Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Geng Neon
Niel sedang duduk santai di warung belakang sekolahnya. Sebatang rokok terselip di jemarinya sambil menikmati waktu luang setelah kena hukuman. Nggak lama kemudian, satu per satu teman-temannya berdatangan.
"Yoo, Bro. Lo kenapa bolos nggak ngajak kita?" tanya Marel sambil menarik kursi.
"Gimana mau ngajak? Kalian udah belajar, gue masih kena hukuman," jawab Niel santai.
"Lo nggak lengkap lagi?" tanya Ethan, wakil ketuanya.
"Yoi. Jadinya gue kena hukum sama si Alden sama si Naya."
Sontak tiga cowok itu langsung kaget.
"Serius lo? Naya kena hukum juga? Atributnya nggak lengkap atau telat?" tanya Azka penasaran.
"Topinya nggak ada, jadi gue kena hukum sama dia."
Mereka bertiga saling pandang seolah nggak percaya.
"Nggak heran lagi sih gue. Secara pas balik libur seminggu kemarin aja dia udah berubah, udah nggak sama kayak dulu lagi. Nggak gampang ditindas," ucap Ethan, membuat yang lain mengangguk.
"Tapi sejak gue tahu dia Mont yang ngalahin gue kemarin itu, gue jadi sedikit curiga sama dia," ucap Niel.
Tatapan ketiga temannya langsung tertuju padanya.
"Kenapa?" tanya Marel penasaran.
Niel mengembuskan napas pelan.
"Lo tahu sendiri Naya nggak bisa bawa motor. Lah ini cewek tiba-tiba ngaku dirinya Queen of Racing. Aneh, kan?"
Mereka bertiga langsung terdiam memikirkan ucapan itu.
"Iya juga ya. Secara terakhir gue denger kabar, dia habis jatuh dari lantai dua. Seminggu kemudian udah baik-baik aja, nggak ada apa-apa," ucap Azka.
"Dan juga gue sering mergokin dia di belakang perpustakaan. Nggak tahu dia nyari apaan, tapi akhir-akhir ini gue nggak pernah lihat dia lagi di sana," lanjut Niel.
"Jangan-jangan dia lupa ingatan?" celetuk Azka.
"Atau transmigrasi," sambung Marel.
"Mana ada kayak gitu, kocak," balas Ethan, membuat dua orang itu terkekeh.
"Ya bisa jadi, kan. Sebenarnya dia udah meninggal, terus sekarang tubuhnya diisi jiwa lain," ucap Azka ngelantur.
"Kayak cerita yang sering dibaca adik gue. Cewek bad girl meninggal karena kecelakaan, terus jiwanya malah masuk ke tubuh cewek cupu," timpal Marel.
"Habis itu dia balas dendam. Widih, mantap ini mah. Udah kayak cerita fiksi aja hidup kita," lanjut Azka.
"Nggak usah ngelantur. Nggak ada di dunia nyata kayak gitu," bantah Niel.
Belum sempat mereka melanjutkan obrolan, tiba-tiba Vano berlari dari arah samping dengan wajah panik.
"Bosss!" teriak cowok itu dari kejauhan.
Mereka langsung menoleh.
"Kenapa sih lo? Mukanya panik gitu," ucap Ethan kaget.
"Itu sekolah kita diserang sama Jaegar! Mereka ada di depan sana!" ucap Vano ngos-ngosan.
Empat cowok itu langsung berdiri.
"Anjing! Ngapain sih tuh bocah ke sini?" umpat Niel kesal.
Sementara itu, di area depan sekolah sudah terjadi kericuhan. Banyak siswa dan siswi yang ketakutan lalu memilih kabur menjauh dari lokasi.
"MAJU LO, KETUA BLAZE! GUE NGGAK TAKUT SAMA LO, ANJING!" teriak Jaegar dari kejauhan.
Anak-anak Neon masih sibuk melempar batu dan kayu ke arah sekolah, membuat suasana makin kacau.
Di sisi lain, Nara, Rora, dan Asha sebenarnya sedang berencana makan siang di Kantin 1.
"Gue enaknya makan apa ya?" ucap Rora saat mereka berada di dalam lift.
"Kita beli yang jangan pedes deh sekarang. Asam lambung Naya tadi kambuh," ucap Asha.
"Udah deh, guys. Gue nggak apa-apa kok, udah aman gue mah," jawab Nara santai. Memang kondisinya sudah jauh lebih baik.
"Siapa yang nolongin lo tadi?" tanya Rora penasaran.
"Alden."
"WHAT? SERIOUSLY?" tanya Rora kaget.
"Iya, dia yang rawat gue tadi," jawab Nara dengan senyum tipis.
Sedangkan Asha malah senyum-senyum sendiri.
"Ada kemajuan di hubungan mereka," ucap Asha dalam hati.
Saat pintu lift terbuka dan mereka baru saja keluar, ternyata banyak siswa dan siswi malah berlarian naik ke tangga.
"Ada apaan sih?" ucap Nara bingung.
"SEMUANYA NAIK KE LANTAI ATAS ATAU PERGI KE BELAKANG SEKOLAH, SEKARANG!" teriak Kevin memberi instruksi.
"JANGAN ADA YANG KELUAR SEBELUM KEADAAN SEKOLAH JADI AMAN!" teriak salah satu anggota OSIS lainnya.
Tiga cewek itu langsung panik.
"Ada apa sih?" gerutu Nara penasaran.
Rora segera menghentikan salah satu siswi yang hendak naik ke atas.
"Ada apa?" tanyanya.
"Itu di depan sekolah ada tawuran antara Blaze sama Neon. Nggak tahu deh, tiba-tiba aja anak Neon ke sini nyerang sekolah kita," ucap siswi itu sebelum buru-buru pergi.
Mereka bertiga saling menatap cemas.
"Udah yuk, kita ke atas aja," ucap Asha takut.
"Lo nggak mau lihat Niel berantem?" tanya Rora.
"Nggak ah, takut. Nanti aja kalau mereka udah selesai tawuran, baru aku samperin dia," jawab Asha.
Sedangkan Nara masih diam. Otaknya langsung bekerja cepat setelah mendengar nama Neon disebut.
"Brengsek tuh Neon," umpat Nara dalam hati.
"Guys, sini," ucap Nara tiba-tiba sambil membawa mereka kembali ke lift.
Ia membuka pintu lift lalu mendorong dua temannya masuk.
"Tunggu gue di lantai tiga. Gue nggak bakal lama kok, oke? Bye!"
Sebelum Rora dan Asha sempat bereaksi, Nara langsung menekan tombol penutup pintu.
"Eh, loh, loh, Nay! NAYAA!" teriak Rora panik.
Ia buru-buru mengambil kartu aksesnya untuk membuka kembali lift itu, tapi sayangnya sudah terlambat.
"Duh, si Naya ini, aelah..." gerutu Rora.
Sedangkan Asha hanya bisa berdiri cemas, nggak tahu harus melakukan apa lagi.