Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Daniel Prasetyo
"Jadi," gumam ayah Shaquena lirih. Suaranya terdengar sangat lelah. "Sebastian memang sengaja menekan operasional perusahaan kita."
Shaquena membuang pandangannya ke luar jendela.
Jakarta tetap terlihat sibuk seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalanan aspal yang basah sisa hujan. Orang-orang di trotoar berjalan tergesa-gesa. Dunia luar sama sekali tidak peduli bahwa sebuah perang besar baru saja dimulai siang ini.
"Yah."
"Hm?"
"Mulai sekarang, jangan pernah lagi mengajukan pinjaman pendanaan ke bank itu."
Ayahnya menghela napas panjang. "Lalu bagaimana dengan operasional harian pabrik kita?"
"Aku yang akan mencari jalan keluarnya."
Mendengar janji itu, ayahnya langsung menoleh.
"Quena, Ayah tahu kamu putri yang cerdas. Tapi melawan Mahendra Group bukan perkara mudah bagi kita saat ini."
"Aku tidak sedang melawan Mahendra Group, Yah."
"Lalu apa yang sedang kamu lakukan?"
Shaquena menatap wajah ayahnya lurus dari kaca spion tengah. "Aku sedang melawan Sebastian."
Kalimat itu membuat kabin mobil kembali dikuasai keheningan. Stefanus yang sejak tadi fokus menyetir hanya melirik sekilas melalui kaca spion.
Begitu sampai di unit apartemen, Shaquena langsung berjalan menuju area ruang kerja kecil yang baru mereka tata berdua semalam. Ia membuka layar laptopnya. Jarinya bergerak sangat cepat mengetikkan sesuatu di atas keyboard.
Stefanus menyandarkan bahunya di ambang pintu kamar.
"Apa yang sebenarnya sedang kau cari?" tanya Stefanus memecah kesunyian.
"Orang."
"Siapa?"
"Daniel."
Kening Stefanus berkerut tipis. "Daniel siapa?"
"Daniel Prasetyo."
Shaquena masih terus mengetik tanpa mengalihkan pandangannya dari layar yang menyala.
"Dia seorang analis keuangan," lanjut Shaquena.
"Apakah dia teman lamamu?"
"Bukan."
"Lalu kenapa tiba-tiba kau mencarinya sekarang?"
Shaquena menghentikan gerakan jarinya.
Memori kehidupannya yang pertama kembali berputar.
Nama Daniel Prasetyo hampir tidak pernah muncul di media cetak mana pun sebelumnya. Pria itu hanyalah seorang analis muda yang bekerja di sebuah perusahaan investasi berskala kecil di pinggiran ibu kota.
Sampai tiga tahun kemudian, situasi berubah drastis. Seluruh dunia bisnis mengenal namanya. Kemampuan Daniel membaca dan membedah laporan keuangan hampir tidak pernah meleset sedikit pun.
Daniel mampu menemukan manipulasi data bernilai miliaran rupiah hanya dalam waktu beberapa jam kerja. Kehebatannya membuat Mahendra Group pernah secara langsung mencoba merekrutnya untuk masuk ke jajaran petinggi.
Sayangnya, saat tawaran itu datang, Daniel sudah lebih dulu menandatangani kontrak bekerja untuk perusahaan kompetitor. Dan sosok Daniel itulah yang menjadi salah satu alasan utama Sebastian gagal memenangkan beberapa proyek akuisisi besar di masa lalu.
Shaquena masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana Sebastian pernah mengamuk membanting gelas kristalnya ke dinding hanya karena kalah analisis dari pria muda tersebut. Kalau di kehidupan kali ini ia bisa menempatkan Daniel di pihaknya lebih cepat, maka ia akan memenangkan pertarungan melawan suaminya ini dengan lebih mudah.
"Saat ini ia belum lulus kuliah," jawab Shaquena santai.
Stefanus tampak semakin heran. "Kau kenal seorang mahasiswa yang bahkan belum lulus?"
Shaquena tersenyum tipis penuh rahasia. "Tidak. Tapi aku tahu masa depannya."
Satu jam kemudian, mobil sedan itu berhenti di kawasan Universitas Indonesia. Koridor Fakultas Ekonomi masih terlihat ramai dipenuhi mahasiswa yang baru selesai mengikuti jadwal perkuliahan siang. Sebagian mahasiswa berjalan membawa laptop. Sebagian lagi duduk berkelompok di tangga gedung sambil berdiskusi.
Shaquena berjalan sambil memperhatikan kondisi sekelilingnya. Tempat ini hampir tidak berubah sama sekali di ingatannya. Dalam kehidupannya yang pertama, ia pernah beberapa kali diundang menjadi pembicara seminar bisnis di kampus ini mewakili perusahaan suaminya. Kali ini, tujuannya datang ke mari benar-benar berbeda.
"Bagaimana cara kau akan menemukannya di keramaian ini?" tanya Stefanus yang berjalan di sampingnya.
"Kalau ingatanku tidak salah..."
Shaquena menoleh ke arah papan informasi jadwal mahasiswa.
"...Daniel selalu menghabiskan waktunya di ruang riset fakultas."
Mereka berdua mulai menyusuri koridor panjang. Belum sampai lima menit mereka berjalan, terdengar suara keributan yang cukup bising dari ujung lorong fakultas. Beberapa mahasiswa tampak berkerumun. Suasana di ujung sana jauh lebih ramai dan tegang dibandingkan dengan bagian kampus lainnya.
"Ada apa di sana?" gumam Stefanus pelan.
Shaquena otomatis mempercepat langkahnya. Semakin dekat jarak mereka, suara perdebatan dua orang pria itu terdengar semakin jelas di telinga.
"Kamu masih berani membantah ucapan saya?" tegur sebuah suara berat.
"Itu sama sekali bukan data palsu, Pak."
"Lalu kenapa hasil akhirnya bisa sangat berbeda dari kunci jawaban saya?"
"Itu karena saya memakai metode perhitungan yang berbeda."
"Itu hanya alasanmu saja."
Kerumunan mahasiswa yang menonton mulai berbisik-bisik satu sama lain.
"Kasihan sekali dia..."
"Padahal Daniel itu mahasiswa yang sangat pintar."
"Pintar sih memang pintar, tapi desas-desusnya katanya dia curang saat menganalisis."
Langkah Shaquena langsung terhenti kaku. Daniel. Wanita itu menatap lurus menembus ke tengah kerumunan mahasiswa tersebut.
Seorang pemuda jangkung yang mengenakan kemeja putih sederhana berdiri tegak di depan seorang dosen paruh baya. Wajahnya terlihat pucat. Namun, sorot mata pemuda itu tidak memancarkan ketakutan sedikit pun. Mata itu hanya memancarkan kemarahan.
"Pak," kata Daniel menahan gejolak emosinya, "silakan Bapak periksa ulang seluruh data mentah saya."
"Saya sudah memeriksanya."
"Berarti Bapak seharusnya tahu bahwa tidak ada satu pun angka yang saya ubah secara ilegal."
Dosen paruh baya itu mendengus meremehkan.
"Justru hasilmu mencurigakan karena perhitungannya terlalu sempurna."
Mahasiswa di sekitar mulai saling berpandangan canggung. Shaquena mengamati wajah Daniel lebih lama dari jarak aman. Pemuda ini persis seperti deskripsi yang ia ingat.
Rambut hitamnya sedikit berantakan. Kacamata minusnya berbingkai tipis. Sikap tubuhnya menunjukkan bahwa ia bukan pemuda yang pandai bersosialisasi. Tetapi kualitas otaknya sangat luar biasa.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?" bisik Stefanus di dekat telinga istrinya.
Shaquena belum ingin menjawab pertanyaan itu. Ia memilih untuk terus mendengarkan perdebatan tersebut. Kemudian dosen itu mengangkat sebuah map kertas ke udara.
"Mahasiswa pintar lain setidaknya membutuhkan waktu dua minggu penuh untuk menganalisis dan menyusun laporan ini."
"Lalu?" tantang Daniel.
"Kamu hanya menyelesaikan laporan ini dalam tiga hari."
"Mengerjakan lebih cepat itu bukan sebuah kesalahan."
"Tetapi durasi waktumu itu sama sekali tidak masuk akal."
Daniel menarik napas sangat panjang.
"Kalau saya mampu bekerja lebih cepat dari rata-rata, apakah itu berarti saya otomatis melakukan kecurangan?"
"Tentu saja curang kalau semua datanya dimanipulasi dari awal."
"Itu adalah tuduhan yang tidak berdasar."
"Itu adalah fakta lapangan."
"Mana buktinya?"
Lorong ruangan kembali hening. Beberapa mahasiswa penonton mulai saling melirik. Wajah mereka terlihat mulai meragukan pemuda itu.
Karena rupanya sejak perdebatan dimulai, sang dosen memang hanya melontarkan tuduhan. Pria paruh baya itu sama sekali tidak pernah menunjukkan bukti fisik kecurangan yang dituduhkan.
Dosen itu tiba-tiba meninggikan volume suaranya. "Jangan pernah berani mengajari saya, Daniel!"
"Saya sama sekali tidak bermaksud mengajari Anda."
"Kalau begitu akui saja perbuatanmu."
"Saya tidak akan pernah bisa mengakui sesuatu yang tidak pernah saya lakukan."
Tatapan mata Shaquena sontak berubah menjadi sangat dingin. Perdebatan ini sama persis.
Ini persis seperti runtutan sejarah di kehidupannya yang pertama. Daniel memang pernah terjerat sebuah skandal manipulasi data saat masih menempuh bangku kuliah. Pemuda itu sempat menghilang total dari dunia akademik selama beberapa bulan lamanya karena dijatuhi sanksi. Baru setelah beberapa tahun berlalu, namanya muncul kembali dan membersihkan masa lalunya.
Berarti, peristiwa di depan matanya ini adalah titik awal skandal tersebut. Kalau Shaquena membiarkan semuanya terjadi seperti alur masa lalu, Daniel akan kehilangan masa depannya untuk sementara waktu.
Dan Sebastian akan kembali mendapatkan keuntungan tanpa perlawanan dari analis jenius ini.
Shaquena mulai mengingat-ingat potongan memori lebih keras. Siapa sebenarnya nama dosen paruh baya itu?
Siapa?
Beberapa potongan ingatan buram bermunculan satu per satu. Pertemuan di seminar ekonomi. Tumpukan draf laporan. Rapat petinggi Mahendra Group. Lalu, sebuah nama muncul di kepalanya.
Arman. Profesor Arman.
Di dalam kehidupannya yang pertama, pria paruh baya bersuara berat itu pernah menjadi konsultan keuangan tidak resmi bagi Sebastian.
Hubungan kerja sama kotor mereka memang sengaja tidak pernah dipublikasikan. Namun, Shaquena pernah melihat sendiri dengan kedua matanya saat Sebastian makan malam privat bersama profesor tersebut beberapa kali.
Jadi, kejadian skandal mahasiswa ini sama sekali bukan sebuah kebetulan alam.
Tatapan Shaquena langsung mengeras menahan amarah. Sebastian sudah mulai membersihkan dan menyingkirkan semua orang yang memiliki potensi untuk mengganggu jalan bisnisnya kelak. Mantan suaminya itu bahkan sudah membidik korbannya sejak mereka masih berstatus mahasiswa rendahan.
Stefanus memperhatikan perubahan drastis pada ekspresi wajah istrinya.
"Kau mengenal dosen tua itu?" tanya Stefanus pelan.
Shaquena mengangguk pelan.
"Dia bukan orang yang baik."
Sementara itu, Profesor Arman kembali membuka map di tangannya dengan gestur mengintimidasi.
"Karena kamu terus bersikeras menolak mengaku..."
Pria itu menatap lurus Daniel dengan wajah datar yang memuakkan.
"...maka saya akan langsung melanjutkan kasus manipulasi ini ke meja sidang etik fakultas."
Kerumunan mahasiswa langsung berdengung gaduh.
"Sidang etik?"
"Gawat sekali..."
"Kalau sampai masuk meja sidang etik..."
Daniel mengepalkan kedua tangannya yang berkeringat dingin di sisi paha.
"Saya siap maju ke sidang."
"Kamu sangat yakin dengan jawaban itu?"
"Saya sama sekali tidak bersalah."
Profesor Arman mengukir seutas senyum yang sangat tipis.
"Saya justru merasa senang ada mahasiswa sepertimu yang sangat percaya diri dengan kemampuannya."
Nada bicara profesor itu terdengar ramah di telinga, tapi sorot mata pria paruh baya itu sama sekali tidak tersenyum.
Shaquena sangat mengenali jenis ekspresi palsu tersebut. Itu adalah ekspresi seseorang yang sedari awal sudah mengetahui pasti hasil akhir dari permainannya. Profesor itu sudah menyiapkan semuanya di balik layar.
Daniel sedang dijebak hidup-hidup.
Salah seorang staf administrasi fakultas datang berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka. Wanita itu membawa beberapa lembar berkas baru.
"Mohon maaf mengganggu, Prof."
Profesor Arman mengambil map baru tersebut dari tangan staf. Ia membuka dan membacanya sebentar. Pria itu lalu mengangguk puas.
"Baiklah."
Daniel masih berdiri tegak tanpa bergeming satu sentimeter pun.
"Apa sekarang keputusan akhirnya sudah dibuat sepihak sebelum saya diberikan kesempatan untuk didengar pembelaannya?" tanya pemuda itu berang.
Profesor Arman menutup map kertas perlahan.
"Pihak kami sudah mendengar cukup alasan dari mulutmu."
"Tetapi saya belum pernah diberi kesempatan untuk membeberkan penjelasan teknis saya."
"Penjelasan panjang lebarmu sama sekali tidak akan bisa mengubah bukti yang ada."
"Bukti apa yang Bapak maksud?"
Profesor Arman mengangkat lembaran kertas itu tinggi-tinggi.
"Ini adalah draf hasil pemeriksaan awal kami."
Daniel langsung mengulurkan tangan meminta kertas tersebut.
"Saya berhak melihatnya langsung."
Namun, dosen itu justru dengan cepat menarik kembali berkas tersebut dari jangkauan Daniel.
"Kamu akan melihatnya nanti di dalam ruang sidang."
"Kenapa Bapak tidak memperlihatkannya pada saya sekarang juga?"
"Karena itu tidak perlu dilakukan saat ini."
Alasannya sangat sederhana. Karena bukti itu memang tidak pernah ada. Yang terjadi di koridor ini hanyalah sebuah skenario manipulasi yang dirancang dengan rapi. Praktik ini persis sama seperti jebakan bisnis yang dilakukan Sebastian kepada ayahnya pagi tadi.
Mereka sengaja menciptakan sebuah masalah lebih dulu. Lalu mereka akan menawarkan solusi penuh kepalsuan. Menghancurkan reputasi dan martabat seseorang berkeping-keping. Agar kelak orang tersebut tidak punya pilihan lain selain menyerah dan berada di bawah kendali mereka.
Shaquena menggenggam tali tasnya sangat erat. Tidak akan ia biarkan.
Kali ini ia menolak keras untuk membiarkan sejarah berulang. Ia tidak akan membiarkan Sebastian menghancurkan satu nyawa lagi.
Hanya saja, sebelum kaki Shaquena sempat bergerak maju untuk membantu pemuda itu, pintu ruang sidang akademik di ujung koridor berderit terbuka.
Seorang wakil dekan keluar dari ruangan itu bersama dua dosen senior lainnya. Profesor Arman segera melangkah menghampiri mereka. Percakapan tertutup mereka berlangsung sangat singkat. Obrolan itu bahkan tidak sampai satu menit lamanya.
Lalu pria yang menjabat sebagai wakil dekan itu menoleh ke arah posisi Daniel. Ekspresi wajahnya sedatar papan.
"Daniel Prasetyo."
"Iya, Pak."
"Keputusan pimpinan menyatakan, mulai hari ini..."
Koridor fakultas itu mendadak sunyi senyap. Bahkan suara bisik-bisik mahasiswa lain langsung ikut menghilang.
"...kamu resmi dijatuhi hukuman skorsing akademik sementara waktu sampai proses investigasi etik ini selesai."