NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / CEO / Romantis / Cinta setelah menikah / Pengasuh
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.

Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.

Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 PERKATAAN QUEEN YANG POLOS

Setelah puas bermain, langkah mereka berlanjut ke dalam mall besar yang terhubung langsung dengan playground. Suasana di dalam mall ramai namun nyaman, dipenuhi lampu-lampu terang dan suara orang berlalu-lalang.

Queen berjalan di tengah-tengah, menggenggam tangan Ammar dengan satu tangan dan tangan Sari dengan tangan lainnya. Wajahnya ceria, seolah hari itu adalah hari terbaik dalam hidup kecilnya.

Ammar menghentikan langkah di depan sebuah restoran dengan konsep hangat dan elegan.

“Kita makan di sini,” katanya.

Queen mengangguk semangat. “Queen lapar!”

Sari hanya mengangguk kecil, sedikit canggung. Ia jarang bahkan hampir tidak pernah makan di tempat seperti ini.

Mereka masuk. Pelayan mengantar mereka ke meja di dekat jendela. Ammar duduk berhadapan dengan Sari, sementara Queen duduk di kursi kecil di tengah-tengah mereka.

Begitu buku menu diletakkan, Sari langsung menunduk. Ia membuka halaman pertama… lalu kedua… lalu ketiga.

Huruf-huruf asing. Nama makanan yang tidak pernah ia dengar. Ia menelan ludah, jari-jarinya meremas ujung menu.

Ini makanan apa…? batinnya panik.

Ia melirik Queen, lalu melirik Ammar sekilas namun cepat-cepat menunduk kembali. Ia tidak ingin terlihat bodoh.

Ammar memperhatikan. Gerak-gerik itu terlalu jelas untuk tidak ia sadari.

“Tidak perlu bingung,” ucap Ammar tenang, menutup buku menunya sendiri. “Saya pesan saja.”

Sari mengangkat wajahnya sedikit. “T-tapi Tuan...”

“Ini restoran favorit saya,” lanjut Ammar. “Saya tahu mana yang cocok.”

Sari mengangguk pelan. “Baik, Tuan.”

Ammar memesan beberapa menu untuk Queen, untuk Sari, dan untuk dirinya sendiri tanpa bertanya lebih lanjut.

Queen memperhatikan mereka sambil mengayun-ayunkan kakinya. “Papah,” panggilnya tiba-tiba.

“Iya, sayang?”

Queen mencondongkan tubuh ke depan, wajahnya tampak serius dengan cara yang menggemaskan. “Queen mau bilang sesuatu.”

Ammar tersenyum. “Apa itu?”

Queen menarik napas kecil artinya ia sedang memikirkan sesuatu yang penting. “Queen ingin punya adik.”

Kata-kata itu jatuh begitu saja. Tenang. Polos. Namun menghantam keras. Ammar membeku sesaat.

Sari juga terdiam.

Suara mall seolah menjauh, meninggalkan mereka bertiga dalam gelembung kecil yang sunyi.

“A-adik?” ulang Ammar pelan.

Queen mengangguk mantap. “Iya. Biar Queen nggak sendirian.”

Ammar menelan ludah, lalu tersenyum tipis menyembunyikan keterkejutannya.

“Queen…” katanya lembut. “Kalau Queen ingin adik, Queen harus tunggu mamah pulang dulu.”

Queen mengerutkan kening. “Kenapa harus nunggu mamah pulang?”

Ammar menghela napas pelan, memilih kata-kata yang tepat. “Karena… memang harus begitu.”

“Memang harus begitu?” Queen memiringkan kepala.

“Iya,” jawab Ammar sabar. “Tanpa mamah, mana mungkin Queen punya adik.”

Queen terdiam sejenak. Lalu berkata dengan nada yang begitu polos, tanpa maksud apa pun “Kenapa tidak papah dan Kak Sari saja yang memberi Queen adik?”

Jegerrrr.

Kalimat itu menghantam seperti petir di siang bolong.

Sari membeku. Wajahnya pucat

Tangannya gemetar di atas meja, napasnya tertahan. Ia menatap Queen dengan mata membesar tak percaya anak kecil itu bisa berkata sejauh itu. Lalu matanya beralih ke Ammar.

Ekspresi Ammar? Tak perlu ditanya. Wajahnya menegang. Rahangnya mengeras. Matanya membesar sekilas sebelum ia menarik napas dalam-dalam.

“Apa…” gumamnya lirih, lalu segera menahan diri.

Beberapa pengunjung di meja sebelah menoleh untungnya mereka tidak mendengar jelas.

Sari menunduk dalam-dalam. “Ma-maaf, Tuan,” ucapnya cepat, suaranya gemetar. “Queen hanya anak kecil. Saya akan menegur...”

“Tidak,” potong Ammar tegas.

Nada suaranya membuat Sari semakin kaku.

Ammar lalu mencondongkan tubuh ke arah Queen, menatap mata kecil itu dengan serius namun tetap lembut.

“Queen,” ucapnya pelan namun jelas. “Dengar papah, ya.”

Queen menatap Ammar, sedikit bingung melihat wajah ayahnya yang berbeda.

“Papah dan Kak Sari tidak bisa memberi Queen adik,” lanjut Ammar. “Itu tidak boleh. Itu salah.”

Queen mengerjap. “Kenapa salah?”

“Karena Kak Sari bukan istri papah,” jawab Ammar tegas namun hati-hati. “Dan papah punya mamah sebagai istri.”

Queen terdiam. Wajah kecil itu perlahan berubah murung. “Oh…”

Ammar langsung melunakkan nada suaranya. “Queen tidak salah bertanya. Tapi Queen harus tahu batas.”

Ia mengusap kepala Queen dengan penuh kasih. “Queen punya papah dan mamah. Itu sudah cukup.”

Queen menggigit bibirnya. “Queen cuma… nggak mau sendirian.”

Kalimat itu kembali menekan dada Ammar. Ia menarik Queen ke pelukannya. “Queen tidak sendirian. Papah ada. Kak Sari ada. Dan mamah juga sayang Queen.”

Sari duduk membatu.

Hatinya berdebar keras. Malu. Takut. Dan perih bukan karena perasaan, melainkan karena ia sadar betapa mudahnya dirinya diseret ke dalam salah paham yang berbahaya.

Ammar melirik Sari. Tatapan itu bukan dingin.

Bukan marah. Melainkan penuh ketegasan dan kelelahan.

“Sari,” ucapnya rendah. “Kamu tidak salah.”

Sari mengangkat wajahnya perlahan. “Tapi hal seperti ini tidak boleh terulang,” lanjut Ammar. “Kita harus menjaga jarak. Demi Queen.”

Sari mengangguk cepat. “Iya, Tuan. Saya mengerti.”

Makanan memutus ketegangan yang menggantung.

Pelayan datang menghidangkan pesanan.

Queen perlahan kembali ceria ketika melihat makanan favoritnya. Namun sesekali ia melirik Ammar dan Sari seolah mencoba memahami dunia orang dewasa yang terasa rumit.

Ammar menghela napas pelan. Di dalam dirinya, ada rasa bersalah. Bukan pada Sari. Bukan pada Queen.

Melainkan pada dirinya sendiri.

Anakku sampai berpikir sejauh ini… karena rumah ini terlalu sering kosong, batinnya. Ia menatap Queen, lalu Sari dengan jarak yang kini bisa ia rasakan jelas.

Hari itu, Ammar akhirnya benar-benar mengerti

Kehangatan tanpa batas adalah awal dari kesalahan.

Dan sebagai ayahnya tidak boleh gagal menjaga arah, meski hatinya sendiri sedang rapuh.

1
💗 AR Althafunisa 💗
Kaya-kaya koq bisa dimanfaatkan begitu, kagak ada ketenangan, kagak ada kehangatan. Sepi seakan tak punya istri kalau begitu, kenapa ga cerai aja sih 😬
Lintang Edgar: Dilingkup kehidupan orang-orang kaya yang diutamain adalah karier serta kejayaan. Makanya mereka menikah cuma formalitas saja. Sing penting setara duit, urusan hangat, matang, panas dan dingin itu belakangan. 🤣
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
saranku sih pangggil mama aja, soalnya kalau anak sari lahir, trus panggil ammar papa dan sari bunda jatohnya kek.. anaknya sari juga anak tiri/anak angkat karna mengikuti panggilan queen.
Yatiek Widhodho
lanjut thorr
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
selamat ya Sari..
Felycia R. Fernandez
jadi ingat nge liwet dengan teman2 kerja🤍
Felycia R. Fernandez
aku laper jadinya 🤤😆😆😆
Felycia R. Fernandez
mas Ammar donk,masa panggil nama aja
Felycia R. Fernandez
Tetiba membuat nya berdua,eeeh yang salah cuma Ammar sendiri 🤣🤣🤣🤣
gak adil ya Mar...
semangat Mar...
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤦‍♀️😭😭😭😭
Reni Anjarwani
makin seru thor
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Queen kamu akan punya bunda🥰🥰
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yeaaayyy queen punya bunda🥰🥰
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Felycia R. Fernandez
biang kerok,gak bisa nahan nafsu🤬
Felycia R. Fernandez
ikutan 😭😭😭😭😭😭😭
Felycia R. Fernandez
ini datang karena Queen rindu atau sekaligus melamar Sari
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
😥😥😥😥😥😥
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
semoga keluarga Ammar benar² menerima Sari..
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yang kuat ya Sari...
Sweetie blue
Sejauh ini yang aku baca ada pesan yang di taman dalam cerita ini.

jika sudah memiliki suami sebisa mungkin diam di rumah. ngurus suami, anak dan juga rumah. jangan banyak gaya ingin kerja di luar dan mengabaikan kewajiban seorang istri.

kalo semuanya harmonis maka semuanya akan berakhir bahagia terutama restu orang tua. 😍😍

Mudah-mudahan happy ending ya cerita nya thour.. semangat berkaya💪💪💪😍😍😍
Felycia R. Fernandez: Sebenarnya gak gtu juga kk,
istri bole bekerja,aku juga bekerja.cuma kita juga harus ingat kewajiban kita sebagai istri dan ibu.
Sabrina diijinkan Ammar kerja tapi dia kebablasan,malah mentingin kerjaaan dari suami dan anak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!