NovelToon NovelToon
Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar Almeera, menimpa wajah gadis itu. Almeera mengerjapkan matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan luar biasa yang melingkupi tubuhnya, dan... sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya.

Ia mendongak.

Wajah damai Akram yang sedang terlelap berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Lengan cowok itu mengunci tubuhnya dengan sangat posesif. Ingatan tentang apa yang terjadi semalam—ciuman lembut di bawah cahaya remang, pengakuan jujur Akram, dan hilangnya gengsi di antara mereka—langsung membanjiri otak Almeera layaknya film yang diputar dalam kecepatan 2x.

Wajah Almeera meledak semerah kepiting rebus detik itu juga. Jantungnya kembali berpacu liar.

Ia berusaha melepaskan lengan Akram perlahan-lahan, berniat kabur ke kamar mandi sebelum cowok itu bangun. Namun, baru saja ia menggeser bahunya sejengkal, lengan Akram kembali mengencang, menariknya kembali hingga dada mereka bertubrukan ringan.

"Mau ke mana pagi-pagi, hm?"

Suara bariton serak khas bangun tidur itu mengalun tepat di telinga Almeera, membuat seluruh bulu kuduk gadis itu meremang.

Almeera mendongak kaku. Akram sudah membuka sebelah matanya. Senyum miring yang sangat menyebalkan—namun entah kenapa kini terlihat luar biasa tampan—sudah terbit di wajah cowok itu.

"M-mau mandi! Lepasin!" cicit Almeera, menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya. Ia benar-benar tidak sanggup menatap bibir Akram yang semalam... astaga, Almeera! Otak lo!

Akram terkekeh pelan. Tawa renyahnya menggetarkan dada tempat Almeera bersandar. Ia menurunkan selimut yang menutupi wajah istrinya itu dengan jari telunjuknya.

"Malu?" goda Akram terang-terangan. Matanya memancarkan binar kemenangan yang mutlak. "Semalam pas gue cium, lo bales kok. Kenapa pagi ini balik jadi kucing garong lagi?"

"AKRAM SIALAN! DIEM!" Almeera memekik tertahan, memukul dada Akram dengan brutal untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang sudah mencapai level galaksi.

Bukannya kesakitan, Akram justru menangkap kedua tangan Almeera dengan mudah menggunakan satu tangan, lalu mencondongkan wajahnya dan mengecup puncak hidung Almeera dengan cepat.

Cup.

Seketika, Almeera mematung. Protesnya terhenti di tenggorokan.

"Pagi, Sayang," bisik Akram tepat di depan bibir Almeera, kali ini suaranya terdengar sangat tulus, tanpa nada sarkas atau akting sedikit pun. "Ternyata bangun tidur ada lo di pelukan gue itu... nggak buruk juga."

Almeera menelan ludah. Pertahanan hatinya benar-benar hancur lebur tanpa sisa. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang meronta ingin keluar, lalu menenggelamkan wajahnya kembali ke dada Akram.

"Pagi juga, tiang listrik," gumam Almeera teredam.

Di atas kepalanya, Akram tersenyum sangat lebar. Pagi ini, tidak ada lagi garis batas di kasur itu, dan tidak ada lagi dinding di antara mereka.

Pukul 07.30 WIB, Ruang Makan Keluarga Kusuma.

Oma Ningrum menatap kedua cucunya yang baru saja duduk di meja makan dengan kening berkerut, lalu tersenyum penuh arti.

Papa Hendra yang sedang membaca koran, melirik heran melihat Almeera yang sedari tadi menunduk sambil mengaduk teh manisnya dengan wajah bersemu merah. Sementara Akram di sebelahnya terlihat sangat... bercahaya. Auranya lebih rileks, dan tangannya dengan sangat natural mengoleskan selai stroberi ke roti panggang, lalu meletakkannya di piring Almeera.

"Makasih," cicit Almeera pelan tanpa menatap Akram.

"Sama-sama," balas Akram lembut.

Papa Hendra dan Mama Ratna saling melempar pandang. Sebagai orang tua, mereka tahu ada yang berbeda dari 'akting' anak-anak ini pagi ini. Ini tidak terlihat seperti sandiwara. Ini terlihat seperti orang yang sedang kasmaran sungguhan.

"Oma perhatikan dari tadi, kalian berdua ini mukanya cerah banget pagi ini," goda Oma Ningrum sambil menyesap kopi hitamnya. "Almeera pipinya merah terus dari tadi. Akram semalam kasih surprise apa ke istri kamu?"

Uhuk! Almeera tersedak teh manisnya.

Akram dengan sigap menepuk punggung Almeera pelan, lalu menoleh ke arah Oma dengan senyum yang sangat menawan.

"Nggak ada surprise yang gimana-gimana, Oma," jawab Akram santai, meski ekor matanya melirik jahil ke arah Almeera yang sedang memelototinya. "Cuma ngasih hadiah kecil karena ujian Fisika Almeera kemarin dapat nilai 82."

"Wah! 82?!" Papa Hendra langsung menurunkan korannya dengan heboh. "Serius, Al?! Fisika 82?! Kamu nggak nyontek kan?!"

"PAPA!" Almeera mengerucutkan bibirnya kesal. "Al belajar mati-matian tahu tiap malam! Otak Al rasanya mau meledak!"

"Dan sebagai hadiah tambahannya," Akram menyela, mengambil alih pembicaraan, "Hari ini sepulang sekolah, saya mau izin bawa Almeera kencan ke Dufan, Ma, Pa, Oma. Pulangnya mungkin agak malam."

Oma Ningrum mengangguk puas. "Bagus itu. Anak muda memang harus sering-sering jalan berdua biar makin lengket. Bawa mobilnya hati-hati ya, Kram."

"Siap, Oma."

Almeera menoleh menatap Akram. Dufan? Dia beneran nepatin omongannya pas di kafe Kemang waktu itu?

Akram balas menatapnya, mengedipkan sebelah matanya pelan, seolah bisa membaca pikiran Almeera. Sebuah janji manis yang kini akan dieksekusi bukan lagi sebagai musuh bebuyutan, melainkan sebagai seorang laki-laki yang sedang memanjakan gadisnya.

Pukul 15.00 WIB, SMA Bina Bangsa.

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring.

Almeera sedang merapikan tasnya ketika Sophia tiba-tiba melompat ke mejanya dengan mata memicing penuh selidik. Ratu gosip itu memutari Almeera layaknya agen FBI yang sedang menginterogasi tersangka.

"Ada apa sih, Phia?!" risih Almeera, mendorong wajah sahabatnya itu menjauh.

"Lo beda," tuding Sophia dengan telunjuknya. "Dari tadi pagi, aura lo beda. Muka lo berbinar-binar terus, lo nggak misuh-misuh pas ngerjain soal Biologi, dan yang paling parah... lo tadi senyum-senyum sendiri pas lihat Ketos lewat di koridor!"

Wajah Almeera menegang sesaat. "M-masa sih? Perasaan lo doang kali! Orang gue senyum karena inget... inget meme di TikTok!"

"Almeera Azzahra, lo nggak bisa bohongin lambe turah paling update di sekolah ini," Sophia mendekatkan wajahnya, berbisik dramatis. "Kalian berdua udah melakukan 'hal itu', ya?!"

"SOPHIA GILA! JAGA MULUT LO!" Almeera memekik histeris, memukul lengan Sophia dengan buku tulisnya. "Kita nggak ngapa-ngapain! Pikiran lo kotor banget sih!"

"Ya terus kenapa lo kelihatan bucin banget hari ini?!" tuntut Sophia sambil tertawa.

Sebelum Almeera sempat menjawab, suara bariton serak dari ambang pintu kelas memotong obrolan mereka.

"Al? Katanya mau kumpul bentar bahas jadwal pensi?"

Devan berdiri di pintu, menyandarkan tubuhnya dengan gaya kasual. Senyum ramah khasnya terukir, namun matanya memancarkan ketertarikan yang tak ditutup-tutupi pada Almeera.

Suasana di kelas yang tadinya ramai mendadak sedikit hening. Anak-anak yang masih tertinggal di kelas tahu betul tentang insiden di kantin tempo hari.

Almeera menyandang tas ranselnya, lalu berjalan menghampiri Devan. Sophia membuntuti dari belakang karena penasaran.

"Sori, Dev. Hari ini gue nggak bisa ikut kumpul. Titip jadwalnya aja ya ke Nino, nanti gue baca di grup," jawab Almeera ramah namun tegas.

Devan mengerutkan kening. Ia maju selangkah. "Sibuk? Belajar lagi sama si Ketos tiran itu? UTS kan udah kelar, Al. Masa hidup lo masih disetir sama dia?"

Pertanyaan Devan kali ini terasa sedikit melewati batas. Ada nada meremehkan yang ditujukan untuk Akram, dan entah kenapa, mendengar suaminya direndahkan seperti itu membuat ego bar-bar Almeera tersulut.

Almeera menegakkan dagunya. Matanya menatap lurus ke arah Devan tanpa keraguan sedikit pun.

"Gue nggak disetir sama siapa-siapa, Dev," jawab Almeera dingin. Suaranya cukup keras hingga terdengar oleh beberapa siswa di dekat mereka. "Gue nggak bisa kumpul karena hari ini gue mau kencan ke Dufan sama cowok gue."

Devan tertegun. Senyum di bibirnya perlahan memudar. "Lo beneran sesuka itu sama dia? Gue kira rumor fake dating itu..."

"Nggak ada yang fake," potong Almeera mantap. Mengingat kecupan di keningnya tadi pagi, hati Almeera dipenuhi keberanian. "Gue suka sama dia. Banget. Jadi please, Dev, kita temenan sebatas urusan band aja. Gue nggak mau pacar gue salah paham."

Hening. Sophia di belakang Almeera nyaris bertepuk tangan menahan pekikan bangga.

Devan menatap Almeera lama, mencari kebohongan di mata gadis itu, namun yang ia temukan hanyalah keyakinan absolut. Cowok ber-mullet itu akhirnya menghela napas, tersenyum kecut, lalu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

"Oke. Message received, Nyonya Ketos," kekeh Devan pahit. "Kalian emang pasangan yang... unik. Have fun di Dufan."

Devan berbalik dan berjalan pergi menuju ruang band.

Almeera membuang napas lega. Ia baru saja akan berbalik ke arah Sophia ketika tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menyelusup ke pinggangnya dari arah belakang.

"Jawaban yang bagus, Sayang."

Wangi mint dan musk itu mengunci Almeera. Akram ternyata sudah berdiri tepat di belakangnya entah sejak kapan, bersandar di dinding koridor dengan senyum miring yang paling mematikan yang pernah Almeera lihat. Matanya berkilat penuh kebanggaan dan rasa posesif yang telah terpuaskan.

Akram menunduk, berbisik tepat di telinga Almeera hingga membuat Sophia yang melihatnya langsung pura-pura sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya saking baper-nya.

"Gue denger semuanya," bisik Akram dengan nada bariton yang bergetar rendah. "Gue suka sama dia. Banget. Itu kalimat paling merdu yang pernah keluar dari mulut bar-bar lo, Al."

Almeera memejamkan mata, merutuki nasibnya yang ketahuan bucin di depan orangnya langsung. Telinganya merah padam.

"B-bisa nggak sih lo nggak usah nguping pembicaraan orang?!" omel Almeera, berusaha melepaskan diri, tapi Akram justru menggenggam tangannya erat-erat, menautkan jari-jari mereka di depan umum.

"Ayo. Kita punya banyak wahana buat ditaklukin sore ini," Akram menarik tangan Almeera, menuntun gadis itu berjalan menyusuri koridor utama dengan langkah bangga layaknya seorang raja yang baru saja memenangkan mahkotanya.

Pukul 16.30 WIB, Dunia Fantasi (Dufan), Ancol.

Cuaca sore itu cukup cerah, dengan angin laut yang berhembus menyejukkan. Suara jeritan histeris dari berbagai wahana berpadu dengan musik khas Dufan yang ceria.

Almeera menatap wahana raksasa di depannya dengan mata berbinar-binar penuh tantangan. Wahana Tornado yang sedang memutar balik manusia-manusia di atasnya dengan kecepatan tinggi.

Ia menoleh ke arah Akram yang berdiri di sebelahnya. Cowok itu sudah berganti mengenakan kaos hitam polos dan celana jeans, kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Ketampanannya sukses membuat beberapa rombongan siswi SMA lain curi-curi pandang sejak tadi.

"Gimana, Bapak Ketos yang terhormat?" tantang Almeera sambil bersedekap. "Berani naik itu? Atau lo mau nyerah sekarang dan kita naik komedi putar aja kayak anak TK?"

Akram menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menatap Almeera dari balik lensa dengan senyum meremehkan. "Nantangin gue? Lo lupa siapa yang menang main arcade waktu itu?"

"Itu karena lo curang! Kalau urusan adrenalin, gue jagonya!"

"Oke. Kita taruhan lagi," Akram mencondongkan tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan Almeera. "Siapa yang teriak paling kencang di atas sana, dia yang kalah."

"Taruhannya apa?!" ego Almeera langsung tersulut.

Mata hitam Akram menatap bibir Almeera sekilas. Senyumnya berubah menjadi sangat licik. "Kalau gue menang... lo harus manggil gue 'Sayang' seharian besok, di depan anak-anak band lo."

Mata Almeera membelalak ngeri. Memanggil Ketos tiran ini 'Sayang' di depan Nino dan kawan-kawan?! Harga dirinya sebagai drummer garang bisa hancur lebur!

"Dan kalau gue yang menang," balas Almeera tak mau kalah, matanya memicing, "Lo harus beliin gue merchandise Arctic Monkeys edisi limited yang harganya bikin dompet lo nangis, plus bawain tas gue seharian di sekolah!"

"Deal." Akram menyodorkan kelingkingnya.

Almeera menautkan kelingkingnya dengan kelingking Akram, menyegel perjanjian sakral tersebut. "Awas aja kalau lo sampai nangis di atas sana, Kram."

Lima belas menit kemudian, mereka sudah duduk di kursi wahana Tornado, pengaman bahu yang tebal mengunci tubuh mereka. Jantung Almeera mulai berdebar—setengah karena excited, setengah karena gugup.

Akram di sebelahnya terlihat sangat tenang, bahkan sempat merapikan rambutnya sebelum wahana mulai bergerak.

Mesin berderu. Perlahan, kursi panjang itu terangkat ke udara.

Saat wahana mencapai puncak dan tiba-tiba menghempaskan mereka ke bawah dengan putaran 360 derajat secara brutal, suara jeritan histeris pecah dari puluhan pengunjung.

Almeera memejamkan mata, merasakan gravitasi menarik perutnya. Ia berusaha mati-matian menutup mulutnya agar tidak berteriak. Tahan, Al! Tahan! Demi harga diri di depan anak NOISE! batinnya berteriak.

Wahana kembali memutar mereka secara ekstrem, kali ini berhenti tepat di posisi terbalik di udara. Darah mengalir deras ke kepala.

Di tengah keheningan mencekam sebelum wahana dijatuhkan lagi, sebuah tangan besar dan kokoh tiba-tiba meraba sandaran tangan Almeera, dan langsung menggenggam telapak tangan gadis itu dengan sangat erat.

Almeera membuka matanya dengan terkejut. Ia menoleh ke kiri dengan susah payah karena posisi mereka sedang terbalik.

Akram menatapnya. Rambut cowok itu berantakan melawan gravitasi, namun matanya menatap Almeera dengan sangat tenang, memancarkan senyum hangat yang meluluhkan seluruh ketakutan Almeera.

Dalam posisi terbalik di ketinggian puluhan meter, di tengah riuhnya jeritan orang-orang, Akram Pradana menggenggam tangan Almeera seolah berkata bahwa di mana pun mereka berada, seburuk apa pun putarannya, ia tidak akan pernah melepaskannya.

Wahana dijatuhkan dengan kecepatan penuh ke bawah.

Dan kali ini, Almeera tidak lagi menahan teriakannya. Ia berteriak sekencang-kencangnya, melepaskan segala beban, melepaskan seluruh gengsinya, sambil mengeratkan genggaman tangannya pada tangan suaminya.

Ya, Almeera kalah taruhan hari ini. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kalah dari Akram Pradana adalah kemenangan termanis yang pernah ia rasakan.

1
Sri Musdalefi
dasar orang tua ngak punya otak...
Khusnul Khotimah
bukannya Shofia sudah tahu yah rahasia pernikahan waktu ngasih sufres ke apartemennya.
ini kok baru tahu apa kakak salah tulis atau lupa .maaf ya kak cuma mengingatkan kan saja
Aidil Kenzie Zie
sampai jumpa di cerita selanjutnya thor 🥰🥰💓💓💓
Aidil Kenzie Zie
bukannya Shopia udah tau y tor pas bab21 apa pura-pura aja🤔🤔🤔tapi kok histeris gitu
Khusnul Khotimah: iya di baba 21 kan udah tahu shopia
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
Astaga ini orang tuanya kok ndk ngerti posisi anaknya masih sekolah sich 😡😡
Aidil Kenzie Zie
udah mau lulus ternyata 🤭🤭🤭 kirain masih kls 2🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
nggak usah mikir kariernya Al takutnya kalian di DO dari sekolah gara-gara nikah masih sekolah 😭😭😭tapi kalo pake kekuasaan papanya Akram mungkin masih lolos 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Al terima aja perlakuan Akram disekolah toh wajarlah dia kan suami kamu 🤣🤣🥰🥰
Murni Dewita
👣
Aidil Kenzie Zie
bukannya begitu mereka masuk pintu dikunci?kok datang oma bilangnya nggak dikunci apa pake remote y tor🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
penasaran itu si Devan emang siswa murni pindahan atau ada campur tangan Heera🤔🤔
Emi Sudiarni
kren kak critanya
Aidil Kenzie Zie
jangan sampai Akram nekat unboxing kamu Al gara-gara cemburu 🥰🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Heera cari mati 😡😡😡
apa nggak bisa pakai kekuasaan papanya Akram untuk ditoleransi oleh Kepsek tentang hubungan mereka 🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
jujur Al
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Aidil Kenzie Zie
lha si Mak mak nggak paham apa kalo anak sekolah belum boleh nikah kecuali kuliah nggak mungkinkan ngaku kalo mereka suami istri 🤦🏻🤦🏻🤦🏻🤦🏻
Aidil Kenzie Zie
kok Shopia tau tentang Riwayat Bluetooth di Apartemennya mereka 🤔🤔kan dia bukan anak Osis🤔🤔🤔
Enz99
bagus
Aidil Kenzie Zie
kok bisa Shopia masuk ke apartemen mereka 🤔🤔
Moora: Jawabannya ada di bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!