Echa dan teman-temannya harus kembali terlibat dengan pembantaian ilmu hitam yang merajalela dan semakin memiliki kekuatan besar.
Takdir selalu saja menuntun Echa dan teman-temannya untuk memusnahkan ilmu hitam, namun bagi mereka ilmu hitam itu sudah seperti akar pohon, meskipun pohonnya di tebang tapi akarnya masih tertanam didalam tanah.
Semakin hari teror semakin mengintai mereka. Datang dari seorang wanita misterius yang kembali bangkit dari masalalunya, dia ingin membalaskan dendam atas perbuatan Echa dan teman-temannya di masalalu.
"Mereka harus merasakan apa yang aku rasakan. Terutama rasa sakit."
Dendam, kecewa, sakit hati, amarah yang ada di dalam hati wanita misterius itu tidak pernah padam. Bahkan, tujuannya hanyalah satu.
"Aku hanya ingin melihat mereka.. Mati."
Akankah Echa dan teman-temannya berhasil mengungkap siapa akar dari teror yang mengintainya selama ini atau bahkan mereka yang akan mati penasaran?
On IG: @ry_riuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|29| KEMBALI
Pagi hari telah tiba, Echa sudah bersiap-siap menjalankan tugasnya untuk membantu Mutiara mempersiapkan acara besok, acara paling penting dalam hidup Mutiara.
"Jam berapa?" Tanya Echa pada dirinya sendiri sambil melihat jam dinding yang ada dikamar.
"Baru jam 6." Jawab Echa yang kini melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk melihat sudah sampai mana persiapan yang telah dilakukan Nurmala dan Ferdinan.
Semuanya sudah hampir 70% selesai, dekorasi terlihat begitu sangat elegan dan mewah.
"Tante Mala." panggil Echa yang melihat Nurmala sedang merapikan beberapa vas bunga.
"Eh Ca, Kenapa pagi banget bangunnya? Yang lain mana?" Tanya Nurmala sambil tersenyum manis kearah Echa.
"Caca pengen bantuin beres-beres disini jadi bangunnya pagi, kalau yang lain mungkin masih tidur." Jawab Echa sambil melangkahkan kakinya kearah Nurmala.
"Semua dekorasi udah selesai kok, semalem Tante gak tidur banget, capek ternyata ngurusin kayak gini." Ucap Nurmala sambil melihat dekorasi sesuai dengan ekspektasi nya.
"Tante Mala tidur aja, nanti kalau sakit gimana? Jaga kesehatan, bentar lagi kan Kak Tiara mau nikah, Tante harus jaga kesehatan." Ujar Echa yang melihat mata Nurmala berkaca-kaca, mungkin saja Nurmala sedih sekaligus bahagia secara bersamaan.
Sedih karena harus melepas Mutiara dan bahagia karena Mutiara sudah berada ditangan yang tepat.
"Kak Tiara pasti bahagia sama Kak Vero, Caca aja yang setiap hari ketemu sama Kak Tiara suka iri." Ucap Echa sambil tersenyum manis.
"Iri kenapa?" Tanya Nurmala.
"Caca selalu ngeliat kak Tiara bahagia banget kalau deket sama Kak Vero, Kak Vero selalu tau segala hal mengenai kak Tiara. Beruntung banget Kak Tiara jaga jodohnya sendiri." Jawab Echa.
"Tante juga lega ngelepas Tiara sama Vero. Dan mungkin nanti rumah ini bakalan sepi, gak bakalan ada suara Tiara yang ngalahin suara Tante kalau udah teriak." Ucap Nurmala sambil menghapus air mata yang baru saja menetes. Dia tersenyum manis mengingat Mutiara kecil. Berlari padanya dari kejauhan, menyebutnya sebagai Mama.
Tapi kini dia harus melepaskan anak sematawayangnya itu, pergi bersama lelaki yang jelas akan membahagiakannya.
"Maaf ya, Tante terlalu bahagia sampai nangis kayak gini." ucap Nurmala sambil mengelus bahu Echa.
"Gak apa-apa Tante, nangis aja, selagi itu tangisan bahagia kenapa harus di pendem? Caca ngerti kok perasaan seorang ibu ketika harus ngelepas anak gadisnya." ujar Echa.
"Makasih udah dengerin curhatan Tante yang ngelantur, kamu juga beruntung dapet Bara dan Bara juga beruntung miliki kamu. Kalian saling melengkapi, Tante tunggu undangannya ya." Ucap Nurmala sambil mengelus lembut rambut Echa dan tersenyum manis.
"Iya Tante." Ujar Echa.
"Tante tidur dulu sebentar, kalau kamu mau tidur, tidur aja gak apa-apa. Yang lain juga biarin tidur, mereka pasti capek." Ucap Nurmala.
"Iya Tante, Caca mau liat-liat dekorasinya, bagus banget." Ujar Echa sambil melihat sekeliling rumah yang sudah diberi hiasan sangat mewah.
"Iya, Tante pergi dulu ya." pamit Nurmala sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Echa yang kagum dengan dekorasi pertunangan Mutiara. Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sebelum Nurmala melangkahkan kakinya pergi.
Ini baru acara pertunangan sudah sangat mewah sekali, apalagi acara pernikahan mungkin akan menjadi pernikahan yang sangat mewah.
Echa melangkahkan kakinya menuju ruang kumpul, dia melihat banyak sekali orang yang sedang mempersiapkan sovenir.
"Non Caca kenapa kesini? Ini masih pagi non." Ucap salah satu pembantu bernama Surti. Bi Surti ini salah satu teman dari Bi Neni, jadi tidak aneh jika Bi Surti mengenal Echa bahkan sebelum Mutiara mengenal Echa.
"Gak apa-apa bi cuman mau liat aja, Caca boleh bantuin gak?" Tanya Echa sambil duduk disebelah Bi Surti.
"Kalau non Caca mau silahkan aja." Jawab Bi Surti. Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia membantu mempersiapkan beberapa sovenir bersama dengan Bi Surti yang membimbing dirinya.
"Gimana kabar Bi Neni sama Ibu?" Tanya Bi Surti.
"Bi Neni sehat kok, Ibu juga. Mereka baik-baik aja." Jawab Echa.
"Bibi udah lama gak ketemu Bi Neni, pengen banget tapi disini lagi sibuk." Ucap Bi Surti.
"Bi Surti bisa kok main kapan-kapan kesana, Bi Neni juga dirumah suka sendirian, ibu suka berangkat ke kantor pagi-pagi, pulang juga palingan malem." Ujar Echa.
"Non Caca gak dirumah?" Tanya Bi Surti.
"Gak bi, Caca tinggal di apartemen Deket kampus, kalau berangkat dari rumah jauh banget." Jawab Echa.
"Jaga diri baik-baik ya." Ucap Bi Surti.
"Iya Bi, makasih ya." Ujar Echa sambil tersenyum manis. Bi Surti menganggukkan kepalanya sebagai jawaban membalas senyuman Echa tak kalah manis.
"Ca." Panggil seseorang.
Echa langsung melihat ke sumber suara yang memanggil namanya.
"Kenapa Om?" Tanya Echa yang melihat orang itu adalah Ferdinan.
"Pagi-pagi banget bangunnya, yang lain udah bangun?" Tanya Ferdinan.
"Gak tau om, kayaknya belum." Jawab Echa.
"Bangunin hiu udah hampir jam 9." Ucap Ferdinan.
"Iya om." Ujar Echa sambil berdiri dari duduknya.
"Bi Caca permisi dulu ya." pamit Echa.
"Iya non." Ucap Bi Surti. Echa melangkahkan kakinya pergi keluar dari ruang kumpul itu bersama dengan Ferdinan.
"Nanti kalau bangunin Tiara, tolong bilang abis mandi ke ruang keluarga bentar." Ujar Ferdinan.
"Iya om." Ucap Echa.
"Om ke ruang keluarga dulu." Ujar Ferdinan. Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Ferdinan yang mendapat jawaban seperti itu mengelus rambut Echa lembut sambil melangkahkan kakinya pergi menuju ruang keluarga.
Sedangkan Echa melangkahkan kakinya menuju kamar teman-temannya untuk membangunkannya.
Bruk..
Echa tak sengaja menabrak punggung seseorang karena terlalu fokus pada layar ponselnya.
"Eh, maaf." ucap Echa sambil melihat orang tersebut.
"Algi." ujar Echa.
"Caca." ucap Algi.
Algi adalah mantan pacar dari Echa, itu dulu. Echa tidak tahu kenapa Algi bisa dirumah mutiara.
"Kenapa disini?" Tanya Echa kaget ketika sang mantan ada dihadapannya.
"Aku sepupunya Tiara. Kamu siapa?" Tanya Algi.
"Caca temennya Kak Tiara." Jawab Echa yang masih tidak percaya bahwa Algi adalah saudara sepupu Mutiara.
Bisa gawat jika Bara mengetahui Echa berkomunikasi seperti ini bersama dengan Algi.
"Ternyata dunia sempit ya. Apa jangan-jangan kita jodoh ya?" Tanya Algi sambil tersenyum.
"Apaan si, udah ah Caca ke atas dulu." Jawab Echa sambil melangkahkan kakinya menuju tangga. Namun Algi dengan cepat mencekal tangan Echa, mau tak mau Echa memberhentikan langkahnya.
"Gak kangen gitu?" Tanya Algi dengan tatapan yang Echa lihat penuh dengan rindu yang selama ini dia pendam.
Echa diam tak berkutik mendengar pertanyaan itu, dia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Jika saja dia bicara, sangat membencinya, itu pasti akan menyakiti hatinya.
"Ca.." panggil Algi kini menggenggam tangan Echa.
Echa yang melihat tangannya di genggam oleh Algi itu langsung melepaskannya dengan lembut dan hati-hati.
"Maaf.." ucap Echa.
"Tapi Ca, aku mau perbaiki semuanya." ujar Algi ketika Echa melepaskan genggaman tangannya.
"Semuanya udah baik-baik aja kan? Gak ada yang perlu di perbaiki lagi. Semua udah selesai." ucap Echa.
"Aku mau mulai semuanya dari awal lagi." ujar Algi.
"Maaf.. Caca gak bisa." ucap Echa sambil melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Algi yang terus menatap kepergian Echa.
"Nyesel banget dulu pernah nyia-nyiain kamu Ca." ujar Algi menatap punggung Echa yang sedang memasuki kamar.
Echa melangkahkan kakinya menuju kamar Hanin untuk membangunkannya, dia juga ingin bercerita sedikit tentang apa yang baru dia temui.
"Nin." Panggil Echa sambil membuka gorden kamar.
"Hm.." gumam Hanin tanpa membuka matanya.
Keadaan Hanin sudah baik-baik saja, dia sudah pulih seperti biasanya. Tidak mengerikan seperti malam.
"Udah baikan?" Tanya Echa.
"Hanin gak ngerasa sakit apa-apa." Jawab Hanin dengan suara khas orang bangun tidur.
"Kepala gak sakit? Padahal itu kepala muter sampai 180." Ucap Echa.
"Enggak sakit kok, biasa aja. Kayak gak terjadi apa-apa." Ujar Hanin yang masih saja memejamkan matanya.
"Yaudah bangun udah siang." ucap Echa.
"Nanti Ca." ujar Hanin.
"Bukannya mau bantuin Kak Tiara ya?" Tanya Echa. Hanin yang mendengar perkataan itu langsung membuka matanya menatap kearah jam dinding.
"Ya ampun! Hanin lupa." Jawab Hanin sambil mengikat rambutnya.
"Nin. Caca mau bilang sesuatu." Ucap Echa.
"Tinggal bilang aja Ca, biasanya juga langsung ngomong." Ujar Hanin.
"Caca ketemu algi." Ucap Echa sambil menatap mata Hanin.
Hanin yang mendengar itu langsung melototkan matanya, dia tahu siapa Algi di kehidupan Echa.
"Serius?! Demi apa?! Dimana ketemunya?!" Tanya Hanin kaget.
"Iya Caca serius." Jawab Echa.
"Dimana ketemunya?" Tanya Hanin.
"Dibawah." Jawab Echa.
"Maksud Caca dirumah kak Tiara?" Tanya Hanin.
"Iya." Jawab Echa.
"Kok bisa?!" Tanya Hanin.
"Algi sepupunya kak Tiara." Jawab Echa.
"Terus gimana ceritanya bisa ketemu sama Algi? Ngomong apa aja?" Tanya Hanin.
Echa yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung menceritakan semuanya kepada Hanin, tanpa ada yang terlewati.
"Serius ngomong gitu?!" Tanya Hanin kaget ketika mendengar cerita Echa.
"Iya. Caca takut kalau ketemu Algi lagi." Jawab Echa.
"Hei gak usah takut, Lagian itu udah bagian dari masa lalu Caca. Sekarang udah ada Kak Bara. Jangan takut, kak Bara pasti jagain Caca. Caca tinggal bilang aja semuanya sama Kak Bara." Ucap Hanin.
Hanin tau bagaimana perjalanan kisah cinta Echa dan Algi yang banyak sekali memunculkan bahaya di kehidupan Echa.
Algi adalah anak gangster yang pernah menjadikan Echa sebagai bahan taruhan jika dia kalah balapan. Padahal saat itu Algi baru menginjak kelas 9 SMP tapi sudah bermain hal yang berbahaya.
Dan pada saat itu Algi kalah balapan dan dengan berat hati Algi harus memberikan Echa kepada lelaki yang bertaruh dengannya.
Namun di waktu tepat ada seseorang yang membantu Echa pergi dari tempat itu sebelum semua kehidupan Echa hancur.
Dia sangat berterima kasih pada seseorang yang pernah menolongnya, yang Echa lihat dari orang itu adalah matanya. Berwarna coklat indah.
"Jauhin aja, Caca udah bahagia sama Kak Bara." sambung Hanin yang melihat Echa kembali teringat dengan masa kelamnya itu.
"Caca udah jauhin dia. Tapi Caca takut banget." ucap Echa.
"Jangan takut. Semua baik-baik aja selama Caca cerita sama Kak Bara." ujar Hanin.
"Sekarang pergi bangunin Kak Bara. cerita semuanya sama Kak Bara." Sambung Hanin sambil menggenggam tangan Echa untuk menguatkannya.
"Terus yang lain gimana?" Tanya Echa.
"Biar Hanin yang bangunin, Hanin gak bakalan lama kok." Jawab Hanin.
"Kak Tiara Caca yang bangunin." Ucap Echa.
"Iya. Hanin mandi dulu biar cepet." Ujar Hanin sambil melangkahkan kakinya mengambil handuk dan pergi menuju kamar mandi.
Echa yang melihat Hanin sudah masuk kedalam kamar mandi itu langsung menghela nafasnya panjang, Manahan rasa sakit yang ada dihatinya.
"Kenapa harus datang lagi sih?" Tanya Echa kesal.
Echa melangkahkan kakinya keluar dari kamar Hanin untuk membangunkan Mutiara yang masih belum bangun.
"Kak Tiara." Panggil Echa sambil membuka gorden kamar Mutiara.
"Kak Tiara, disuruh bangun sama Om Ferdi." ucap Echa ketika mutiara tidak membalas perkataanya.
"Hm.. nanti." ujar Mutiara tanpa membuka matanya.
"Sekarang kak, udah di tungguin di ruang keluarga. Kakak gak mau liat dekorasinya?" Tanya Echa.
"Emang udah jadi?" Tanya Mutiara yang kini sudah membuka matanya.
"Udah, kirain Caca bakalan lama ternyata 6 jam juga udah jadi." Jawab Echa.
"Bagus gak?" Tanya Mutiara.
"Kakak liat aja sendiri." Jawab Echa.
"Ah gak seru." Ucap Mutiara sambil bangun dari tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Kakak gak bawa handuk?" Tanya Echa yang melihat mutiara tidak membawa handuk.
"Eh iya lupa, tolong ambilin." Jawab Mutiara. Echa langsung mengambil handuk mutiara dan memberikan handuk itu padanya.
"Makasih Ca." Ucap Mutiara sambil mengambil handuk miliknya dari tangan Echa.
"Iya kak, Caca bangunin yang lain dulu." Ujar Echa sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar Mutiara.
Echa melangkahkan kakinya pergi ke kamar Bara, namun saat Echa membuka kamar Bara, dia tidak melihat keberadaan Bara.
"Kak." Panggil Echa sambil masuk kedalam kamar Bara. Namun tidak ada sahutan dari Bara.
"Kak Bara." Panggil Echa lagi.
"Kak Bara kemana ya? Biasanya juga bilang dulu ke Caca kalau mau pergi." Ucap Echa pada dirinya sendiri ketika tidak melihat keberadaan Bara.
Mungkin saja Bara sudah pergi sejak Echa berada di ruang kumpul bersama dengan Bi Surti dan mungkin saja Bara tidak sempat berpamitan kepada Echa karena harus membantu Alvero untuk bersiap-siap.
Echa mendudukkan dirinya di ranjang sambil menghela nafasnya panjang, saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dia kembali dihantui oleh masa lalunya yang kelam.
"Ca." Panggil seseorang dari ambang pintu yang mampu membuyarkan lamunan Echa.
"Kak Bara." sahut Echa yang melihat Bara memanggil namanya dari ambang pintu.
"Kakak cariin di kamar gak ada." ucap Bara sambil melangkahkan kakinya menuju kearah Echa.
Echa yang melihat Bara sedang melangkahkan kakinya kearah dirinya itu langsung berlari kearah Bara untuk memeluknya.
"Kenapa?" Tanya Bara sambil mengelus lembut rambut Echa ketika dia memeluk dirinya secara tiba-tiba.
"Kakak gak bantuin kak Vero?" Tanya Echa yang masih memeluk Bara.
"Ini mau berangkat." Jawab Bara.
"Kak Vero sama yang lainnya kemana?" Tanya Echa.
"Udah berangkat tadi pagi." Jawab Bara.
"Terus kenapa kakak gak dari pagi?" Tanya Echa.
"Masih ngantuk." Jawab Bara.
"Mau cerita?" Tanya Bara ketika Echa tidak biasanya seperti ini.
"Iya." Jawab Echa sambil menatap mata Bara.
Drt..drt..drt..
Tiba-tiba saja ponsel Bara bergetar ketika Echa ingin bercerita tentang Algi. Mantan kekasihnya.
"Bentar." Ucap Bara tanpa melepaskan pelukannya pada Echa. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban ketika Bara sudah mengangkat telpon tersebut.
"Halo?" Tanya Bara yang sudah tersambung dengan orang tersebut.
"Otw." Ucap Bara sambil mematikan sambungan telponnya.
"Siapa kak?" Tanya Echa penasaran.
"Vero." Jawab Bara sambil mencium singkat kepala Echa.
"Yaudah kakak pergi aja. Kak Vero pasti butuh kakak kan?" Tanya Echa sambil tersenyum.
"Caca aja cerita dulu. Mau cerita apa?" Tanya Bara sambil mengelus kepala Echa.
Echa memejamkan matanya, dia harus memikirkan tentang Alvero yang mungkin saat ini membutuhkan Bara tapi disisi lain dia juga membutuhkan Bara.
Dia tidak boleh egois tapi Echa juga tidak boleh sampai membuat dirinya dalam kesalahpahaman nantinya.
"Kenapa hm?" Tanya Bara.
"Kakak pergi aja dulu, Kak Vero pasti butuh bantuan kakak, Caca nanti aja ceritanya." Jawab Echa.
"Yakin?" Tanya Bara.
"Iya." Jawab Echa sambil memeluk Bara erat. Semoga ini keputusan yang benar.
Jika harus cerita saat ini itu akan membutuhkan waktu yang lama dan tenang untuk menceritakannya.
"Yaudah kakak pergi dulu." ucap Bara sambil mengelus punggung Echa.
"Hati-hati. Nanti kesini lagi kan?" Tanya Echa sambil melepaskan pelukannya.
"Iya." Jawab Bara yang mengambil kunci mobil dan Hoodie miliknya sambil tersenyum kearah Echa.
"Kakak pergi dulu." ucap Bara sambil melangkahkan kakinya dengan terburu-buru.
Echa menghela nafasnya panjang ketika Bara sudah pergi dari kamar dengan langkah yang terburu-buru.
Echa senang keputusannya itu benar, Alvero sangat membutuhkan Bara saat ini tapi di sisi lain Echa juga takut dengan keberadaan Algi jika bara tidak ada disini. bahkan untuk saat ini Echa tidak berani keluar kamar.
"Ca." Panggil Ivy yang melihat Echa sedang melamun.
"Hm.." sahut Echa tanpa melihat kearah Ivy.
"Kenapa ngelamun?" Tanya Ivy.
"Algi ada disini." Jawab Echa.
Perkataan itu mampu membuat Ivy kaget setengah mati. Nama Algi seperti sudah ada dalam blacklist Hanin dan Ivy.
"Algi?! Serius?!" Tanya Ivy kaget.
"Jangan keras-keras." Jawab Echa yang mendengar suara Ivy hampir berteriak.
"Eh, iya maaf, serius demi apa Algi ada disini?" Tanya Ivy sambil melangkahkan kakinya kearah Echa.
"Caca ketemu dia dibawah pas mau bangunin kalian." Jawab Echa sambil menatap mata Ivy.
"Kenapa dia bisa disini?" Tanya Ivy.
"Dia sepupu Kak Tiara." Jawab Echa.
"What?!! Serius?!" Tanya Ivy yang kembali kaget dengan perkataan Echa. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil menghela nafasnya panjang.
"Gimana Ca udah cerita sama Kak Bara?" Tanya Hanin yang tiba-tiba saja datang ke kamar. Echa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Bentar, bentar. Hanin tau semuanya?" Tanya Ivy saat melihat kedatangan Hanin.
"Iya." Jawab Hanin.
"Kenapa gak cerita sama Vivi?" Tanya Ivy.
"Tadinya mau cerita tapi keburu ada disini." Jawab Hanin.
"Terus?" Tanya Ivy yang masih bingung dengan keadaan yang sedang menimpa Echa.
"Caca belum ngasih tau kak Bara? Kenapa?" Tanya Hanin.
"Kak Bara bantuin Kak Vero, tadi Caca mau cerita tapi keburu kak Vero telpon Kak Bara, gak jadi ceritanya." Jawab Echa.
"Pasti sebelum pilih Kak Vero, Kak Bara pilih Caca dulu kan?" Tanya Ivy.
"Iya." Jawab Echa.
"Terus kenapa gak cerita?" Tanya Hanin.
"Ini bukan waktunya buat cerita Nin, Vi, kalau Caca cerita dari awal sampai akhir pasti butuh waktu yang panjang kan? Sedangkan keadaan lagi gak seberuntung itu buat ceritain semuanya." Jawab Echa.
"Iya juga sih, Kak Vero pasti lagi kesusahan." Ucap Ivy.
"Kenapa datengnya harus diacara yang penting kayak gini sih?" Tanya Hanin kesal.
"Eh, kalian lagi bahas apa?" Tanya Nurmala yang tiba-tiba saja datang dari ambang pintu.
Echa, Hanin dan Ivy langsung melototkan matanya kaget dengan kedatangan Nurmala, mereka takut Nurmala mendengar semuanya.
"Kenapa? Ayo turun. Kita sarapan." ajak Nurmala sambil tersenyum manis.
Echa dan yang lainnya langsung menghela nafasnya lega ketika mendapat perkataan seperti itu dari Nurmala. Itu artinya Nurmala tidak mendengar percakapan mereka bertiga.
"Ayo Tante. Vivi udah laper banget." Ucap Ivy untuk mencairkan suasana yang canggung.
"Kamu sih bangunnya siang banget." Ujar Nurmala sambil melangkahkan kakinya pergi bersama dengan Ivy yang sedang mengandeng tangannya diikuti Echa dan Hanin dibelakangnya.
Mereka berempat melangkahkan kakinya menuju meja makan yang sudah di siapkan banyak sekali makanan. ini bukan sarapan lebih tepatnya makan besar.
"Banyak banget Tante." ucap Ivy yang melihat banyak sekali makanan di meja makan.
"Biar kalian kenyang." ujar Nurmala.
"Tapi ini gak bakalan habis." ucap Hanin.
"Gak apa-apa, kalau gak abis gimana nanti aja." ujar Nurmala.
"Sekarang kalian makan dulu." sambung Nurmala sambil duduk disalah satu kursi, diikuti Ivy, Hanin dan Echa yang duduk di kursi kosong.
"Kak Tiara sama Om Ferdi mana Tante?" tanya Echa yang tidak melihat keberadaan Mutiara.
"Mereka masih di ruang keluarga kayaknya buat nyiapin acara apa aja nantinya." jawab Nurmala. Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"eh, Algi. Sini Nak duduk, kita sarapan sama-sama." ajak Nurmala.
"Iya bunda." ucap Algi.
Echa, Hanin dan Ivy yang mendengar itu saling menatap satu sama lain, mereka bertiga seolah tidak bisa bernafas lega ketika Algi duduk di samping Echa.
"Wah banyak banget Bun." ucap Algi sambil duduk di sebelah Echa dan melihat banyak sekali makanan yang tersaji di meja makan.
"Biar kalian kenyang." ujar Nurmala.
"Gimana bajunya udah ada?" tanya Nurmala.
"Udah dari ayah." jawab Algi.
"Awas jangan sampai besok kesiangan." ucap Nurmala.
"gak bakalan bunda." ujar Algi.
"lho, kalian kenapa diem aja? ayo makan." ucap Nurmala yang melihat Echa, Hanin dan Ivy diam saja sejak tadi, mendengar perbincangan antara Algi dan Nurmala.
"Tante Caca boleh pindah ke sebelah Tante?" tanya Echa halus.
"Boleh. Sini sebelah Tante. bisa-bisa bakalan ada perang dunia ya." jawab Nurmala yang mengerti posisi Echa.
Echa yang mendapat perkataan itu langsung melangkahkan kakinya menuju kursi sebelah kanan dari Nurmala.
"Kenapa emangnya Bun?" tanya Algi.
"Biasa cowok kalau udah cemburu suka kelewatan ya Ca." jawab Nurmala.
"Eh, iya Tante." ucap Echa sambil tersenyum canggung.
Algi tidak lagi berkata apapun dia terus saja menatap Echa, sedangkan Echa yang di tatap seperti itu menjadi risih sendiri.
Visual Algi
aku udah nungguin loh, mau up kpn? udah mau 2 tahun loh kamu gk up lagi
udh satu thun thor aku nunggu....aku bulak balik pengen tau thorrrr
aku cari" di tik tok tkut ada novel kamu
download aplikadi lain cuma pengen tau tkut ada ketmu sih thorrrr
tpi sma aja berhnti disisni
q tetp menunggu thorrr