ALVINA ....
Itu namaku. Gadis berumur 17tahun baru lulus SMA. Aku yatim piatu yang diasuh oleh seorang wanita berhati mulia bernama Ardhina Devi. Wanita yang rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk membesarkanku, mengorbankan kebahagiaannya demi merawatku dan merelakan cintanya untuk menyayangiku.
Hidupku berubah setelah kepergiannya, ditinggal untuk selamanya oleh satu-satunya orang yang aku sayangi, membuatku seperti kehilangan sebagian diriku.
Ini bukan kisah tentang anak angkat yang mencari siapa dan darimana dia sebenarnya. Tapi ini tentang diriku dan cintaku.
Maaf, jika ada kesamaan nama, karakter dan penggambaran tokoh yang aku ambil. Semua hanya buat pelengkap saja. Semoga suka dan menarik kalian baca sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sita Azzaky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
•Makan Siang bareng Mas Rizal•
Angin di samping Masjid seolah-olah menerbangkan rambut ikalku. Aku ikat rambutku biar nggak acak-acakan. Tiba-tiba aku teringat Fathir yang lebih suka jika rambutku terurai dan menutupi separuh wajahku. Aku hembuskan nafas panjang, bahkan sudah hampir dua bulan dia nggak menghubungiku, tapi aku masih memikirkannya?
Aku ambil ponsel dari tas ranselku. Aku lihat namanya di kontak ponselku. Apa aku harus mencobanya sekali lagi? Apa kali ini dia mau menjawab teleponku?
"Ayo Al!" suara Mas Rizal mengagetkanku. Hampir saja ponselku terlepas dari tanganku. "Lagi mikir apa?" Aku geleng jawab pertanyaan Mas Rizal.
Sampai di Depot Mie Ayam Bakso Lumayan, kami hanya diam. Mas Rizal lebih memperhatikan ponselnya daripada aku. Aku duduk di pojok pinggir jendela depot ini.
"Mau mie ayam atau bakso, Mbak?" Seorang pramusaji datang. Dia menyodorkan buku menu.
"Aku Mie Ayam saja Mbak, nggak pake sayur, kuahnya dipisah ya ... Tambah pentol sama ceker juga ya Mbak. Terus minumnya, ada kunir asem nggak?"
"Kayaknya ada di showcase." Kata pramusaji nunjuk ke arah lemari es besar dengan kaca bening berisi banyak macam minuman kemasan botol.
"Ya udah, nanti bawain aku satu ya Mbak ...." Pramusajinya ngangguk. Aku lihat ke arah Mas Rizal yang masih sibuk dengan ponselnya. "Mas Rizal mau makan apa?" Dia melihatku sebentar lalu melihat ke Mbak pramusajinya.
"Mie ayam nggak pake sayur, kuahnya dipisah. Tambah pentol sama ceker. Minumnya jus alpukat nggak pake susu, nggak pake gula" katanya. Lalu sibuk lagi dengan ponselnya.
Kayaknya benar, aku sama Mas Rizal emang punya selera makan yang sama. Cuma bedanya dia nggak suka gula.
Nggak lama pesanan kami sudah datang. Cacing di perutku mulai unjuk rasa. Bau dari mie ayam ini enak banget!
"Makan dulu yuk Mas ...." kataku sambil memasukkan tiga sendok sambal lalu mengaduk mie ku. Mas Rizal meletakkan ponselnya di sebelah mangkoknya. Dia teguk jus alpukatnya dulu, lalu mengaduk mienya.
Aku sendok mie ku lalu aku celupkan ke mangkok kuahnya, lalu memakannya. Mas Rizal melakukan hal yang sama.
"Udah lama nikah ya?" kata Ibu di meja sebelah.
"Uhuk uhuk uhuk ...." Rasa pedas mie ayam ini nyangkut di tenggorokan, pasti ada saja yang ganggu selera makanku kalau sedang makan bareng Mas Rizal. Aku lihat ke arah Mas Rizal, tusukan garpunya meleset dari pentolnya. Dia juga terlihat salah tingkah.
"Kami saudara Buk." Sahut Mas Rizal sambil menyodorkan jus alpukatnya.
Jus apa ini? Rasanya cuma pahit.
"Itu original, tanpa gula tanpa susu." kata Mas Rizal. Mungkin setelah melihat ekspresiku.
"Ow pantesan, cara makan ma apa yang di makan sama. Si adek niru gaya si Masnya ya?" sahut Ibu itu lagi. Aku sama Mas Rizal saling pandang. Mas Rizal ngangguk sambil tersenyum, males memperpanjang obrolan yang nggak penting menurutnya.
"Apa hubunganmu dengan pacarmu udah membaik?" Pertanyaan Mas Rizal itu sedikit membuatku kaget dan heran. Untung aja mie di mangkokku udah habis.
"Aku dan Fathir belum berkomitmen. Dia bukan pacarku. Hanya saja dia udah dapat izin dari Kak Dhina untuk mendekatiku. Untuk menjalin hubungan yang lebih dari teman."
"So?" Mas Rizal masih bertanya.
"So what? Nggak ada yang perlu diperbaiki karena nggak ada yang rusak." jawabku.
"Kasihan sekali dia, bertepuk sebelah tangan. Bahkan kamu nggak bisa ngerasain cintanya ke kamu." Kata Mas Rizal dengan senyum sinis.
"Cinta? Emang kamu bisa ngeliat?" tanyaku juga sedikit sinis.
"Sedikit peka dan belajarlah membaca keadaan, dia cemburu. Bahkan hanya mendengar namaku dari mulutmu. Apalagi tahu aku mengajakmu main ke rumahku, dia mikir kalau kamu setuju menikah denganku." Mas Rizal ngejelasin apa yang udah aku pahami.
"Aku ngerti. Dia yang nggak mau ngerti. Dia nggak mau dengar penjelasanku, lalu apa salahku?"
"Kalau gitu, boleh kan aku bantu jadi penengahnya? Setidaknya bukan aku alasan kalian putus." Mas Rizal menatapku dalam. Aku mendengkus.
"Putus?" gumamku. Aku belum pernah jadi pacar Fathir. "Terserah kamu aja. Lakukan apapun yang kamu anggap benar. Udah selesai, aku harus pulang, aku takut Kak Dhina mengkhawatirkanku." ucapku.
Mas Rizal berdiri dari duduknya menuju kasir depot. Setelah membayar mie yang kami makan, kami berjalan ke arah tukang tambal ban motorku tadi. Dan lagi Mas Rizal yang bayar tambal ban motorku.
"Pulanglah!" kata Mas Rizal.
"Lalu kamu? Aku antar kamu dulu Mas. Ayo!" kataku sambil menjulurkan kunci motorku. Mas Rizal menolaknya.
"Apa yang Kak Dhina pikirkan tentangku nanti. Dari awal dia udah nggak suka ke aku. Bahkan kamu sampai membuatku bingung, kenapa kamu tiba-tiba marah nggak jelas. Itu karena Kak Dhina menekanmu kan?" Pertanyaan Mas Rizal ini aku jawab dengan diam.
"Ya sudah, makasih ya ... Assalamualaikum" Aku nggak mau membahasnya.
"Waalaikumsalam ... Hati-hati!" katanya. Aku lambaikan tanganku sambil menarik gas motorku.
#######
HBD 😘😘🎉🎉🎂🎂🎁🎁🦀♋🦀♋🌷🌷💜💜😂😂
Welcome Cancer ♋🦀♋HBD Author 🎉🎉🎉🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎂🎂🎂🎉🎉🎁🎁🎁
HBD 🎂🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎁♋♋♋♋♥️♥️♥️♥️🦀🦀🦀🦀💜💜💜💜🌷🌷🌷🌷🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎉🎉🎉🎉
HBD
🎂🎂🎂💜💜💜♋♋♋🦀🦀🦀
🎂🎂🎂♥️♥️♥️🎁🎁🎁🌷🌷🌷
HBD ♋♋♋💜💜💜🎁🎁🎁♥️♥️♥️