Zayn adalah korban bully di sekolah dan di lingkungan rumahnya.
suatu hari Zayn yang sedang dikerjai oleh Clara dan teman-temannya di sebuah rumah kosong yang terlihat tua. Mendadak Zayn dapat melihat hantu setelah terjatuh dari kursi saat hendak mengambil sepatunya yang tersangkut di lampu hias yang tergantung di ruang tamu rumah kosong tersebut.
Zayn yang terjatuh itu pingsan dan setelah siuman, Zayn mendadak dapat melihat hantu cantik si pemilik rumah kosong itu.
Maudy. Ya, nama hantu cantik itu adalah Maudy.
Setelah pertemuan itu keduanya menjalin hubungan pertemanan.
Awalnya pertemanan itu tidak ada ketulusan karena saling ingin memanfaatkan.
tetapi apa jadinya kalau mereka berdua menjadi saling jatuh cinta karena terbiasa bersama?
"Kenapa lo jadi hantu?" tanya Zayn.
"Karena gue masih penasaran sebelum dendam gue terbalas."
"Lalu, setelah terbalas apa yang akan lo lakukan?"
"Gue hilang dari dunia ini, karena itulah perjanjian nya saat dulu gue nolak untuk dibawa ke alam selanjutnya," jawab Maudy.
"Deg," jantung Zayn seolah berhenti berdetak saat mendengar itu.
bagaimana kisah percintaan antara hantu dan manusia kali ini? yuk simak kaka semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode tiga puluh (rencana tetangga)
Nggak ada bosen-nya selalu ingetin kalian buat like setelah baca:)
Happy Reading!
Nilam menepikan mobilnya lalu ia turun dan menghampiri Clara yang terlihat sangat berantakan sedang menatapnya.
"Cla, lo kenapa?" tanya Nilam seraya berlari kecil.
"Hikz...." Clara menjawab dengan tangis.
Ia masuk ke pelukan Nilam dan Nilam mengusap punggungnya.
"Nil, gu-e," ucapnya tercekat, ia menangis pilu menahan semua rasa yang membuatnya sesak.
"Gue pengen mati, Nil," ucap Clara dalam hati, "gue nggak sanggup terus-terusan diteror kaya gini," lanjutnya.
"Kenapa? Lo cerita aja sama gue, Cla. Gue bakal dengerin lo," kata Nilam membuat hati Clara sedikit merasa lega.
"Nil, kalau gue cerita sama lo, apa lo bakal bongkar rahasia gue? Apa lo bisa gue percaya?"
Nilam melepaskan pelukan Clara, ia menjawab akan menjadi teman di masa sulitnya. "Makasih, Nil," ucap Clara seraya kembali memeluk Nilam.
Setelah itu, Nilam membawa Clara masuk ke mobilnya. Ia membawanya ke kafe, dengan telaten Nilam menunggu Clara makan dengan terus menerus melihat kakinya.
"Cla, ayo makan dulu, habis itu kita ke klinik nyokap gue ya, lo pucet banget gue takut lo kenapa-kenapa!"
Clara menggelengkan kepala, ia menolak untuk diajak ke klinik. "Nggak apa-apa, gue bisa jaga rahasia kok," ucap Nilam meyakinkan Clara seraya mengusap punggung tangan Clara dan Clara pun mengangguk.
_____________
Di kampus, Zayn yang sedang berjalan bergandengan tangan dengan Maudy, mereka menghentikan langkah kaki saat mendengar suara seseorang yang memanggil dari belakang. Orang itu adalah Wita.
"Abang, maafin Mamah, ya," kata Wita yang menunduk, ia tak berani menatap wajah tampan Zayn.
"Hm, nggak papa, udah biasa kok," jawab Zayn yang kemudian pergi meninggalkan Wita yang masih berdiri di tempatnya, memperhatikan Zayn dari belakang.
"Minta maaf kenapa, Zayn?" tanya Maudy.
"Biasalah, urusan emak-emak," jawab Zayn.
Sementara itu, Widuri mendatangi rumah paranormal, ia menceritakan soal Zayn.
Lalu, paranormal yang berjenis kelamin perempuan itu memejamkan mata, dan benar saja ia dapat melihat Zayn yang sedang membonceng Maudy membawanya ke kafe cabang.
"Oh, dia bukan pesugihan tapi menjalin kasih dengan mahluk astral," ucapnya setelah membuka mata.
"Apa? Jadi anak ini pacaran sama jin?" tanya Widuri seraya menunjuk foto Zayn.
"Bukan jin, tapi hantu biasa saja, ilmunya pun nggak seberapa," kata peramal terdengar meremehkan.
"Ini tetap nggak benar, Mbah. Bagaimana mungkin manusia menjalin hubungan dengan hantu," kata Widuri seraya bersedekap dada.
"Urusan mereka, kenapa kamu sibuk?"
"Eh, anu Mbah, anakku kesemsem sama cowok ini," jawab Widuri seraya cengengesan.
"Pantes!" jawab si Mbah.
"Mbah, saya bisa minta tolong buat pisahin mereka, sama saya minta mantra buat anak saya biar bisa lihat mereka, udah kadung janji saya mau buktiin kalau ucapan saya ini benar, Mbah?"
"Bisa, tapi maharnya tinggi," jawabnya.
"Berapa, Mbah?"
Si Mbah pun membisikkan berapa jumlah mahar tersebut di telinga Widuri.
"Glek," Widuri menelan salivanya.
"Demi anakmu, ini nggak seberapa," kata si Mbah. Dan akhirnya Widuri pun mengangguk mengiyakan.
"Dan ini, oleskan air ini di mata anakmu, nanti anakmu bisa lihat mahluk astral,"
"Baik, Mbah. Kalau begitu saya permisi, nanti sudah siap mahar saya kembali lagi," ucap Widuri yang kemudian pergi meninggalkan rumah paranormal tersebut.
________________
Setelah dari kafe, Zayn kembali belajar membuat cake di rumah Maudy.
Dan saat keduanya sedang memanggang cake terdengar suara berisik dari luar dan ternyata ada Samuel dan Marina.
"Siapa mereka?" tanya Zayn pada Maudy, keduanya tengah mengintip dari celah tirai pintu dapur.
"Bukan siapa-siapa, mereka nggak penting," jawab Maudy seraya mengerjai Samuel dan Marina, Maudy menggoyangkan lukisan yang ada di dinding juga lampu hias, menyalakan dan mematikan lampu.
"Maudy!" teriak Samuel membuat Maudy menghentikan aksinya.
"Gue susah sekarang, nggak punya tempat tinggal, biarin gue tinggal di sini," kata Samuel yang menundukkan kepala, ia merasa malu harus mengakui kesulitannya pada Maudy.
Sementara itu, Marina menanyakan siapa Maudy.
"Dia pemilik rumah ini, dan kita akan tinggal di sini," kata Samuel seraya menyeret koper, ia berjalan menaiki tangga.
"Apa, mau tinggal di sini?" enak sekali mereka," gerutu Maudy seraya menutup pintu kamar dengan keras tanda menolak kehadiran mereka.
"Pah," lirih Marina menggoyangkan lengan Samuel, keduanya menghentikan langkah di tengah tangga.
"Nggak apa-apa, Maudy itu baik, cuma pecicilan aja, gue yakin dia nggak akan nyakitin kita," kata Samuel yang kemudian mengajak Marina untuk melanjutkan langkah kakinya.
"Kata kamu ini rumah kosong, kenapa bau cake?" tanya Marina seraya melihat ke lantai bawah. Ia merasa merinding.
______________
Di dapur, Maudy menghentakkan kakinya, dan Zayn menanyakan hubungan antara mereka.
"Yang cowok mantan tunangan gue, dan dia yang bunuh gue tepat sebelum hari pernikahan," jawab Maudy, ia mengerucutkan bibirnya.
"Apa, jadi dia?" tanya Zayn yang terkejut.
"Iya."
"Nggak bisa dibiarin," kata Zayn berjalan meninggalkan dapur, tetapi langkahnya terhenti karena Maudy mencekal lengannya.
"Kenapa?"
"Biarin, gue udah nggak dendam sama mereka, cuma gue nggak suka aja liat mereka," kata Maudy, "mendingan lo pulang aja biar mereka jadi urusan gue," lanjut Maudy.
"Tapi cake-nya gimana?
"Nanti gue antar ke rumah," jawab Maudy
"Ok, sayang. Gue pergi dulu ya," kata Zayn yang kemudian mengecup kening Maudy.
__________
Di kamar Maudy, ia melihat kalau Samuel sedang mengganti seprei, dengan sengaja Maudy kembali melepaskan seprei yang sudah rapih itu, dan dengan sabar Samuel memasang kembali seprei tersebut, sedangkan Marina ia yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut dengan apa yang dilihatnya lalu Marina jatuh pingsan saat melihat seprei yang dapat tersingkap dengan sendirinya.
"Aduh, pakai segala pingsan," gerutu Samuel yang kemudian membopong Marina ke ranjang.
_________________
"Apa! jadi lo udah tau?" tanya Clara pada Nilam.
"Iya, waktu itu gue liat lo pergi buru-buru gitu, terus gue tanyain ke nyokap gue," jawab Nilam seraya fokus menyetir.
"Saran gue aja, mendingan lo sama bapaknya tuh janin buat kubur dia baik-baik," tutur Nilam.
"Tapi..., gue nggak tau siapa bapaknya anak gue, Nil," jawab Clara, ia menangis menundukkan kepala, lalu Nilam mengusap punggung temannya.
"Gimana gue mau kubur, Nil. Mungkin itu janin udah dibuang sama nyokap lo."
"Iya emang udah dibuang, tapi udah gue ambil kok, gue pisahin sama janin-janin lainnya."
Setelah itu, Clara mengangguk mengiyakan usul Nilam.
"Jangan lupa, akui juga kesalahan lo sama anak lo, biar dia bisa terima keputusan lo, mana ada sih anak di dunia ini yang mau lahir tanpa bapak."
"Iya, tapi lo tau kerjaan nyokap lo?"
"Tau kok, dan banyak artis-artis yang datang ke nyokap gue, dan gue tau siapa aja mereka, cuma gue nggak bisa ngomong apa-apa, nyokap gue bilang bantu mereka nutupin aib."
Clara menggelengkan kepala mendengar jawaban temannya.
Bersambung.