Di saat Arumi mengalami kesulitan karena ibunya sakit keras, Rina - sang ibu tiri menawarinya uang dalam jumlah besar. Dengan syarat, Arumi harus bersedia tidur dengan calon suami kakak kembarnya.
Tujuh tahun berlalu, seorang anak lelaki berusia enam tahun hadir. Aqeel Elvano, bocah dengan kecerdasan yang luar biasa di bidang kesehatan.
Bagaimanakah nasib Arumi? Dan siapakah Aqeel Elvano? Hanya bisa kamu temukan jawabannya ketika membaca kisah dasyat ini. Happy reading....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menggodanya
"Tentu, tentu saja aku Alena. Jika bukan Alena lalu siapa lagi hmm?" Arumi mencoba menggoda David, ia pun memajukan tubuhnya mendominasi seperti yang dilakukan David padanya tadi.
Beberapa langkah mundur itu membuat David terjatuh di atas sofa, tak ingin jatuh sendiri David pun menarik tangan Arumi, hingga tubuh Arumi jatuh tepat di atasnya.
Arumi terkejut dengan gerakan mendadak David. Ia pun memberontak saat David memeluk tubuhnya hingga tak bisa lepas. Untuk sesaat mata mereka saling memandang dan bertemu, Arumi yang masih bisa menguasai pikiran nya mencoba untuk mengalihkan pandangannya dan perhatian David.
"Sayang, bukankah kau baru datang. Aku buat kan kopi untukmu ya," ujar Arumi mengalihkan perhatian David sembari mencoba untuk melepaskan diri.
"Aku tidak ingin kopi. Aku ingin susu punyamu!" ucapan fulgar itu keluar dari mulut David.
Arumi kembali menajamkan pendengarannya, dia tidak salah dengar bukan? Seorang David Baskoro pemilik rumah sakit internasional dengan sikap dingin nan tegasnya. Berbicara fulgar seperti itu?
"Apa kau bilang?" Wajah Arumi memerah menahan malu. Walaupun ia berperan sebagai Alena, tetapi tetap saja ia tak akan terbiasa berinteraksi dengan David.
"Sepertinya istri ku begitu menyukai ucapanku barusan. Baiklah, Aku ulangi sekali lagi. Aku tak ingin kopi tapi aku ingin susu mu!"
"Yak, David kau mesum sekali!" Arumi langsung bangkit dari tubuh David. Namun, David lebih sigap. Ia kini lebih mengeratkan pelukannya.
"Kau jangan terus memberontak. Jika itu kau lakukan aku bisa saja melakukan hubungan suami istri di sini."
"Jika begitu lepas kan aku!" Arumi berusaha untuk melawan. Mencegah bila David serius melakukan ucapannya.
"Kenapa? Kita sudah lama tak melakukannya. Apa kau tak menginginkannya?"
"Aku ... aku belum mandi," cetus Arumi sumringah. Berharap David akan melepaskannya. Meskipun alasan yang terucap dari mulutnya itu terdengar begitu konyol.
"Aku tidak peduli." David menekan tangannya yang melingkari di punggung Arumi. Mengikis jarak diantara keduanya.
"Lepaskan aku David." Arumi memukul-mukul dada bidang David. Tidak. Ia tak mungkin melayani suami orang!
Davis terkekeh pelan melihat reaksi Arumi yang dianggap sebagai Alena yang tampak panik. "Diamlah. Aku hanya ingin menghirup aroma tubuh mu yang nampak familiar saat tujuh tahun yang lalu," ujar David tak tega terus menggoda Arumi. Ia menarik nafas dalam-dalam. Menghirup aroma wangi dari ceruk leher Arumi.
Arumi melotot tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Aroma tubuh tujuh tahun yang lalu? Jantung arumi berdebar kencang. Pikirnya menjadi tak karuan. Untuk sesaat Arumi membiarkan David melakukan apa yang ia mau, pikirannya terfokus pada masa lalu.
***
Di rumah sakit, Alena berjalan mondar-mandir seperti setrikaan. Perasaannya menjadi gusar sejak David berpamitan untuk pergi ke apartemen guna mengambil pakaian Aqeel.
"Astaga Alena, kau ceroboh sekali. Seharusnya kau menyuruh Arumi untuk segera pergi dari sini, tapi kau begitu fokus pada anak sialan ini." Alena memijat pangkal hidungnya, merutuki kebodohannya.
"Bagaiman kalau David bertemu Lulu? Oh astaga. Bisa habis riwayatmu Alena." Gadis itu tampak berpikir keras. Berharap Arumi bisa tanggap untuk menghadapi situasi.
Arumi menggigit bibir bawahnya. Ia takut jika David bertemu dengan Arumi. Bisa saja saudara kembarnya masih tinggal di sana. David yang sejak kemarin merasa ada yang janggal padanya akan bertambah curiga.
"Kau kenapa, terus berjalan seperti itu? Apa kau tidak capek?" Cetus Aqeel yang dibuat pusing sendiri melihat Alena.
"Diamlah," ketus Alena. Sejak kemarin ia menjaga Aqeel dan sudah jengah bersikap sok manis. Ditambah mendengar anak itu yang cerewetnya setengah mati membuat dirinya kesal.
"Hei, aku hanya bertanya. Kenapa kamu marah?" Kesal Aqeel tak terima. Toh dirinya bertanya baik-baik. Kenapa bundanya harus semarah itu?
"Diamlah. Ibu sedang pusing," tutur Alena dengan nada tak suka. Beruntung di sana tidak ada David. Jadi ia bisa sedikit melampiaskan kekesalannya pada bocah itu hari ini.
Aqeel semakin cemberut mendengar jawab kasar ibunya. Ia sampai tak sadar bila ada yang aneh dengan kalimat yang keluar dari mulut wanita itu.
"Dasar wanita tua," gumam Aqeel perlahan memejamkan matanya. Di sana mereka hanya berdua, melihat bundanya yang tak berselara bicara membuatnya bosan.
"Bun. Dimana Mama Lulu?" Ujar Aqeel lagi.
"Kau ini. Bukankah aku sudah menyurumu untuk diam? Kenapa kau banyak bicara? Lebih baik kau banyak istirahat biar cepat sembuh. Kau tahu biaya rumah sakit mahal." Ucap Alena panjang lebar. Sejak tadi konsentrasinya berpikir selalu buyar mendengar ucapan anak itu. Kini Alena mengganti panggilan dirinya menjadi bunda, meniru panggilan yang seperti Aqeel ucapkan untuk memanggilnya.
Melihat bundanya yang begitu tak suka saat ia berbicara. Kali ini Aqeel benar mengunci mulutnya. Ia tak berani menyahuti ucapan Alena. Ia merasa bersalah telah membebani ibunya.
Hati Aqeel sakit, tetapi memang benar ucapan Arumi. Biaya rumah sakit mahal sedangkan ibunya hanya memiliki gaji yang pas-pasan untuk makan.
Huuh. Alena menghela napas berat. "Sabar Alena, kau masih membutuhkan dia, selama David belum mengambil keputusan." Batinnya yang sadar bila harus menjalani peran sebagai Arumi yang lemah lembut.
Alena mendekati ranjang Aqeel. Mendudukan pantatnya yang di pinggiran ranjang. "Aqeel, sayang. Maafkan Bunda ya. Tadi bunda sedang banyak pikiran," ucap Alena merubah nada bicaranya.
Aqeel masih pura-pura tertidur. Ia malas untuk berbincang dengan bundanya.
"Aqeel, kau mau kan maafkan bunda?" tanya Alena lagi. Ia pun mengelus kepala Aqeel membangunkan anak itu.
Dalam benak Alena berpikir, bisa gawat kalau David datang dan melihat Aqeel merajuk padanya. Penyamarannya bisa terbongkar kalau Aqeel mengadukan sifat kasarnya pada David.
"Ayolah. Bunda minta maaf," tutur Alena masih berusaha membujuk Aqeel.
Aqeel perlahan membuka matanya saat merasakan ketulusan dari suara bundanya. "Baiklah. Kali ini aku akan memaafkan mu."
Alena tersenyum lega. "Terima kasih sayang." Gumamnya dengan hati dongkol.
"Aku lapar bun," ucap Aqeel.
"Kau mau makan apa?"
"Apa saja." Jawab Aqeel cuek seperti bisa.
Alena tampak menibang sebentar, diliriknya macam-macam buah segar yang berada disampingnya. Netranya tertuju pada buah berwarna merah, strawberry.
"Aqeel, bagaimana jika kau makan buah ini?"
"Itu buah apa Bun?" tanya Aqeel polos karena ia memang tidak bisa mengenali jenis-jenis makanan. Apapun yang disediakan Arumi dan Lulu itulah yang akan ia konsumsi dan Aqeel percaya itu semua demi asupan gizinya.
"Tentu saja ini buah terenak dan terlezat di dunia ini. Rasanya agak asem-asem manis." Jelas Alena meyakinkan Aqeel. Karena menurut Alena memakan buah itu yang sangat muda tanpa harus mengupasnya.
Aqeel sudah membuka mulutnya dan buah itu akan segera masuk ke dalam. Namun, tiba-tiba ada orang yang berteriak.
"Hai, apa yang kau lakukan!"