Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gue suka sama lo, Tan
Begitu teks penutup film horor tersebut berjalan di layar, lampu ruang tengah otomatis menyala terang karena Karin menekan sakelar pintarnya lewat ponsel. Cahaya lampu yang tiba-tiba membuat keduanya berkedip menyesuaikan diri.
Arvin perlahan menurunkan tangan kirinya yang sejak tadi bertengger di sandaran sofa, sementara Karin buru-buru membetulkan posisi duduknya yang sempat terlalu mepet dengan bahu tegap cowok itu.
"Udah jam tujuh malam," ucap Karin sambil meraba perutnya yang mulai berbunyi. "Pantesan laper banget. Berondong jagung doang gak cukup ternyata."
Arvin ikut bangkit berdiri, meregangkan badannya yang sedikit kaku. "Tante mau masak lagi?"
Karin meringis sambil menggelengkan kepala. "Males banget, Vin. Badan Tante rasanya encok kelamaan duduk depan laptop tadi siang. Kita pesen makan online aja, yuk? Kamu mau makan apa?"
"Gak usah pesen online, Tan. Di depan kompleks tadi gue lihat ada tukang sate. Biar gue aja yang keluar beli," tawar Arvin sigap.
Mata Karin langsung berbinar mendengar kata sate ayam. "Wah, beneran? Ya udah, Tante titip sate ayam dua porsi, ya. Pake lontong, bumbunya dipisah aja." Karin merogoh saku celananya untuk mengambil dompet, namun tangan Arvin menahannya lembut.
"Gak usah, Tan. Pake uang gue aja dulu. Kan waktu itu udah dikasih Tante lima puluh ribu di rumah Eja," ucap Arvin mengingatkan sambil tersenyum tipis.
Karin terkekeh renyah. "Oh, masih ada? Ya udah, hati-hati ya, jangan ngebut."
Tidak sampai lima belas menit, Arvin sudah kembali dengan dua bungkus sate ayam yang masih hangat. Aroma bumbu kacang dan bakaran arang yang khas langsung menggugah selera saat Arvin membukanya di atas meja makan kecil di dapur. Karin sudah menyiapkan dua piring kosong dan dua gelas teh manis hangat.
Mereka duduk berhadapan. Suasana malam minggu di dapur yang tenang itu terasa sangat intim, hanya ditemani suara denting sendok yang beradu dengan piring.
"Vin, kamu beneran gak dicariin orang tua kamu main sampai malam gini?" tanya Karin di sela-sela makannya.
"Enggak, Tan. Kan gue udah bilang, mereka paling baru pulang besok pagi atau malah senin," jawab Arvin datar, menyantap satenya dengan tenang. "Mereka udah biasa gue gak di rumah."
Karin menatap Arvin dengan sorot mata yang melunak, ada rasa iba sekaligus kagum melihat kemandirian cowok di depannya ini. "Tapi tetap aja, kalau udah pulang dari sini, kamu langsung pulang ke rumah, ya. Jangan keluyuran."
Arvin menghentikan kunyahannya. Dia meletakkan sendoknya, lalu menatap Karin lekat-lekat dari seberang meja.
"Tante... khawatirin aku?" tanya Arvin, suaranya merendah menjadi sangat dalam, membuat atmosfer di dapur mendadak berubah serius.
Karin sempat tersedak pelan. Dia meminum teh manisnya terburu-buru untuk menetralkan rasa gugupnya. "Ya... ya iyalah. Kan kamu ke sini mainnya sama Tante. Kalau kamu kenapa-napa di jalan, nanti Tante yang repot disalahin sama mama kamu." Karin mencoba mencari alasan yang logis.
Arvin tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Dia memajukan sedikit tubuhnya di atas meja, mengunci manik mata Karin dengan tatapan intensnya yang khas.
"Cuma karena takut disalahin? Atau... karena emang Tante peduli sama aku?" kejar Arvin, tidak memberikan celah bagi Karin untuk menghindar lagi seperti hari Senin kemarin di rumah Reza.
Pertanyaan telak itu membuat Karin membeku di kursinya. Jantungnya kembali berdegup kencang, persis seperti saat mereka terjebak mati lampu di kamar tempo hari.
Karin terkekeh pelan, mencoba mencairkan ketegangan yang mendadak menguar di antara mereka. Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil menyuap potongan sate terakhirnya.
"Tante khawatir karena kamu temennya ponakan Tante, yang sekarang udah Tante anggap kayak ponakan sendiri," jawab Karin santai, berusaha mengembalikan batasan usia di antara mereka.
Arvin terdiam. Guratan kekecewaan langsung tercetak jelas di wajah tegasnya. Dia benar-benar kurang suka mendengar jawaban diplomatis itu. Arvin meletakkan sendoknya dengan pelan, lalu memperbaiki posisi duduknya. Matanya menatap Karin lurus-lurus, tajam dan sangat intens.
"Tante," panggil Arvin berat.
Karin mendongak, menatap Arvin. "Kenapa, Vin?"
"Gue suka sama lo, Tan," ucap Arvin blak-blakan tanpa ragu sedikit pun.
Karin sempat terpaku sejenak. Namun, sedetik kemudian dia justru menyunggingkan senyum tipis yang terlihat sangat tenang. Dia bangkit dari kursinya sambil membawa piring-piring kotor mereka menuju wastafel dapur.
"Iya, Tante juga suka kok sama Arvin," jawab Karin enteng sambil menyalakan keran air, mulai membilas piring-piring itu.
Arvin menghela napas berat. Nada suaranya berubah menjadi sangat kecewa karena merasa perasaannya sama sekali tidak dianggap serius oleh wanita itu. "Gue serius, Tante."
Karin mematikan keran air, lalu menoleh ke arah Arvin sambil tersenyum hangat. "Tante juga serius, Arvin. Kalau Tante gak suka sama kamu, gak mungkin Tante ngebolehin kamu main ke rumah Tante sesuka hati kayak gini, kan?"
Mendengar jawaban Karin yang masih saja menggunakan kata Tante untuk memposisikan dirinya, Arvin hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pasrah. Karin terlalu pintar mengalihkan situasi, membuat pengakuan tulusnya barusan terasa mentah lagi.
Tik... tik... tik...
Di tengah keheningan dapur yang canggung itu, suara rintik air mendadak kembali terdengar mengetuk atap rumah. Dalam hitungan menit, hujan deras langsung turun mengguyur, persis seperti kejadian minggu lalu.
Karin mengeringkan tangannya dengan kain lap, lalu melirik ke arah jendela luar yang basah sebelum menatap Arvin kembali.
"Eh, hujan deras lagi," ucap Karin. Dia berjalan mendekati meja makan. "Besok hari Minggu, kan? Kamu gak ada acara pagi-pagi?"
Arvin menggeleng pelan. "Enggak ada."
"Ya udah, tidur di sini aja ya malam ini? Lagian hujan deras juga di luar, bahaya kalau kamu pulang ujan-ujanan pake motor kamu itu," tawar Karin tulus.
Arvin menatap Karin sejenak, menimbang sisa kekecewaan di dadanya sebelum akhirnya mengangguk patuh. "Iya, Tan."
Setelah membereskan sisa makan malam di dapur, Karin berjalan kembali ke meja depan TV. Arvin dengan setia mengekor di belakangnya, berjalan lambat tanpa suara layaknya bayangan. Begitu Karin menyalakan laptop dan sebuah bantal sofa sebagai alasnya.
Arvin mengambil posisi duduk tepat di sebelah Karin. Sedetik kemudian, tanpa izin, cowok itu perlahan merebahkan kepalanya, menyandarkan pelipisnya dengan nyaman di atas bahu hangat Karin. Tubuh jangkungnya agak merosot agar posisi sandarannya pas.
Karin sempat menghentikan ketikannya. Dia menoleh sedikit, menatap puncak kepala Arvin yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya. Karin terkekeh pelan, menganggap tingkah manjanya ini sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya dingin dan jantan.
"Kamu tuh... ternyata mirip banget ya sama si Eja," ucap Karin santai, kembali melanjutkan tulisannya di laptop. "Dia itu kalau lagi putus cinta atau galau, suka banget nyender-nyender manja ke Tante kayak gini."
Arvin memejamkan matanya erat di atas bahu Karin. Suaranya terdengar serak dan sedikit berat saat menyahut, "Ya... kan sama, gue juga."
Gerakan tangan Karin kembali terhenti. Dia menunduk, menatap sisi wajah Arvin yang terlihat muram di bawah temaramnya lampu ruang tengah. "Loh? Kamu lagi patah hati juga emangnya?" tanya Karin heran, benar-benar polos tak paham.
Arvin tidak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan sekali di atas bahu Karin, tetap memejamkan matanya rapat-rapat seolah tengah menahan rasa sesak yang menghantam dadanya.
Melihat reaksi murung itu, hati Karin mendadak melunak. Dia kembali menghentikan ketikannya, lalu dengan gerakan yang sangat lembut, tangan kanannya terangkat menyentuh wajah Arvin. Karin mengelus pelan pipi tegas Arvin dengan ibu jarinya, memberikan usapan-usapan menenangkan.
"Uh... kasihan bener ponakan Tante yang satu ini," ucap Karin dengan nada berbisik yang sangat lembut, penuh dengan rasa simpati yang tulus.
Karin terus mengelus pipi Arvin dengan penuh kasih sayang, mengira bahwa cowok di sebelahnya ini sedang bersedih karena ditolak oleh salah satu gadis populer di sekolahnya. Karin sama sekali tidak menyadari, bahwa dialah alasan di balik runtuhnya pertahanan Arvin malam ini di meja makan tadi. Dialah wanita yang baru saja mematahkan hati cowok itu dengan mengemas sebuah pengakuan cinta yang tulus menjadi sekadar candaan antar keluarga.
Sementara itu, Arvin hanya bisa diam menikmati kehangatan telapak tangan Karin di pipinya. Rasanya begitu nyaman, namun di saat yang sama, dadanya terasa sangat nyeri.