Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅
Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!
Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.
Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.
Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.
Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Menyesakkan
Keesokan paginya.
Suasana pagi ini seharusnya membawa kehangatan, namun bagi Ellea, pagi hanyalah babak baru dari sandiwara melelahkan yang harus ia mainkan. Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata. Pikirannya terus berputar, terperangkap di antara rasa bersalah karena membohongi suaminya dan rasa perih menyadari betapa mudahnya pria itu membuka celah untuk wanita lain.
Ellea berdiri di depan cermin wastafel, merapikan letak cadar hitamnya dengan jemari yang terasa sedingin es. Di saku baju sekolahnya, ponsel yang ia gunakan untuk menyamar sebagai 'Syafa' kembali bergetar pelan. Dengan tarikan napas berat, ia merogoh saku dan menyalakan layar.
Benar saja. Sebuah pesan dari Albiru sudah bersarang di sana sejak pukul enam pagi.
“Pagi, Syafa. Btw, elo sekolah di mana sekarang? Kapan-kapan, bisa dong kita ketemu.”
Ellea menatap deretan kalimat itu dengan dada yang berdenyut nyeri. Suaminya, pria yang bahkan tidak pernah menyapanya dengan ucapan selamat pagi yang layak sejak mereka menikah, kini dengan begitu mudahnya memberikan perhatian manis itu kepada sosok fiktif. Ellea mematikan layar ponselnya tanpa membalas. Ia memasukkan kembali benda pipih itu ke saku terdalam bajunya, mengunci rapat-rapat identitas rahasianya sebelum melangkah keluar kamar menuju dapur.
Di ruang makan keluarga yang mewah itu, aroma roti panggang dan kopi hitam sudah menguar memenuhi udara. Mahira dan Rendra sudah lebih dulu berangkat ke kota lain karena ada urusan mendadak di perusahaan cabang, meninggalkan tiga anak muda itu dalam kecanggungan yang tak kasat mata.
Albiru duduk di kursi kebesarannya di ujung meja. Pria itu sudah rapi dengan kemeja sekolahnya yang lengannya digulung hingga ke bahu, menampilkan aura maskulin yang selalu berhasil mengintimidasi siapa saja. Namun pagi ini, bukan sarapan di hadapannya yang menjadi fokus utamanya. Netra elangnya terus terpaku pada layar ponsel, jemarinya sesekali mengetuk meja dengan ritme tidak sabar, menunggu balasan yang tak kunjung datang.
Dari arah tangga, Alisa turun dengan seragam sekolahnya yang pas badan. Gadis itu langsung menarik kursi di sebelah Albiru, meraih selembar roti, dan mengoleskan selai stroberi dengan kasar. Matanya menyipit, memperhatikan gelagat aneh kakaknya yang sejak tadi sibuk mengutak-atik ponsel sambil sesekali berdecak kesal.
Saat Ellea datang dari arah dapur membawa semangkuk buah-buahan segar, Alisa langsung menangkap sosok kakak iparnya itu. Dengan gerakan mata yang cepat, Alisa melirik ke arah Albiru, lalu menoleh ke arah Ellea, mengirimkan sinyal pertanyaan tanpa suara.
“Gimana, Kak?”
Ellea yang memahami arti tatapan itu hanya bisa menghela napas tipis. Ia menata mangkuk buah di tengah meja, lalu membalas tatapan Alisa dengan sorot mata lelah yang menyiratkan banyak hal.
"Nanti ... kakak ceritain di kantin sekolah saja," bisik Ellea nyaris tanpa suara, hanya mengandalkan gerak bibir saat ia berdiri membelakangi Albiru.
Alisa mengangguk mengerti. Ia kembali mengunyah rotinya sambil pura-pura tidak peduli. Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama.
"Alisa," panggil Albiru tiba-tiba, suaranya memecah kesunyian ruang makan dengan nada menuntut.
Alisa menelan kunyahannya dengan susah payah, menoleh dengan kening berkerut. "Apa sih, Kak? Pagi-pagi udah manggil-manggil pakai nada ngegas gitu."
Albiru meletakkan ponselnya di atas meja. Wajah tampannya terlihat sedikit ditekuk, memancarkan rasa frustrasi yang tak disembunyikan.
"Si Syafa, teman lo itu, dia sekolah di mana sekarang? Kenapa chat gue dari semalam cuma dibaca seadanya, dan pagi ini malah nggak dibalas sama sekali? Dia nggak lagi sakit, kan?"
Mendengar rentetan pertanyaan itu, Alisa hampir saja tersedak rotinya. Gadis itu terbatuk pelan, sementara tangannya buru-buru meraih segelas susu. Matanya melotot menatap kakaknya dengan pandangan tidak percaya. Di sisi lain, Ellea yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelasnya seketika menegang. Tangannya sedikit gemetar, membuat percikan air nyaris tumpah ke taplak meja. Jantungnya berdegup kencang bak genderang perang.
"Astaga, Kak Al!" pekik Alisa setelah berhasil menguasai dirinya. "Kakak nanyain teman Alisa sebegitunya banget? Ya mana Alisa tahu dia udah bangun atau belum! Lagian, wajar dong kalau dia nggak langsung balas, dia kan anak sekolah sama kayak kita, pasti lagi sibuk siap-siap.”
Albiru mendecak kesal, mengabaikan sindiran tajam adiknya. "Gue cuma tanya dia sekolah di mana, ya siapa tahu nanti bisa berangkat sekolah bareng. Lo sebagai temannya masa nggak tahu?”
"Nggak! Nggak usah aneh-aneh deh, Kak!" cegah Alisa cepat, kepanikannya mulai tergambar jelas. "Kakak jangan bikin Syafa risi, ya. Dia itu orangnya tertutup, nggak suka didekati cowok agresif modelan Kak Al begini."
Albiru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuh yang mendominasi. "Oke, kalau lo nggak mau ngasih tahu dia sekolah di mana, lo suruh aja dia main ke sini nanti sore. Please, gue cuma mau kenal lebih dekat.”
“Dasar ya, Kak Al emang playboy cap cicak!” cibir Alisa kesal.
Gerakan tangan Ellea terhenti di udara. Ia baru saja hendak menarik kursi untuk duduk saat kalimat itu meluncur ringan dari bibir suaminya. Mengundang 'Syafa' ke rumah? Mengundang sosok fiktif yang raga aslinya sedang berdiri satu meter darinya? Punggung Ellea menegang, dan tanpa sadar, ia menoleh menatap Albiru dengan sorot mata abu-abunya yang memancarkan luka tersembunyi di balik cadar.
Albiru yang menyadari tatapan istrinya itu bukannya merasa bersalah, justru membalas tatapan Ellea dengan seulas seringai provokatif. Pria itu menopang dagunya, menatap Ellea dengan pandangan menantang seolah sedang bermain-main dengan api.
"Kenapa lo ngelihatin gue kayak gitu, El?" tanya Albiru dengan nada meremehkan. Pria itu sengaja memutar tubuhnya agar sepenuhnya berhadapan dengan sang istri. "Boleh kan kalau Syafa main ke sini nanti sore? Lo nggak keberatan kan, rumah ini kedatangan tamu?”
Suasana ruang makan seketika mendingin. Ketegangan menggantung tebal di udara. Alisa menatap kakak iparnya dengan cemas, setengah mati merutuki ide gilanya semalam yang kini terasa seperti senjata makan tuan. Gadis itu siap menyela, namun suara Ellea yang tenang namun teramat dingin menghentikannya.
"Boleh," jawab Ellea datar.
Satu kata itu meluncur tanpa ragu, meski di dalam dadanya seolah ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk. Ellea membalas tatapan tajam suaminya tanpa gentar. Mata abu-abunya tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan sebuah penerimaan yang pedih.
"Silakan saja, Kak. Lagipula, mengapa harus meminta izin kepadaku?" lanjut Ellea, suaranya teralun pelan. "Ini rumah Kakak sendiri, jadi Kakak bebas melakukan apapun, aku sama sekali tidak memiliki hak untuk melarang siapa pun yang ingin datang... atau siapa pun yang ingin Kakak bawa ke mari."
Jawaban telak itu membuat raut wajah Albiru sedikit berubah. Seringai angkuhnya sempat luntur selama sepersekian detik. Ada sesuatu dalam nada bicara Ellea yang terdengar begitu pasrah, namun entah mengapa justru menyentil egonya sebagai seorang suami.
Namun, sebelum Albiru sempat merespons, Alisa yang sudah kehabisan kesabaran langsung menggebrak meja dengan cukup keras. Brak!
"Kak Al, bener-bener ya! Kakak tuh dasar nyebelin! Nggak punya hati!" bentak Alisa dengan napas memburu, wajahnya memerah menahan amarah yang meletup-letup demi membela kakak iparnya. "Bisa-bisanya Kakak ngomong gitu di depan istri Kakak sendiri? Kakak sadar nggak sih apa yang Kakak lakuin ini salah besar?"
Albiru menatap adiknya dengan kening berkerut dalam, merasa tersinggung dengan teriakan tiba-tiba itu. "Gue cuma nyuruh temen lo main ke rumah, apa yang salah? Lo kenapa jadi emosi begini, Alisha?"
"Yang salah itu niat Kakak!" tunjuk Alisa tepat di depan wajah kakaknya. "Kakak itu udah punya istri! Kak El ini ada di sini, di depan mata Kakak! Terus sekarang Kakak mau tebar pesona sama Syafa? Emangnya Kakak pikir Syafa mau sama suami orang? Jangan mimpi deh! Cewek mana yang mau dijadiin selingkuhan sama cowok brengsek yang nggak tahu cara menghargai istrinya sendiri!"
Namun, alih-alih merasa tertampar oleh ucapan adiknya, Albiru justru tertawa pelan. Tawa yang terdengar sangat merendahkan, penuh dengan kepercayaan diri yang melampaui batas kewajaran. Pria itu berdiri dari kursinya, merapikan letak kerah kemejanya dengan perlahan sebelum menatap adiknya dengan tatapan meremehkan.
"Alisha, adikku yang paling cantik," ucap Albiru. "di dunia ini, nggak ada wanita yang bisa menolak apa yang mereka inginkan jika hal itu terlihat sempurna di mata mereka. Lo tanya apakah Syafa mau sama suami orang?"
Albiru melangkah pelan mendekati posisi Ellea berdiri, lalu berhenti tepat di samping istrinya itu. Ia menatap lekat ke arah Ellea, sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada Alisa dengan seringai penuh kemenangan.
"Tentu aja dia mau," jawab Albiru dengan tingkat narsistik yang nyaris tak masuk akal. "Gue ini tampan, pintar, dan yang terpenting ... gue ini laki-laki yang sangat baik. Dengan semua pesona dan apa yang gue miliki sekarang, siapa yang bakal nolak pesona seorang Albiru? Cewek mana pun pasti akan bertekuk lutut."
Albiru sengaja mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Ellea, menghembuskan napas hangatnya yang berbau mint di dekat telinga wanita berlapis cadar itu.
"Iya kan, istriku? Bahkan elo yang awalnya menolak perjodohan ini pun, pada akhirnya nggak bisa lepas dari gue, kan?" bisiknya pelan, memastikan hanya Ellea yang bisa merasakan getaran dari nada bicaranya yang menusuk.