posisi mereka kini terlampau riskan, begitu intim tanpa sekat, seolah sengaja mengundang salah paham bagi siapa pun yang melihat. Benar saja, di luar gerbang rumah, beberapa ibu-ibu kompleks mulai berkumpul dan saling berbisik heboh.

"Makanan beli itu nggak sehat, Kak Rex! Paman Amar perlu makanan rumahan yang bergizi supaya kondisinya cepat pulih," kilah Nadya, mencari-cari alasan yang terdengar paling masuk akal.

​Jengah dengan tingkah keras kepala Nadya, ditambah kerumunan ibu-ibu di luar gerbang yang kian membeludak dan mulai menebar gosip panas, Rexsaka akhirnya memilih mengalah demi menghindari drama yang lebih panjang. "Lepas, lalu masuk," titahnya pasrah.

​Perintah ketus itu seketika menerbitkan senyum kemenangan yang amat cerah di wajah Nadya. "Nah, gitu dong... dari tadi kek!" sahutnya riang seraya melenggang masuk. Namun, baru beberapa langkah, gadis itu mendadak membalikkan tubuhnya. "Oh ya, Kak Rex, jangan lupa bawa masuk belanjaanku di bawah ya! Nadya mau ketemu Paman Amar dulu."

​Tanpa menunggu jawaban, ia segera berlari kecil menuju koridor dalam, meninggalkan Rexsaka yang hanya bisa memijat pelipisnya menatap kantong kresek di lantai.

Sambil berjongkok untuk memungut beberapa bahan masakan yang sempat tercecer keluar dari plastik, tatapan Rexsaka tak sengaja menangkap siluet seseorang yang mencurigakan di balik pohon. Sosok misterius itu berdiri tak jauh dari kerumunan ibu-ibu, yang seketika langsung bubar teratur karena salah paham, mengira tatapan tajam Rexsaka terarah kepada mereka.

​Padahal, fokus netra hitam pekat Rexsaka sama sekali bukan pada ibu-ibu kompleks tersebut, melainkan tertuju lurus pada sosok asing berpakaian serba hitam dan tertutup yang mengawasinya dari kejauhan. Begitu sepasang netra mereka bersiborok, sosok misterius itu langsung bergerak gesit dan lenyap di balik rimbunnya pohon.

​Mengabaikan firasat buruk yang mulai mengusik benaknya, Rexsaka menutup pintu, melangkah masuk kedapur, Ia meletakkan kantong belanjaan di atas meja, lalu membuka lemari pendingin untuk meraih sebotol air mineral, menegguknya dengan rakus hingga tandas setengah. Pemuda itu bersikap acuh tak acuh, sengaja menulikan telinga dari obrolan hangat antara Nadya dan ayahnya yang entah sejak kapan sudah berada disana meladani obrolan yang menurut Rexsaka tak bermutu dari gadis itu.

​"Mau ke mana, Ka?" tanya Amar saat mendapati putranya bersiap angkat kaki dari ruangan itu.

​"Ke kamar, Yah. Mau mandi," sahut Rexsaka datar tanpa menoleh.

​"Oh, ya sudah."

​"Kak Rex! Mau Nadya masakin apa?" seru Nadya setengah berteriak, mencoba menarik perhatian.

​"Terserah."

​"Ish..." Nadya mendengus gemas, memandangi punggung Rexsaka yang perlahan menghilang di balik tangga dengan perasaan dongkol yang tertahan.

​"Seharusnya Anda tidak perlu repot-repot begini, Non. Apalagi kondisi Non Nadya kan belum pulih benar," ujar Amar, kembali mengutarakan rasa sungkannya atas kebaikan hati anak majikannya yang kini sibuk berkutat di dapur.

​"Nggak apa-apa, Paman. Lagipula Nadya bosan kalau harus makan sendirian di rumah. Papa sama Mama lagi sibuk kerja," dustanya lancar. Padahal, kedua orang tuanya jelas-jelas masih berada di rumah. Tadi pagi, ia bahkan hanya menyelundupkan selembar kertas izin di atas nakas kamarnya agar bisa kabur ke sini.

​Mendengar penuturan tersebut, terselip rasa iba di hati Amar. Sebagai sopir pribadi keluarga mereka, Amar tahu betul bagaimana kehidupan Nadya. Menjadi anak tunggal kaya raya dari seorang ayah pebisnis yang super sibuk, serta ibu yang selalu mengekor ke mana pun sang suami pergi, membuat gadis ini akrab dengan kesepian. Hari-harinya seolah tak pernah lepas dari kata bosan dan sendiri.

​Alasan itu pulalah yang akhirnya melunakkan hati Amar. Ia memilih mengalah, membiarkan Nadya melanjutkan aksinya di dapur, sementara dirinya setia duduk menemani seraya menanggapi setiap celoteh riang dari gadis manis itu.

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!